공유

Bab 508

작가: Rexa Pariaman
Bagian Pengobatan Tradisional.

Ruang praktik dokter.

Hari ini akhir pekan, Eko dan Mini sedang libur, hanya Betandi yang berjaga di ruang praktik.

Ewan baru saja sampai di pintu, dia langsung melihat seorang ibu-ibu berusia sekitar 50-an sedang memohon dengan suara bergetar, "Dokter, kumohon, tolong periksa penyakit saya."

"Aku tadi sudah bilang, 'kan? Kalau mau berobat ke aku, harus daftar nomor antrean dulu. Kamu bahkan belum daftar, gimana aku bisa periksa?"

Betandi memegang ponselnya dengan kedua tangan sambil asyik bermain gim. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah ibu itu.

"Dokter, saya nggak bisa daftar lewat ponsel, saya ...."

"Aduh, kamu ini nyebelin banget ya! Daftar saja nggak bisa, mau periksa apa!"

Sikap Betandi sangat buruk.

Mendengar ucapan itu, wajah Ewan langsung menggelap.

"Dokter, saya tinggal di desa. Sekali ke rumah sakit butuh tiga jam perjalanan, sangat merepotkan. Tolong, saya mohon periksa saya." Ibu itu terus memohon.

Ewan melirik sekilas. Wajah ibu itu
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1384

    Dharmadaya khawatir tindakan Ewan akan memancing amarah Kota Terlarang, jadi menasihatinya, "Tuan Ewan, menurut pendapatku, tindakanmu ini nggak tepat.""Di Kota Terlarang masih ada banyak ahli kuat. Kalau kamu benar-benar membuat mereka murka, mereka pasti akan membunuhmu.""Lagi pula, dengan kondisimu sekarang, belum saatnya menyatakan perang kepada mereka."Ewan berkata, "Terima kasih atas perhatian Master. Tapi Master telah mengabaikan satu fakta, yaitu ayahku adalah Ega.""Begitu Marwanto baru keluar dari masa pengasingan, dia sudah mencurigai identitasku. Ini membuktikan bahwa Mariadi dan Magana sejak lama juga sudah mencurigai identitasku.""Dengan prinsip lebih baik membunuh seribu orang secara keliru daripada membiarkan satu lolos, entah aku memprovokasi Kota Terlarang atau nggak, mereka tetap akan membunuhku.""Oleh karena itu, aku ingin memanfaatkan jasad Marwanto. Selagi Manggala belum keluar dari pengasingan, aku ingin sepenuhnya memancing amarah Mariadi dan Magana, menari

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1383

    Sarira yang ditinggalkan oleh Thuza memiliki tekstur bulat dan halus, warnanya beragam, serta ukurannya berbeda-beda. Yang kecil ukurannya mirip manik-manik gantung yang dikenakan para biksu, sedangkan yang besar kira-kira sebesar kuku orang dewasa.Di antaranya, sarira yang pernah menghebohkan dunia berasal dari Candana. Setelah Candana wafat pada usia 94 tahun, dia juga meninggalkan cukup banyak sarira. Salah satunya memiliki tinggi sekitar lima sentimeter, bentuknya sangat mirip dewi yang duduk bersila di atas singgasana teratai.Wajah dan busananya tampak terbentuk secara alami, begitu hidup dan nyata, terlebih lagi di samping kepala tersebut terdapat rangkaian tasbih Buddha, benar-benar menakjubkan untuk disaksikan.Sarira itu dipuja di Pagoda Seribu di Kuil Bahar, Gunung Hagu. Jika memiliki jodoh dan kesempatan, mungkin orang-orang bisa melihatnya secara langsung.Semua ini adalah kejadian nyata yang tercatat dalam sejarah modern dan kontemporer. Ewan tidak pernah menyangka bahwa

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1382

    Di tanah lapang di depan Pagoda Pencerahan.Dharmadaya meletakkan jenazah Master Hampa di atas tumpukan kayu bakar, lalu menyalakan api. Setelah itu, Dharmadaya duduk di tanah. Kedua telapak tangan disatukan di depan dada, mulutnya melantunkan Sutra Ksitigarbha, mendoakan Master Hampa."Master, semoga perjalananmu tenang." Ewan berdiri di samping, menatap Master Hampa yang diselimuti kobaran api besar, lalu membungkuk memberi hormat.Api besar itu berkobar selama setengah jam. Pemandangan yang mengejutkan pun muncul. Jenazah Master Hampa ternyata sama sekali tidak rusak.Ewan berkata dengan terkejut, "Benar-benar pantas disebut biksu agung yang telah mencapai pencerahan."Dharmadaya menambahkan beberapa kayu bakar lagi. Api kembali menyala selama lebih dari satu jam, barulah jenazah Master Hampa perlahan berubah menjadi abu.Ajaibnya, selama proses kremasi itu, tidak tercium bau gosong seperti tubuh manusia terbakar. Sebaliknya, justru tercium aroma harum aneh seperti kayu cendana.Set

