LOGINEwan dan Nazar akhirnya berhenti melangkah."Benda apa ini?" tanya Ewan.Nazar melirik sekilas ke 49 tiang besi itu, lalu berkata dengan suara berat, "Kalau aku nggak salah lihat, ini adalah sebuah formasi."Formasi? Ewan terkejut. Dia mengamati dengan saksama beberapa saat, lalu dengan kaget menyadari bahwa dalam warisan yang ditinggalkan leluhur Keluarga Aditya, tidak ada satu pun formasi yang sesuai dengan formasi di hadapannya.Bagaimana mungkin? Harus diketahui, dalam warisan leluhur Keluarga Aditya, baik itu ilmu rahasia strategi, ilmu jimat dan fengsui, ilmu rahasia bela diri ... semuanya ada!Meskipun beberapa catatan tidak terlalu lengkap, setidaknya tetap disebutkan sedikit. Namun, untuk formasi di hadapan ini, Ewan telah menelusuri seluruh warisan, tetapi tidak menemukan informasi apa pun."Tua bangka, kamu tahu ini formasi apa?" tanya Ewan lagi.Nazar menggeleng sambil menjawab, "Untuk sementara aku belum tahu."Ewan berkata, "Kita harus cari cara untuk menerobos keluar."N
Tidur dengannya? Mendengar dua kata itu, wajah Ewan langsung menjadi suram."Bocah nakal, kamu kira selain obat spiritual ribuan tahun, hanya Fisik Sembilan Surya yang bisa menyembuhkan Tiara?""Tentu saja nggak, sebenarnya kamu bisa menyembuhkannya. Kamu memang bukan Fisik Sembilan Surya, tapi kondisi tubuhmu jauh melampaui Fisik Sembilan Surya. Kalau kamu nggak percaya, coba saja."Bagaimana mungkin hal seperti ini dicoba? Kalau bisa menyembuhkan Tiara tentu tidak apa-apa, tetapi kalau tidak bisa menyembuhkannya, bukankah itu hanya akan menambah kesedihan?"Bocah nakal, aku nggak bercanda. Yang kukatakan semuanya benar. Baiklah, semua yang perlu dikatakan sudah kusampaikan. Jaga dirimu!"Nazar menatap Ewan dalam-dalam, lalu berbalik dan berjalan menuju Kota Emas dengan tegas.Ewan tidak ragu sedikit pun, langsung melangkah mengikuti."Di sini bahaya, kamu ikut untuk apa? Cepat kembali!" Nazar berkata lagi, "Aku ini sudah tua, jadi mati di sini juga nggak apa-apa. Kamu nggak perlu iku
"Aku nggak menyentuh Pedang Cahaya Senja," kata Ewan."Kamu nggak menyentuhnya?" Mata Nazar menyipit.Ewan menurunkan Pedang Cahaya Senja dari punggungnya dan menggenggamnya di tangan. Terlihat Pedang Cahaya Senja bergetar hebat, mengeluarkan dengungan pedang, seolah-olah ingin keluar dari sarungnya.Ewan memandang ke sekeliling, tetapi masih tidak menemukan sumber bahaya."Pedang Cahaya Senja sedang memberi peringatan kepada kita. Kamu masih ingin pergi ke Kota Emas?" tanya Ewan.Nazar melirik Kota Emas, lalu menggertakkan giginya. "Mau!"Ewan berkata dengan marah, "Di dalam sana berbahaya!""Walaupun ada bahaya, tetap harus pergi!" kata Nazar. "Aku akhirnya menemukan Kota Emas, nggak mungkin berhenti di sini!""Master Shadala pernah berkata, harta besar di dalam Kota Emas dapat membuat Akademi Nagendra kembali berjaya. Karena itu, aku harus masuk."Ewan mencoba membujuknya, "Tua bangka, kalau kita terus maju, ada kemungkinan kita akan mati di sini. Kamu ngerti?""Tentu saja aku ngert
Ewan mengangkat kepala dan melihat ke depan. Dia melihat bahwa 500 meter di depan, berdiri sebuah tembok kota yang terbuat dari emas.Ukurannya seperti sebuah vila kecil. Cahayanya berkilauan keemasan. Kemewahannya tak tertandingi!"Kota Emas! Aku akhirnya menemukan Kota Emas!" Nazar berteriak kegirangan. Karena terlalu bersemangat, seluruh tubuhnya sampai gemetar.Di dalam hati, Ewan juga cukup terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Kota Emas yang hanya ada dalam legenda ternyata benar-benar ada.Namun, dibandingkan kegembiraan Nazar, Ewan tampak jauh lebih tenang. Di dalam hatinya, dia sedang memikirkan beberapa pertanyaan.Siapa yang membangun Kota Emas ini? Mengapa dibangun di tempat ini? Selain itu, apa sebenarnya harta besar itu?"Bocah, ayo kita pergi lihat Kota Emas."Sejak melihat Kota Emas, mata Nazar tidak pernah berpaling darinya. Sekarang dia hanya ingin segera masuk ke Kota Emas untuk mencari harta besar. Setelah berkata begitu, Nazar melangkah maju."Tunggu!" Tiba-tiba, Ewa
