LOGINNara Anjani adalah asisten strategis brilian di balik kesuksesan gemilang Alex Kael, CEO termuda dan paling ambisius di Aldebaran Corp. Di balik pintu-pintu kaca mewah, mereka berdua adalah kebenaran yang berbahaya terikat dalam gairah terlarang yang tak terucapkan, hanya meledak dalam bisikan rahasia setelah rapat-rapat larut malam. Alex, terperangkap dalam pernikahan sempurna yang disandiwara demi kekuasaan dan ambisi ayahnya, menjadikan Nara satu-satunya oasis dari kehampaan. Bagi Nara, Alex adalah kontrol yang ia dambakan dan penyiksaan yang ia nikmati. Setiap sentuhan yang dicuri, setiap janji yang dilanggar, justru memperkuat ikatan berbahaya mereka. Namun, ketika Nara menuntut kebebasan dari ikatan sensual mereka, Alex membalas dengan hukuman yang brutal: ia menikah. Nara pergi, membangun kerajaannya sendiri di Eropa, meyakini ia telah mengakhiri obsesi mereka. Takdir berkata lain. Krisis Deep Tech yang dipicu oleh intrik Ayah Alex mengancam akan menghancurkan Aldebaran. Hanya Nara, dengan kecerdasan strategisnya, yang bisa menyelamatkan Alex. Terpaksa kembali ke Jakarta, Nara menerima tawaran Alex: kendali penuh atas Aldebaran, dan kendali penuh atas hasrat Alex. Di tengah tekanan korporat yang kejam dan pengawasan istri Alex yang mencurigakan, Nara dan Alex kembali terjerat dalam kedekatan yang menyiksa. Sentuhan terlarang kini menjadi senjata dan hukuman. Alex bersedia menyerahkan segalanya pernikahannya, reputasi ayahnya, bahkan jiwanya demi kebebasan Nara, asalkan ia bisa tetap berada dalam orbit wanita yang ia cintai. Obsesi Setelah Rapat Malam adalah kisah tentang gairah terlarang yang bermetamorfosis menjadi kendali mutlak. Sebuah novel dark romance yang penuh intrik, di mana cinta adalah kekuatan, kebebasan adalah harga, dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menari di antara kehancuran dan gairah yang tak terpadamkan.
View MoreNara menjatuhkan cangkir kopi panasnya ke karpet di tengah ruang direksi. Suara pecahannya memantul di ruangan kedap suara itu. Bau kopi mahal langsung memenuhi udara dingin dari AC.
Tiga langkah di depannya, Alex Kael sang CEO tampan dan sukses di usianya yang masih terbilang muda. Akan tetapi di balik ketampanan dan kesuksesannya, menyimpan obsesi yang mendalam terhadap asistennya yang akan membawa mereka ke hubungan gelap penuh obsesi. Ia baru saja muncul dari lift, tepat pukul 07.50. Dengan setelan custom-made abu-abu gelap, ia memancarkan aura kekuatan. Wajahnya yang tampan, tapi selalu tegang. Mata cokelat gelapnya seolah selalu menghitung untung-rugi.
"Maaf, Pak Alex," sapa Nara, suaranya tetap datar. Nara seorang asisten cantik, pintar dan mempunyai tubuh indah. Tanpa sadar setiap lekukan tubuhnya akan menjadi jalan menuju hubungan gelap dengan CEO-nya. Sebagai asisten Alex selama dua tahun, ia adalah benteng pertahanan Alex, sebuah firewall yang sempurna. Momen kecerobohan ini adalah pelanggaran kecil terhadap ketertiban yang selama ini mereka jaga.
Alex berjalan melewatinya menuju ruang kerjanya yang luas. "Jadwal hari ini?"
Nara mengikuti, memegang tablet. "Pukul 08.00, video conference dengan tim Singapura. Pukul 10.00, rapat dewan direksi mengenai masalah akuisisi Eterna." Konflik utama hari itu sudah ada di meja.
"Saya sudah siapkan briefing. Makan siang dengan Tuan Hardiman pukul 13.00. Lalu, ada waktu kosong satu jam sore ini sebelum rapat investor pukul 16.30."
Alex duduk, pandangannya sudah terpaku pada layar. "Batalkan waktu kosong itu. Masukkan kunjungan mendadak ke pabrik di Cikarang. Saya perlu melihat progresnya sendiri. Atur helikopter."
Nara mencatat tanpa ekspresi. "Baik, Pak. Apakah Anda ingin kopi Americano seperti biasa? Saya akan buatkan yang baru."
"Tentu," jawab Alex, pandangannya tidak lepas dari layar.
Nara kembali ke mejanya, memastikan kopi dan air mineral Alex sudah tersedia. Di antara ribuan tugasnya, menyiapkan kopi adalah yang paling personal. Ia tahu Alex tidak akan menyentuh makanan atau minuman yang disiapkan orang lain.
Ia menekan tombol headset. "Vira, tolong siapkan helikopter untuk penerbangan ke Cikarang pukul 14.00, dan hubungi tim logistik. Alex Kael akan melakukan inspeksi mendadak."
Setelah memberikan instruksi, Nara membawa kopi ke meja Alex. Ia menaruh cangkir itu di coaster kulit.
"Pak, mengenai akuisisi Eterna," ujar Nara, suaranya berubah serius. "Tim legal menemukan beberapa inkonsistensi dalam laporan keuangan. Saya menandai poin-poinnya dengan stabilo merah di briefing Anda."
Alex akhirnya mendongak, matanya bertemu dengan mata Nara. Untuk sesaat, keheningan di kantor itu terasa seperti jeda berbahaya.