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1381

    Saat ini, Dharmadaya kembali berkata, "Guru juga meninggalkan satu lagi hadiah untukmu. Ada di balok gantung Pagoda Pencerahan lantai tujuh. Pergilah mengambilnya."Mendengar itu, Ewan merasa agak penasaran. Master Hampa masih meninggalkan hadiah untuknya? Benda apa itu? Dia pun menuju lantai tujuh Pagoda Pencerahan.Begitu mendongak, dia melihat di balok gantung tergantung sebuah kotak besi berbentuk persegi, digantung dengan tali.Ewan mengangkat tangannya dan memancarkan satu aliran energi pedang, memutus tali tersebut. Kotak besi itu jatuh dan langsung ditangkapnya dengan satu tangan.Ewan meletakkan kotak besi itu di tanah, lalu membukanya perlahan. Yang tampak di dalamnya adalah sebuah jubah biksu kuning terang yang terlipat rapi. Jubah itu tampak tua dan usang, jelas sudah berumur cukup lama.Ewan agak terkejut. "Apa maksud Master Hampa memberiku sebuah jubah? Jangan-jangan beliau ingin aku meninggalkan dunia dan menjadi biksu? Sepertinya nggak mungkin, 'kan?"Dengan perasaan ra

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1380

    Marwanto menutup tenggorokannya dengan kedua tangan. Matanya membesar, menatap Ewan dengan ekspresi tak percaya."Kamu ... kamu ...." Dia tidak menyangka, sebelum sempat mengeluarkan kartu truf terakhirnya, dia sudah berakhir seperti ini.Dia juga tidak pernah menyangka bahwa Ewan benar-benar telah menguasai Pedang Enam Nadi milik Kuil Naga Langit."Kalau sejak awal aku langsung mengeluarkan kartu truf terkuatku, aku nggak akan kalah semudah ini. Bahkan kalau mati, bocah ini pasti akan kutarik sebagai tumbal." Hati Marwanto dipenuhi ketidakrelaan.Ewan berkata dengan tenang, "Bukankah kamu ingin tahu asal-usulku? Sekarang aku bisa beri tahu kamu. Ya, Ega adalah ayahku."Jadi dia memang putra Ega! Kilatan niat membunuh yang kuat langsung muncul di mata Marwanto. Bahkan di ambang kematian, dia masih ingin membunuh Ewan.Dia mengerahkan seluruh tenaganya, maju dua langkah, malah terdengar bunyi "gedebuk" karena tubuhnya terjatuh ke tanah. Darah terus menyembur dari tenggorokannya, seluruh

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1379

    Tiba-tiba, senyuman di wajah Marwanto membeku. Karena tinju kanannya ternyata telah digenggam erat oleh Ewan."Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa kecepatannya lebih tinggi dariku?"Marwanto sangat terkejut. Dia ingin menarik kembali tinjunya dari genggaman Ewan, tetapi sekuat apa pun dia berusaha, tangan Ewan seperti capit besi yang mencengkeram tinjunya dengan kuat.Marwanto segera mengambil langkah balasan. Tangan kirinya menghantamkan satu pukulan ke dada Ewan. Jika pukulan ini mengenai sasaran, meskipun tidak mati, Ewan pasti akan terluka parah.Di dalam hati, Marwanto masih merasa puas. Menurutnya, dengan kemampuan dirinya, pada jarak sedekat ini, mustahil Ewan bisa menghindari pukulannya."Bocah, siapa suruh kamu memegang tinjuku dan nggak mau melepaskannya? Sekarang rasakan akibatnya. Kepintaranmu justru mencelakakanmu sendiri." Marwanto tertawa puas.Syut! Tiba-tiba, terdengar suara siulan pedang.Marwanto bahkan belum sempat bereaksi, telapak tangannya sudah membentuk sebuah lu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status