Mag-log in"Kalau kau ingin aku membantumu membalas dendam, maka kau harus jadi milikku. Sepenuhnya. Bukan hanya untuk semalam. Tapi selamanya. Kau tinggal bersamaku. Tidur di ranjangku. Patuh padaku. Dan tunduk pada semua aturanku. Tak ada rahasia. Tak ada nama lain dalam pikiranmu kecuali aku." ucapnya pada Kyora, posesif dan mendominasi. --- Kyora Rosebelle menyaksikan suaminya menikah lagi. Malam itu juga ia diusir dan seluruh asetnya dirampas. Satu tahun menikah sekalipun ia tak pernah disentuh suaminya. Hari-harinya hanya dipenuhi dengan siksa dan hinaan. Namun, ia tak pernah membayangkan jika malam kelam itu justru menjadi titik balik yang mengubah takdirnya, menyeretnya ke dalam pelukan Ludovic Armany, pewaris tunggal kerajaan kasino terbesar di Eropa, pria yang memiliki kuasa dan kendali atas dunia bisnis. Bersamanya, Kyora membalas dendam atas pengkhianatan suaminya. Tapi, disisi lain ia justru menemukan dunia yang selama ini tak pernah didapatkannya, kepuasan, kekuasaan, dan perlindungan tanpa batas. Ludovic bukan hanya mengobati lukanya, ia menjadikan Kyora ratu di hidupnya. Akan tetapi, di balik kesempurnaan yang Kyora dapatkan, satu pertanyaan terus menghantui, apakah di hatinya ada cinta untuk Ludovic? atau semua ini hanya permainan balas dendam yang dibungkus gairah?
view moreMobil melaju perlahan meninggalkan area pemakaman. Pohon-pohon tua di kiri kanan jalan berbaris rapi, dedaunan mereka bergoyang pelan tertiup angin pagi. Kyora menatap keluar jendela, pikirannya masih tertinggal di antara nisan marmer dan doa-doa yang tak sempat ia ucapkan selama bertahun-tahun.Ludovic tidak mengganggunya. Ia membiarkan keheningan mengalir. Sesekali ia melirik Kyora, memastikan wajahnya sudah kembali ceria, bahwa kesedihan itu tidak lagi menenggelamkannya terlalu dalam.“Kita tidak harus kembali ke mansion sekarang,” ucap Ludovic akhirnya, suaranya rendah dan hangat. “Ada sebuah tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Jika kau tidak keberatan.”Kyora menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Ludovic yang tidak mengintimidasi seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di sana kelembutan yang hangat.“Ke mana?” tanyanya.“Sebuah taman lama,” jawab Ludovic singkat. “Tidak jauh dari sini.”Kyora ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”Mobil berbelok ke jalan kecil yang dipen
Malam semakin larut ketika Kyora akhirnya terlelap. Namun tidurnya tak begitu tenang. Bayangan taman, air mancur, dan patung marmer dengan bunga liliy terus berkelebat di alam mimpinya.Seorang gadis kecil berusia lima tahun berlari di taman, gaun merah mudanya berkibar tertiup angin. Tawa riang memenuhi udara. Di belakangnya, seorang bocah lelaki tujuh tahun lebih tua di atasnya, dengan rambut hitam pekat mengejar sambil tertawa kecil, membawa bunga lily of the valley yang hampir terlepas dari genggamannya.“Kyo! Tunggu aku!” teriak bocah itu.Gadis kecil itu menoleh, wajahnya berseri. “Kau lambat sekali, Kak Luvi!”Nama itu menggema aneh di telinga Kyora dewasa yang menyaksikan mimpi itu dari kejauhan. Luvi. Dadanya terasa nyeri tanpa sebab.Mimpi itu berubah.Langit kelabu. Gadis kecil itu berdiri di depan sebuah makam yang masih basah. Menatap bocah bernama Luvi yang terisak di samping pusara dengan bertabur Lily of the valley.Gadis kecil itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketn
