Pemburu Iblis
Pemburu Iblis
Author: LaLuna
Zombie

Hari ini malam lebih petang dari yang sebelumnya. Suara derit pohon di hutan semakin menambah aura mengerikan. Sinar rembulan tidak sampai menyentuh bagian dalam hutan. Udara dingin ikut serta dalam melakukan tugasnya di malam hari. Suara hewan-hewan malam berlomba untuk menakut-nakuti siapapun yang mendekat ke hutan. 

Semua keseraman itu sama sekali tidak membuat sebelas orang yang sedang bertarung melawan kumpulan iblis yang menyamar sebagai manusia merasa takut dengan suasana hutan. Tugas yang mereka emban harus di selesaikan malam ini juga.

Di dunia ini bukan hanya manusia saja yang menghuni bumi, ada berbagai kategori yang muncul sebagai penghuni. Ada dewa dan peri yang menghuni awan, keduanya tidak menimbulkan masalah terhadap keseimbangan dunia. Lalu ada iblis dan lucifer, mereka selalu berbuat ulah untuk menjadikan manusia menjadi budak mereka.

Iblis sendiri ada yang digolongkan tingkat rendah dan tingkat tinggi. Yang tingkat rendah mereka bisa dikalahkan dengan mudah, hanya saja mereka berkelompok sehingga mengalahkannya membutuhkan waktu. Mereka patuh terhadap iblis tingkat tinggi, kesetiaannya memang harus dipuji ketimbang kesetiaan manusia. 

Lalu iblis tingkat tinggi, seperti sebutannya, iblis ini memiliki ilmu kesaktian yang tinggi dan sangat menakutkan. Tidak mudah menemukan pimpinan iblis, karena mereka bisa berwujud apapun sesuai seleranya, dan api iblis di tubuh mereka bisa tersamarkan seperti manusia. Iblis tingkat tinggi ini hanya patuh pada perintah lucifer, bagaimanapun kondisinya, mereka tidak akan melakukan apapun untuk mengungkap siapa lucifer dan di mana persembunyiannya.

Iblis tingkat tinggi berjumlah tiga dengan memiliki kemampuan yang berbeda-beda, tempat persembunyian yang berbeda-beda, juga dengan anak buah serta tugas yang berbeda-beda.

Diantaranya adalah, iblis tingkat satu yang paling mengerikan yaitu Carleen Bernard, yang konon katanya adalah sang penguasa siang dan malam dengan lambang emas dan perak. Informasi ini dapat dari buku 'Legenda Iblis' yang dicatat oleh seseorang.

Katanya seseorang telah berhasil masuk ke wilayah iblis berbahaya in, dia pulang dengan membawa sedikit informasi serta kutukan mengerikan yang tertanam di tubuhnya. Dari beberapa informasi yang dia dapat, selain kekuatan juga lambang keagungannya, iblis ini selalu menyamar menjadi siapapun dengan nama yang berbeda-beda, menemukannya adalah hal yang sulit.

Iblis tingkat dua ada Jan Felix . Tidak ada yang tahu dia bagaimana, seperti apa, dan memiliki ciri fisik seperti apa. Dia sangat misterius. Walaupun dia misterius, tetapi dia terus saja membuat masyarakat resah karena keberadaannya. Dari sumber yang tertera dia pernah muncul di beberapa kota untuk menyebar kegaduhan.

Nama-nama iblis tingkat tinggi ini berhasil di dapatkan oleh manusia yang berhasil keluar dari wilayah iblis tingkat pertama. Dia menemukan silsilah iblis yang telah dia duplikat di otaknya. Buku itu dibawa oleh ketua sekolah para pemburu iblis.

Iblis tingkat ketiga ada Jaruas Harrald. Dia tidak terlalu terbuka. Informasi yang beredar dia memiliki empat tangan.

