LOGIN"Kalau kau ingin aku membantumu membalas dendam, maka kau harus jadi milikku. Sepenuhnya. Bukan hanya untuk semalam. Tapi selamanya. Kau tinggal bersamaku. Tidur di ranjangku. Patuh padaku. Dan tunduk pada semua aturanku. Tak ada rahasia. Tak ada nama lain dalam pikiranmu kecuali aku." ucapnya pada Kyora, posesif dan mendominasi. --- Kyora Rosebelle menyaksikan suaminya menikah lagi. Malam itu juga ia diusir dan seluruh asetnya dirampas. Satu tahun menikah sekalipun ia tak pernah disentuh suaminya. Hari-harinya hanya dipenuhi dengan siksa dan hinaan. Namun, ia tak pernah membayangkan jika malam kelam itu justru menjadi titik balik yang mengubah takdirnya, menyeretnya ke dalam pelukan Ludovic Armany, pewaris tunggal kerajaan kasino terbesar di Eropa, pria yang memiliki kuasa dan kendali atas dunia bisnis. Bersamanya, Kyora membalas dendam atas pengkhianatan suaminya. Tapi, disisi lain ia justru menemukan dunia yang selama ini tak pernah didapatkannya, kepuasan, kekuasaan, dan perlindungan tanpa batas. Ludovic bukan hanya mengobati lukanya, ia menjadikan Kyora ratu di hidupnya. Akan tetapi, di balik kesempurnaan yang Kyora dapatkan, satu pertanyaan terus menghantui, apakah di hatinya ada cinta untuk Ludovic? atau semua ini hanya permainan balas dendam yang dibungkus gairah?
View MoreJavier melangkah meninggalkan lorong itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Langkahnya tetap tenang. Bekas tamparan di pipinya masih terasa panas, ulah dari wanita yang selama ini dianggap tak lebih dari bayangan di dalam mansion itu.Pintu kamar utama terbuka. Ruangan luas itu remang dengan cahaya lampu tidur. Di atas ranjang berukuran king size, Calista masih terlelap.Dress tidur merah tipis yang dikenakannya tersingkap hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya terurai di atas bantal sutra.Biasanya, pemandangan itu cukup membuat Javier melupakan segala urusan. Namun malam ini berbeda.Tatapannya hanya singgah sekilas, lalu mengembara entah ke mana. Yang muncul di benaknya justru wajah Kyora.Tatapan mata yang tadi menantangnya. Nada suaranya yang tidak lagi gemetar. Keberaniannya mendorong, bahkan menampar dirinya tanpa rasa takut.Javier berdiri mematung beberapa saat."Selama kau pergi, apa yang sebenarnya terjadi padamu, Kyora? Kau banyak berubah." gumamnya li
Kyora dan Ludovic saling melepaskan pelukan. Tak ada lagi kata, seolah keduanya sudah saling memahami, semakin lama mereka bersama, semakin besar pula resiko terbongkar."Jaga dirimu," bisik Ludovic pelan."Kau juga."Ludovic mengecup pelan puncak kepala Kyora sebelum melangkah mundur. Dalam hitungan detik, sosoknya menghilang di balik rimbunnya pepohonan taman paviliun timur, seolah tak pernah muncul.Kyora menarik napas panjang. Jantungnya masih berdetak cepat. Pertemuan singkat itu mengembalikan semangat yang sempat hampir padam.Ia segera menyusuri jalan setapak menuju pintu belakang mansion. Semua tampak sepi.Hanya lampu-lampu taman yang memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Kyora membuka pintu perlahan, lalu masuk tanpa suara.Ia tentu hafal setiap sudut mansion. Langkahnya ringan melewati tiap ruangan, kemudian berbelok hendak menuju lorong yang mengarah ke kamar para pelayan.Baru beberapa langkah, Kyora menghentikan langkahnya. Dari kejauhan, cahaya masih keluar dar
