Share

BAB 4; LITTLE GIRL

Kubuka mataku saat kurasakan paparan sinar matahari yang hangat menyentuh wajahku. Aku langsung bangkit begitu menyadari jika ini kamar ini begitu asing bagiku. Dan aku baru sadar setelah mencium aroma yang sangat familiar ini. Ini adalah kamar Dave. Suara langkah kaki yang mendekat membuat jantungku ikut berdetak cepat. Aku langsung menarik selimutku dan meremasnya kuat-kuat  saat melihat seseorang yang membuka pintu kamar. Genggaman tanganku mulai mengendur setelah melihat siapa yang datang. Dia adalah Dave. Kulihat dia berjalan kearahku sambil membawa nampan yang berisi makanan.

“Selamat pagi,” sapanya sambil menurunkan nampan yang dibawanya di meja. Dia tersenyum dan menatapku hangat.

“Pa ... pagi,”  jawabku lirih berusaha mengalihkan pandanganku ke arah lain. Bahkan sampai sekarang aku masih belum berani menatapnya lama.

“Apa kau masih merasa takut padaku?” tanyanya tiba-tiba membatku langsung menatapnya dan menggeleng dengan cepat. Takut? Bagaimana bisa aku takut pada sikap lembut yang selalu dia berikan?!

“Tidak bisakah kau berhenti menggeleng ataupun menganggukkan kepalamu? Lihat bahkan matemu sendiri berpikir kau takut padanya,” cicit Lucy dikepalaku dengan kesal. 

“Dia matemu juga, Lucy.” Jawabku dengan nada jengkel mengingat Lucy yang selalu menyalahkanku.

Tubuhku sedikit menegang saat dia menarikku secara tiba-tiba dalam pelukannya. Ini bukan pertama kalinya dia melakukan hal ini. Tapi tetap saja aku belum terbiasa. Kemudian dia meneggelamkan wajahnya di lekukan leherku, membuatku sedikit terkejut dan hampir memekik namun kutahan kuat-kuat. Aku tak ingin membuatnya merasa tidak nyaman. Aku hanya diam mematung kaku, membiarkan dia menghirup aromaku dan memeluk tubuhku.

“Sia ...” Panggilnya setengah berbisik dan aku hanya diam mendengarkan apa yang akan dikatakannya selanjutnya. 

“Aku mencintaimu ... sangat ...” bisiknya tepat di telingaku dan bisa kurasakan tubuhku langsung menegang mendengarnya. Jantungku memompa lebih cepat dari biasanya dan kurasa Lucy menari nari di dalam sana.

“Hei jangan diam saja, bodoh! Cepat katakan bahwa kau juga mencintai dia!”  teriak Lucy di dalam kepalaku namun aku tetap mempertahankan kebisuanku.

 “Jujur, aku tak tahan melihatmu terus seperti ini. Kau selalu membuatku khawatir setiap saat. Aku ingin membuatmu merasa aman dan nyaman saat bersamaku. Tapi, aku bahkan tak mengerti apa yang kau pikirkan dan apa yang kau rasakan,” ucap Dave yang terdengar begitu frustasi. Aku merasa sedih mendengar suaranya yang parau. Tak kusangka secara tidak langsung aku sudah membuatnya sedih.

“Maafkan aku,” gumamku pelan membuatnya menarik tubuhnya dan menatap wajahku.

“Aku tak akan membuatmu khawatir lagi,” ucapku memberanikan diri menatap langsung matanya cukup lama. Dia terkekeh pelan kemudian mengusap kepalaku dengan gemas. Ralat, bukan mengusap kepalaku tapi lebih tepatnya mengacak rambutku. Aku langsung mendengus kesal dan memegang kepalaku. Apa yang membuatku terlihat lucu? Dia malah tertawa setelah itu dan aku justru menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Ini pertama kalinya aku melihat Dave tertawa lepas. Itupun saat dia bersamaku. Dave terlihat sangat manis saat tertawa, bahkan Lucy juga mengakuinya.

“Kenapa kau terus menatapku seperti itu, sweetheart?” tanya Dave membuatku sadar telah terlalu lama menatapnya.

“Tidak, hanya saja kau membuatku ingat pada kakakku,” jawabku jujur. Aku memang ingat dengan kakak laki-lakiku. Dulu kami sering tertawa bersama dan dia juga sering mengacak-acak rambutku.