Lalu terakhir ada Lucifer. Dia adalah raja dari kaum iblis. Informasi tentang dia juga tidak ada. Bahkan namanya saja tidak ada yang mengetahui. Sungguh misterius.

Yang dilawan sebelas orang itu adalah kelompok iblis tingkat rendah. Mereka melawan bukan hanya ingin membasmi kaum iblis dari muka bumi, tetapi juga menemukan informasi tentang iblis tingkat tinggi dan lucifer.

"Cih." Menggunakan dua pedang memang sedikit sulit, terlebih harus mempertahankan kekuatan yang sama imbangnya antara api dan es. Pemuda berambut campur yakni warna merah, biru dan coklat itu menggerakkan dua pedangnya ke tanah sampai menancap, kemudian gundukan es meluncur dan api meluas dari sisi yang berbeda menyerang kumpulan iblis yang berusaha menyerangnya. 

Iblis berbentuk manusia ini sedikit lama menaklukkannya ketimbang iblis yang merasuki tubuh manusia, iblis ini disebut zombie. Aaric Andhulpus, pemuda yang selalu membawa dua pedang serta satu gada dengan kekuatan es, api dan tanah, merasa cukup kelelahan melawan ratusan iblis yang terus berdatangan.

Bunyi ledakan menggelegar di sisi utara hutan, malam sedikit terang karena cahaya ledakan. Bunyi rintihan iblis nyaring terdengar. Seseorang yang berdiri tegap di puncak pohon menatap nyalang para iblis yang terus merangkak menaiki pohon. Kedua tangannya sibuk mengeluarkan benda-benda hitam, sebut saja benda itu bom yang bisa keluar kapan saja dari telapak tangannya. 

"Sialan. Iblis terkutuk. Tenagaku semakin terkuras. Kalau begini terus aku tidak bisa memakai bomku! terserah, akan kubakar kalian beserta hutan ini!" tidak peduli lagi dengan aturan para pemburu iblis dari sekolah Demon Hunting School, Manfried Laudza mengamuk melemparkan bom-bomnya sampai merusak pepohonan.

Aturan pemburu iblis hanya ada dua. Pertama tidak boleh melukai manusia, dan kedua tidak boleh merusak lingkungan terlalu besar. Semua itu membuat Fried yang memiliki sifat bebas harus merasa depresi setiap menjalankan tugasnya. Menurutnya sendiri, bekerja menjadi pemburu iblis bukan menjadi hiburan, melainkan menjadi uji coba kekuatan mentalnya. 

"Blahahaha.. mati kau! mati kau! darah kalian sebagai penebusan dosa hahahah.. Mati kau!" rambut jabrik putihnya diterpa angin dari atas, pandangannya menyorot tajam pada iblis-iblis yang sedang ia musnahkan. Tidak memiliki belas kasih, bom-bom yang ia lempar bahkan dibuatnya menjadi sangat kecil untuk dimasukkan ke dalam tubuh iblis, sehingga saat meledak, tubuh iblis itu akan ikut meledak dengan tubuh terkoyak dari dalam.  

Pepohonan di sekitarnya terbakar karena ledakan yang Fried lakukan sangat besar. Tubuhnya pun dilingkari api yang melahap pepohonan, meskipun begitu ia tidak peduli dengan api-api itu yang mungkin saja sewaktu-waktu meraih tubuhnya. Fried masih menikmati tindakan mengerikannya dengan bahagia. 

"Fried, apa yang kau lakukan!" suara yang begitu Fried kenal dan sangat dia benci datang, ia tidak memedulikannya dan terus menyiksa para iblis.

"Hentikan itu! kau merusak lingkungan! kau menyalahi aturan!"

Beberapa kedutan muncul di kepalanya, mata tajamnya langsung menatap ke Carl Baren si rambut hijau kekuningan. "Diam saja kau, sialan!" melemparkan bom ke Carl yang cukup membuat pemuda itu terjatuh dari atas pohon. Ia tersenyum psycopat dan kembali melanjutkan aksi mengibiri iblis.

