Chapter 4

Shakira menemukan dirinya terbangun oleh suara ponsel yang tidak berhenti berdering sejak 10 menit yang lalu. Matanya mengerjap, masih mengantuk saat ia bangun dari tidurnya. Matanya menjelajah sekeliling mencari tas yang entah ia letakkan dimana. 

Dia bangkit dari Sofa dan berjalan mengitari ruang tamunya untuk mencari tas bututnya. Untungnya, ia dapat menemukan tasnya dengan cepat karena ponselnya masih tidak berhenti berdering hingga sekarang. 

Dengan malas, Shakira meraba isi tasnya dan mencoba mencari ponsel tanpa melihat ke dalam tas. Saat ia merasakan tangannya mendapatkan getaran, langsunglah ia mengambil benda itu. 

Layar ponselnya menunjukkan nomor teman kantornya. Lebih dari 40 panggilan telah ia dapatkan dan itu dari nomor yang berbeda. Shakira merasa terkejut karena ini pertama kalinya ia mendapatkan boom call seperti ini. 

Sebuah nama 'Sella' menghiasi layarnya, tanpa menunggu lama Shakira langsung saja menjawab panggilan itu. 

"Shakira!"

Teriakan itu membuat telinga Shakira mendenging. Ia heran, kenapa banyak sekali orang tidak sabaran dimuka bumi ini. 

"Pelan-pelan, aku bisa mendengarmu."

"Maaf! Tapi ini sangat penting, boss baru ingin kau berada di kantor saat ini juga!"

Sebuah kerutan terbit di dahi Shakira. Sebenarnya apa yang diinginkan pria bokong sexy itu? Belum lagi 24 jam mereka bertemu tapi sepertinya pria itu ingin sekali mengganggunya. 

"Pekerjaanku selesai, ini hakku untuk berada dirumah. Memangnya ada masalah apa disana?" tanya Shakira. 

"Aku tau. Entah kenapa boss tampan ini tidak bisa diajak santai, sepertinya. Ia akan menghukum kami semua jika ia tidak menemukanmu saat ia pulang entah dari mana, nanti."

Shakira mendesah lelah. Apa-apaan ini, sangat membuatnya kesal setengah mati. Shakira mengacak rambut blonde-nya sebelum membalas, "Aku akan berada disana dalam lima belas menit."

"Oke. Quick, Shakira!"

Setelah itu panggilan berakhir tetapi tidak dengan umpatan yang kini keluar dari mulut Shakira. Ia ingin sekali menendang bokong pria itu tapi jika sudah menjadi bossnya, bagaimana ia bisa melakukan itu.

Shakira langsung saja memakai high heels nya tanpa memperdulikan tampangnya yang kini sangat berantakan. Shakira ingin memperlihatkan dirinya seperti itu kepada boss sialan itu, agar pria itu tahu jika dirinya tidak siap untuk kembali bekerja. 

Tak ingin menambah waktu lama, Shakira langsung saja keluar dari apartemennya dan mencari taksi. Ia mendapatkan taksi yang langsung membawanya ke kantor dengan cepat. 

Shakira berjalan menuju resepsionis dan mengambil name tagnya lagi. Langsung saja ia menaiki lift dan menekan nomor 15, lantai dimana tempat ia melakukan pekerjaannya. 

Saat Shakira keluar dari lift, semua orang yang berada dilantai itu mendesah lega. Shakira kebingungan dibuatnya, ia semakin dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. 

Shakira meletakkan tasnya diatas meja kubikelnya, setelah itu ia menoel pundak Sella hingga perempuan berwajah oriental Asia itu menatapnya. Tatapan kesal terpancar dari iris mata Sella yang bewarna hitam, membuat mata itu terlihat besar dari aslinya.

"Ceritakan padaku," pinta Shakira, langsung ke intinya. 

Sella mendecih. "Boss tampan itu tidak menemukanmu dan ia menanyakanmu padaku. Tentu saja kujawab dengan realita, namun ia malah ingin kau berada disini, jika tidak ia akan mengancam kami. Dan asal kau tahu ia mempunyai aura mengintimidasi!"

"Well, apa yang membuatnya ingin aku berada di kantor? Maksudku, semua pekerjaanku telah kuselesaikan." 

Sella mencebikkan bibirnya. "Mungkin ia memiliki rasa ke profesionalan yang tinggi." kata itu menjadi akhir dari pembicaraan mereka karena orang yang sedang mereka bicarakan kini berjalan mendekat ke arah mereka.

