Share

Bab 205

Author: Rexa Pariaman
"Maaf, Sobat."

"Maaf mengganggu."

Kedua pemuda itu langsung melarikan diri. Kalau menetap lebih lama lagi, nyawa mereka mungkin akan melayang.

Ewan duduk di samping Neva. "Bu Neva, kamu nggak apa-apa?" tanya Ewan dengan penuh perhatian.

Neva menoleh. Wajahnya tampak memerah dan matanya sayu karena mabuk. Saat melihat bahwa yang datang adalah Ewan, dia tersenyum manis dan berkata, "Kamu sudah datang ya, temani aku minum, ayo minum ...."

Harus diakui, meskipun dalam keadaan mabuk dan kehilangan ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Edo Edo25
saya juga batal kan saja langganan nya
goodnovel comment avatar
Daniel Sabono
Saya batalkan saja langganannya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1800

    Semalam berlalu.Keesokan harinya, langit tampak mendung.Sesuai waktu yang dipilih Nazar, pukul 3 sore tepat diadakan upacara perpisahan untuk Satria.Pukul 2.30 sore, lebih dari 40 ribu murid Organisasi Draken serta lebih dari 300 tamu telah berkumpul di alun-alun.Saat Ewan bertarung melawan Dewa Hyang hari itu, alun-alun hancur parah. Kirin memimpin orang-orang untuk membangunnya kembali.Di bawah tebing, didirikan sebuah aula duka. Di tengah aula duka, terletak sebuah peti mati kayu paulownia berwarna hitam pekat. Satria mengenakan pakaian hijau, wajahnya tenang, berbaring di dalam peti mati, dikelilingi bunga-bunga dan cemara hijau.Mini dan Cantika mengenakan pakaian berkabung berwarna polos, dengan ikat kepala duka, berlutut di depan peti mati sambil membakar uang kertas persembahan.Ewan, Naga Hijau, Kirin, Abyaz, Ricky, serta para pemimpin Organisasi Draken dari berbagai daerah, semuanya mengenakan pakaian putih dan berdiri di kedua sisi peti mati.Pukul 2.40 sore."Amitabha!

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1799

    Nazar melirik Ewan dan berkata, "Nggak banyak lagi, cuma belasan lembar."'Sial, masih sebanyak itu?' Ewan langsung berkata, "Begini saja, satu Jimat Pedang 400 miliar. Kamu jual semuanya kepadaku."Nazar tidak puas. "Bocah, tadi kau bilang satu triliun."Ewan berkata, "Lagi pula, Jimat Pedang sebanyak itu kamu pegang juga nggak ada gunanya. Lebih baik kamu jual padaku. Coba pikir, sepuluh Jimat Pedang kamu bisa dapat 4 triliun. Dengan uang sebanyak itu, kamu bisa makan enak, minum enak, bahkan menggoda bule."Bule? Mata Nazar langsung berbinar.Ewan melanjutkan, "Bayangkan saja, kamu berbaring di atas kapal pesiar sambil berjemur, di sekelilingmu ada sekelompok bule melayanimu.""Mereka semua berkulit putih dan cantik, bertubuh indah, mengenakan bikini dan bersandar di sisimu. Ada yang menyuapimu buah, ada yang menyuguhkan minuman, ada yang memijatmu, bahkan ada yang melemparkan tatapan manja kepadamu ...."Nazar menutup mata. Dalam benaknya sudah terbayang adegan itu. Air liurnya ham

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1798

    Nazar berhenti melangkah. Setelah semua orang pergi, barulah dia bertanya kepada Ewan, "Ada urusan apa, Bocah?"Ewan bertanya, "Kenapa kali ini cuma kamu yang datang? Di mana Samudra?""Samudra lagi berkultivasi, mengasingkan diri." Nazar terkekeh, lalu berkata, "Samudra memang pantas disebut orang suci sejak lahir. Kemajuannya sangat besar. Saat bertemu lagi nanti, dia pasti akan membuatmu terkejut.""Benarkah?" Ewan agak tidak percaya.Nazar mendengus. "Jangan nggak percaya. Setelah Samudra keluar dari pengasingan, aku bakal suruh dia memukulmu.""Asal dia bisa mengalahkanku, kapan saja aku siap," kata Ewan. Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kartu bank dari sakunya dan menyerahkannya kepada Nazar.Hati Nazar langsung waspada. Dia bertanya, "Tanpa alasan memberi perhatian, pasti ada maksud tersembunyi. Apa yang ingin kamu dapatkan dariku?"Ewan berkata, "Terima kasih karena beberapa hari ini kamu membantu menata aula duka untuk Sida. Uang ini adalah upah atas kerja kerasmu."Barula

