YOU
YOU
Author: dewi Triana.A7710
Our First Met

Kesya menatap kosong gelas dihadapannya, moodnya sedang buruk, dia tidak berminat sama sekali berbaur dengan kerumunan manusia yang sudah menggila di lantai dansa. Suasana ramai tak juga mampu mengusir kesepian di hatinya, dia menyesali keputusannya dengan datang ke tempat terkutuk ini. Kesya menarik nafas pelan, mengedarkan pandangannya ke lantai dansa, dia mendengus kesal saat semua mata menatap lapar dirinya, seperti ingin menyetubuhinya saat ini juga. Kesya segera mengembalikan pandangannya ke tempat semula dan langsung meneguk alkohol yang di hadapannya.

Sementara di tempat yang tidak jauh darinya, seorang pria menatap tajam tubuh gadis mungil yang sedari tadi berhasil mencuri perhatiannya, wanita penghibur yang sudah mengerumuninya sama sekali tidak dipedulikan, nafsunya hilang begitu saja, dia sama sekali tidak tertarik dengan tubuh telanjang para wanita itu, matanya tak kunjung berpaling dari punggung mulus gadis yang tak jauh dari jangkauannya.

"Hentikan, aku tidak ingin bermain." pria itu berujar dingin, mengusir para wanita jalang yang sama sekali tidak berhasil membuat Kingston junior bangun.

Tanpa menunggu lama lagi, kerumunan wanita itu bubar, menjauh dari mangsa favorit mereka dengan penuh kekesalan, malam ini mereka gagal menikmati keperkasaan pria tampan itu.

Sean Teadore Kingston, pria gagah rupawan bak dewa, wajahnya blasteran American-Indonesia, dada bidang, punggung lebar dan tegap, bibir seksi sedikit kecoklatan, sepasang manik biru yang tajam, juga tubuh yang menjulang tinggi, membuat kadar ketampanannya sempurna. Tak satu wanita pun yang tahan dengan pesona pria itu, dia hanya perlu duduk santai, maka seluruh kaum hawa dari berbagai profesi mulai dari kelas bangsawan, model seksi, bahkan kelas bawah sekali pun akan merangkak kepangkuannya.

Tak hanya tampan dan mempesona, Sean juga pria kaya raya, harta kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan. Siapa yang tidak mengenal keluarga Kingston, memiliki harta kekayaan yang berserak di seluruh belahan dunia, mendengar nama Kingston saja seisi bumi akan tunduk.

Sean mengamati gerak-gerik gadis yang masih setia membelakanginya, rasa penasaran akan dirinya membuat hatinya tak tenang, bahkan ingin sekali rasanya, dia mengeluarkan bola mata para pria hidung belang yang menatap lapar punggung terbuka gadis itu, sesuatu dari dirinya seakan tidak rela jika gadis itu menjadi objek fantasi seks mereka.

Sean berdiri dari duduknya, membelah kerumunan yang masih larut bergoyang menikmati dentuman musik, dengan kaki panjangnya dia melangkah lebar mendekati gadis yang sedari tadi mengganggu pikirannya.

"Kau sendirian?" Sean bertanya tanpa basa-basi, sambil mendaratkan bokongnya di samping gadis itu.

Kesya mengerutkan keningnya bingung, matanya menoleh liar mencari asal suara yang menyapa pendengarannya.

"Kau bicara padaku?" Kesya bertanya menggerakkan telunjuknya, mengarahkan tepat di wajahnya, memastikan bahwa suara itu berasal dari pria tampan di sampingnya.

"Ya, jika itu balasan dari pertanyaan mu." Sean berujar datar, sepertinya pesona dirinya tidak berlaku di hadapan gadis itu.

"Oh, begitu." Kesya membalas singkat, dia kemudian mengisi gelas sloki yang sudah kosong di hadapannya.

Sean mengangkat alisnya tinggi, harga dirinya runtuh saat mendengar balasan yang tidak bersahabat dari gadis itu.