Terjatuh dari ketinggian delapan meter bukan hal baru bagi Carl Baren si penggemar Nicolaus Odolf --pemburu iblis nomor satu-- tetapi terjatuh dari ketinggian delapan meter dengan gerak refleks yang tidak berfungsi karena ia terlalu banyak menfosir tenaga sampai kepalanya jatuh dahuluan menubruk batu besar, itu adalah yang pertama kali baginya merasakan habis jatuh menimpa batu.

Seandainya ia ini pandai memaki, sudah banyak kali ia memaki Fried yang selalu saja memusuhinya. Ia hanya memaki saat emosinya benar-benar tidak bisa ia kontrol. Mendengus sebal, bangkit dengan cepat kemudian menendang tiga iblis yang mendekatinya. Dengan sekali tendang, iblis itu sudah terpental jauh beberapa meter kemudian terkulai mati. "Jika terus-terusan begini, kita pasti akan kehabisan tenaga. Dan rencana Len dan Qenan takkan bisa kami lakukan. Tenaga kita sudah melemah saat ini karena iblis terus-terusan datang. Hah, hanya satu orang yang tidak terlihat kelelahan." 

Disela-sela ia meninju dan menendang para iblis, disela-sela ia merasa kelelahan setengah mati, ia masih bisa mengoceh sendiri menilai situasi mereka. Mata hijau cerahnya menatap seorang yang sangat tampan tengah berdiri santai menghadapi kumpulan iblis, hanya pemuda itu yang tidak pernah merasa lelah saat bertugas, dia selalu terlihat santai kapanpun.

Manusia memiliki power untuk mengeluarkan kekuatan, sedangkan manusia yang lahir tanpa power dia takkan pernah memiliki kekuatan. Power sendiri berbentuk seperti bola dengan bahan helaian rambut emas yang berlindung di belakang jantung manusia, termasuk organ kedua yang paling sensitif. 

Power berguna menyimpan kekuatan manusia dan menciptakan kekuatan jika terlalu banyak menggunakan kekuatan maka power akan meredup dan manusia akan kehilangan kesadaran. Ada beberapa manusia yang memiliki power luar biasa, sehingga dia takkan mudah mengalami kelelahan kekuatan.

Seorang berambut perak dengan mata sayu tengah membidik kumpulan iblis dari atas dahan. Bisa saja ia menyentuh iblis untuk meniru kekuatannya, akan tetapi kumpulan iblis ini sama sekali tidak memiliki kekuatan selain merubah wujud menjadi manusia, mereka ialah zombi. Qenan Penrod mana mau ikut-ikutan menjadi zombi. 

Otak cerdiknya terus bekerja selagi ia sibuk membidik sasaran. Entah sudah berapa kali ia mengganti peluru, sebanyak peluru yang keluar sebanyak itulah iblis terus berdatangan. Oh, jiwa Qenaan merasa terbakar saat ini. Jari-jarinya sudah lelah terus bekerja memegang tembak jarak jauh ini. "Jika ini berlanjut sampai tengah malam nanti, celakalah kami." 

Biasanya tengah malam kumpulan iblis wujud manusia yang seperti ini akan terus berdatangan, entah dari mana datangnya, urusan mereka datang hanya untuk mencari makan. Mereka memakan tumbuhan dan hewan, jika mereka terkepung di sini sampai nanti malam, tenaga mereka akan habis dan mereka akan menjadi santapan enak mereka.

Ia sudah mencurigai jika di suatu tempat pasti ada sesuatu yang seperti pintu yang menjadi keluar masuk iblis-iblis ini. Ia berencana untuk menutup pintu itu jika ada, tetapi malah ia terjebak di sini. Tafsirannya tentang pintu iblis disetujui oleh Len Karl.

