Ku Temukan Rumahku
Ku Temukan Rumahku
Author: ASPER
1. Rumah tak bernyawa

Hari itu langit tampak abu-abu. Warna langit yang biru mulai tertutup mendung. Lani melihat pohon tua yang sudah tidak berdaun dan hanya menyisakan ranting itu dengan perasaan sendu. Akankah pohon itu masih mau bertahan hidup? tanyanya dalam hati. 

Lani Lalu melihat ke depan dan menatap makam didepannya dengan tatapan kosong.

"Apa kabar ibu ? Apa kamu bahagia sekarang ?" Dia diam beberapa menit. Tidak ada jawaban.

"Aku membawakan bunga kesukaanmu, hortensia warna biru." Lani berjongkok dan menaruh bunga di atas makam yang penuh dengan rumput hijau itu.

"Ibu kamu tahu.. sekarang aku sudah masuk kuliah. Aku masuk di jurusan kedokteran......Aku tidak bisa menjengukmu sebulan sekali sekarang. Aku harap ibu mengerti, karena aku akan kuliah di Singapura" Lani diam sejenak, lalu melanjutkan

"Harusnya ibu tidak masalah, iya kan?"

Raut muka Lani mulai terlihat sedih. Matanya memanas.

"Ibu sendiri yang ingin mati. Meninggalkan aku.. sendirian... ketika aku masih kecil. Ibu tahu, aku sempat di bully setelah ibu meninggal. Katanya ibu mati karena gila" Air mata Lani sudah menggenang di pelupuk mata, dia mengusapnya dengan kasar dan tertawa getir

"Hahaha.. lucu sekali aku ini. Bukankah begitu ? ibu ? Aku bahkan bercerita tentang masa laluku. Padahal ibu tidak peduli sama sekali! Ibu meninggalkan aku begitu saja. Kadang aku bertanya.. kenapa kamu harus melahirkan aku ?"

Lani mulai bangkit dan berdiri

"Tapi sekarang aku berusaha untuk tidak merengek lagi padamu. Karena aku sudah cukup dewasa sekarang. Selamat tinggal, Ibu. Aku harus melanjutkan hidupku" 

Lani berbalik dan berjalan menjauhi makam ibunya. 

Rintik hujan mulai turun, tapi dia tidak menghiraukannya. Akan lebih baik kalau dia sakit sekalian, supaya dia bisa tidur jika diberi obat oleh dokter.

Lani membuka pintu mobilnya, dan mengendarainya menembus hujan di Jakarta sore itu.

Lani memasuki rumahnya yang sangat besar, dan sepi. Sebenarnya ada lima orang pembantu yang dipekerjakan oleh ayahnya, tapi kalau sore menjelang malam, mereka akan beristirahat di kamarnya masing-masing. 

Dia tidak melihat mobil ayahnya di garasi, pertanda ayahnya tidak akan pulang malam ini.

"Peduli setan dia mau pulang apa tidak! Tentu saja dia lebih senang bersama wanita-wanitanya daripada bersama anaknya!" Ucap Lani dengan menggerutu.

Lani mulai menata kopernya. Mulanya dia memasukkan baju-baju yang akan dia bawa. Namun tiba-tiba dia berhenti, dan mengeluarkan semua baju-baju itu dan memasukkan beberapa map berisi dokumen penting dan laptopnya.

RINGG RINGG

Dering dari hpnya, pertanda ada pesan masuk. Lani meraih hpnya. Dia mendapat pesan dari sekretaris ayahnya

Nona Lani, kapan anda ingin berangkat ke Singapura ? Saya akan memesankan tiket keberangkatan untuk anda

Lani menatap layar tersebut beberapa menit.

Raut wajahnya yang semula datar menjadi penuh emosi, sesaat seperti ingin menangis, sesaat seperti ingin marah. Dia menggenggam erat-erat benda itu, dan melemparnya dengan keras. 

Lani kemudian menangis sesenggukan. Beberapa menit kemudian, dia mengusap air matanya. Lalu menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Dia mengulanginya beberapa kali sampai tidak mengeluarkan air mata lagi.

"Aku harus tetap waras!" Ucapnya sambil memeluk dirinya sendiri.

Ketika membaca pesan dari sekretaris ayahnya, Lani berharap kalau itu adalah ayahnya. Dia selalu mengharapkan perhatian dari ayahnya, walau hasilnya selalu nihil. Akhirnya, hal itu malah membuatnya sangat kecewa, merasa marah, sekaligus sedih secara bersamaan.

