Bad Luck

Rumah adalah tempat paling nyaman. Setelah seharian Gia merasakan siksaan, akhirnya lenyap setelah berada di rumah. Hanya sekadar rebahan sambil nonton tv saja sudah menjadi surga dunia bagi Gia. Sayangnya, hari ini dia tidak bisa menikmati surga dunianya.

Gia baru tiba di rumah saat matahari baru saja tenggelam. Dia langsung mandi, membasuh tubuhnya yang lengket karena keringatnya terlalu banyak seharian. Aroma matahari, keringat, dan sisa parfum diskonan di tubuhnya bercampur sangat memuakkan. Gia sendiri nyaris muntah saat mengecek aroma ketiaknya.

"Baunya mirip sisa janji manismu yang nggak pernah ditepati, busuk banget," celetuk Gia sebelum masuk ke kamar mandi. Dia menghabiskan waktu lumayan lama di dalam kamar mandi. Mungkin di dalam kamar mandi dia sekaligus membangun peradaban baru dunia.

Selesai mandi, perut Gia berontak minta jatah preman. "Bunda masak apa?" tanya Gia yang sudah berada di samping Bunda. Dia membuka kulkas, lalu meraih sekotak susu cokelat. Dengan cepat Gia meneguk habis susu dingin dan manis itu hingga tandas.

"Ini bikin capjay kesukaan kamu," jawab Bunda sambil terus mengaduk masakannya di wajan. "Panggil Ayah sana. Ini udah hampir matang. Kita makan bareng," perintahnya tanpa mengalihkan pandangan.

Gia menurut. Dia memanggil Ayah yang sedang santai di ruang keluarga. Berdua mereka kemudian duduk di ruang makan, menunggu Bunda selesai masak.

"Gimana hari ini, Gi?" tanya Ayah sesaat setelah duduk di kursi. Matanya memandang Gia, penasaran dengan kegiatan pertama anak gadisnya sebagai mahasiswi.

"Gia telat tadi pagi. Jadi kena omel senior, deh. Gia upacaranya baris sendirian di pojokan. Ternyata itu bukan hukuman lho, Yah. Gia kena tambahan hukuman hormat bendera sejam. Panas-panas sendirian coba. Udah kayak barang nggak guna aja gitu. Ikan asin aja dijemur rame-rame, lho, masa Gia yang cakep sendirian?" jawab Gia menceritakan kejadian tadi pagi. Tangannya terus bergerak sebagai penunjang cerita menyedihkannya.

Ayah tertawa mendengar cerita Gia.

"Ih, Ayah malah ketawa. Ini anak gadis kesayangannya sampai gosong gini lho," keluh Gia lalu menunjukkan kedua tangannya yang menghitam. "Belang, deh, mirip kuda zebra." Gia memajukan bibirnya.

"Itu kan kesalahan kamu sendiri, dinikmati ajalah. Besok kalau udah punya anak, kan, bisa jadi cerita," kata Ayah menenangkan.

"Ih, nggak mau, ah, cerita beginian ke anak Gia besok. Gia bisa diledekin nanti," tolak Gia. "Lagian, ya, Yah. Senior Gia tadi, sumpah, mulutnya sadis banget. Itu emaknya kebanyakan julid sama tetangga kali waktu hamil dia." Gia melanjutkan ceritanya. Membayangkan muka sadis kakak seniornya membuat Gia bergidik ngeri.

"Jangan sampe benci dia, lho, Gi. Nanti kamu malah jadi cinta," komentar Bunda, lalu meletakkan semangkuk besar capjay dan ayam goreng buatannya di tengah meja. Bunda mengambil piring dan menyendokkan nasi dan capjay ke piring tersebut, kemudian memberi paha ayam goreng. Bunda menyerahkannya ke Ayah. Ayah tersenyum menerima pemberian Bunda.

Aroma capjay sudah mengganggu hidung Gia. Campuran sayuran, ayam, udang, bakso, dan sosis itu memang menjadi makanan kesukaan Gia. "Eh, bisa gitu ya, Bun, benci jadi cinta? Udah kayak sinetron aja gitu ya," sahut Gia yang segera mengambil nasi lengkap beserta capjay dan ayam goreng.

Ayah dan Bunda tertawa mendengar ocehan Gia. Anak gadisnya itu memang anak ceria yang selalu bisa menghangatkan suasana. Selalu ada celotehan riangnya di meja makan. Bahkan saat Gia bercerita tentang nasib sialnya saja bisa membuat orang lain iba dan tertawa sekaligus.

"Rumah depan kita itu udah laku, ya, Bun?" tanya Ayah, lalu memasukkan sesendok penuh nasi beserta potongan wortel ke mulut. "Rumput liarnya udah bersih." 

"Iya, udah laku. Tadi ada yang beresin rumahnya. Katanya, sih, lusa udah ditempatin," jawab Bunda sambil mengambil ayam goreng.

"Akhirnya punya tetangga baru. Punya anak ganteng nggak, ya? Boleh, tuh, kalau pengin ngapelin deket, kayak lagu dangdut," celetuk Gia dengan mulut penuh makanan. Dia lalu menyanyikan lagu dangdut pacar lima langkah dengan suara cemprengnya.