Ewan berkata, "Kalau menemukan Kota Emas, bukankah kita akan punya uang?"Seketika, mata Nazar berbinar."Kau benar! Selama kita menemukan Kota Emas, aku akan punya uang. Hahaha ...."Di tengah-tengah bunga liar itu terdapat sebuah jalan batu biru. Ewan dan Nazar berjalan menyusuri jalan batu itu, terus melangkah ke depan.Keduanya sangat berhati-hati. Mereka sama-sama mengerti bahwa tempat yang tampak indah seperti ini sering kali menyimpan bahaya tak terduga. Namun, hingga mereka keluar dari hamparan bunga, mereka tidak menemui bahaya apa pun.Di depan mereka muncul lagi sebuah gua. Gua itu setinggi beberapa meter dan gelombang panas terus keluar dari dalamnya. Ewan dan Nazar sangat berhati-hati dan tidak masuk dengan gegabah."Bocah, aku punya firasat Kota Emas semakin dekat dengan kita," kata Nazar dengan suara rendah. Di antara alisnya tersirat sedikit kegembiraan.Ewan menatap gua itu, mengamatinya beberapa saat, lalu bertanya, "Kenapa dari dalam gua ini ada gelombang panas?"Naz
Nazar menjerit keras dan jatuh dengan cepat menuju dasar Kolam Surgawi.Melihat pemandangan itu, Ewan tertawa. "Mampus, kena batunya sendiri."Beberapa saat kemudian, Ewan lebih dulu mendarat di dasar Kolam Surgawi.Baru saja dia berdiri dengan stabil, terdengar suara benturan. Nazar jatuh tepat di sampingnya.Ewan menoleh dan melihat Nazar dengan rambut berantakan, wajah bengkak. Tampak sangat menyedihkan.Tak lama kemudian, Ewan menyadari bahwa ikan-ikan pedang juga ikut turun. Dia segera mengeluarkan beberapa Jimat Api, lalu melemparkannya.Boom! Api menyala. Ikan-ikan pedang itu langsung berhenti bergerak dan tidak berani mendekat.Ewan segera melihat sekeliling dan menemukan sebuah gua pada dinding batu di sampingnya.Tanpa berpikir panjang, Ewan meraih bahu Nazar dan bergegas berlari masuk ke gua. Anehnya, meskipun gua itu berada di dasar Kolam Surgawi, bagian dalamnya sangat kering."Sialan, hampir saja aku mati karena jatuh." Nazar duduk di tanah sambil memaki dengan kesal.Ewa
"Kamu mau pergi sendirian?"Reaksi awal Tandi adalah terkejut, lalu dia berkata, "Nggak bisa, pergi sendirian terlalu berbahaya.""Justru karena berbahaya, aku memutuskan pergi sendiri," kata Ewan. "Kamu pemimpin misi ini. Kalau kamu ikut dan tewas bersama aku, siapa yang akan memimpin tim?"Tandi b
Dalam sekejap, seluruh ruangan gempar. Semua orang berdiri dari kursinya dengan ekspresi terkejut, mata mereka membelalak seperti baru melihat hantu."Pasien vegetatif itu ... benar-benar sadar?""Sepertinya memang sadar!""Ya ampun, kemampuan Dokter Ewan luar biasa banget!""Menang! Ewan menang!" s
Teja memarahi anggota timnya, lalu menatap Ewan dan berkata, "Kamu sudah bicara lancang. Kamu harus minta maaf pada kami.""Minta maaf? Minta maaf saja sama nenekmu!" balas Ewan tanpa sungkan sedikit pun. "Kamu yang duluan bilang ilmu pengobatan tradisional kami itu sampah. Kenapa kamu nggak minta m
"Zombie?"Mendengar kata itu, Ewan juga menyadari bahwa perjalanan ke barat laut kali ini tampaknya tidak sederhana."Kami juga memanggil dukun yang paham tentang jimat, tapi anehnya, jimat mereka nggak berefek pada para jasad yang berubah itu," kata Tandi."Selain itu, setelah mengalami perubahab,