Akhirnya, Lani memungut kembali hpnya. Rupanya lemparannya barusan meninggalkan goresan panjang di layar.

"Persetan mau hancur atau apa. Aku tidak peduli. Setidaknya kalau aku membeli lagi dapat mengurangi uang di rekeningku!"

Lani mulai membooking tiket pesawat ke singapura untuk keesokan harinya, tentunya memilih kelas bisnis dan maskapai yang harga tiketnya paling mahal.

Dia tersenyum puas. 

Setelah itu, dia memencet aplikasi belanja online untuk membeli hp baru.

"Satu-satunya yang ayah berikan hanya harta yang melimpah! Jadi aku harus memanfaatkannya semaksimal mungkin!"  Ucapnya dengan penuh kepuasan

Dia memilih hp yang paling mahal, dan pengiriman saat itu juga. Belum sampai sepuluh menit, uang puluhan juta di rekeningnya telah habis. Tapi itu hanya jumlah kecil jika dibandingkan dengan total uang di rekeningnya saat itu.

"Hari ini aku akan makan banyak karena besok aku akan meninggalkan rumah ini!" Dia tersenyum sangat puas. Dan kembali berkutat dengan layar hpnya

Dia memesan banyak makanan dan minuman dari aplikasi pengantar makanan. Setelah itu, dia melempar hpnya ke atas kasur, dan mulai mengecek kembali barang bawaan dia.

Setelah itu, dia keluar dari kamarnya dan melihat rumahnya yang sangat luas itu. Dia mencoba mengingat dengan baik rumah yang telah menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya. 

Dari lantai dua, dia menengok ke bawah ke arah lantai satu.

Di tengah ruangan ada karpet yang sangat lebar menutupi sebagian lantai marmer yang berwarna coklat. Di atasnya, ada candelier besar menggantung di langit-langit rumah.

Ada sofa kecil motif bunga-bunga yang diletakkan di dekat tembok, sedangkan tengah ruangan dibiarkan kosong. Lani lalu berjalan menuju anak tangga dan menatap foto-foto yang dipigura kayu. Tangannya meraba sebuah foto yang memeprlihatkan sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia. Lani yang akan masuk SD memakai seragam barunya dan rambut yang di kepang dua, dia terlihat sangat ceria dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Dalam foto itu, dia dipangku oleh seorang laki-laki dewasa yang memakai jas biru navi, dan tampak tersenyum lebar. Laki-laki itu menatap sosok perempuan cantik di sampingnya. Perempuan di sampingnya tersenyum hingga hanya memperlihatkan garis matanya saja. Tangan perempuan itu merangkul pundak laki-laki di sampingnya yang sedang memangku anak kecil. Kedua orang dewasa itu adalah ayah dan ibunya Lani. 

Ibunya adalah seorang aktris berbakat dan menikahi seorang pengusaha kaya raya. Lalu melahirkan seorang anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Semenjak menikah, Ibunya Lani jarang terlihat di layar kaca. Sebelumnya, ibu Lani sering sekali mendapat berbagai nominasi karena aktingnya yang memukau. Akan tetapi, setelah menikah dan melahirkan seorang anak, Ibunya Lani tidak lagi aktif dalam dunia akting. Setelah sepuluh tahun menikah, Ibu Lani meninggal. Sejak peristiwa itu, hubungan Lani dan ayahnya tidak lagi dekat. Rumah yang dulunya adalah tempat ternyaman, sekarang menjadi tempat yang penuh dengan kenangan buruk. Lani sadar, nyawa dari rumah itu adalah Ibunya. Kepergian ibunya sama saja dengan mencabut nyawa dari rumah itu.

Salah satu pembantu Lani datang menuju ruangan itu dengan vacuum cleaner di tangan kanannya. Dia melihat Lani sedang menatap foto di anak tangga, dan menghampirinya. 

"Nona sudah makan ?" tanya pembantunya dengan ramah

Fokus Lani teralihkan, dan menoleh ke samping untuk melihat sosok dari suara tersebut. 

"Aku sudah memesan makanan, nanti Bibi boleh makan bersamaku kalau mau" 

Ucap Lani tanpa senyum ataupun ekspresi sama sekali. Namun orang tua didepannya ini sudah hafal dengan perilaku nona mudanya ini. Bibi tua bernama Sarmi itupun tersenyum.