"Nanti senior galak tadi gimana, dong?" Bunda usil menggoda Gia.

Gia yang mengingat wajah iblis senior jahatnya pun langsung menghentikan nyanyiannya dan manyun. "Ih, Bunda ngapain ngingetin sama senior sadis gitu, sih? Bikin kesel aja, deh."

"Ati-ati jadi cinta, lho," goda Bunda yang membuat Gia semakin melipat wajahnya.

"Besok bangunin Gia pagi-pagi banget ya, Bun," minta Gia sambil masang tampang memelas.

"Tumben?" Bunda mengerutkan keningnya, heran.

"Gia nggak mau telat lagi. Gia udah diancam dapet hukuman yang lebih berat lagi. Hukuman apaan coba yang lebih berat? Angkat sekarung beras? Dorong mobil? Mindahin menara Eiffel ke Bandung? Atau ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya?" Gia mengeluh nggak jelas.

Ayah dan Bunda tertawa mendengar kata-kata tidak jelas dari anak gadisnya tersebut.

***

Hari kedua OSPEK. Gia sudah bangun dari subuh, tentu berkat bantuan Bunda.

"Udah wangi. Udah rapi. Udah cantik. Udah kenyang. Siap berangkat," seru Gia riang. Dia yakin hari ini akan jadi hari yang menyenangkan.

Gia memasuki mobil Honda jazz putihnya. Dia meletakkan ransel di kursi sampingnya, lalu duduk dan menyalakan mobil.

"Bunda, Gia berangkat, ya," pamit Gia kepada Bunda yang mengantarnya sampai teras depan.

"Ati-ati, ya, Sayang," nasihat Bunda sambil melambaikan tangan. Gia hanya membalas dengan klakson sambil berlalu.

Gia menyalakan radio dan memilih saluran favoritnya. Lagu Girls Like You milik Maroon 5 feat Cardi B mulai terdengar. Gia pun ikut menyanyi dengan suara rusaknya. Dia berusaha menghilangkan rasa takutnya. Gia takut bertemu senior galak kemarin. Tapi, kali ini Gia yakin kalau tidak akan terjadi masalah.

Sekarang baru jam 6.30 pagi, masih sangat aman untuk berangkat ke kampus. Jalanan macet tidak akan menghalanginya tiba di kampus tepat waktu. Tidak ada kemacetan berarti di jam ini. Masih terlalu pagi bagi Gia untuk datang terlambat.

Gia menghentikan mobilnya di perempatan. Traffic light menunjukkan warna merah, tanda dia harus berhenti. Gia memandang sekeliling sambil merapikan rambutnya yang masih dikuncir dua.

Aturan OSPEK untuk mahasiswi baru di kampusnya adalah kemeja putih, rok hitam, sepatu hitam, dan rambut dikucir dua. Penampilannya sangat simple, tanpa harus menggunakan tambahan ornamen mencolok yang sering dipakai saat OSPEK, misalnya tas dari karung atau rok rumbai dari tali rafia warna-warni.

Gia berterima kasih kepada siapa pun yang menghapus aturan norak OSPEK yang nggak berperikemanusiaan. Sekarang Gia dan teman satu angkatannya bisa merasakan OSPEK yang damai.

Oh, oke. Ospek-nya tidak sepenuhnya damai karena ada satu orang sadis di kampusnya. 

Tidak lama traffic light berubah warna hijau. Gia bersiap menjalankan mobilnya lagi menuju ke kampus. Perjalanannya memang belum ada setengah jalan, tapi masih bisa dilalui dengan santai. Kurang dari sepuluh menit dia sudah berhasil sampai tujuan dengan selamat dan bahagia. Tidak akan ada hukuman lagi untuknya.

Nyatanya, takdir berkata lain.

Mendadak mobil Gia berhenti di tengah jalan. Untungnya tidak sampai terjadi kecelakaan. Mobil-mobil di belakangnya masih sempat mengerem sebelum menyentuh pantat mobil Gia.

Gia masih tenang. Dia mencoba menyalakan kembali mobil Honda jazz yang sudah menjadi miliknya sejak SMA itu. 

Sayangnya, gagal. Mobilnya menolak menyala. Gia berusaha menyalakan lagi. Gagal lagi. Gia mulai cemas. Dia mencoba lagi, tapi masih gagal.

Klakson mobil di belakang mobil Gia mulai bersautan, protes dengan kemacetan yang terjadi. Ini membuat Gia semakin cemas.

Gia berkali-kali meminta maaf dengan mobil yang mendahuluinya. Tidak jarang dia menerima makian. Berulang kali Gia berusaha menyalakan mobil kesayangannya itu. Tapi, hasilnya masih sama. Sama sekali tidak ada tanda-tanda mobilnya akan menyala.

"Ya Allah. Ini kenapa pakai mogok gini sih, ah?"

Sepertinya, hari ini belum menjadi hari yang menyenangkan bagi Gia. Seharusnya dia benar-benar membeli jimat tolak bala.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status