Makan malam itu berlangsung dalam hening yang nyaris menyiksa. Dentingan garpu dan pisau terdengar begitu jelas di tengah ruangan besar yang seharusnya hangat, namun justru dingin membeku.Kyora berusaha menahan pandangannya tetap tenang, menunduk setiap kali tatapan Ludovic menusuknya tanpa suara. Membuatnya susah untuk menelan dengan benar.Laki-laki itu makan dengan tenang, gerakannya penuh kendali. Namun Kyora tahu, di balik ketenangan itu ada sesuatu yang menggelegak, entah amarah terpendam karena ucapannya tadi, atau hanya permainan sunyi yang sengaja diciptakan.Kyora menggenggam serbet di pangkuannya, seakan mencari pegangan agar tidak gemetar. Napasnya berusaha ia atur, tapi tetap saja terasa berat. Pria di depannya benar-benar tak bisa ditebak.Begitu santap malam usai, Ludovic meletakkan sendoknya perlahan, lalu mengusap bibir dengan serbet putih bersulam benang emas. Tatapannya singkat, tapi cukup membuat jantung Kyora berdebar.“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Ky
Langkah Calista terdengar bergema di lantai marmer butik perhiasan mewah tempat ia berada. Matanya masih menatap pantulan wajahnya di kaca display berlian, namun pikirannya melayang jauh.Kata-kata ayahnya tadi di telepon cukup mengganggu ketenangannya. Kalimat itu bagai duri yang mengusik."Ck!" Ia berdecak kesal sendiri. "Ayah, kau mengganggu kesenanganku." omelnya sendiri. Ia menggenggam ponsel erat, seolah ingin meremukkannyaSeorang staf butik mendekat dengan senyum ramah, menawarkan koleksi terbaru. Namun Calista hanya melirik sekilas lalu melambaikan tangan acuh.“Tidak, aku tidak butuh apa-apa. Aku sudah tidak selera!" bentaknya, kemudian berlalu pergi begitu saja.Langkahnya meninggalkan butik itu cepat, hampir tergesa, seakan ia ingin lari dari bayangan ayahnya yang terus mengganggunya.Di sisi lain, Moretti kembali ke ruang rapat. Para komisaris masih berkumpul, sebagian dengan wajah pucat, sebagian lagi saling berbisik. Suasana ruangan kini lebih berat daripada sebelumnya
Kyora menggenggam ujung seprai, merasakan bagaimana setiap inci tubuhnya bereaksi atas sentuhan Ludovic. Bukan sentuhan sembarang pria. Tapi tangan yang sejak awal memperlakukannya seperti manusia, bukan objek. Napasnya tercekat saat Ludovic menunduk, menyesap lekuk lehernya dengan penuh penghaya
"A-aku?" Kyora terbata, gugup bercampur tegang dan takut."Hm," bisiknya. "Sebagai menu makan malamku." Suara Ludovic rendah dan berat, hidungnya menyusuri pipi Kyora lembut, tapi tidak mengecupnya.Ia hanya diam, menatapnya dalam ke manik mata Kyora yang masih meninggalkan bekas sembab, seolah ing
Ludovic melumat bibir Kyora dengan kelembutan, bertolak belakang dari atmosfer liar dan menjijikkan yang sedang berlangsung hanya beberapa meter dari mereka. Ludovic menciumnya bukan untuk menggoda. Tapi untuk menenangkan badai dalam dada Kyora. Sentuhannya di bibir itu seperti pelindung terakhir
Ciuman itu seharusnya Kyora tolak. Tapi tubuhnya justru tak bergerak. Bibirnya diam, tapi napasnya mulai bergetar ketika sentuhan itu berubah dari lembut menjadi menuntut. Lingual Ludovic menyelusup perlahan, menguji. Ia tidak memaksa, ia menunggu Kyora membuka mulutnya sendiri.Dan saat Kyora akhi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.