"Tentu saja saya mau Non, saya malah senang kalau disuruh menemani Nona makan" 

Kata-katanya sangat tulus, membuat perasaan Lani sedikit hangat. Lani mencoba tersenyum, tapi senyum yang dipaksakan akan terlihat karena matanya tidak ikut tersenyum.

Seorang pembantu tergopoh-gopoh datang ke ruangan itu membawa banyak kantung kresek di kedua tangannya.

"Nona!" Teriaknya ketika melihat Lani di anak tangga. Pembantu itu berjalan dengan cepat karena benda yang dibawanya cukup berat.

"Pesanan makanan anda telah sampai, ada empat orang yang mengantar. Ini ditaruh di mana?" Tanyanya setelah berhenti di ujung anak tangga. 

Lani yang melihat pembantunya nampak keberatan dengan barang bawaannya itu segera menuruni tangga dan mengambil beberapa kresek dari tangan pembantunya. 

"Ayo ke ruang tv" Ucap lani sambil berjalan mendahului kedua orangtua itu. 

Di ruang tv nampak sebuah layar lebar yang menyatu dengan tembok di ruangan itu. Di depannya terdapat meja, dan di depan meja tampak sebuah sofa panjang berwarna putih gading. Di ruangan itu terdapat beberapa tanaman yang menghiasi setiap pojoknya.

Mereka pun membuka kresek satu-satu dan mulai mencicipi makanannya. Lani memperhatikan kedua pembantunya itu diam-diam sambil makan. Keduanya tampak senang dengan makanan tersebut.

"Enaak sekali! seandainya cucuku di sini, dia pasti akan sangat suka!" 

Lani nampak tertarik dengan ucapan salah satu pembantunya itu

"Berapa usia cucumu ?" Tanya Lani

"Dia berusia sembilan tahun. Namanya Ari. Dia suka makan, jadi tubuhnya sedikit berisi. Tapi karena dia anak yang rajin, dan nilai di sekolahnya selalu bagus, ibunya selalu menuruti keinginannya. Kalau dia makan banyakpun tidak masalah" 

Bibi itu tersenyum mengingat cucunya. Lani yang bertanya semakin heran, seakan-akan cucu dari pembantunya itu boleh banyak makan kalau nilainya baik.

"Kalau nilainya buruk apa dia tidak boleh makan banyak?" 

Bibi itupun kembali tersenyum, namun kali ini tersenyum canggung

"Emm.. anu.. non.. Karena cucuku rajin, jadi makanan itu seperti hadiah untuknya Non" Jelasnya

"Lalu apa yang terjadi kalau nilai cucumu jelek Bi?"

Bibi itu menghentikan kegiatan makannya dan mencoba mengingat-ingat peristiwa yang Lani maksud dari memorinya.

"Mmm.. biasanya ibunya akan memarahi cucu saya. Sebenarnya saya tidak setuju dengan cara didiknya, tapi saya hanya orang tuaa. Jadi nurut saja sama anak saya Non. Bagiamana cara didiknya ya terserah dia.. wong saya juga numpang di rumahnya toh. Nanti dikata saya ikut campur" 

Jawaban Bibinya membuat Lani maklum. Kebanyakan orangtua memang hanya menuntut. 

"Bagaimana dengan keluargamu Bi Sarmi ?" 

Bi Sarmi yang sedang minum-minuman kekinian itu menghentikan aktivitasnya

"Ehh.. anu non, saya tidak punya anak. Lagipula, saya sudah bercerai semenjak kerja di rumah ini 19 tahun yang lalu"

Lani terkesiap

"Jadi kamu hidup sendiri ?"

Bi Sarmi tersenyum

"Non.. saya selalu berada di rumah ini, jadi saya tinggal disini selama ini. Kebetulan ada Non, dan tuan serta teman-teman pembantu di rumah ini, jadi saya tidak hidup sendiri Non"

"Sepertinya Bibi yang paling lama disini ya" 

"Benar non.. sebelumnya bahkan hanya saya dan satu orang pembantu ketika Nyonya masih hidup. Tapi setelah kematian Nyonya, Tuan menambah beberapa pembantu lagi, dan supir"

"Benar.. rumah ini memang menambah pembantu lagi semenjak Ibu meninggal. Tapi seakan rumah ini sudah tidak terlalu hidup semenjak Ibu meninggal, walaupun faktanya memiliki beberapa penghuni baru"

Lani berhenti makan, dia meminum boba di depannya. Tidak ada yang bersuara lagi. Ketiganya makan dalam hening. 

