Share

Bab 2415

Penulis: Rexa Pariaman
Baru pada saat itulah Ewan dan Nazar dapat melihat dengan jelas bahwa cahaya hitam tersebut ternyata adalah sebuah pedang yang sangat aneh. Disebut aneh karena pedang itu setipis sayap jangkrik dan hitam pekat seperti tinta.

Meski terasa sangat ringan saat digenggam, pedang itu memancarkan ketajaman yang luar biasa. Ewan menjepit bilah pedang dengan dua jarinya. Dia dapat dengan jelas merasakan aura pedang yang dingin dan tajam meresap ke dalam kulitnya.

'Jadi pedang inilah yang tadi melukai tin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2422

    Ewan mendengar peringatan Nazar, lalu mengangkat kepala dan melihat ke depan. Seketika dia terkesiap. Di hadapannya muncul sebuah kompleks pemakaman raksasa.Gundukan-gundukan makam tersambung rapat satu sama lain dengan padat, serta dipenuhi ilalang liar dan tampak sangat terbengkalai. Sedikitnya ada beberapa ribu makam!Yang lebih mengejutkan lagi, di atas setiap gundukan makam tertancap sebuah pedang panjang berkarat. Jelas terlihat bahwa makam-makam itu telah ada sejak masa yang sangat lampau."Ya ampun, kenapa bisa ada makam sebanyak ini di sini?" seru Nazar. "Aku juga nggak tahu orang seperti apa yang dikuburkan di dalam makam-makam ini."Ewan menatap makam yang paling dekat dengannya, lalu mengaktifkan mata batin. Pandangannya menembus lapisan tanah.Detik berikutnya, wajahnya berubah drastis.Ewan melihat sebuah peti mati hitam pekat di dalam makam itu, dan di dalam peti mati tersebut terbaring seorang pria paruh baya.Pria itu berusia sekitar 40 hingga 50 tahun. Wajahnya tenan

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2421

    Aura pedang yang memenuhi langit. Ewan berseru kagum, "Sepertinya para pendekar pedang Gunung Shuza bukan sekadar legenda. Mungkin mereka benar-benar pernah ada."Nazar berkata, "Para pendekar pedang Gunung Shuza memang bukan legenda. Salah satu leluhur Akademi Nagendra pernah datang ke Gunung Shuza saat mengembara mencari jalan keabadian. Bahkan dia pernah bertukar jurus pedang dengan para pendekar pedang Gunung Shuza.""Konon, pada masa kejayaannya, Gunung Shuza memiliki tiga ribu pendekar pedang. Masing-masing mampu terbang dengan pedang. Kultivasi mereka sangat tinggi. Mereka membasmi iblis dan roh jahat serta menjaga kedamaian wilayah.""Semua itu aku baca dari catatan kuno Akademi Nagendra."Ewan bertanya dengan heran, "Kalau Gunung Shuza pernah semegah itu, kenapa selama bertahun-tahun nggak pernah terlihat satu pun pendekar pedang Gunung Shuza?"Nazar menghela napas."Sebenarnya keadaan Gunung Shuza agak mirip dengan Akademi Nagendra. Setelah mencapai puncak kejayaan, mereka mu

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2420

    Nazar sebenarnya ingin memberi contoh kepada Ewan. Namun, dia tidak menyangka bahwa jalan papan itu terbuat dari kayu yang sudah sangat tua. Karena tidak pernah diperbaiki selama bertahun-tahun dan terus terkena hujan serta angin, kondisinya sudah sangat rapuh.Begitu dia menginjaknya ....Krek!Papan kayu di bawah kakinya langsung patah.Bruk!Nazar jatuh dari jalan papan dan menghantam tanah dengan keras. Seluruh tubuhnya terasa nyeri."Bocah, kamu memang nggak punya hati. Aku jatuh begini, tapi kamu bahkan nggak mau menangkapku. Sakit sekali."Nazar mengomel tanpa henti, "Sudah kubilang sejak awal, kita nggak usah datang ke Gunung Shuza. Pasti akan ada bahaya. Kamu nggak mau dengar dan tetap bersikeras datang. Nah, sekarang lihat. Aku hampir mati karena jatuh."Ewan memandangnya dengan penuh penghinaan. "Tua bangka, bagaimanapun kamu adalah seorang ahli tingkat dewa. Tapi kamu malah jatuh begitu saja. Aku sampai malu lihatnya.""Hehe." Nazar tertawa canggung. "Sebenarnya aku cuma be

