LOGINUsai berkata demikian, pengawal itu lalu terkekeh dan melanjutkan, "Tuan Muda, coba kamu pikir. Dengan menghabiskan 200 miliar, bukan hanya bisa menyingkirkan Ewan, tapi juga mendapatkan Lisa, bahkan sekaligus mendapatkan perusahaan Lisa. Ini benar-benar sekali panah kena tiga sasaran.""Aku rasa ini bisnis yang sangat menguntungkan.""Bagaimana menurut Tuan Muda?"Mikael mengangguk, lalu memberi instruksi kepada pengawal, "Lakukan saja seperti itu. Sampaikan pada dua orang itu, mereka harus bunuh Ewan."Pengawal membungkuk dan menjawab, "Siap!""Baik, kamu kembali saja. Aku mau istirahat." Mikael melambaikan tangan.Pengawal tetap berdiri di tempat. "Tuan Muda, masih ada satu hal yang ingin aku laporkan. Besok perusahaan Bu Lisa akan mengadakan pembukaan, kamu masih akan datang?""Tentu saja aku datang," kata Mikael. "Kalau nggak datang, bagaimana aku bisa melihat dia jadi bahan tertawaan?""Kalau begitu, aku akan jemput Tuan Muda besok pagi jam sembilan." Setelah berkata demikian, pe
Pada saat yang sama.Di dalam sebuah suite presiden di hotel mewah di Papandaya, Mikael mengenakan jubah mandi, memegang segelas anggur merah, duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV. Dia terlihat sangat santai.Ting tong! Tiba-tiba, bel pintu berbunyi."Masuk." Begitu suara Mikael terdengar, pintu terbuka dan seorang pengawal masuk."Tuan Muda, di tempat kecil seperti Papandaya ini, susah sekali mencari artis wanita yang agak terkenal. Aku sudah cari lama, tapi nggak ketemu.""Tapi aku sudah hubungi seorang aktris yang lagi syuting. Hanya saja harganya agak mahal. Kita juga harus tanggung tiket pesawat pulang-perginya."Mikael tersenyum. "Nggak masalah, yang penting aku senang. Kapan orangnya sampai?""Sudah sampai," tanya pengawal. "Mau aku bawa dia masuk sekarang?""Iya." Mikael mengangguk.Pengawal itu segera keluar.Lima menit kemudian, pengawal membawa seorang wanita muda ke dalam kamar. Wanita itu berambut ikal panjang dan bertubuh tinggi. Dia mengenakan pakaian terbuka dan
Ewan keluar dari kamar, menutup pintu, lalu mengajak Dinda ke ujung lorong dan bertanya, "Ada apa?"Dinda menjelaskan, "Besok perusahaan farmasi akan dibuka. Awalnya kami mengundang 27 media, tapi sekarang semua media itu batal datang.""Cuma itu?" Ewan tersenyum. "Aku kira ada masalah besar apa.""Ini memang masalah besar." Dinda melihat sikap Ewan yang tidak peduli, lalu berkata dengan agak kesal, "Dua puluh tujuh media itu semuanya adalah otoritas di industri farmasi. Kalau nggak ada satu pun yang datang, besok kami yang akan dipermalukan.""Bukan hanya itu. Puluhan tamu yang diundang, setengah jam yang lalu juga tiba-tiba kasih berbagai alasan untuk menolak datang."Mata Ewan berkilat dingin. Tidak perlu diragukan lagi, ini pasti ulah Mikael."Siapa saja tamu-tamu yang kalian undang itu?" tanya Ewan.Dinda menjawab, "Sebagian adalah bos perusahaan farmasi, sebagian lagi tokoh masyarakat."Ewan berkata, "Kalau mereka nggak datang, kita cari yang lain.""Besok perusahaan sudah akan d
Pukul 5 sore, Lisa dan Ewan baru saja keluar dari kantor, ketika mereka langsung bertemu dengan Dinda yang berjalan dengan tergesa-gesa ke arah mereka."Bu Lisa, ada masalah," kata Dinda dengan wajah serius."Ada apa?" tanya Lisa.Dinda menjawab, "Baru saja kami mendapat kabar, ada beberapa media yang besok nggak akan menghadiri acara pembukaan perusahaan kita.""Apa alasannya?" tanya Lisa.Dinda menjawab, "Mereka nggak bilang alasannya, tapi aku sudah cari tahu, beberapa media itu punya hubungan yang cukup baik dengan Grup Suharta."Lisa kembali bertanya, "Ada berapa media yang nggak datang?""Tujuh," jawab Dinda. "Total ada 27 media yang kita undang. Ada tujuh yang bilang batal datang.""Hmph!" Lisa mendengus dingin. "Ya sudah, siapa yang peduli? Masih ada 20 media lainnya."Ewan yang berada di samping berkata, "Kemungkinan besar Mikael yang bermain di balik ini."Lisa menginstruksikan Dinda, "Kamu suruh tim humas cek ulang, lihat berapa media dan tamu yang benar-benar akan hadir bes
