Mag-log inTuduhan agresi ke Republik menyebar seperti api di seluruh Dewan Keamanan Astarhea. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah insiden Pos Frostfire, Federasi Militer Naga Biru secara politik terasingkan, dipandang sebagai agresor oleh kekuatan global. Tanpa bukti nyata yang dapat membantah rekaman feed palsu Republik, Panglima Jae-won terpojok.
Perintah dari Dewan Nasional Federasi, yang ditekan oleh kekuatan global, adalah untuk menahan diri dari pembalasan militer. Namun, itu adalah perintah yang terasa seperti belati yang mengiris hati seorang prajurit. Jae-won, di Markas Satuan Tugas Titan, menahan amarah yang membara di dalam dirinya, sebuah bara yang siap meledak namun terkendali oleh akal sehat yang tajam. Dia tahu betul bahwa menyerang balik Republik hanya akan memainkan skenario yang telah dibuat Wei Shen, sebuah drama yang dirancang untuk membenarkan narasi mereka. Dia harus menahan diri, setidaknya sampai dia bisa mendapatkan kembali Modul Kompensator Inti yang dicuri dan membongkar kebohongan busuk ini di depan seluruh Astarhea. Kehormatan Federasi, baginya, terletak pada kebenaran, bukan pada pembalasan buta yang akan memusnahkan mereka semua. "Panglima!" teriak Kapten Ji-hoon, suaranya pecah, menggema di ruang komando yang tegang. Wajahnya merah padam, urat-urat menonjol di lehernya, mata yang biasanya tenang kini berapi-api. "Intelijen Republik menyiarkan rekaman pasukan kita dari insiden Frostfire berulang kali! Mereka memutar ulang gambar-gambar drone palsu itu seolah itu adalah kebenaran mutlak yang menghakimi kita! Seluruh Astarhea kini memandang kita sebagai monster, sebagai agresor biadab! Kita harus menyerang balik! Setiap detakan jam ini adalah palu godam yang menghantam kehormatan bendera kita, mengoyak martabat setiap prajurit yang gugur, setiap keluarga yang meratap! Jika kita tidak membalas, jika kita hanya diam dan menanggung penghinaan ini, kita akan kehilangan lebih dari sekadar wilayah—kita akan kehilangan jiwa kita!" Jae-won memejamkan mata sesaat, beban dunia terasa di pundaknya, beratnya hampir merobeknya. "Tidak, Ji-hoon. Ini yang mereka inginkan. Ini adalah jebakan. Setiap peluru yang kita tembakkan sekarang adalah pembenaran bagi fitnah mereka. Kita harus cerdas. Kita harus sabar. Mereka mencuri demi sesuatu yang tidak bisa kita duga. Jika kita terburu-buru, kita akan kehilangan segalanya, bukan hanya pertempuran ini, tetapi masa depan Astarhea." Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. Namun, keputusan Jae-won untuk menahan diri ini, demi strategi jangka panjang dan kebenaran yang lebih besar, ditafsirkan secara radikal berbeda oleh sebagian besar di dalam Federasi. Ketidakpuasan yang telah lama bersemayam di lorong-lorong kekuasaan, kini meledak menjadi nyala api pemberontakan. Faksi Naga Hijau, sebuah kelompok ultranasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Hyeong-jun, seorang veteran karismatik dengan ambisi tak terbatas, telah lama meragukan taktik Jae-won yang lebih konservatif. Mereka percaya Federasi harus selalu mendominasi dengan kekuatan brutal, membalas setiap penghinaan dengan seribu pukulan. Kini, dengan Federasi yang dituduh di panggung dunia dan Panglima mereka berdiam diri, Hyeong-jun melihatnya sebagai titik lemah yang tak termaafkan—bahkan pengkhianatan terhadap semangat dan kehormatan Federasi itu sendiri. "Panglima telah mengkhianati semangat dan kehormatan Federasi!" raung Jenderal Hyeong-jun dalam