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2419

    "Sialan kamu!"Nazar menatap Ewan dengan wajah kesal. "Dasar bocah nggak tahu balas budi. Kamu malah mengutukku. Hmph, aku nggak jadi pergi ke Gunung Shuza. Kalau mau pergi, pergi saja sendiri ....""Sampai jumpa!" Ewan hanya meninggalkan dua kata itu, lalu tubuhnya menghilang dalam sekejap.Nazar langsung tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka Ewan benar-benar pergi begitu saja."Bocah tengik, kenapa kamu lari secepat itu? Tunggu aku!"Nazar segera mengejarnya. Tak lama kemudian, dia berhasil menyusul Ewan."Kenapa kamu ikut? Bukannya tadi kamu bilang nggak mau pergi?" tanya Ewan dengan ekspresi datar.Padahal dalam hati, dia diam-diam merasa senang. Tadi dia memang sengaja memperlambat kecepatannya. Kalau tidak, sekalipun Nazar mengerahkan seluruh tenaganya, dia tetap tidak mungkin bisa mengejar.Nazar berkata, "Aku sudah pikirkan baik-baik. Aku memutuskan untuk tetap menemanimu ke Gunung Shuza."Ewan bertanya, "Bukannya kamu khawatir akan ada bahaya?""Justru karena ada bahaya,

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2418

    "Pergi ke Gunung Shuza?" Nazar tertegun, lalu bertanya, "Bocah, jangan-jangan setelah menyerap nadi naga dari sini, kultivasimu masih belum pulih?"Namun setelah mengucapkan kalimat itu, dia segera menggelengkan kepala."Nggak. Kalau kultivasimu belum pulih, mustahil kamu bisa mengalahkan si gagak mati itu dengan semudah itu. Jadi sebenarnya untuk apa kamu pergi ke Gunung Shuza?"Ewan tersenyum. "Memangnya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mencari nadi naga."Nazar semakin bingung. "Bukankah kultivasimu sudah pulih?"Ewan menjawab, "Aku ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi.""Maksudmu kamu juga ingin menembus tingkat dewa?" Nazar berkata, "Tingkat dewa nggak semudah itu untuk ditembus. Lihat saja aku. Tadi aku hampir mati."Ewan langsung mendengus. "Siapa suruh kamu menelan begitu banyak pil sekaligus? Jangan kira aku nggak tahu. Kamu takut aku akan merebut pil-pil itu, jadi kamu langsung menghabiskannya sekaligus."Niatnya dibongkar mentah-mentah oleh Ewan. Namun, Nazar sama sekali

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2417

    Nazar menggoyangkan tangan kanannya. Dalam sekejap, Pedang Pemurni Iblis kembali lurus dan memancarkan ketajaman yang luar biasa."Benar-benar pedang yang hebat! Dengan pedang ini, kekuatan tempurku akan meningkat cukup banyak."Setelah berkata demikian, Nazar langsung memasukkan lebih dari sepuluh pil yang didapat dari tubuh Pendeta Gagak ke dalam mulutnya sekaligus.Ewan langsung terdiam."Tua bangka, kamu menelan sebanyak itu sekaligus. Apa kamu nggak takut mati kekenyangan?""Tenang saja. Nafsu makanku besar, aku nggak akan mati kekenyangan."Baru saja Nazar selesai berbicara.Bruk!Tubuhnya langsung roboh ke tanah. Busa putih keluar dari mulutnya dan seluruh tubuhnya kejang tanpa henti."Bocah ... cepat ... selamatkan aku ....""Memangnya ada yang rebutan sama kamu? Kenapa harus menelan sebanyak itu sekaligus? Kalau sudah begini, kamu memang pantas mendapatkannya."Ewan berjongkok di sampingnya. Dia menempelkan satu tangan ke atas kepala Nazar dan mengalirkan energi sejatinya tanp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status