Tidak berapa lama kemudian, seorang pembantu datang ke ruangan itu membawa sebuah tas  kertas di tangannya.

"Non Lani.. ada kiriman dari kurir"

Lani menerima tas itu, dan pamit undur diri untuk istirahat. Dia tidak cerita kepada pembantu-pembantunya kalau dia akan pergi ke negara tetangga besok pagi buta. 

Lani menuju kamar mandi, dan membersihkan diri sebelum tidur.

Lalu dia membongkar isi paket yang berisi hp barunya dan mulai memasang sim card baru. Dia bertekad akan memulai hidup baru di sana. Setelah hpnya sudah siap, dia menchargernya dan tidur.

Pukul 3 pagi, dia bangun tidur dan mandi. Setelah itu dia beres-beres dan mengecek kembali barang bawaannya.

Sekitar pukul 4 pagi, dia keluar dari rumah. Tidak ada yang tahu dia keluar sepagi itu.

Dia menunggu taksi online yang dia pesan dengan berdiri di depan rumahnya. Dia menatap langit yang masih gelap gulita pagi itu. Tidak lama kemudian, taksi online yang dia pesan telah sampai. Lani memasuki mobil itu, dan mobil segera melaju meninggalkan rumah Lani. Dia melihat keluar jendela, diturunkannya kaca mobil itu, dan dia memandang keluar. Rumah yang sangat besar itu terlihat semakin mengecil seiring makin jauhnya jarak dia dengan rumahnya.

Selamat tinggal rumah yang tidak seperti rumah 

"Permisi Nona.. apakah anda anaknya Pak Pradipa dari Pradipa corp. ?" 

Suara supir taksi membuatnya teralihkan perhatian, dia menutup jendela mobil, dan menegakkan posisi duduknya.

"Benar" Jawab Lani singkat

"Saya dulu pernah bekerja dengan ayah anda, beliau adalah orang yang baik dan pandai dalam mengatur strategi. Tidak heran kalau bisnisnya berkembang sangat pesat sekarang"

Supir taksi itu tampak sangat memuja ayah Lani. Sementara Lani hanya diam, tidak ingin membahas ayahnya.

"Tapi setelah saya menikah dan anak saya lahir, saya disarankan untuk mengundurkan diri sementara"

"Apa alasannya ?" Tanya Lani tiba-tiba, karena dia penasaran

"Hahahaha.. saya dulu juga bertanya-tanya kenapa dia menginginkan saya untuk mengundurkan diri, walau hanya sementara. Apalagi saat itu tepat setelah anak saya lahir. Lalu saya memberanikan diri untuk bertemu beliau dan meminta penjelasan, tentu sangat sulit untuk menemuinya"

Saya anaknya saja juga kesulitan menemui orang itu kok, pak!

"Ternyata alasannya karena kelahiran anak saya! Hahaha" 

Lani tidak ikut tertawa. Dia mengernyit kebingungan. Apa yang lucu ? tanyanya dalam hati

"Maaf saya tidak tahan untuk menahan tawa.. waktu itu saya sedikit lambat mencerna. Padahal saya bekerja dengan sangat baik dan termasuk salah satu pekerja terbaik beliau, jadi saya marah. Lalu ketika saya menghadap beliau, awalnya beliau malah memberikan ucapan selamat atas kelahiran anak pertama saya. Disitu lalu saya bertanya kenapa beliau ingin saya keluar dari perusahaan. Lalu dia tersenyum dan menjawab kamu harus bersama istrimu untuk merawat anakmu dan kembali bekerja lagi saat istrimu sudah dapat beradaptasi menjadi seorang ibu katanya. Dia juga berkata kalau memiliki anak itu dapat menimbulkan banyak hal yang tidak terduga. Lalu saya di beri wejangan kalau saya harus lebih berfokus pada kesejahteraan istri saya, jangan melulu memfokuskan diri pada anak yang kecil. Intinya keduanya harus seimbang untuk dijaga" 

Lani semakin tidak paham kenapa ayahnya memberi nasihat seperti itu, padahal keluarganya sendiri saja kacau.

Lalu sopir taksi itu berbicara lagi. Dia banyak bicara sambil tetap fokus melaju menembus kota Jakarta pagi itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status