transmisi rahasia yang mengalir ke unit-unit loyalnya, suaranya menggelegar penuh kemarahan yang dipelintir. "Dia membiarkan kita dihina di depan seluruh Astarhea! Dia membiarkan Republik mencuri teknologi vital dari Gudang Intelijen Gamma-7—sebuah aib yang tak terampuni! Dan sekarang dia bersembunyi di balik omong kosong diplomasi yang hanya akan memperpanjang penderitaan kita! Federasi membutuhkan seorang pemimpin yang bersedia menyeret musuhnya ke neraka! Federasi akan mengambil kembali apa yang telah dicuri dan membalas kehinaan ini dengan darah!" Pesan kudeta ini menyebar cepat, membakar semangat di antara unit-unit Federasi yang frustrasi dan marah oleh fitnah Republik, sekaligus termakan provokasi Hyeong-jun yang menjanjikan pembalasan langsung yang telah lama mereka dambakan. Tiba-tiba, sirene darurat meraung dari panel utama Federasi. Bukan peringatan invasi eksternal, melainkan transmisi resmi dari Dewan Militer Pusat Federasi. Lampu hijau terang berkedip, bukan merah. "Panglima!" teriak Kapten Ji-hoon, tatapannya beralih ke layar darurat yang menampilkan transmisi kode otorisasi tertinggi. "Ini... ini perintah dari Dewan Militer! Mereka telah menyetujui mosi darurat! Jenderal Hyeong-jun diangkat sebagai Panglima sementara Federasi, dengan suara bulat! Komando Anda telah dicabut, Panglima!" Rahang Jae-won mengeras, tubuhnya menegang seolah dihantam petir. "Apa katamu?!" Ini bukan kudeta ilegal. Ini adalah kudeta yang dilegitimasi. Dewan Militer, yang selama ini seharusnya menjadi penyeimbang, telah berpihak pada Hyeong-jun, mungkin karena tekanan besar dari Faksi Naga Hijau atau karena keputusasaan kolektif mereka melihat Federasi dipermalukan. Jae-won, sang Panglima, kini secara resmi dilucuti dari kekuasaannya. Pengkhianatan! Di tengah ancaman perang yang sedang disulut Republik, Federasi kini terpecah belah, namun dengan otoritas yang baru diangkat. Iron Monarch milik Jae-won, yang seharusnya memimpin pasukan melawan musuh luar, kini terperangkap di dalam markas yang dikuasai secara resmi oleh Panglima yang baru. Jenderal Hyeong-jun muncul di layar komunikasi utama, wajahnya dingin dan penuh kemenangan. "Panglima Jae-won. Federasi tidak membutuhkan pemimpin yang ragu. Dewan telah berbicara. Kekuasaan telah berpindah tangan. Kau membiarkan Serigala Putih mempermainkan kita. Kau membiarkan kehormatan Federasi diinjak-injak. Kau bahkan membiarkan mereka mencuri teknologi vital dari Gamma-7 tanpa reaksi nyata. Aku akan memimpin Federasi ke kejayaan yang sesungguhnya. Penghancuran Republik akan dimulai hari ini, dengan atau tanpamu. Kau telah dicap sebagai pengkhianat Federasi, dan tempatmu adalah di tahanan sampai pengadilan militer dapat dilangsungkan." Tepat setelah transmisi Hyeong-jun berakhir, sebuah perintah baru yang membingungkan namun mengerikan segera dikirimkan ke seluruh unit Federasi. Ini bukan lagi perintah defensif. Ini adalah perintah ofensif total. Di saat yang sama, laporan datang dari garis depan: Republik, yang diperkirakan akan melancarkan invasi balasan ke Delta-7 setelah insiden Frostfire, tampaknya menghentikan pergerakan mereka. Pasukan mereka berdiam diri, menyaksikan Federasi yang kini telah mengamuk. Tim Republik yang menyelinap ke Gamma-7 kini sudah kembali, dan Modul Kompensator Inti yang dicuri sedang dalam perjalanan ke Bunker Snow Fang. Mereka telah mencapai tujuan mereka di tengah kekacauan yang disengaja dan dirancang dengan matang. Jae-won merasakan kebenaran yang lebih