"Jadi ini pegawai yang tidak mempunyai rasa keprofesionalan?" singgung Feligan saat dirinya sudah berada di depan Shakira dan Sella. 

"Apa maksudmu?"

"Kau masih tidak tahu letak kesalahanmu? Itulah kenapa perusahaan ini sangat kacau, itu karena mereka memiliki pegawai sepertimu." tunjuk Feligan ke arah muka Shakira.

Tangan Shakira mengepal kuat. Kata-kata yang dilontarkan Feligan sangat kasar baginya, jika pria itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi lebih baik bertanya dahulu bukan langsung memborbardirnya 

dengan kata-kata seperti itu. 

"Kata-kata itu Keluar dari mulut seseorang yang egois dan tidak punya rasa hormat. Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dengan mudah tanpa tau sebenarnya?"

Feligan yang kini sudah melepaskan jasnya, mulai menarik lengan kemejanya dan ia gulungkan kesiku. Pegawai wanita yang menatap hal itu tentu saja menahan napas mereka, pria tampan itu sangat sexy dengan kemeja lengannya yang tergulung. 

"Apa yang tidak kuketahui? Huh?" tantang Feligan dengan wajah sombongnya. 

Shakira mendelik kemudia berbalik menuju mejanya, lalu ia mengambil map yang berada di laci mejanya. Segera ia serahkan map itu pada Feligan dengan sedikit lemparan. 

Feligan menerima map itu dengan kesal. "Apa ini?" tanya Feligan kebingungan saat ia membuka map tersebut. 

"Itu peraturan perusahaan. Kau bisa baca halaman lima, nomor 27. Kalau bisa katakan dengan kencang."

Feligan menatap tajam Shakira sebelum membuka halaman yang diperintahkan, ia juga membaca dengan kencang peraturan nomor 27 tersebut. 

"Mengerti?" tanya Shakira. Akan tetapi, Feligan belum menangkap maksud peraturan tersebut. 

Feligan kembali membaca peraturan tersebut dan kini terdiam. 

'Untuk semua pegawai yang telah menyelesaikan tugasnya boleh untuk beristirahat atau pulang, sesuai dengan syarat-syarat yang berlaku.'

"Kau bercanda? Siapa yang membuat peraturan seperti ini?!" teriak Feligan yang kini menggenggam map itu kuat.

Shakira mengedikkan bahunya. "Siapa lagi kalau bukan pemimpin sebelumnya. Jadi, kau tahu bukan jika kau menuduh seseorang tanpa bukti dan orang itu tidak bersalah maka yang kau lakukan adalah meminta maaf, aku ingin mendengarnya sekarang."

Feligan terdiam, ia tidak mau meminta maaf. Ia tidak pernah meminta maaf sebelumnya karena apa yang ia lakukan selalu benar. Tapi sekarang ia harus minta maaf pada pegawainya? Tentu saja tidak akan! 

Shakira bersidekap. "Tidak mau?" tanyanya dengan nada angkuh. 

"Aku tidak akan melakukannya," ucap Feligan penuh dengan tekanan di kalimatnya. 

Shakira mengangguk, kemudian ia bertepuk tangan sehingga menarik perhatian semua orang walaupun mereka sudah menaruh perthatiannya sedari tadi. 

"Pemimpin baru kita memang sangat tampan, tapi kurasa ia tidak punya rasa hormat, karena setelah menuduh pegawainya ia kini tidak mau meminta maaf. Benar-benar contoh yang baik, bukan?" ucap Shakira dengan lantang. 

Tangan Feligan mengepal. "Kau!" teriaknya tertahan. 

"Ada apa denganku? Aku hanya menginginkan hakku, agar nama baikku tidak kotor sepertimu."

"SIALAN!" Feligan berjalan dengan langkah besarr keruangannya diikuti tangan kanannya yang menatap Feligan ngeri. 

Feligan mengambil tempat di kursinya lalu menyatukan kedua tangannya. Ia berpikir keras, sampai-sampai dahinya mengkerut. Setelah itu Feligan terdiam, menatap lurus ke depan.

"Bawa wanita itu kemarkas kita."

Andrea yang mendengar itu tersentak. "Kau gila?!" 

Feligan mengangguk dengan yakin. "Ya, aku sudah gila sejak lama."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status