"Kau tidak punya jawaban atas pertanyaanku?" ucap Sean mengulang pertanyaannya.

"Pertanyaan yang mana?" Kesya bertanya memasang wajah pura-pura bodoh, sama sekali tidak tertarik dengan basa- basi pria itu.

"Kau sendirian? Itu pertanyaanku." Rasa jengkel mulai merayap di hati Sean, ini pertama kalinya seorang Kingston mengulang kalimat yang sama.

"Menurut mu?" Kesya menjawab dengan pertanyaan, dalam sekali tegukan, cairan itu membasahi kerongkongannya.

Sean semakin tertantang, gadis dihadapannya bukanlah gadis biasa, butuh permainan sedikit untuk meluluhkan gadis sombong itu.

"Menarik." gumam Sean, mengisi gelas kosong di hadapannya, dia langsung membasahinya kerongkongannya dalam sekali tegukan.

Kesya tak memperdulikan kehadiran pria di sampingnya, dia menggoyangkan kepala kecil menikmati dentuman musik DJ itu, bibir mungilnya bergerak mengikuti syair lagu. Dia kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong, dan semua itu tidak luput dari pandangan pria di sampingnya.

Gairah Sean mulai memuncak saat melihat bibir merah merekah gadis itu, ingin sekali rasanya dia menarik gadis di sampingnya ke salah satu kamar VIP yang ada di club' itu, mencicipi setiap inci tubuh gadis itu, merasakan kelembutan bibir mungilnya, lalu membenamkan miliknya dan menyatu dengan lubang kehangatan, gadis itu akan berteriak nikmat di bawah kungkungannya.

Tapi semua itu tidak mungkin terjadi, Sean tetaplah Sean, dia tidak terbiasa untuk meminta, harga diri melarangnya memenuhi gairah yang sudah di ubun-ubun saat ini, kaum hawa yang suka rela melemparkan diri padanya tanpa harus bersusah payah.

Gadis di sampingnya benar-benar berbeda, dia sama sekali tidak jatuh pada pesonanya bahkan melirik pun tidak, sebagai pria sejuta umat, wajar jika rasa penasaran mulai bersarang di benaknya. Sebuah ide licik melintas di pikirannya, Sean membawa wajahnya tepat di telinga gadis itu.

"Want to dance with me?" bisik Sean dengan suara seksi, mencoba menggoda gadis sombong di sampingnya.

Kesya terkesiap saat udara hangat menyapu telinganya.

"No, thanks." balas Kesya singkat, menolak cepat permintaan pria di sampingnya, dia sudah tahu bahwa pria itu seorang lady killer.

Wow, seksi dan menarik. batin Sean

Sean tersenyum miring, dia kembali memajukan wajahnya berbisik di telinga gadis itu.

"How about...sex with me?" bisik Sean menyeringai tajam.

Dia yakin kali ini tawarannya pasti berhasil, bercinta dengan Sean adalah impian semua wanita, tidak ada seorang pun yang menolak kesempatan emas itu, tidak dengan gadis disampingnya sekali pun.

Kesya menoleh ke samping, dia mengangkat alisnya tinggi, hati kecilnya tertawa senang, berhasil membuat seorang Kingston terlebih dulu melempar diri pada gadis sepertinya.

Sean Teadore Kingston, tampan dan kaya raya, aku penasaran sehebat apa dia diranjang. batin Kesya bertanya

"How? Wanna play with me?" tuntut Sean, membalas tatapan manik coklat gadis itu.

Senyum licik terpatri di wajah cantik gadis itu, dengan berani dia mengangkat telunjuknya, menyusuri garis rahang tegas pria itu.

"Bagaimana dengan pemanasan dulu?" tawar Kesya, semakin tak kalah gencar menggoda pria itu.

"Terserah." balas Sean singkat, menutup mata menikmati sentuhan di wajahnya.