“Kakak? Jadi kau punya kakak?” tanya Dave yang terlihat takjub sekaligus penasaran. Aku mengangguk memberi jawaban.

“Dulu dia sering mengejekku dan juga mengacak-acak rambutku. Kemudian aku akan marah padanya dan mengadukannya pada Ibuku. Tapi dia justru mentertawakanku dan ibu malah membelanya. Dan saat kuadukan Ayahku, ayah malah ikut mentertawakanku. Mereka bilang aku terlihat lucu saat marah,” kataku dengan bersungut-sungut kesal mengingatnya.  Aku menoleh ke arah Dave yang tiba-tiba tertawa mendengar perkataanku. 

“Wajahmu memang sangat lucu saat marah, Sia.” Kata Dave di sela-sela tawanya. Astaga, bahkan mateku sendiri juga mengatakannya. Dengan kesal kucubiti perutnya dan dia langsung menghentikan tawanya. Sejenak aku bisa lihat mata kelabunya yang tampak terkejut sebelum akhirnya mengaduh pelan.

“Kalian semua sama-sama menyebalkan,” kataku datar sambil membuang muka berpura-pura masih kesal padanya. Astaga, apa yang sebenarnya aku lakukan?! Entahlah, tapi kami baru saja berbicara dengan normal. Ya, ini pertama kalinya kami bisa bicara dengan lancar. Tapi, kenapa aku harus bersikap kekanakan seperti ini?! Aku ingin segera berbalik dan mengakhiri tingkahku ini. Namun perutku tiba-tiba berbunyi. Membuatku mau tak mau aku menutup wajahku karena malu. Aku benar-benar sudah lapar. Aku segera menunduk dan kudengar Dave kambali tertawa.

“Maaf, sekarang aku membuat perutmu marah.” Godanya tapi aku hanya mendiamkannya. Kulihat dia mengambil piring yang ada di nampan yang dibawanya tadi dan memberikannya padaku. Aku menatapnya sebentar kemudian menerima piring itu. Aku mulai menyuapkan makanan yang ada di dalam piring itu ke dalam mulutku dan makan dalam diam. Sedangkan Dave hanya memperhatikan aku yang sedang makan.

Semua isi di piring itu sudah masuk kedalam mulutku seluruhnya. Sungguh rasanya sangat lama sekali aku tidak memakan makanan seperti ini. Biasanya mereka hanya akan memberiku makanan sisa yang mungkin sudah setengah basi. Dave terkekeh pelan saat melihatku selesai makan. Entahlah, kurasa hari ini dia lebih banyak tertawa diabandingkan biasanya. Aku hanya menatapnya bingung dan tangannya langsung meraih pipiku.

“Ada nasi di pipimu,” katanya sambil menunjukkan sebutir nasi yang dia ambil dari pipiku. Aku langsung menunduk malu dan suara tawanya kembali terdengar setelah keheningan yang cukup lama.

“Hei, jangan sembunyikan wajahmu. Kau sangat lucu, kau tau?” Tangan Dave mengangkat daguku perlahan. Membuat mataku segera terkunci dalam manik kelabu miliknya. Jantungku mulai berdetak tak karuan karena aromanya yang sangat dekat dan memabukkan.

“Sia ...” Panggilnya dengan suara yang lembut. Tanpa sadar aku menahan napas, menunggunya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Menatapnya tanpa berkedip. Sempat kulihat senyum samar di bibirnya.

“Kau ... bau,” katanya dengan nada datar, berhasil membuat mataku membulat sempurna. Tawanya kembali pecah saat aku memalingkan wajahku darinya dan meringsut menjauh darinya. Tentu saja aku sangat malu. Wanita mana pun pasti juga akan merasakan hal yang sama jika tiba-tiba orang lain, terlebih orang yang disukainya mengatakan dirinya bau. Apalagi aku juga belum mandi. Jadi mau tak mau aku percaya ucapan mateku begitu saja.

“Hei, aku hanya bercanda,” ucapnya setelah tawanya reda namun aku malah semakin menjauh darinya.

“Pergilah, aku ingin mandi sekarang.” Kataku masih menyembunyikan wajahku. Kurasakan dia ingin mendekat ke arahku tapi dengan cepat kutahan.

“Pergilah! aku ingin mandi sekarang juga. Jika kau belum ingin pergi juga aku akan ... akan ...” kata-kataku terhenti. Aku berniat mengancamnya namun aku bingung apa yang harus kukatakan agar dia mau pergi sekarang.

