Short
Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku

Dia Bagai Pasir di Pelupuk Mataku

Par:  MohiniComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapitres
1Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Saat istriku dinyatakan hamil, di perjalanan pulang tiba-tiba dia berkata kepadaku, "Ada sesuatu yang mau kukatakan." "Sebenarnya anak yang ada di dalam kandunganku adalah anak kakak ipar. Surat izin kelahirannya juga sudah selesai diurus." Senyum di wajahku langsung membeku. Dia mengeluarkan selembar hasil Tes DNA dari dalam tasnya. Pada kolom ayah benar-benar tertulis nama Felix Gondo. Dia berkata dengan nada yang begitu tenang hingga terasa mengerikan, "Hari itu kau demam tinggi dan tertidur di kursi belakang mobil. Kami melakukannya di kursi depan." "Di tempat aku duduk sekarang ini." Dalam sekejap, seluruh tubuhku seakan terjun ke dalam jurang es. Aku membuka mulut, tetapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat sesuatu. Setelah mengatakan itu, Salma Kurniawan menatap perutnya yang mulai membesar. Setiap kata yang keluar dari mulutnya menusuk hatiku. "Kalau kau benar-benar nggak bisa menerimanya, aku bisa gugurkan. Tapi kuota surat izin kelahiran cuma ada satu. Kalau kesempatan ini hilang, kita berdua nggak mungkin punya anak lagi." "Sekarang, aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Membiarkan anak ini lahir atau nggak, kau yang putuskan."

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

Suasana di dalam mobil begitu sunyi hingga terasa mencekam.

Beberapa saat kemudian, aku membuka mulut dan dengan susah payah mengeluarkan suara. "Kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini padaku?"

Pandanganku menggelap. Rasanya seperti ada sepasang tangan tidak kasatmata yang mencekik leherku erat-erat hingga aku nyaris tidak bisa bernapas.

Melihat air mataku mengalir tanpa henti, Salma memaksaku menghentikan mobil, lalu menyeka air mataku.

"Kakak perempuanku yang sudah meninggal nggak sempat meninggalkan seorang anak. Kakak iparku bakal menjalani sisa hidupnya tanpa siapa-siapa. Aku cuma mau memberinya seorang anak."

"Kuota surat izin kelahiran cuma ada satu. Kalau anak ini digugurkan, kita juga nggak bakal punya anak lagi nanti."

"Kalau anak ini lahir, aku bisa mengajarinya memanggilmu ayah."

"Pilihan ada di tanganmu."

Setiap ucapannya mendorongku makin jauh ke jalan buntu. Bahkan untuk mengepalkan tangan pun aku sudah tidak memiliki tenaga.

Padahal baru beberapa saat yang lalu, dia masih bersandar dalam pelukanku sambil membayangkan masa depan keluarga kecil kami yang terdiri dari tiga orang.

Sebagai kepala lembaga penelitian, dia begitu bahagia hingga air matanya terus mengalir.

"Akhirnya, kita bakal punya anak. Mulai sekarang, seluruh tunjanganku bakal kuberikan padamu. Aku sendiri yang bakal membesarkannya menjadi anak berprestasi!"

Namun, hanya dalam hitungan jam, dia memberitahuku bahwa anak itu bukan darah dagingku.

Aku mengangkat tinju dengan marah, tetapi pada akhirnya tetap menurunkannya.

"Salma, keterlaluan sekali kau!"

Salma tidak menghindar, juga tidak marah.

"Ayo pulang. Aku bakal memasakkan makan malam buatmu."

Nada bicaranya terdengar ringan. Dia memasangkan sabuk pengamanku dengan lembut, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.

Sebaliknya, aku justru menjauh darinya seperti melihat hantu. Wajahnya perlahan menjadi kabur di mataku.

Saat Salma mengalami keguguran karena sebuah kecelakaan, aku pun tenggelam dalam rasa bersalah yang mendalam hingga akhirnya menderita depresi berat.

Dokter di rumah sakit tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya, Salma menggunakan koneksinya untuk mendatangkan dokter dari luar negeri guna mengobatiku.

Siang dan malam, dia menahan semua ledakan emosiku, bahkan membawa pulang pekerjaannya dari lembaga penelitian agar bisa tetap menemaniku.

Mengingat semua kasih sayang yang pernah kami lalui bersama, aku tidak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Tapi dulu kau bilang bakal memberiku seorang anak lagi. Apa perkataanmu itu sudah nggak berlaku?"

Reaksiku yang begitu keras akhirnya menghabiskan seluruh kesabarannya.

"Aku nggak pernah memaksamu menerima anak ini!"

"Kau sudah memaksaku!" Suaraku serak hingga hampir tidak terdengar.

Salma terdiam sesaat. Tepat pada saat itu, petugas informasi mengayuh sepedanya dengan cepat hingga berhasil menyusul mereka.

"Bu Salma, Pak Felix mengalami cedera kaki saat bekerja. Tolong antarkan dia ke rumah sakit dengan mobil!"

Wajah Salma langsung berubah. Dia mendorongku keluar dari mobil dengan keras.

"Pulanglah sendiri. Sekalian tenangkan dirimu."

Setelah mengucapkan itu, jip tersebut melesat pergi, meninggalkan debu di belakangnya.

Bahkan dia tidak meninggalkan satu lirikan pun kepadaku.

Tubuhku terhempas keras ke tanah. Aku berusaha bangkit beberapa kali, tetapi tetap tidak mampu berdiri.

Entah sudah berapa lama berlalu, aku pulang ke rumah dengan langkah gontai dan pikiran kosong, lalu menghampiri telepon rumah yang selama ini nyaris tidak pernah kami gunakan.

Aku mengangkat gagang telepon dan memutar nomor.

"Halo, saya Aldric Naufal. Saya bersedia bergabung dengan tim bantuan ke Tibeith."

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
8
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status