Dia sudah tidak kuat lagi menahan godaan gadis di hadapannya, sentuhan lembut jari mungilnya berhasil membuat nafsunya bangkit kembali. Selangkangannya terasa sesak, nafasnya memburu, degup jantungnya berdetak kencang, kepalanya mulai pening menahan nafsu birahinya yang mulai membludak.

Kesya tersenyum senang saat melihat pria itu mulai terbawa arus permainannya, dengan perlahan dia memajukan wajahnya, detik kemudian bibirnya menempel diatas bibir coklat pria itu.

Sean menyambut bibir itu dengan terburu-buru, ciumannya sangat panas, dia melumat atas bawah bibir seksi gadis itu, lidahnya yang kenyal dan hangat menyelusup masuk mengeksplor seluruh isi mulutnya, tangannya tak tinggal dia, tangan kirinya menahan tengkuk gadis itu semakin memperdalam ciuman mereka, tangan kanannya merambat kebawah menelusup masuk ke dalam pakaian ketat gadis itu tanpa melepas ciumannya. Kesya mengerang di sela-sela aktivitas panas mereka, kesadarannya kembali saat merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan telapak kasar yang sudah berada di balik gaunnya. Dia langsung mendorong dada bidangnya, melepas ciuman mereka, meraup udara rakus mengisi rongga dadanya yang sesak, ciuman Sean begitu memabukkan, hampir saja dia lupa diri. Hidung mancungnya masih menempel dengan hidung mancung pria itu, manik coklatnya memandangi wajah rupawan itu, nafasnya mereka saling bersahutan, terasa hangat dan menggairahkan.

Sean memang pantas dijuluki pejantan tangguh, pesonanya memang luar biasa, tak ingin larut dalam kegiatannya, Kesya menarik wajahnya menjauh.

Sean mengerang, hasratnya belum tersalurkan, dia masih ingin lebih dari sekedar ciuman panas ini.

Sean menatap tajam gadis itu.

"Apa yang kau lakukan?" geram Sean.

"Permainan selesai." Kesya berujar enteng, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kau menghinaku." desis Sean, harga dirinya merasa terhina di hadapan gadis itu.

Gadis itu terkekeh pelan, dia kembali berbisik di telinganya.

"Selamat bermain solo, tuan......

Kingston?" ujar Kesya pelan, lambat dengan mendesah, memancing kembali gairah pria itu.

"Brengsek!" Sean berujar marah, memaki gadis yang sudah berani mempermainkannya.

Kesya tertawa penuh kemenangan, harga diri Kingston sudah jatuh tak berdaya di hadapannya.

"Semoga kita tidak bertemu lagi sayang." balas Kesya memamerkan senyum manisnya, mendaratkan kembali kecupan singkat di bibir itu, hanya kecupan singkat, tidak lebih dari situ.

Dia mengambil tasnya, lalu mulai membawa kaki jenjangnya beranjak dari tempat duduknya, malam ini cukup sampai disini, dia tidak ingin berakhir seperti jalang jika terlalu lama di tempat terkutuk itu.

Sean menatap kepergian gadis itu marah, tangannya mengepal kuat menahan emosi sekaligus hasratnya. Gadis itu sudah berani mengusik egonya, dia bersumpah, gadis itu akan merangkak dengan sukarela di ranjangnya suatu saat nanti.

"Ben!" Sean memanggil tangan kanannya yang sedari tadi berdiri di belakangnya.

"Ada apa tuan muda?" tanya Ben, saat sudah berada di hadapan Sean.

"Cari informasi sedetail mungkin tentang gadis itu, malam ini juga." perintah Sean tegas.

"Baik tuan muda." Ben membalas menyanggupi perintah tuannya. Dia segera berlalu dari hadapan Sean.

"Dia benar-benar menggairahkan, aku tidak pernah merasakan bibir senikmat itu." Sean bermonolog sendiri, menjilat bibirnya menikmati rasa manis yang masih menempel di bibirnya.

Selamat datang di dunia Kingston, kelinciku. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status