dalam, pahit seperti obat. Pertempuran ini bukan hanya tentang membalas dendam atas Frostfire, atau merebut Delta-7. Ini adalah tentang menampilkan superioritas teknologi Republik dan pada saat yang sama, membuat Federasi hancur dari dalam. Republik menggunakan perang ini untuk memicu kudeta yang legitimated, mengincar perpecahan internal Federasi sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka yang lebih besar dan mengerikan. Sebuah permainan catur yang kejam, dan Federasi hanyalah pion yang dikorbankan. "Kapten Ji-hoon," suara Jae-won, meskipun tegang, mengandung resolusi baja. "Kumpulkan unit-unit loyal yang tersisa. Kita tidak bisa membiarkan Federasi yang telah dibajak ini menghancurkan Astarhea. Kita harus keluar dari sini. Jika kita tidak bisa menghentikan Hyeong-jun, maka tidak ada yang bisa menghentikan rencana Republik yang lebih gelap." Tembakan Soldierid yang loyal kepada Hyeong-jun mulai menghujani dinding-dinding baja Markas Titan, bukan untuk merebut, melainkan untuk menegakkan kekuasaan baru. Benteng pertahanan internal, yang dirancang untuk menahan serangan eksternal, kini diuji hingga batasnya oleh pasukan Federasi sendiri. Jae-won melihat loyalitas terpecah belah, prajurit saling tembak di koridor-koridor yang seharusnya aman, darah Federasi menodai lantai Markas. Ini adalah kegilaan yang tak termaafkan, sebuah luka yang akan sulit disembuhkan. Jae-won, bersama beberapa prajurit loyal, berhasil melarikan diri ke bunker rahasia yang ia siapkan untuk situasi darurat. Dia berdiri di dalam bunker yang remang-remang, menyaksikan berita Kekaisaran Phoenix Emas (dilaporkan oleh Kapten Ren Mikami) mengutuk Federasi yang "terpecah-belah" dan kini di ambang "perang total yang tak terkendali." Federasi kini tidak hanya terisolasi, tapi juga telah menjadi ancaman baru bagi stabilitas Astarhea, dipimpin oleh tangan yang salah. Dia menyentuh holo-tablet-nya, melihat file Modul Kompensator Inti yang hilang—sebuah komponen teknologi yang sangat sensitif, namun tidak memiliki nilai militer yang jelas di mata publik. "Mengapa mereka memprovokasi perang ini... hanya untuk mencuri modul dari kegagalan 23 tahun lalu?" gumam Jae-won, suaranya dipenuhi firasat buruk. "Mereka tidak hanya mengincar wilayah, atau bahkan kekuasaan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan di balik pencurian modul itu, sebuah misteri yang melibatkan inti dari keberadaan kita, yang Republik simpan rapat-rapat. Dan kini, mereka telah menghancurkan Federasi dari dalam untuk mencapai tujuan mereka, dengan Hyeong-jun sebagai pion yang buta." Jae-won tahu dia sekarang bukan hanya Panglima yang kalah dalam pertarungan politik, tapi juga buronan, dan dituduh sebagai pengecut serta pengkhianat oleh Dewan Militer Federasi sendiri. Namun, dia seorang jenderal yang dipaksa menghadapi kebenaran pahit: musuhnya tidak bermain sesuai aturan perang konvensional, dan ancaman sebenarnya datang dari sesuatu yang jauh lebih besar dari kegilaan Hyeong-jun. Ia berdiri sendirian di tengah bunker, hanya ditemani oleh cahaya redup dari holo-tablet yang menampilkan modul yang dicuri. Ia telah dicap pengkhianat, bangsanya sendiri telah menolaknya, Federasi kini menjadi boneka perang. Tapi bukan itu yang paling mengganggunya. "Mengapa?" bisiknya keheningan, suaranya serak. "Mengapa mereka menghancurkan begitu banyak hanya untuk benda ini? Ini bukan senjata yang kita kenal, bukan sumber daya yang bisa dimengerti. Ini... sesuatu yang