Pemuda berambut hitam legam dengan wajah oriental itu --Lwn Karl-- memiliki penilaian yang hampir akurat  apapun pemikirannya pasti mendekati benar, keakuratannya sedikit lebih tinggi dari pemikiran Jericho Jecho. Sebelas banding dua belas, sedangkan dirinya berada di urutan sepuluh jika berurusan dengan keakuratan.

Suara tendangan sampai terdengar benda patah terdengar dari belakang punggungnya. Dengan segera ia berbalik, mengabaikan iblis-iblis di depannya. Ternyata ada seorang lelaki berambut panjang dengan jubah hijau berdiri tegap di belakangnya. "Terimakasih, Viktor!" katanya tulus kemudian kembali menatap ke depan.

Seseorang yang disebut Viktor ini memiliki nama panjang Viktor Vier. Dia  mendengus pelan, "Jangan membuat diri ini kelelahan karena mondar-mandir ke sana-sini untuk menyelamatkanmu. Perhatikan juga belakangmu, kalau tidak kau akan menjadi makanan mereka." Mata hijau muda Viktor mengawasi bonekanya yang mencabik-cabik beberapa iblis. Boneka itu ia kendalikan, benda itu kekuatannya  dasyat, tidak ada kelemahan sama sekali.

Selagi bonekanya mengamuk, maka ia juga ikut menyerang iblis untuk membantu teman-temannya. Ia sering menjadi pengawas tim saat bertarung, supaya ia tahu siapa yang dalam situasi sulit atau mungkin diserang dari belakang. 

"Kan ada kau yang selalu mengawasi!" seru Qenan dengan nada candaan. Ia menarik pelatuk lalu menembak, bunyi tembakan begitu keras terdengar. Tiga iblis mati, tetapi tiga iblis juga datang. Qenan mengutuk dalam hati.

Viktor tersenyum lebar, ia masih berdiri di belakang Qenan untuk melindunginya, "Ho, diri ini memang kuat, maka sering-seringlah meminta bantuan padaku wahai orang lemah." Dia terkenal sangat sombong dan suka berbicara seenaknya, mungkin jika dia berada di tim lain akan dimusuhi, tetapi dia berada di tim Jeri yang sudah menerima sifat buruknya itu.

Bahkan di tim Jeri banyak sekali yang memiliki sifat buruk. 

"Aldane, bunuh mereka, jangan kenal ampun, hahahah! diri ini sangat senang." Teriaknya menyemangati Aldane --bonekanya-- sambil mengayunkan pedang api hijaunya ke kumpulan iblis yang meloncat dari tanah ke arahnya. Sinar hijau dari apinya membakar hidup-hidup iblis itu. Jika Aaric memiliki api berwarna merah, maka ia punya api berwarna hijau.

Qenan menghela napas mendengar celotehan dari Viktor.

Rafe Ulrinch dan Len Karl bekerja sama untuk membasmi iblis di bagian timur hutan. Mereka berdua tidak henti-hentinya memaki para iblis karena terus berdatangan, membuat mereka semakin mendekati batasan tenaga.

Keringat mengucur ke pelipis kirinya, ia usap dengan telapak tangan, matanya tetap fokus pada kumpulan iblis yang digulung perban saktinya. " Aku berharap Daniel, Theo dan Oliver bisa menemukan pintu yang kau maksud." Kata Rafe lemah. Ia sudah mendekati batasannya.

Len melirik temannya sekilas, ia sendiri juga mengalami apa yang Rafe rasakan. Bahkan tangannya diangkat saja seperti tidak bisa. Mereka sudah di sini sejak tiga jam lalu, melawan sampai lelah hanya untuk keluar dari ribuan iblis. Sesungguhnya mereka dalam perjalanan pulang dari misi ke desa XN, tepat saat petang datang mereka berada di hutan, dan kemudian ini terjadi.