"Bagus," komentar Alex, nadanya penuh pujian. "Selalu perhatikan hal-hal kecil, Nara. Itu yang membedakan kinerja."
Pujian itu, sekecil apapun, selalu terasa seperti penghargaan besar. Nara merasakan sentakan kecil di dadanya, tapi ia cepat menyembunyikannya.
"Itu tugas saya, Pak," jawabnya datar.
Alex kembali fokus pada layar, dan Nara tahu percakapan resmi telah berakhir. Ia kembali ke mejanya, melanjutkan pekerjaan. Namun, kali ini, pandangannya sesekali melirik ke kaca buram ruang Alex.
Ia tahu di balik sikap dingin itu, Alex adalah pria obsessif dan perfeksionis. Pria yang bekerja hingga subuh. Pria yang membutuhkan kontrol total atas segalanya. Dan ironisnya, pria yang telah berhasil mengontrol dirinya selama dua tahun ini, menciptakan dinding baja di antara mereka. Nara tahu, dinding itu sebentar lagi akan diuji.
Setelah dua bulan menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan membangun perusahaannya, Nara kembali ke Jakarta. Bukan untuk menetap, melainkan untuk memenuhi hukuman terakhir yang ia tetapkan sendiri: menyaksikan Alex Kael terikat selamanya.Pesta pertunangan resmi Alex dan Eliza diadakan di Grand Ballroom yang mewah, menjadi puncak dari sandiwara yang telah mereka rancang. Nara tidak lagi datang sebagai 'tamu bisnis'. Ia datang sebagai pemilik perusahaannya sendiri, membawa aura kesuksesan yang dingin dan tak terbantahkan.Nara mengenakan gaun velvet berwarna hijau zamrud yang elegan dan jauh lebih mewah daripada gaun hitam di acara sebelumnya. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, memancarkan kepercayaan diri yang brutal. Di lehernya, ia mengenakan kalung sederhana namun berkelas, tanpa perhiasan mencolok, ia membiarkan kesuksesannya menjadi satu-satunya aksesorisnya.Nara melangkah masuk ke ballroom yang ramai. Seketika, ia merasakan perubahan atmosfer yang familier—perhatian terf
Eliza, yang haus akan pengakuan dan stabilitas, terbius oleh penampilan Alex yang meyakinkan. Ia merasa Alex akhirnya serius. Sandiwara itu kembali berjalan, tetapi bagi Alex, setiap senyuman yang ia berikan pada Eliza adalah pengkhianatan yang ia bayar dengan rasa sakit Nara.Sementara Alex terperangkap dalam kemewahan palsunya, Nara kembali ke apartemen kecilnya di Zürich. Nara melakukan hal yang sama: memulai sandiwara baru untuk dirinya sendiri. Sandiwara kemandirian.Nara tahu, ia tidak bisa mengalahkan pengaruh Aldebaran dengan uang atau kekuasaan. Ia harus mengalahkan mereka dengan kreativitas dan inovasi. Nara mulai menggunakan laptop barunya untuk membangun jaringan profesionalnya di Eropa. Ia tidak melamar pekerjaan; ia mulai merancang proyek konsultasi independen sebuah ide brilian yang ia kembangkan saat bekerja untuk NovaTech.Proyeknya adalah tentang analisis risiko strategis untuk perusahaan-perusahaan start-up teknologi di Eropa, sebuah area yang jauh dari jangkauan Al
Alex berdiri di hadapan Nara, tubuhnya menjadi perpaduan sempurna antara ancaman dan gairah. Nara telah memaksanya meninggalkan sandiwara dan tunangannya di pegunungan, hanya untuk menghadapi kebenaran di kota yang dingin ini."Apa yang kamu inginkan, Nara?" desak Alex lagi, suaranya serak. "Kamu memanggilku ke sini dengan ancaman risiko hukum. Itu adalah kebohongan. Kamu memanggilku karena kamu ingin menghukumku.""Saya memanggil Anda ke sini karena saya butuh penutupan," balas Nara, suaranya mantap. Ia tidak berteriak; ia berbicara dengan ketenangan yang menghancurkan. "Anda menghancurkan karir saya, Alex. Anda membuat saya aset yang tidak dapat dipekerjakan di mana pun di dunia. Saya datang untuk menuntut kompensasi terakhir.""Kompensasi finansial?" tanya Alex, ia mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya. "Ambil. Ambil semua yang kamu mau. Tapi pergi!""Bukan uang," potong Nara, menatap kartu itu dengan jijik. "Uang Anda menjijikkan. Saya menuntut kebenaran. Saya menuntut Anda
Nara tiba di Zürich, Swiss. Ia memilih kota itu karena keterasingannya dari jaringan bisnis Alex dan keterkenalannya akan kerahasiaan tempat yang sempurna untuk menyembunyikan kebenaran yang berat.Udara Zürich terasa dingin dan bersih, sebuah kontras nyata dengan kekacauan yang baru saja ia tinggalkan di Jakarta. Nara menyewa sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, jauh dari kemewahan suite yang Alex hibahkan. Ia ingin menghapus semua jejak kendali Alex dari hidupnya.Minggu pertama Nara dipenuhi dengan kesibukan yang terpaksa. Ia belajar bahasa lokal, mencari informasi tentang pasar kerja internasional, dan yang paling penting, memproses perpisahan yang brutal yang ia alami. Flash drive yang berisi semua bukti pengakuan obsesi Alex setiap kode, setiap chat, dan speech lamaran tersimpan aman di sebuah kotak tersembunyi. Itu adalah senjata pamungkasnya, yang ia harap tidak perlu digunakan.Nara tahu, Alex pasti sudah menyadari kepergiannya dan penolakan untuk dihubungi. Keheningan d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.