lain." Sebuah firasat dingin merayap di punggungnya, lebih mengerikan daripada bayangan tentara Hyeong-jun di luar. "Mereka mengincar inti dari sesuatu yang jauh lebih fundamental. Sebuah rahasia yang tersembunyi rapat sejak awal, dan Republik kini memegang kunci untuk membukanya." Ia mengangkat pandangannya, matanya yang lelah namun penuh tekad menatap ke arah peta menuju Hutan Jaya. "Kerajaan Harimau Merah... satu-satunya aliansi yang tersisa. Pelabuhan terakhirku. Mereka akan memberiku tempat berlindung, dan mungkin bersama mereka, aku bisa menemukan jawaban atas kegelapan yang tak terpahami ini. Aku harus mempercayai mereka, mengorbankan setiap loyalitas yang tersisa—bukan lagi pada Federasi yang telah mati, melainkan pada kebenaran yang lebih besar. Ini adalah taruhan terakhirku, demi menyelamatkan Astarhea dari kegelapan yang siap menelan cahaya masa depan." Sebuah napas panjang dihembuskannya. "Aku harus mempertaruhkan segalanya."Di hadapan Megafort Judgement, berdiri sisa-sisa keangkuhan dari era Kekaisaran Luminion yang telah hilang: Gerbang Luminion.Struktur jam raksasa itu kini terbelah dua secara vertikal, meninggalkan celah menganga selebar ratusan meter tepat di pusatnya. Retakan besar itu adalah luka mematikan; sebuah kehancuran fatal yang melumpuhkan fungsi utamanya sebagai Bendungan Raksasa Kekaisaran.Akibatnya, triliunan ton air yang dulunya dikelola sempurna, kini tumpah ruah secara liar. Air itu terjun bebas melalui celah retakan gerbang, menciptakan air terjun raksasa yang gemuruhnya mengguncang langit, seolah kemurkaan para dewa yang tak lagi terbendung.Uap air yang membubung menciptakan kabut abadi yang menyelimuti bagian dasar struktur logam purba tersebut. Di tengah pekatnya kabut uap itu, sebuah pelangi abadi melengkung pucat—hasil pembiasan cahaya putih-keemasan kristal AEC (Aether-Engine Crystals) yang terpecah oleh jutaan butiran air.Dua pahatan wajah kolosal yang menyangga lingkaran
Dengungan itu bukan lagi sekadar suara; ia adalah gema dari sebuah kisah kelam yang terkubur jutaan tahun. Ia adalah gaungan sejarah masa lalu Menara Babelia yang menyisakan lubang besar dalam ingatan dunia—sebuah misteri yang tidak pernah terpecahkan sampai saat ini tentang mengapa menara semegah itu bisa runtuh dan berada di Astarhea, tepatnya di Benua Genevivre. Para ilmuwan lintas generasi meyakini bahwa menara tersebut bukanlah berasal ataupun dibangun di Genevivre, melainkan sebuah anomali yang dipaksakan masuk ke dalam realitas mereka. Tepat saat Luviel menutup kedua telinganya sambil merintih di hadapan Kapten Varick, frekuensi purba itu menyerang dengan intensitas yang berbahaya. Gelombang suara itu merambat halus dan menghipnotis alam sadar Luviel sementara, menariknya ke dalam trans yang tak terelakkan. Atmosfer di aula Babelia mendadak berubah menjadi neraka gravitasi. Udara seolah memadat menjadi timah, menekan paru-paru Luviel hingga ia tersedak dalam oksigen
Harapan seolah sudah mati di dalam jantung raksasa Babelia. Aula yang sangat luas itu kini terasa hampa dan menekan, menciptakan suasana yang begitu berat bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Tiang-tiang energi memancarkan cahaya putih yang terang, menciptakan bayangan panjang yang membeku seolah waktu berhenti berputar demi menghormati mereka yang berada di ambang maut. Di sudut aula, Jae-won masih terkapar kaku dalam dekapan Kartika, napasnya begitu tipis hingga nyaris tak terdengar. Tiba-tiba, realitas di tengah aula terbelah, menyemburkan pendaran cahaya galaksi yang sangat megah. Dari balik robekan dimensi itu, Leandris melangkah keluar. Kecantikannya begitu nyata hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa seolah dunia di sekitar mereka telah lenyap, digantikan oleh keagungan kosmik. Ia melangkah mendekati Luviel dengan keanggunan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia fana ini. Setiap pijakannya pada lantai logam tidak menghasilkan suara, namun meninggalkan jejak