"Kita ceroboh mengambil jalan pintas lewat sini." Ujar Len sambil mengarahkan cincin yang melingkar di kesepuluh jarinya ke lima belas iblis, sehingga cincinnya yang mengeluarkan kekuatan itu memunculkan sinar hitam untuk menyerang iblis layaknya sambaran petir.

Bermalam di hutan terlarang adalah sebuah pantangan, cerobohnya mereka yang melewati hutan ini.

Rafe melenguh lelah, "Iblis-iblis ini tidak memiliki niat untuk mengalahkanku, aku jadi bosan." 

Len terkekeh. Rafe memang memiliki sifat yang aneh.

Sinar hitam keunguan muncul dari langit bagian selatan, itu adalah sinar dari tongkat trisula kekuatan  Theo yang diberi nama Schwarzer Dreisack.  Itu berarti mereka menemukan pintu di sana. Len dan yang lain tersenyum lebar, akhirnya sebentar lagi mereka bisa istirahat.

"Cepat tutup pintu itu. Apa kekuatan magismu itu tak bisa diandalkan untuk menutupnya secara cepat?!"The Wyn menahan ratusan iblis menggunakan tongkat trisula panjangnya yang dialiri kabut hitam keunguan yang pekat. Ia menyuruh Daniel Darex yang berusaha menutup pintu spiritual berbentuk lingkaran besar.

Oliver Paulin mengucek kedua matanya dengan tangan, ia sudah lelah menggunakan kekuatan matanya untuk membuat musuh jatuh tertidur, "Sungguh, mataku memerah! jika setelah ini aku tidak mendapat jadwal libur, akan aku bakar sekolahan!"  serunya kesal sambil menusuki iblis-iblis yang sudah jatuh tertidur dengan pedangnya.

Oliver adalah satu-satunya gadis di kelompok yang diketuai Jericho Jecho, dia sangat cantik dengan mata biru dan rambut perak. Seandainya Aldane bukan boneka kekuatan Viktor, mungkin saja dia termasuk manusia tercantik kedua setelah Oliver.

"Aku ini sedang kesulitan, jadi harap diam, Tuan Theo. Jangan menarik emosiku di sini." Tidak ingin masuk ke perangkap emosi Theo, Daniel terus mengupayakan kekuatan magisnya yang berskala besar untuk menutup pintu spiritual. Belum lagi dari dalam pintu masih banyak iblis yang berusaha keluar, jadi ia sedikit kesulitan untuk menutup pintunya. Ia harus menghalangi iblis-iblis untuk keluar dan menutup pintu secepat mungkin, itu adalah upaya yang membutuhkan dua kali lipat usaha.

Pintu spiritual itu akhirnya tertutup dan menghilang bersamaan dengan cahaya merah yang melebar bak api. Semua yang ada di sana langsung menutup mata akibat Kelayan cahaya yang begitu menyilaukan.

Cahaya merah sangat terang itu sedikit bisa Jericho Jecho lihat dari tempatnya berdiri saat ini. Mengangguk mantap setelah berpikir kalau rekannya sudah menutup pintu. Dengan demikian ia dan yang lain bisa segera menuntaskan ini. 

Berjalan maju, melewati iblis-iblis yang berusaha membunuhnya. Dengan tenang ia memegang bagian tubuh pada iblis saat mereka mendekat ke arahnya, seketika setelah ia melepas telapak tangannya sebuah api berwarna hitam berkobar di tubuh mereka. Api hitam yang berasal dari pedangnya ia aplikasikan ke tubuh sehingga tanpa mengeluarkan pedang, ia bisa membakar apapun dengan mudah.

Api hitamnya berbeda dengan api milik Aaric dan Viktor. Api milik dua rekannya itu memiliki taraf panas seratus persen, sehingga bisa menghanguskan musuh dalam sekali serang. Namun api hitam miliknya memiliki takaran panas delapan puluh persen dan apinya akan terus menyala sampai targetnya hangus. Apinya tidak bisa dipadamkan, itulah keuntungannya.

