LOGIN"Hehe ...." Ewan tertawa dingin, lalu berkata, "Pak Tua, jangan kira kamu bisa menipu kami.""Kamu seharusnya tahu dari mana asal kami. Menipu kami akan berakhir sangat buruk. Kalau jujur, hukumanmu akan lebih ringan.""Alasan aku tadi menanyakan semua ini adalah untuk memberimu kesempatan menebus kesalahan. Kalau kamu terus melawan, jangan salahkan aku nanti."Suara Ewan tiba-tiba berubah dingin. Tubuhnya memancarkan hawa membeku.Baru saja ucapannya berhenti, Nazar tiba-tiba membuka mulut. "Pak Tua, kamu berniat menggali makam, 'kan?"Sret! Penjaga gunung mendongak dengan terkejut, menatap Nazar.Melihat ekspresinya, Nazar tersenyum. "Kamu merasa aneh? Gimana aku bisa tahu ada makam di sini?""Ketujuh pohon pinus itu semuanya berumur ratusan tahun. Kalau kamu perhatikan dengan cermat, ketujuh pohon pinus itu tersusun seperti formasi Bintang Biduk."Ewan dan Tandi menoleh. Benar saja, posisi ketujuh pohon pinus itu persis seperti pola Bintang Biduk."Dalam fengsui, batu adalah tulang
"Racun mayat?"Tandi tertegun sejenak, lalu berkata, "Itu nggak mungkin. Aku sudah tanya ke penjaga gunung. Sebelum orang ini mati, dia hanya menyentuh pohon pinus yang mengeluarkan darah itu, dia sama sekali nggak pernah menyentuh mayat atau hal semacam itu."Ewan berkata, "Berdasarkan diagnosisku, penyebab kematiannya memang karena racun mayat. Itu bukan racun mayat biasa, melainkan racun mayat dari mayat kuno.""Mayat kuno?" Tandi masih sulit memercayainya. "Bagaimana mungkin?"Nazar berkata, "Kemampuan medis bocah ini sudah terkenal. Diagnosisnya nggak mungkin salah."Tandi mengerutkan kening. "Apa mungkin penjaga gunung menyembunyikan sesuatu dariku?"Ewan berkata, "Kita keluar dan tanya saja."Kemudian, ketiganya keluar dari tenda."Penjaga gunung!" Tandi melambaikan tangan ke arahnya.Penjaga gunung mengetukkan pipa rokoknya ke batu untuk memadamkan bara tembakaunya, lalu berjalan perlahan menuju Tandi. Dia memperlihatkan gigi kuningnya dan bertanya, "Komandan mencariku?"Tandi
Ewan juga melihat seorang lelaki tua berjanggut lebat dengan rambut acak-acakan. Dia duduk di atas sebuah batu sambil mengisap rokok tembakau pipa. Wajahnya penuh keriput, tampak berusia 60 hingga 70 tahun.Mendengar suara langkah kaki, empat prajurit itu segera menoleh. Ketika mereka melihat bahwa yang datang adalah Tandi, kewaspadaan di wajah mereka sedikit berkurang."Ada perkembangan baru?" tanya Tandi sambil berjalan mendekat."Komandan, nggak ada perkembangan baru. Semuanya normal," jawab seorang prajurit dengan suara lantang."Bagus." Tandi kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk ke depan. "Ewan, Master Nazar, lihatlah."Ewan melihat ke depan dan dalam pandangannya muncul tujuh pohon pinus. Setiap pohon pinus setebal meja makan, batangnya sebesar tong air.Tiba-tiba, tatapan Ewan menegang. Dia melihat salah satu batang pohon pinus mengalirkan darah merah segar, dengan bau amis yang sangat kuat. Jelas sekali, bau darah yang mereka cium sebelumnya berasal dari pohon pinus ini.
