Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 20 : Interogasi Maya

Share

Bab 20 : Interogasi Maya

Author: Kim Hwang Ra
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-14 13:08:11

Wajah Alia memanas. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik dari seluruh penjuru kelas, terutama dari Maya yang masih memegang kuasnya dengan pose menuntut jawaban. Detak jantung Alia berpacu, bukan lagi karena debaran manis, melainkan ketakutan akan reputasi profesionalnya yang terancam.

"Maya, jangan berlebihan," potong Alia cepat, ia segera menarik lengannya dari jangkauan Arhan, menciptakan jarak yang tegas.

"Arhan memang mahasiswa yang sangat cekatan. Dia juga yang membantu saya membawakan bu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 63 : H-2

    Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih hangat. Alia bersandar di atas tumpukan bantal di ranjangnya, sementara Rendra sibuk mondar-mandir membawakan nampan berisi sup hangat, buah potong, dan segelas susu.Rendra duduk di tepi ranjang, tangannya tak henti-henti mengusap lembut perut Alia dengan binar mata yang penuh harap."Makan yang banyak ya, Sayang. Biar kamu dan... si kecil di dalam sana kuat," ujar Rendra dengan nada yang sangat lembut.Alia menepis tangan Rendra perlahan, "Ren, jangan berlebihan. Dokter belum memberikan hasil tes darahnya. Jangan terlalu berharap sebelum hasilnya benar-benar positif. Aku tidak mau kamu kecewa.""Aku tidak akan kecewa, Alia. Aku hanya merasa yakin saja," balas Rendra cepat, ia mencoba menyuapi Alia sesendok sup.Alia menerima suapan itu dengan terpaksa. Setelah menelannya, ia menatap suaminya lurus-lurus. Tatapan yang membuat Rendra mendadak merasa kikuk."Ren, ada yang ingin kamu sampaikan padaku tentang kejadian di Puncak, ngga?" tanya Ali

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 62 : 1 Hati 3 Cinta

    Di sebuah sudut taman yang agak tersembunyi, Arhan duduk lemas dengan punggung bersandar pada bangku kayu yang catnya sudah mulai mengelupas. Di sampingnya, Rio hanya bisa menghela napas panjang, berkali-kali melirik sahabatnya yang tampak seperti kehilangan jiwa.Kostum kelinci yang tadi menjadi kebanggaan stand kelas mereka kini teronggok mengenaskan di dekat tempat sampah besar. Telinganya patah, bulu-bulu sintetisnya kotor terkena tanah, dan bagian perutnya robek besar. Beberapa menit lalu, ketua panitia festival mendatangi Arhan dengan wajah merah padam, menuntut denda jutaan rupiah karena kerusakan properti sewaan tersebut.Arhan hanya mengeluarkan dompet, memberikan kartu kreditnya tanpa melihat wajah sang ketua panitia, dan berkata, "Ambil berapa pun yang kau butuhkan, asal jangan berisik di dekatku."Uang adalah hal terkecil bagi Arhan. Namun, kondisi Alia adalah segalanya."Arhan, minum dulu," ujar Rio sembari menyodorkan botol air mineral dingin.Arhan menerimanya dengan ge

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 61 : Berita Hamil

    Kelopak mata Alia terasa sangat berat saat ia perlahan membukanya. Hal pertama yang ia tangkap adalah bayangan Rendra yang duduk di kursi samping ranjang, menatapnya dengan raut wajah yang sangat cemas."Sayang? Kamu sudah bangun?" Rendra langsung berdiri, menggenggam tangan Alia dengan erat. "Apa yang sakit? Kepala? Perut? Mau minum?"Alia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan memorinya. "Rendra... Kok kamu sudah di sini? Bukannya tadi pagi kamu masih di Puncak?""Aku langsung tancap gas begitu Dika menelepon, aku takut terjadi apa-apa sama kamu," jawab Rendra, mengecup punggung tangan Alia. "Kenapa kamu bisa pingsan di kampus? Kamu tidak makan? Atau kamu terlalu banyak kerja?"Alia terdiam. Ia teringat kembali pada festival, Arhan yang memakai kostum kelinci, pelarian mereka ke taman, dan... foto itu. Foto Rendra dan Desy. Namun, sebelum Alia sempat melontarkan pertanyaan tentang foto tersebut, pintu kamar terbuka dan seorang dokter masuk bersama perawat."Ah, Ibu Alia sudah