Jeri memiliki pikiran tenang, tidak terburu-buru, dan juga sangat senang menghemat energi. Maka dari itu sampai saat ini ia belum mengalami kelelahan. Melangkah maju, bola matanya menatap satu persatu iblis, dua detik setelahnya iblis-iblis yang ia pandang ambruk ke tanah dengan darah yang mengucur dari dalam mulutnya. 

Ia memiliki kekuatan lain selain pedang api hitamya, yaitu kekuatan ketajaman mata, yang berarti setiap ia mengaktifkan kekuatan matanya maka orang yang ia lihat akan langsung meninggal dengan luka dalam yang parah. Jeri jarang mengaktifkan kekuatan matanya, mungkin dalam menjalankan tugas hanya sekali atau dua kali ia gunakan, selebihnya ia memakai kekuatan pedang api hitam miliknya.

Ia melakukan hal itu karena pengaruh matanya saat tahap aktif begitu mengerikan, bisa-bisa teman-temannya ikut terkena dampak kekuatan matanya. 

Ia terus melangkah dengan santai, setia satu langkah kakinya maka ada banyak iblis yang mati. Ia dipanggil sebagai seorang yang jenius karena bisa mengaplikasikan seluruh kekuatannya tanpa diketahui musuh. Kelemahan dirinya pun ia jadikan kekuatan, sehingga walaupun ia memiliki kelemahan, ia tetap terlihat sangat kuat dan tangguh.

Menyentuh pundak dua iblis sambil berbisik, "Aku sudah bertanya dengan baik-baik di mana pimpinan kalian, tetapi kalian terus berdatangan. Sekarang lihatlah hasilnya. Betapa buruknya sebuah kesetiaan. Apakah Tuan kalian tidak peduli dengan nyawa kalian sampai kesetiaan kalian sama sekali tidak membuatnya menunjukkan diri? kasihan sekali." Perkataannya sangat kalem, tidak ada emosi yang terbuang selain nada datar menenangkan. 

Jeri melangkah maju, dua iblis yang ia sentuh langsung terbakar api hitam. Mata gelapnya menatap dua iblis itu sekilas, ia tersenyum tipis sambil mengasihani iblis-iblis yang mati sia-sia dari dalam hati. Tadi ia mengambil cara Theo untuk menarik emosi musuhnya, tetapi ia memakai nada tenang bukan nada penuh mencemooh milik si rambut pirang panjang itu. Ia berlaku santai seperti ini karena tidak ingin tenaga dan perasaannya terbuang sia-sia hanya untuk seonggok iblis.

"Ketua, bagian Utara sudah beres! aku akan membantumu di sini." Fried datang dengan napas naik turun, tubuhnya sedikit sempoyongan, dan banyak darah yang menghiasi tangan sampai wajahnya.

Jeri memandang anak buahnya, "Ada apa dengan tampilanmu?" tanyanya sambil terus memusnahkan iblis dengan api hitamnya. Dari segi manapun Fried dilihat, pemuda itu sudah kehabisan tenaga, dia sudah melebihi batasannya. Jeri mengetahui itu.

Fried mencakar wajah iblis yang mendekatinya sampai berdarah, ia menunjukkan senyum lebar ala pscyopat. Ah, dia memang pscyopat. "Aku sudah dibatas ambangku, ketua. Karena aku tidak mau kalah dari cecunguk iblis sialan ini, maka aku robek mereka menggunakan mulut dan jari-jariku. Hahah..." suaranya serak, sangat lemah, menandakan dirinya memang berada di tahap nol persen kekuatan.

"Pergilah ke tempat aman. Tidurlah di sana. Aku akan mencarimu setelah ini."

"Ta---"

"Apa?" memang bernada santai, tetapi mata yang berwarna merah itu membuat Fried berhenti menyela dan segera pergi dari area perang sambil memaki Jeri di dalam hati.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status