Ewan turun dari mobil dan melihat tidak jauh di dalam hutan pegunungan, beberapa tenda berwarna hijau militer telah didirikan.Di sekitar tenda-tenda itu, beberapa prajurit yang membawa senjata sedang berpatroli."Di mana Tandi?" tanya Ewan."Aku akan memanggil atasan," kata pemuda itu. Setelah berbicara, dia bersiap pergi memanggil Tandi, tetapi kemudian melihat Tandi keluar dari sebuah tenda bersama beberapa prajurit.Tandi mengenakan seragam militer dan tampak penuh semangat."Ewan!" Tandi memanggil, lalu berjalan cepat untuk mendekat dan memberi salam kepada Nazar, "Salam hormat, Master."Nazar berkata, "Nggak perlu terlalu sopan. Aku dengar dari bocah itu kamu mengalami masalah. Coba ceritakan."Tandi berkata, "Masalah ini agak aneh. Gimana kalau aku bawa kalian langsung ke tempat kejadian?"Ewan mengangguk setuju. "Oke."Kemudian, Tandi membawa Ewan dan Nazar mendaki gunung dengan berjalan kaki, diikuti beberapa prajurit di belakang mereka.Sepanjang jalan, pohon-pohon tua menjul
Sebenarnya kejadian apa yang begitu aneh sampai Tandi harus memintanya turun tangan? Bukankah Aula Raja Maut memiliki begitu banyak orang? Masa mereka tidak bisa menanganinya?Hati Ewan dipenuhi rasa penasaran.Mobil terus melaju ke depan. Setengah jam kemudian, mereka keluar dari kota dan memasuki jalan kecil di pegunungan.Di kedua sisi jalan, bunga-bunga liar berwarna-warni bermekaran. Karena kendaraan yang melewati jalan ini sangat sedikit, bunga-bunga liar itu membentuk pemandangan yang sangat indah.Perlahan-lahan, sebuah kaki pegunungan yang membentang tanpa ujung mulai terlihat. Ketika melihat ke atas, tampak pepohonan tumbuh rimbun di kaki gunung itu. Daunnya ada yang hijau, kuning, maupun merah.Di bawah sinar matahari, semuanya terlihat sangat indah. Lautan hutan itu seperti gulungan lukisan yang terbentang luas sejauh mata memandang.Ewan merasa hatinya menjadi sangat lega.Saat itu, Nazar yang sedang memejamkan mata untuk beristirahat pun membuka matanya, lalu menoleh ke l
"Hal aneh?" Ewan segera bertanya, "Hal aneh seperti apa? Coba jelaskan lebih rinci."Tandi berkata, "Nggak bisa dijelaskan dengan beberapa kalimat. Nanti setelah kamu sampai di Gunung Chabari, kamu akan tahu sendiri. Oh ya, Ewan, dua hari ini kamu ada waktu? Bisa datang ke timur laut?"Ewan menjawab, "Aku sudah sampai di timur laut.""Oh?" Tandi agak terkejut. "Dewa Perang yang kasih tahu kamu?""Dewa Perang nggak menghubungiku, aku datang ke sini untuk mengurus sedikit urusan." Ewan berkata, "Tandi, kirimkan lokasi pastinya kepadaku. Aku akan datang bersama si tua bangka.""Master Nazar juga datang? Bagus sekali. Mungkin dia bisa bantu." Tandi lalu bertanya, "Sekarang kalian di mana?""Kami baru saja turun dari pesawat, masih di bandara," jawab Ewan."Kalian tunggu saja di bandara, aku akan segera kirim orang untuk jemput kalian." Setelah mengatakan itu, Tandi menutup telepon.Nazar bertanya, "Telepon dari Tandi? Untuk apa dia mencarimu?"Ewan tidak menyembunyikan apa pun. "Tandi meng
Mona tidak sempat menghindar. Dia ditampar hingga mundur tiga atau empat langkah, lalu jatuh terduduk di lantai. Dia menatap perawat kecil yang menamparnya itu dengan marah, lalu bertanya, "Apa maksudmu?""Kamu masih bisa tanya apa maksudku? Waktu Dylan yang tolol itu belum mati, kamu 'kan sering me
Ada apa ini?Atta merasa ada yang aneh. Secara logika, dengan metode yang dilakukan sampai saat ini, seharusnya tubuh Guntur sudah menunjukkan reaksi tertentu. Sekarang, Guntur malah masih terbaring di atas ranjang tanpa pergerakan sedikit pun. Ini benar-benar tidak wajar.Aneh!Atta mengerutkan ali
"Asal kamu bisa menyembuhkanku, berapa pun yang kamu minta, tinggal bilang saja," ujar Erico dengan penuh keyakinan."Baik," Ewan tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah orang-orang yang duduk di sekeliling meja. "Maaf ya semuanya, aku cuma butuh waktu tiga menit."Begitu selesai bicara, Ewan berdiri
"Berhenti!" Halim membentak keras. Dia segera bangkit dari lantai dan berdiri di depan Glenda, melindunginya di belakang tubuhnya."Bocah, kamu cari mati, ya?" Wajah Laksh menunjukkan niat jahat.Halim meraih sebuah botol minuman dari atas meja dan menggenggamnya erat, lalu berkata dengan garang, "A