Pagi itu, dapur sudah sibuk sejak langit masih pucat. Kyora berdiri di depan kompor, menggulung lengan bajunya dengan rapi. Tangannya bergerak tenang, seolah ia benar-benar hanya seorang pelayan yang terbiasa dengan rutinitas ini.Bubur kacang merah mengental perlahan di panci, aromanya harum dan familiar. Ia mengaduk dengan pelan. Takaran gula. Sedikit garam. Semua persis seperti dulu.Di meja samping, susu almond sudah dipanaskan, kopi hitam diseduh dengan gula secukupnya. Kyora mencicipi sedikit bubur itu, sebelum mematikan kompor.Ia menata semuanya di meja makan. Setelah itu, Kyora mundur beberapa langkah dan berdiri bersama pelayan lain. Kepala sedikit menunduk, tangan terlipat di depan perut. Peran itu kembali ia lakukan.Langkah kaki terdengar dari tangga. Sepatu kulit beradu dengan marmer, Javier turun dari kamar utama. Kemeja putihnya rapi, dasi sudah terpasang, rambutnya tersisir sempurna. Jas hitam ia bawa di tangan kiri.Refleks Kyora melangkah mendekat dan mengulurkan ta
Pagi datang begitu cepat. Ketukan keras di pintu kamar Kyora memecah sunyi.Ia bangkit perlahan, menahan nyeri di pergelangan tangan. Bekas ikatan masih membiru. Kyora mengusapnya pelan, lalu menarik napas panjang. Bertahan. Itu satu-satunya kata yang harus ia ingat hari ini.“Bangun!” suara perempuan terdengar dingin. “Nyonya Calista memanggilmu.”Kyora menarik napas panjang lalu berdiri, merapikan rambutnya seadanya. Pintu dibuka dari luar. Dua pelayan wanita yang tak pernah ia lihat mengapitnya tanpa bicara. Langkah mereka cepat, seolah Kyora bukan pemilik rumah, melainkan lebih rendah dari seorang pelayan.Ruang makan sudah penuh hidangan. Calista duduk di ujung, anggun dengan gaun pagi berwarna krem. Javier berdiri di dekat jendela, menyesap kopi, sengaja memunggungi Kyora.“Cepat kemari!” perintah Calista tanpa menoleh.Kyora berjalan mendekat. Ia menunduk, memainkan ujung jemarinya, persis seperti peran yang harus ia mainkan.“Mulai hari ini,” kata Calista, suaranya manis tapi
Ketukan lembut terdengar di pintu kayu yang menjulang setinggi hampir setara dengan atap. Kyora sontak tersentak, reflek ingin berdiri, seperti kebiasaannya membukakan pintu, namun Ludovic menahan pergelangan tangannya.“Diam di situ. Jangan kemana-mana,” bisiknya pelan tapi pasti.Lelaki itu bangk
Sinar matahari menusuk ketika Kyora perlahan membuka matanya. Setelah perbincangan singkat tadi pagi, mereka mengulang kembali kejadian semalam. Lagi, dan lagi. Entah siapa yang memulai. Mereka seakan sama-sama tak ingin berakhir.Rasa nyeri yang menjalar dari bawah tubuhnya membuat napasnya tertah
Angin malam menyusup dari balkon, membawa aroma malam yang bercampur kabut tipis. Namun suhu tak seberapa dingin dibanding gejolak yang kini membakar di dalam ruang luas itu.Kyora berdiri terpaku di balik gaun basahnya, rambut acaknya meneteskan air hujan terakhir yang belum mengering, seperti sis
Langkah sepatu kulit Ludovic berdentum di lantai marmer hitam ketika ia membawa Kyora yang masih menggigil dalam pelukannya.Rambut basah Kyora meneteskan sisa hujan, menodai jas pria itu, namun Ludovic tak peduli. Ia membuka pintu besar berukiran emas menuju kamar utama kastil Armany, ruang luas d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.