“Akan?” Dave kembali menggodaku membuatku semakin malu.

“Aku tidak akan mau kau peluk lagi!” Seruku dengan spontan. Entah dari mana, kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dan aku langsung merutuki diriku sendiri setelah mengatakan hal yang memalukan itu. Kudengar Dave hanya terkekeh pelan dan suara langkah kakinya semakin menjauhiku. Aku menoleh ke arah pintu dan melihatnya berdiri di sana sambil menatap ke arahku.

“Itu artinya aku boleh memelukmu sepuasnya,” ucapnya dengan seringaian senang sebelum akhirnya menutup pintu kamar kami. Pipiku mulai memanas. Itu tadi sangat memalukan. Tapi juga menyenangkan. Bisa kurasakan Lucy juga merasa begitu bahagia karena kami bisa semakin dekat.

“Wow, kau baru saja menggodanya,” kata Lucy dengan nada yang mengejek. Namun aku tak menanggapinya. Aku malah menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan berguling-guling di sana. Sungguh, aku merasa begitu senang dan juga malu. Kututup wajahku menggunakan bantal dan senyumku mengembang di dalam sana.  Aku benar-benar seperti orang gila sekarang. 

Aku segera bangkit saat mendengar pintu kamarku yang diketuk dari luar. Dave baru saja keluar dan kurasa Dave tidak akan mengetuk pintu terlebih dahulu untuk masuk ke dalam kamarnya. Dengan ragu aku melangkah ke depan pintu. Kuhembuskan napasku perlahan sebelum memutar knop pintu. Berusaha mengatur ekspresi wajahku dan juga jantungku. Kuharap itu benar-benar bukan Dave. Aku tak tau lagi bagaimana keadaan jantungku jika itu memang benar dia. Dan saat  pintu kamarku sudah terbuka, kulihat seorang gadis kecil yang menatapku dengan kedua mata birunya yang lebar dan menggemaskan. Ia menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi untuk beberapa lama dia masih diam dan meremas kain yang ada dalam pelukannya.

“Emm ... Lu ... luna?” ucap gadis kecil itu yang terlihat begitu gugup dan bingung. Aku terkekeh pelan melihat tingkah gadis kecil itu yang membuatku tak tahan ingin mencubit pipi tembamnya. Mendengar kekehanku ia langsung menatapku dengan pandangan yang ... kagum? Entahlah, tapi matanya terlihat berbinar. 

“Ada apa, gadis manis?” tanyaku dengan lembut seraya merekahkan senyum di wajahku. Kulihat gadis itu sedikit terkejut, menatapku seperti baru saja melihat sebuah berlian. Namun, tak lama setelah itu senyum langsung merekah di wajahnya. 

“Tante Alena menyuruhku memberikan ini pada Luna.” Tangan mungil gadis kecil itu terulur, memberikan kain yang sedari tadi dipeluknya. Itu adalah sebuah baju. Dengan ragu aku mengambilnya. 

 “Emm ... terimakasih,” kataku sambil menepuk kepala gadis kecil itu lembut dan segera masuk kembali ke kamarku. Aku segera bergegas menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri. Aku tidak ingin Dave mengataiku bau lagi. 

Aku berkutat di depan cermin dan menatap pantulan diriku dengan dress polos biru muda yang panjangnya selutut. Ini adalah baju yang diberikan gadis kecil itu padaku dan aku yakin baju ini adalah milik Alena. Baju ini terlihat sedikit kebesaran untukku, karena tubuhku lebih kurus dari Alena. Kurasa aku harus menaikkan sedikit berat badanku, aku terlihat begitu menyedihkan saat ini. 

Terkadang aku merasa kasihan pada diriku sendiri, terlebih Dave karena sudah memiliki mate sepertiku. Aku merasa dia tak pantas bersanding denganku. Dia begitu sempurna untukku. Sedangkan aku, aku sangat jauh dari kata sempurna. Aku tidak pernah merawat diri dengan baik, tubuhku terlalu kurus dan tinggiku hanya sebatas dadanya. Aku begitu mungil jika disandingkan dengan dia yang begitu tinggi dan gagah. Aku juga sama sekali tidak cantik, aku tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. Kadang aku merasa jika Dave lebih baik menolakku dan mencari wanita yang lebih pantas untuk menjadi Lunanya.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status