Share

Dua

Seperti bumerang, aku serba salah menghadapi Ayu. Istriku sekarang malah lebih tegas dan membalikkan semua perkataanku. Bahkan, kali ini saja aku dibuat bungkam olehnya.

"Maaf kalau Mas salah. Mas hanya---"

"Berbakti pada orang tua? Membuat ibu senang karena ibu yang merawat dan membuat Mas hebat seperti ini, kan? Damar Prakoso, IT ternama dan terpecaya di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Benar bukan?" 

Hal yang aku takutkan begitu nyata. Senyumnya membuat diri ini merasa bersalah. Apa istriku tidak waras? Kenapa dia seperti itu? Senyumnya pun terpaksa gitu. Bersyukur deh, dia tahu apa yang aku pikirkan.

"Sudah, bersihkan wajahmu. Mas risih melihatnya." 

Ayu berlalu begitu saja. Ia ke kamar mandi membersihkan wajah seperti apa yang aku perintahkan. 

Saat ke luar kamar mandi, auranya semakin cantik. Membuat hasrat lelakiku bergairah, sepertinya aku akan bersenang-senang malam ini.

"Sayang, kamu cantik banget, sih. Sini duduk di sini," pihtaku.

"Nggak usah memuji, aku sedang datang bulan. Tuh, aku habis ganti pembalut." Dengan tawa Ayu memperlihatkan bungkus pembalutnya. 

Astaga, aku gigit jari malam ini. Aku merebahkan diri di kasur dan menutup tubuh dengan  selimut. Wajahku masih terasa panas, saat Ayu mentertawakan kekonyolanku.

***

Kenapa bangun tidur moodku, masih kurang bagus? Ah, sial! Gara-gara tamu datang bulan, aku jadi gagal semalam.

"Mas, ada Ibu." Terdengar Ayu memanggilku.

"Iya, tunggu. Mas cuci muka dulu," jawabku. 

Tumben Ibuku datang pagi-pagi sekali. Ada apa, ya?

Setelah mencuci muka aku menghampiri Ibu yang sedang bermain dengan Bagas dan Anita. Kedua anakku sangat akrab dengan Ibu.

Usia Bagas tujuh tahun dan Anita lima tahun. Jarak yang sangat dekat, itu pun kemauanku agar tidak terlalu jauh saat mereka dewasa.

"Bu," ucapku sambil mencium punggung tangannya.

"Kamu baru bangun?"

"Iya, tadi habis shubuh tidur lagi. Ada apa, Bu?" 

"Besok ada acara nikahan sepupumu Aldo. Kita semua diundang, bisa Ndak antar Ibu? Ajak anak dan istrimu juga. Sekalian temu keluarga." 

"Ouh, bisa, Bu. Besok Damar jemput ke rumah, ya."

Kulihat istriku sibuk di dapur. Kenapa tidak menemani ibuku sih? Malah sibuk di dapur. 

"Ibu sudah minum?" 

"Belum, istrimu sibuk sendiri. Mana dia ingat memberi ibu minum," ujar Ibuku.

Kesal aku mendengarnya. Tak lama Ayu datang membawakan minuman untuk Ibu.

"Kamu kok baru datang ngasih ibu minum?" Aku sengaja menegur Ayu di depan ibu. Agar ibu tidak merasa terabaikan.

"Ya, iya baru. Abis ibu minta buatkan jahe hangat, ya, kan lama buatnya. Digodok dulu, apalagi aku bersihkan dulu jahenya. Yang bubuk habis, jadi aku buatkan alami." Ayu menjawab cepat.

Lagi, ia menaruh gelas dengan senyum. Namun, senyum itu kembali membuat aku takut. 

"Diminum, Bu. Nanti dingin nggak enak, malah nanti aku nggak enak kalau dikira nggak bikinin ibu minum."

Wajah ibu memerah saat mendengar ucapan Ayu. 

"Eh, iya. Ibu lupa tadi." Ibu malah gerogi saat mendengar penuturan Ayu.

Aku segera menghampiri Ayu di dapur. Tangannya cepat sekali memotong bumbu dan menyiangi sayuran. 

"Kamu jangan seperti itu sama ibu," protesku.

"Aku hanya membela diri," jawabnya tanpa menoleh padaku.

"Kalau Ibu lupa, ya sudah. Jangan dibahas."

Lagi, aku memperingatkannya.

"Kalau aku diam, kamu bilang aku kaya patung lagi. Aku jawab salah, aku harus bagaimana? Diam gitu saat aku dijelekkan dan malah kamu lebih percaya ibu?"