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 60 : Alia Bangun

    Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman siapa pun yang masuk ke dalam ruang klinik kampus yang sempit itu. Alia terbaring kaku di atas ranjang dengan wajah seputih kapas. Sudah hampir tiga jam berlalu sejak Arhan membawanya masuk, namun kelopak mata dosen itu belum juga bergerak sedikit pun.Arhan duduk di kursi kayu samping ranjang, masih mengenakan bagian bawah kostum kelincinya, sementara bagian atasnya sudah ia lepas, menyisakan kaus hitam yang basah oleh keringat. Ia terus menggenggam tangan Alia yang dingin, matanya tidak lepas dari wajah wanita itu.Tiba-tiba, tirai bilik disingkap. Dika masuk dengan gurat kecemasan yang jelas. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya."Bagaimana keadaannya?" tanya Dika tanpa basa-basi."Belum bangun juga. Petugas klinik bilang tekanan darahnya sangat rendah," jawab Arhan dengan suara serak.Dika menghela napas panjang. "Saya akan menghubungi Rendra, suaminya."Arhan langsung menegang. "Kenapa harus suaminya? Kita bisa memb

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 59 : Kelinci dan Alia

    Kampus pagi itu berubah menjadi lautan warna dan suara. Musik dari panggung utama beradu dengan teriakan ceria para mahasiswa yang menjajakan dagangannya di bawah tenda-tenda festival. Aroma makanan jalanan, tumpukan barang handmade, dan pernak-pernik lucu memenuhi setiap sudut lapangan. Alia berjalan perlahan di antara kerumunan, mencoba sekuat tenaga menenggelamkan rasa sakit hati akibat foto kiriman mertuanya dalam hiruk-pikuk festival.Hampir semua laporan mahasiswa bimbingannya sudah rampung, kecuali satu: milik Arhan. Ia tertawa kecil saat seorang mahasiswi menawarkan gelang manik-manik padanya, meski matanya tetap terlihat sedikit kosong.Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik lengannya dengan cepat. Sebelum sempat berteriak, Alia sudah diseret menjauh dari keramaian, masuk ke dalam sebuah lorong kelas yang sepi dan remang-remang."Siapa—" Alia tertegun.Di depannya berdiri seekor "kelinci" raksasa. Arhan mengenakan kostum cosplay karakter game lengkap dengan bando telinga keli

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 58 : Foto Kehancuran

    Di hotel yang mewah dengan pemandangan pegunungan Puncak yang berkabut, Rendra tengah sibuk merapikan koper-kopernya. Beberapa kantong belanjaan berisi oleh-oleh khas daerah tersebut sudah tertata rapi di sudut ruangan. Pikirannya sempat melayang pada percakapan teleponnya dengan Alia beberapa saat lalu yang terasa sangat janggal, namun ia berusaha menepis prasangka buruk itu dengan fokus pada persiapan kepulangannya besok pagi.Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar hotelnya yang memang tidak terkunci rapat."Rendra?" suara lembut itu berasal dari Desy.Gadis itu melangkah masuk dengan gaun tidur berbahan satin yang tipis, membawa nampan berisi dua gelas minuman berwarna merah. Ia mendekat dengan senyum yang sulit diartikan, duduk di tepi ranjang sementara Rendra masih sibuk dengan kopernya."Kamu tengah malam begini ke sini?" tanya Rendra tanpa menoleh, suaranya terdengar datar."Cuma mau mengantar minuman. Kamu pasti lelah mengurus pekerjaan," balas Desy dengan nad

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status