Eternal Love #9 Masih Marah

Allicia pov

Sudah seminggu lebih aku tinggal di Jakarta, aku juga sudah banyak teman, mereka semua ramah, tapi ada juga yang sikapnya nyebelin tapi abaikan mereka.

Langkahku riang memasuki sebuah rumah yang sudah kutinggali lebih dari seminggu Ini. Dari tadi mulutku selalu menyanyikan lagu ini, ada yang suka nggak?

Apa salah dan dosaku sayang

Cinta suciku kau buang buang

Lihat jurus yang kuberikan

Jaran goyang

Jaran goyang

Mulutku asik berdendang lagu asik yang banyak digandrungi di sini, enak sih jadi pingin goyang. Kadang pinggulnya ikut bergoyang... Aseek...sedap cui...begitu kata anak gaul, batin Cia.

"Selamat datang Cia!" teriakku saat memasuki rumah yang sudah seminggu lebih ini kutempati.

"Aku pulang gitu salamnya, anak papa ini memang ngegemesin,” Saat aku masuk ternyata papa Aby udah ada di ruang tamu, asik dengan laptopnya, mengacak rambutku gemas saat aku mendekat padanya dan menyalim tangannya, hal yang biasa dilakukan temanku, jadi aku menirunya, dia tersenyum bahagia.

"He... he... nggak tau kalo papa udah pulang, tumben,” sahutku, menilai kejadian yang tidak biasa ini.

"Iya pengen bicara sama kamu, gimana sekolahnya, betah?" tanya Papa Aby lembut.

"Betah, masa pa tadi ada kakak kelasku ngajak battle gitu,” ceritaku padanya, aku menyamankan dudukku disampingnya.

"Battle apaan, nggak boleh aneh aneh ya,” ancamnya.

"Ish Papa aneh apaan sih, orang dia nantangin Cia tanding basket, eh dia pikir Cia nggak bisa, belum tau dia Cia kan punya guru paling handal, kak Aus_” ucapanku terpotong dan seketika rasa sedih merayapi hatiku saat mengingat kakaknya itu, dia memang membencinya tapi dia juga merindukannya.

"Kamu kangen sama kak Austin?"tanya Papa menyelidik

Cia cuma mengangguk pelan, dia memang tidak biasa berbohong, buat apa, orang dia jujur saja nggak ada yang percaya, jadi tidak ada bedanya padanya, tapi ajaran mommynya sudah mendarah daging padanya.

"Kamu mau ketemu dengan kak Austin?" tanya Papa lagi.

Cia mengangguk tapi kemudian menggeleng. Membuat lelaki paruh baya didepannya terkekeh geli dengan tingkah putri angkatnya itu. dia mengacak lembut rambut Cia.

"Kenapa?" tanya Papa Aby penasaran.

"Kak Austin jahat,” lirihnya, tak terasa air mataku lolos membasahi Pipiku, buru buru kuhapus dengan kasar

"Tak boleh menangis, Cia kuat,” tegasku sambil menghela nafas kuat.

"Gimana kalau mereka semua datang dan minta maaf pada Cia?" Kenapa pertanyaan papa seperti ambigu ya...

"Nggak mau, mereka jahat, papa nggak nyuruh aku pergi kan seperti daddy?" tanyaku, apa aku nakal sampai papa juga mau aku pergi?

"Tidak sayang, Papa senang Cia mau tinggal sama Papa,” jawab Papa Aby sambil membelai lembut rambut panjang Cia.

"Cia juga,” jawabku, memang Papa bukan ayah kandungku, tapi kasih sayangnya padaku, kepercayaannya padaku yang begitu besar melebihi keluarganya.

"Tadi mommy kamu nelpon papa katanya mereka semua mau kesini, mau minta maaf sama kamu,” kata Papa Aby lembut.

"Aku nggak perduli, Cia masuk dulu ya pa, capek, mau mandi,” sahutku cuek.

"Iya, nanti makan malam keluar ya, papa pingin ngajak kamu ngerasain masakan indonesia yang super enak, mau?" tawar Papa Aby sebelum kakiku melangkah ke arah kamarku.

"Asik, mau banget Pa, si Sophie bilang rendang Iga di Mangga dua enak pa, aku pingin coba, boleh ya?" tanyaku penuh harap, karena sempet ngiler saat Sophie bercerita tantang Rendang iga

"Ya udah, sana siap-siap,” Papa Aby menyetujui.

**

Usai makan malam berdua dengan Papa, kami pulang sekitar pukul 20.30, saat memaduki pekarangan rumah, kurasa Papa kedatangan tamu, karena ada dua mobil yang masih baru terparkir disana.

Saat aku turun dari mobil, kulihat penghuni dari dua mobil itu juga turun, mataku membulat tak percaya, jadi mereka beneran datang kesini.

"Hai Cia, miss me?" tanya kak Austin dengan gaya menggodanya, tapi untuk kali ini tak berpengaruh padaku, moodku langsung terjun bebas melihat mereka disini, apa mereka belum puas menuduhku, apa lagi tudahan mereka buatku.

Tak kuhiraukan mereka, dengan langkah menghentak aku memasuki rumah, dan langsung menuju kamarku, kukunci kamarku, baru aku bisa menangis, tubuhku meluruh dilantai, kenapa mereka masih mengusik hidupku, apa mereka tidak suka jika hidupku bahagia.

Kurebahkan tubuhku, tanpa perlu membersihkan tubuhku dulu, hal yang tidak pernah kulakukan, tapi tubuhku sangat lelah, airmataku sudah membasahi bantalku, kudengan ketukan dan seruan mommy, daddy dan saudaraku, tapi tak kuhiraukan kututup telingaku dengan bantal, kupejamkan mataku berharap aku bisa terlelap dan saat bangun aku tidak bertemu mereka lagi.

**

Saat bangun tidur, aku melakukan ritual yang biasa kulakukan, aku turun kemeja makan dengan bersenandung komplit dengan seragam dan keperluan sekolahku.

Pemandangan yang dulu sering kulihat kini kulihat lagi di meja makan yang biasanya hanya Papa Aby dan mbok Sum, ART disini, tapi sekarang...sontak langkahku terhenti, apa aku akan tetap ke meja makan atau langsung ke sekolah saja, ah...anggap saja mereka tak ada.

"Pagi Pa,” sapaku, ingat hanya pada Papa ya...

"Pagi sayang,” sapa mereka kompak, dalam beberapa detik aku hanya bisa bengong.

"Nanti aku anter ya sweethart,” tawar kak Austin dengan senyum mautnya, ah...tak mempan, basi, aku cuma melengos.

Aku masih marah pada mereka, mereka bahkan datang begitu saja, seakan tidak pernah menyakitinya, pandanganku kualihkan dari Makanan yang sudah diberikan Mbok Sum, kepada Papa Aby, tanpa menyahuti perkataan kak Austin.

"Pa, nanti aku dijemput Sophie ya, pulangnya agak telat, soalnya yang kemarin ku ceritain itu lo pa, seniorku yang ngajak tanding basket, rencananya habis bubar sekolah, nggak papa kan pa?" tanyaku ke Papa tak kuperdulikan tawaran kak Austin dan ketiga saudaraku yang lain, ya aku agak terkejut sebenarnya melihatnya dan kemana kak Angel? atau tatapan pria dan wanita yang sudah melahirkanku yang menatapku dengan tatapan terluka mereka, aku tak perduli, apa yang mereka lakukan lebih menyakitiku.



>>Bersambung>>

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status