Duh, aku salah lagi, nih. Kenapa sih Ayu semakin pintar membalikkan ucapanku? Tidak mau banyak berdebat, aku memilih menghindar saja.

Aku kembali menemui Ibu yang sedang menikmati jahe hangat buatan Ayu. 

"Istrimu itu, kenapa, sih, nggak bisa mulutnya nggak nyakitin ibu?" 

"Lagi datang bulan, Bu. Jadi sensitif." Kali ini aku membela Ayu di depan Ibu.

"Halah, begitu saja dijadiin alasan. Kalau nggak suka sama ibu, bilang. Jangan sedikit-sedikit menjawab omongan ibu. Ndak sopan, tahu."

Aku merasa bersalah kalau melihat ibu sedih. Tidak pernah aku melihat dia seperti itu.

"Mar, istrimu kamu belikan skincare apa? Ibu mau juga, dong. Kayanya, udah banyak flek di wajah ibu, deh."

"Hah, skincare?"

"Iya, itu ibu-ibu satu komplek bilang kalau kamu, tuh royal sama istrimu."

"Pakai saja uang yang aku kasih untuk ibu. Kan, belum habis uang sebanyak itu. Lagi pula aku nggak pernah membelikan skincare buat Ayu. Ibu tahu sendiri beberapa persen gaji aku kasih ibu dan sesuai saran ibu, aku hanya memberikan Ayu 1.500.000 untuk sebulan. Lagi pula, Ayu nggak pernah minta uang lebih. Kayanya dia make alami deh."

"Moso?"

"Iya."

Aku menegaskan lagi. Kenapa lagi-lagi kecantikan istriku yang menjadi bahan perbincangan?

"Kayanya nggak mungkin alami, deh. Jangan-jangan ada yang istrimu tutupi. Apa dia main serong dan dapat uang dari pria lain?"

Ucapan ibu sama saja seperti Arman. Hati ini seperti teriris pisau saat mendengar dan membayangkan. Hanya demi skincare, istriku berselingkuh? Ah, sial! Mana mungkin, tapi ---

***

Untung saja ibu mau aku pesankan gojek. Aku masih ada urusan dengan Ayu. Tentang perselingkuhannya, ya, kemungkinan perselingkuhan Ayu dengan pria lain.

Tanggaku mengepal keras, amarah di dada ini masih membuncah. Kuhampiri Ayu yang habis merapihkan anak-anak.

Bagas dan Anita disetelkan TV oleh Ayu. Langsung saja aku menarik kasar lengan istriku menjauh dari anak-anak.

"Apa, sih, Mas!" Ayu berani menyentakku.

"Aku mau bicara!" Aku tak kalah tegas darinya.

"Mau bicara dengan menarik lenganku dengan kasar?" Bibir Ayu terangkat satu ke atas. Ia menatapku dengan berani. 

"Ya, oke. Maaf."

Aku menarik napas panjang dan mencoba menahan emosi. Aku seperti orang yang tidak sabar kali ini. Jujur saja aku sangat mencintai istriku, bahkan sampai aku tidak mengizinkannya bekerja karena salah satu alasannya adalah, aku tidak mau pria lain memandangnya.

"Jadi bicara, nggak? Malah diam, Aku banyak kerjaan."

Ingin sekali aku menampar wajahnya, tetapi aku tak akan pernah kasar padanya.

"Selama ini, uang yang aku kasih untuk kebutuhan sehari-hari, kamu pergunakan dengan baik, kan?" Rahangku terasa tercekat saat mengatakan hal itu. Lidah terasa kelu saat akan menuduhnya berselingkuh. 

"Ouh, itu, tuh, lihat saja kedua anak kamu sehat, buka? Rumah rapi dan bersihkan? Apa ada masalah denga nafkah 10 persen itu?" tanya Ayu tanpa bersalah.

"Aku, cuma mau memastikan saja."

"Hanya memastikan apa, nih? Aku pikir mau menambahkan beberapa persen, oh, iya aku lupa kalau kamu habis mentransfer uang pada adikmu. Jadi, mana ada sisa untuk aku dan kedua anakmu."

"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" 

Aku naik pitam mendengar ucapannya. Kenapa dia selalu tidak suka jika aku memberikan uang untuk keluargaku. Harusnya, ia berterimakasih pada ibu. Karena doa ibu aku semakin sukses. 

"Bukan apa-apa, sekedar warning diri saja kalau aku harus sadar diri jika akan berada di nomer kesekian dibawah keluarga kamu."

Kalau saja Bagas tidak datang, tangan ini sudah menamparnya.

"Ma, belikan aku mainan yang seperti Alan, ya. Kemarin aku nggak boleh pinjam," rengek anakku.

