LOGINEwan dan Dodo melangkah cepat menghampiri Anika dari belakang."Kak Anika, ada apa?" tanya Ewan.Mendengar suara itu, Anika terkejut dan buru-buru mengusap air matanya, lalu berbalik dan berkata, "Nggak apa-apa.""Kak Anika, apa ada yang menindasmu? Bilang saja, aku akan membereskan orang itu," ujar Dodo dengan nada lantang."Aku benaran nggak apa-apa."Anika tidak ingin bicara lebih jauh. Ewan pun bisa melihatnya, lalu menenangkan, "Kak Anika, kalau kamu sedang punya masalah, kamu harus bilang pada kami. Kita semua satu keluarga."Mendengar kata-kata itu, mata Anika kembali memerah karena terharu. "Benaran nggak apa-apa. Terima kasih."Setelah berkata demikian, Anika melangkah cepat kembali ke aula. Begitu dia pergi, Dodo berkata, "Pasti Kak Anika sedang menghadapi sesuatu, dan ini masalah besar.""Dari mana kamu tahu?" tanya Ewan.Dodo menjawab, "Jangan lihat Kak Anika kelihatannya lembut. Sebenarnya hatinya sangat kuat.""Sejak kecil sampai sekarang, aku hampir nggak pernah lihat di
Ewan berkata, "Aku juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat seberapa besar jarak antara diriku dan para ahli dari Kota Terlarang.""Dewa Perang nggak perlu khawatir denganku. Tujuan utamaku ke Dadaru kali ini adalah ke Kuil Naga Langit untuk mempelajari kitab Pedang Enam Nadi."Kuil Naga Langit?Begitu mendengar tiga kata itu, Dewa Perang tertawa, "Dasar bocah licik. Jadi dari tadi kamu mengincar Master Hampa, ya? Hanya saja Master Hampa sudah melampaui urusan dunia fana, kemungkinan besar dia nggak akan turun tangan membantu.""Nggak masalah. Aku punya caraku sendiri."Ewan tampak sangat percaya diri."Baiklah, kalau begitu kamu harus ekstra hati-hati."Setelah menutup telepon, Ewan melangkah masuk ke aula.Saat dia masuk, semua orang belum mulai makan dan masih duduk rapi mengelilingi meja. Faiz duduk di kursi utama di tengah. Di sebelah kirinya ada Arie, Mayang, dan Dodo. Yang membuat Ewan agak terkejut, putri bungsu Petro, Anika, dan putrinya ternyata juga ada di sana.
Mendengar ucapan Satria, hati Ewan langsung terguncang. Hal yang paling dikhawatirkannya akhirnya benar-benar terjadi.Namun, nada bicara Satria segera berubah, "Tapi kamu juga nggak perlu terlalu cemas. Kali ini, yang keluar dari pengasingan di Kota Terlarang hanya satu orang, Marsudi."'Sialan, hampir bikin jantung berhenti.'Ewan menggerutu, "Aduh, Sida, lain kali kalau bicara bisa langsung tuntas nggak? Tadi aku hampir kena serangan jantung.""Kamu nggak akan bisa tumbuh sampai sejauh ini kalau memang gampang kaget," kata Satria sambil tertawa pelan. "Aku sudah cari tahu. Marsudi itu orangnya temperamental. Aku khawatir dia akan langsung mencarimu.""Aku berencana mengirim Naga Hijau untuk melindungi keselamatanmu.""Kemampuan Naga Hijau mungkin nggak sekuat milikmu, tapi kalau sampai bertemu Marsudi, kalau kalian berdua bekerja sama, mungkin saja masih bisa membunuhnya."Satria memang seperti pemain catur sejati. Dia selalu berpikir beberapa langkah ke depan, berjaga sebelum bahay
Ewan tahu betul bahwa suatu hari nanti dia bisa terjebak dalam situasi dikepung dari segala arah. Satu-satunya cara untuk mengubah keadaan itu adalah meningkatkan kekuatannya sendiri. Ewan yakin, selama kekuatannya cukup, maka pada akhirnya dia bisa menekan dan menundukkan semua musuh di dunia ini.Satu jam lagi berlalu.Tok, tok ....Terdengar ketukan di pintu.Suara Dodo terdengar dari luar, "Kak, kamu sudah bangun belum?""Ada apa?" tanya Ewan dengan nada tidak sabar. Dia baru saja selesai "bertarung" dan tubuhnya masih berkeringat."Kak, cepat bangun. Sarapan sudah siap," kata Dodo."Aku nggak makan." Lisa masih melilitkan tubuhnya di tubuh Ewan, mana mungkin Ewan berminat sarapan."Kamu sebaiknya tetap bangun," kata Dodo. "Semua orang sudah menunggumu di aula. Di keluarga kami ada aturan, selama menginap di rumah, sarapan harus makan bersama."'Sialan, aturan apaan ini.' Ewan agak kesal.Lisa membujuk dengan lembut, "Bangunlah. Jangan biarkan semua orang menunggu terlalu lama. Lag
Ewan bisa mengenali orang hanya dari suara. Begitu mendengar langkah kaki itu, Ewan langsung tahu siapa yang datang. Sudut bibirnya terangkat sedikit, lalu dia segera menyelinap masuk ke bawah selimut.Krek ....Pintu kamar didorong terbuka. Sesaat kemudian, sesosok tubuh yang ramping melangkah masuk dengan ringan.Lisa!Lisa mengenakan gaun ketat tradisional dengan motif bunga biru-putih. Penampilannya terlihat klasik sekaligus elegan. Dia melirik ke arah ranjang dan melihat Ewan masih tampak tertidur lelap. Senyum genit pun muncul di wajahnya.Lisa melangkah ke sisi ranjang. Dia mengangkat sedikit ujung selimut, lalu menyusupkan kepalanya ke dalam.Tak lama kemudian, Ewan mengerang nyaman, "Oh ...."Lisa pun semakin bersemangat.Beberapa saat kemudian, dia naik ke atas ranjang dan berbaring di atas tubuh Ewan sambil tersenyum menggoda. "Sudah bangun?""Kak Lisa, kenapa kamu bisa ke sini?" tanya Ewan sambil pura-pura terkejut.Lisa menatapnya dengan wajah penuh keluhan manja. "Kamu in
"Nggak bisa," kata Yuki. "Kalau kamu ingin bersamaku, maka kamu hanya boleh memilih aku."Akiyama menatap dengan wajah penuh kepedihan dan berkata, "Ewan, kamu sudah bilang akan bertanggung jawab padaku. Aku nggak peduli. Aku hanya ingin bersamamu."Sikap Yuki tetap bersikeras. "Kamu pilih aku atau pilih dia?"Akiyama juga tersulut emosi dan membalas dengan tak mau kalah, "Yuki, kita ini guru dan murid. Kenapa kamu merebut pria gurumu? Baiklah, Ewan, aku juga menyatakan sikapku. Kamu cuma boleh milih salah satu antara kami berdua."Ewan berkata, "Kalian berdua ini kenapa seperti anak kecil? Kenapa sesama wanita saling menyulitkan? Jujur saja, perasaanku pada kalian berdua sama-sama tulus. Kalau kehilangan salah satu dari kalian, aku pasti akan sangat menderita. Hidupku akan terasa lebih buruk dari kematian."Yuki dan Akiyama terdiam.Ewan melanjutkan, "Kalian berdua adalah orang yang paling kucintai. Kalian juga sudah punya hubungan yang lebih dari sekadar teman denganku. Aku tahu, kal







