Compartir

☀︎9

Autor: goshxx
last update Fecha de publicación: 2026-01-07 08:00:00
CHAPTER 9

Keesokan paginya, Summer melangkah masuk ke studio seni Royal Crest Academy yang sudah dipenuhi murid-murid.

Beberapa orang sibuk menyiapkan kanvas di meja masing-masing, sebagian lain mengeluarkan kuas dan kotak cat dari dalam tas.

Suara kursi yang bergeser terdengar di sana-sini, bercampur dengan obrolan pelan, sementara aroma cat memenuhi ruangan luas itu.

Langkah Summer sempat terhenti di ambang pintu. Ia memandang sekeliling beberapa saat lalu mengembuskan napas pelan.

Tidak
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎99

    CHAPTER 99Takumi yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. “Ayah…”“Dia tetap berhak menentukan hidupnya sendiri.”Ren mengangguk santai. “Aku bisa menerima itu.”Takeshi mengambil pena yang berada di atas meja, tetapi Takumi lebih dulu menahan pergelangan tangannya. “Berpikirlah dulu.” Tatapan putranya tidak bergeser sedikit pun. “Summer bukan alat tukar. Dia putriku.”“Dia juga cucuku.”“Kalau begitu jangan lakukan ini.” Suara Takumi terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri.”Takeshi terdiam mendengar itu. Baginya, tidak ada yang lebih ia inginkan selain melihat Summer bahagia.Namun setiap kali memikirkan masa depan cucunya, yang terbayang justru wajah orang-orang yang selama bertahun-tahun menunggu kesempatan menjatuhkan keluarga Ryu. “Aku hanya ingin memastikan dia aman.”“Biarkan aku melindunginya.”Takeshi memandang putranya cukup lama. Ia ingin mempercayai kalimat itu. Sungguh ingin. N

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎98

    CHAPTER 98Pertanyaan itu membuat Summer tertawa kecil. “Tentu saja.” Jemarinya masih bermain dengan liontin kecil di gelang tersebut. “Aku sangat ingin.”Saat mengangkat kepala lagi, Summer sempat melihat senyum tipis di sudut bibir Dylan. “Ada apa?”Dylan menggeleng. “Tidak ada.”Jawaban itu terdengar terlalu cepat untuk benar-benar meyakinkannya, tetapi Summer memilih tidak mengejar penjelasan lain.Beberapa saat kemudian Dylan berdiri dari bangku dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana olahraga. Summer ikut bangkit. “Summer.”“Iya?”Dylan menatapnya beberapa saat hingga tanpa sadar Summer ikut menahan napas. “Jangan takut mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri.”Kalimat itu langsung mengingatkannya pada percakapan dengan kakeknya. “Kakekku bilang hal yang hampir sama.”“Kakekmu benar.”Summer menunggu, dan Dylan kembali membuka suara dengan tenang. “Keputusanmu akan menentukan takdirmu.”Ia mengangguk pelan. Aneh, tetapi

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎97

    CHAPTER 97Arthur masih memeriksa laporan keuangan di atas mejanya saat ketukan pintu terdengar dari luar. Ia tidak perlu menebak siapa yang datang. “Masuk.”Pintu terbuka dan Dylan melangkah ke dalam ruang kerja, lalu berhenti beberapa langkah dari meja seperti biasa.Arthur menutup map di hadapannya, berdiri dari kursi, lalu berjalan ke arah jendela yang menghadap taman. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat para petugas taman yang masih sibuk merapikan semak-semak di sepanjang jalan setapak. “Sudah kau putuskan?”“Aku akan melindunginya.”Arthur tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela sementara kata-kata itu terngiang di kepalanya. Jawaban itu sama sekali tidak mengejutkan.Dylan tidak pernah mengambil keputusan karena emosi sesaat. Sejak kecil, anak itu selalu memikirkan segala sesuatu jauh lebih lama daripada orang lain sebelum akhirnya menentukan pilihan.Karena itulah Dylan sering terlihat keras kepala di mata ora

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎96

    CHAPTER 96Lampu belajar yang masih menyala membuat Cloud membuka mata. Ia berkedip beberapa kali sambil menyesuaikan pandangan, lalu memiringkan kepala ke arah meja di dekat jendela.Dylan masih berada di sana dengan laptop yang belum juga ditutup. Cahaya layar memantul di wajahnya, menerangi tumpukan map dan catatan yang memenuhi meja, sementara suara pelan dari tombol keyboard terus terdengar.Cloud melirik jam di samping ranjang dan refleks mengernyit. Sudah lewat pukul dua dini hari, tetapi Dylan masih belum beranjak sedikit pun.Ia mengusap wajah sekilas lalu menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur. “Belum tidur?”“Belum.”“Siang nanti, lo jadi meeting sama kepala divisi IT?”“Iya.”“Istirahat, Dy. Nanti lo capek.”Suara keyboard tetap terdengar beberapa kali lalu akhirnya berhenti. Dylan tidak mengalihkan pandangan dari layar di depannya saat menjawab singkat, “Bisa.”Cloud menggeleng pelan. “Kalau lo sakit, lo gak akan bisa ngapa-ngapain.”Ia memandangi punggung sahabatny

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎95

    CHAPTER 95Pagi itu Royal Crest Academy kembali dipenuhi murid-murid dengan seragam rapi dan wajah penuh semangat. Koridor yang sempat lengang selama beberapa minggu terakhir kembali ramai oleh suara langkah kaki dan obrolan yang saling bersahutan.Setelah jam pelajaran keempat berakhir, Summer berjalan berdampingan dengan Emma menuju kantin. Begitu menemukan meja kosong, Emma meletakkan nampannya lalu duduk sambil mengembuskan napas pelan. “Liburannya terasa sebentar sekali.”Summer ikut duduk di hadapannya. “Iya.”Emma membuka botol minumnya, meneguk sedikit, lalu menoleh. “Bagaimana di rumah Jess?”“Menyenangkan.” Senyum Summer bertahan begitu saja di wajahnya hanya karena kembali mengingat beberapa hari terakhir. “Mama dan Papa Jess sangat baik. Kami makan bersama, membantu di dapur, bermain dengan anjing-anjing di halaman, lalu mengobrol sampai malam.”“Kelihatannya menyenangkan.”“Memang.” Summer mengangkat wajah dan balik menatapnya. “Kalau ka

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎94

    CHAPTER 94“Summer! Cepat sedikit!” Suara Jess sudah terdengar bahkan sebelum pintu kamar benar-benar terbuka.Ia masuk sambil menyeret koper dan berhenti di depan Summer yang masih melipat pakaian di atas ranjang.Emma cuma melirik sekilas dari tempatnya duduk di lantai, lalu kembali memasukkan buku terakhir ke dalam tas.“Kita bakal telat.”Summer menoleh ke jam di dinding. “Masih satu jam lagi.”“Itu sebentar.”“Masih lama.”Emma mengangkat kepala sambil menahan senyum. “Kalau kalian lanjut begini, sampai besok juga nggak jadi berangkat.”Jess pura-pura tidak dengar. Perhatiannya sudah pindah ke tas Summer yang masih terbuka. “Dompet?”“Ada.”“Ponsel?”“Ada.”“Charger?”Summer berhenti melipat baju lalu menatapnya. “Jess.”“Apa?”“Aku cuma pergi beberapa hari.”“Terus?”“Kamu bikin rasanya seperti mau pindah rumah.”Emma terkekeh pelan, sementara Jess cuma mengangkat bahu tanpa merasa bersalah. “Biar

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status