"Iya, nanti kita beli. Sekarang Bagas main sama adik dulu, ya." Ayu merangkul Bagas dan melangkah meninggalkan aku.

Ia malah sibuk menenangkan Bagas. Tumben sekali, biasanya dia bilang minta saja sama Papa. Atau, langsung meminta uang.

***

Hari libur seperti ini lebih enak dinikmati sambil bermain game. Mereka semua kemana? Kenapa rumah sangat sepi? 

Kucari Ayu di dapur tidak ada, di kamar anak-anak pun tidak terdengar suara. Saat kubuka, kosong dan mereka tidak ada. 

Kemana mereka?

Aku berdiri di halaman rumah. Ternyata anak-anak pergi bersama Ayu menggunakan sepeda motor. Bagas dan Anita masing-masing menenteng satu buah plastik.

"Papa." Mereka turun dari motor dan berhamburan menghampiriku. Aku memperhatikan apa yang mereka bawa. 

Sementara, Ayu sibuk merapikan motor di teras. Kaca mata hitam dan masker selalu tidak pernah ketinggalan saat ia berkendara.

"Kalian dari mana?" tanyaku.

"Toko mainan. Mama membelikan buat aku, bagus, kan, Pa?" Bagas memperlihatkan mainan mobil remot yang kutaksir dengan harga 200.000.

Kemudian, Anita memperlihatkan boneka dengan dorongan bayinya.

"Anita juga dibelikan ini, lucu, kan, Pa?" 

"Iya, Sayang." 

Kini, yang ada di kepalaku adalah jumlah harga mainan anak-anak. Kalau di total bisa 300.000 an. Kalau misalkan aku memberikan Ayu 1.500.000, berarti sisa 1.200.000 untuk belanja.

"Ngapain di luar, Mas?" tanya Ayu yang sudah berada di sampingku.

"Kamu uang dari mana bisa belikan mainan anak-anak? Mahal pula harganya."

"Uangku, masa uangmu." Ayu menjawab santai. Lalu, ia malah masuk ke dalam mengikuti anak-anak.

Aku mengejarnya, masih penasaran dengan semua teka teki selama ini.

"Iya aku tahu. Tapi itu juga, kan uang dariku. Kenapa kamu malah boros membelikan anak-anak mainan. Jangan minta kalau uang belanja habis," ancamku.

Sorot mata Ayu begitu tajam menantapku.

"Katamu boros, tapi menurutku tidak. Kamu kerja buat siapa memang? Hahaha ... aku lupa kalau suamiku bekerja untuk keluarganya bukan istri dan anaknya! Benar, kan, Mas?"

Tangan ini sudah berada di atas, tetapi aku berhenti karena Anita berlari memeluk Ayu. Aku lupa anak gadisku takut dengan suara keras. 

"Cup, Anita Sayang," ujar Ayu sambil menggendong Anita.

Aku belum selesai bicara, dia sudah pergi begitu saja. Kenapa ucapan Ayu malah membuat aku terus berpikir. Enak saja dia bilang aku bekerja hanya untuk keluargaku, benar, kan, dia sensitif jika berhubungan dengan keluargaku.

Aku duduk sambil memperhatikan Ayu dan anak-anak. Pasti setelah ini, dia akan meminta uang tambahan untuk masak. Lihat saja, tidak akan kuberikan. 

"Ma, kamu, kan bisa minta aku belikan mainan anak-anak," ujarku mencoba mengajak bicara Ayu lagi.

"Aku masih bisa kok bikin anak-anak senang. Kalau kamu yang ke toko mainan, pasti semua mainan dengan harga murah dan besok rusak." Lagi, ia menyunggingkan senyum.

"Aku heran sama kamu, jangan sampai kamu minta tambahan uang," ketuaku.

"Tenang saja."

"Tenang? Aku curiga, kamu dapat uang dari mana bisa membelikan anak-anak mainan, apa benar kata mereka kalau kamu berselingkuh?" 

Wajah Ayu memerah mendengar pertanyaan dariku.

***

Bersambung

Comments (6)
goodnovel comment avatar
Sumi Yatun
ni suami kok bikin geram ya
goodnovel comment avatar
Asep Sablon
mulai seru lanjut
goodnovel comment avatar
ida Sari
mmng bnr ibu nya membuat nya bisa seperti skr,,dan kewajiban seorang anak untuk menafkahi ibunya tp jika sdh punya anak istri ,,istri yg jd prioritas utama tp tidak melupakan kewajibannya terhadap ibunya,,Krn selain doa ibu ada doa seorang istri dibalik kesuksesan seorang suami
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status