Lisa berkata, "Sudahlah, nggak usah bahas ini lagi.""Suamiku, cepat makan. Setelah makan, kita kembali ke perusahaan untuk urusan penting."Saat berbicara, Lisa sengaja mengulurkan satu kakinya dari bawah meja ke punggung kaki Ewan, lalu perlahan naik ke atas.Tiba-tiba, Ewan menangkap betis Lisa, lalu memegangnya sambil memainkannya.Setelah makan, Lisa mengajak Ewan kembali ke perusahaan. Baru saja mereka sampai di depan kantor presdir, Dinda datang dan melaporkan, "Bu Lisa, acara makan siang dengan petinggi Grup Suharta dibatalkan."Lisa tersenyum. "Sudah kuduga. Mikael dipukul oleh Ewan, mana mungkin masih punya muka untuk makan."Dinda berujar, "Aku khawatir kerja sama dengan Grup Suharta akan mengalami perubahan.""Nggak perlu khawatir, kita lihat saja perkembangannya." Lisa menarik Ewan masuk, lalu memberi instruksi kepada Dinda, "Kalau sore ini nggak ada hal yang sangat penting, jangan ganggu aku. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Ewan.""Baik." Dinda memandang Ewan d
Di sebuah restoran Pransis.Ewan dan Lisa duduk di sudut. Meskipun masih siang hari, pencahayaannya redup, membuat suasana terasa sangat romantis."Dulu pernah makan makanan Pransis?" tanya Lisa.Ewan menggeleng. "Aku nggak terlalu suka makanan barat."Lisa tersenyum. "Suamiku, dalam hal ini kamu harus belajar dariku, harus berani mencoba hal-hal baru. Aku suka mencoba hal-hal baru."Setelah berkata begitu, Lisa mengedipkan mata pada Ewan.Ewan langsung terdiam. Padahal awalnya ini adalah topik yang serius, tetapi kenapa kalau keluar dari mulut Lisa jadi terasa berbeda?"Semalam kenapa kamu nggak mencariku?" Lisa berkata dengan wajah penuh keluhan, "Aku menunggumu sampai tengah malam, kupikir kamu akan kembali. Aku bahkan sudah menyiapkan beberapa baju tidur seksi.""Siapa sangka, kamu tega membiarkanku sendirian di kamar kosong."Ewan menjelaskan, "Semalam aku mengobati Tiara di rumah sakit.""Oh?" Lisa langsung berminat. "Diobati gimana? Jangan-jangan kamu sudah ....""Bukan, bukan."
"Ganti 10 triliun. Kalau nggak, nggak satu pun dari kalian akan keluar hidup-hidup dari tempat ini."Mendengar ucapan Reksa, Ishwar memaki dalam hati. 'Sial, ini jelas-jelas pemerasan.'Sekarang Ishwar benar-benar ingin membunuh Izaz. Kalau bukan karena tua bangka sialan itu, mana mungkin dia terser
"Jangankan warga desa, aku sendiri yang melihat pemandangan itu juga terkejut setengah mati.""Terus, gimana?" Samudra bertanya dengan penasaran."Terus, Guru membakar mayat itu dengan minyak." Nazar berkata, "Waktu dibakar, mulut mayat itu mengeluarkan jeritan penuh rasa sakit. Suaranya bikin bulu
Nazar sudah lebih dulu bersiap. Begitu melihat mayat kuno itu terbang menyerangnya, dia cepat-cepat mundur.Itu adalah raja mayat dengan kekuatan yang mengerikan. Bahkan di masa puncaknya, Nazar tidak akan mampu melawannya."Cepat pergi!" Nazar berlari menuju mulut gua sambil berteriak keras kepada
Petro dan Arie tertegun. Dokter ajaib sudah di depan mata? Siapa?Tatapan keduanya menyapu semua orang di tempat itu, lalu akhirnya jatuh pada Ewan. Namun, pandangan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum mereka mengalihkan mata. Usianya baru dua puluhan, mana mungkin seorang dokter ajaib?Petro