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1797

    Mariadi berkata dengan nada hati-hati, "Kak, saudara-saudara lain mengalami sedikit masalah ....""Biar aku saja yang mengatakan," ujar Magana. "Kak, Makuta, Marwanto, dan Marsudi sudah mati.""Apa yang kamu katakan? Ulangi sekali lagi!" Mata Maprana membelalak. Dari tubuhnya memancar tekanan aura yang besar.Magana ketakutan hingga tak berani mengangkat kepala, tetapi dia tetap memaksakan diri berkata, "Mereka semua sudah mati.""Bajingan!" Maprana mengentakkan kaki kanannya.Bam! Lantai langsung retak.Maprana murka. "Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang membunuh Makuta dan yang lainnya? Apa mungkin Ega?"Mariadi segera berkata, "Bukan Ega, tapi Ewan."Ewan? Maprana memikirkannya sejenak dan memastikan bahwa dia tidak mengenal nama itu. Dia bertanya, "Siapa dia?"Mariadi lalu menjelaskan secara singkat asal-usul serta perbuatan Ewan. Setelah mendengarnya, Maprana menjadi sangat marah."Tak kusangka, setelah bertahun-tahun aku mengasingkan diri untuk berkultivasi, begitu keluar, be

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1796

    Ratusan kilometer jauhnya, di ibu kota.Setelah diguyur hujan musim gugur, langit tampak biru jernih, membuat hati terasa lapang.Di Kota Terlarang, di depan gerbang sebuah aula besar.Mariadi dan Magana tampak cemas. Mereka berjalan mondar-mandir, sesekali melirik ke arah pintu aula yang tertutup rapat."Kak, kita sudah di sini tiga hari. Kenapa Kak Maprana belum keluar juga?" tanya Magana pelan. "Jangan-jangan latihannya bermasalah, jadi ...."Kalimat selanjutnya tidak dia teruskan, tetapi dia yakin Mariadi mengerti maksudnya.Mariadi melotot pada Magana dan membentak, "Nggak bisa kamu bicara yang baik-baik? Sekarang ini masa penuh gejolak. Kota Terlarang nggak boleh mengalami kecelakaan apa pun lagi. Kalau aku dengar kamu bicara seperti itu lagi, nanti kupukul kamu."Magana bergumam, "Kalau semuanya lancar, kenapa Kak Maprana belum juga keluar dari pengasingan?"Mariadi menatap Magana tajam, ingin membantah, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Mereka sudah menunggu tiga hari, tetap

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1795

    "Ada pepatah lama bilang, kesempatan nggak datang dua kali. Aku sarankan kamu manfaatkan kesempatan ini. Ayo, cepat pukul aku!" Setelah berkata demikian, Ewan menggerakkan jarinya ke arah Nazar, penuh provokasi."Kamu ini benar-benar keras kepala ya. Sudah tahu bukan lawanku, masih juga minta dipukul. Sebenarnya kamu mau apa?"Nazar memasang ekspresi tak berdaya, lalu meneruskan, "Karena kamu sudah bicara sampai sejauh ini, kalau aku nggak memukulmu, bukankah itu namanya nggak menghargaimu?""Baiklah, akan kupukul kamu. Tapi kuberi tahu dulu, nanti saat aku memukulmu, kamu boleh melawan kok.""Walaupun kamu melawan juga nggak ada gunanya, setidaknya kamu bisa merasakan betapa hebatnya aku. Bagaimanapun, aku adalah orang yang telah melatih dua aliran energi murni."Setelah berkata demikian, Nazar langsung menyerbu ke arah Ewan. Ewan berdiri di tempat, tersenyum menyaksikan Nazar mendekat.Begitu Nazar tiba di depan Ewan dan hendak menyerang, tiba-tiba dia melihat senyuman Ewan yang begi

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 117

    "Ah ...." Teriakan memilukan meluncur dari mulut Thalia."Berisik! Kalau teriak lagi, kutembak kamu sekarang juga!" Senyum di wajah Lisa lenyap, digantikan tatapan dingin.Tubuh Thalia langsung bergetar, napasnya tercekat dan tidak berani bersuara sedikit pun.Lisa berkata datar, "Kamu bisa hidup te

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 115

    "A ... aku ... aku nggak berani bilang ....""Tenang saja, aku cuma penasaran kok. Ayo, bilang saja," kata Lisa dengan wajah tersenyum, nada bicaranya terdengar begitu ramah dan lembut."Aku bilang ... Bu Lisa itu kerjaannya cuma tahu cara menggoda pria. Pantas saja dipukul."Lisa masih tersenyum. "

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 113

    Sekalipun Neva bukan orang paling cerdas, dia tetap bisa menebak apa yang ingin dilakukan Ewan selanjutnya. Dia buru-buru menasihatinya, "Ewan, jangan cari masalah lagi. Hentikan sekarang."Lagi pula, Ewan sudah berhasil membuat Dullah terkapar. Mengakhiri semuanya di titik ini adalah hasil terbaik.

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 112

    Seluruh ruangan terdiam dalam keterkejutan. Semua orang membuka mata lebar-lebar, menatap ke arah pintu aula perjamuan dengan ekspresi tak percaya.Dullah yang sebelumnya begitu angkuh dan merasa tak terkalahkan, kini terkapar di lantai, bahkan untuk berdiri pun tak mampu.Sementara Ewan berdiri teg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status