Langkah kaki bot militer bergema di sepanjang lorong logam Menara Babelia yang terletak di pinggiran Benua Genevivre. Sersan Rebirtha memimpin tim medisnya menembus sisa-sisa aroma ozon dan debu reruntuhan yang menyesakkan indra penciuman. Di dinding-dinding menara, bekas sayatan bilah pedang dan hantaman sihir hitam menjadi saksi bisu betapa brutalnya serangan Sekte Rembulan Merah yang baru saja berhasil dihancurkan. Saat mereka merangsek masuk ke aula utama, langkah tim terhenti seketika. Di tengah aula yang dingin, Argentum—naga perak raksasa—berdiri tegak. Sayap logamnya yang lebar membentang luas, membungkus tubuh Udzhur yang tergeletak di lantai, melindunginya layaknya sebuah perisai hidup yang tak tertembus. "Tahan senjata kalian!" perintah Rebirtha dengan tegas. Ia melangkah maju secara perlahan sembari merapalkan Vital-Resonance. Frekuensi energi hijau lembut terpancar dari telapak tangannya, menyentuh sisik sang naga untuk membuktikan bahwa ia adalah kawan. Argentum men
Gurun Babelia mendadak senyap. Keheningan yang menyelimuti kawasan itu terasa amat pekat, seolah-olah atmosfer di sekitar menara raksasa tersebut membeku di bawah bayang-bayang pilar baja purba yang baru saja bangkit dari masa persemayamannya. Pintu hidrolik besar di pangkal kaki Babelia bergeser terbuka, mengiringi desisan uap panjang yang memecah kesunyian, menyemburkan hawa dingin yang kontras dengan udara gurun yang membara di luar. Jae-won melangkah keluar dengan langkah yang terasa seberat timah. Setiap inci pergerakannya menuntut sisa stamina yang nyaris punah. Jubah biru tua miliknya tampak compang-camping; rona warnanya memudar di bawah lapisan debu tebal dan bercak darah yang telah mengering akibat pertempuran sebelumnya. Ia tidak menggenggam senjata apa pun; hanya sarung tangan baja biru tua yang membungkus tangannya, memantulkan cahaya mentari sore yang menyengat pada permukaan logam yang kusam. Di balik celah logam sarung tangan itu, pendaran biru keemasan dari Rune m
Gurun Babelia yang biasanya sunyi kini bergetar di bawah otoritas baru yang mengerikan. Di kejauhan, tepat di garis perbatasan yang memisahkan padang pasir tak bertuan dengan kedaulatan Domain Pasir Putih, berdiri sebuah pos pengawas legendaris yang dikenal sebagai Petra Valis. Benteng itu dibangun di celah tebing batu merah yang menjulang, berfungsi sebagai gerbang utama sekaligus benteng pertahanan terakhir bagi rakyat di balik gurun. Di puncak menara tertinggi Petra Valis, Kapten Varick menatap layar monitor seismik dengan mata terbelalak. Jarum-jarum analog di meja kerjanya bergerak liar, menari-nari tanpa henti seolah-olah bumi sedang mengalami serangan jantung. "Lapor, Kapten! Sensor panas mendeteksi lonjakan energi masif di sektor nol-sembilan!" teriak seorang operator muda dengan suara gemetar. "Ini bukan badai pasir biasa. Ini adalah aktivitas daya mekanis... berskala kolosal." Varick tidak menjawab. Ia meraih teleskop optik jarak jauh yang terpasang di balkon me







