로그인Melihat hal itu, Arhan yang memang posisinya paling dekat secara spontan langsung berjongkok untuk membantu memunguti kertas-kertas tersebut. "Ceroboh banget sih," gumamnya pelan.Alia pun ikut berjongkok di balik meja untuk mengambil sisa kertas yang terlempar agak jauh ke sudut bawah. "Lagian, tidak sengaja."Di balik meja dosen yang tinggi dan tertutup rapat oleh panel kayu pembatas itu, posisi mereka berdua mendadak menjadi sangat privat. Suara riuh mahasiswa di luar sana terdengar sayup-sayup, tergantikan oleh deru napas mereka yang mendadak terasa dekat.Saat tangan mereka berdua bergerak memungut lembaran yang sama, jemari mereka bersentuhan. Alia mendongak, berniat mengucapkan terima kasih dan meminta Arhan mengembalikan kertas itu."Arhan, terima ka—"Kalimat Alia terputus di udara. Ia tidak menyangka bahwa Arhan akan memanfaatkan celah sempit itu dengan gerakan secepat kilat. Sebelum Alia sempat menarik wajahnya mundur, Arhan sudah
Langkah kaki Arhan terdengar menghentak-hentak di sepanjang koridor menuju gedung Fakultas. Alia yang baru menapakkan kakinya di aspal pelataran parkir hanya bisa menatap punggung tegap itu dengan gelengan kepala. "Astaga, anak itu... sifat kekanak-kanakannya keluar lagi kalau sedang merajuk," gumam Alia pelan.Bukannya merasa terganggu, ada segaris senyum yang tanpa sadar terukir di sudut bibir Alia. Namun, dunia kampus tidak memberikan Alia waktu lama untuk melamun. Jadwal kuliah berikutnya adalah kelas Manajemen Seni—dan sial bagi Arhan, Alia adalah dosen pengampunya siang ini.Ia meletakkan tasnya di meja dosen, mengedarkan pandangan, dan langsung menemukan apa yang dicarinya. Arhan duduk di barisan paling belakang, tepat di pojok ruangan.Cowok itu menopang dagunya dengan sebelah tangan, matanya menatap lurus ke arah papan tulis hitam, namun pandangannya sengaja dibuat kosong. Ia membuang muka setiap kali netra Alia tidak sengaja berputar ke arahnya.
Begitu mereka menyelesaikan makan siang yang penuh ketegangan itu dan berjalan menuju area parkir, Arhan langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Bagas dengan senyum yang dipaksakan."Gas, makasih ya udah nemenin makan. Tapi setelah ini aku sama Bu Alia masih ada urusan penting soal draf jurnal yang belum selesai dibahas. Kamu balik ke kampus sendiri gak apa-apa, kan? Naik ojek online atau angkutan depan aja," ujar Arhan tanpa basa-basi, nadanya terdengar seperti perintah yang tidak bisa diganggu gugat.Alia yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahi. Ia menyenggol lengan Arhan dan menegurnya dengan suara pelan namun tegas. "Arhan, apa-apaan sih? Kita kan berangkat bertiga, ya pulangnya harus bertiga. Jangan keterlaluan."Namun, Arhan tetap bersikeras. Ia menatap Alia dengan pandangan memohon sekaligus keras kepala, mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin diganggu lagi. "Cuma sebentar kok, Kak. Lagian Bagas pasti mau buru-buru ke perpustak
Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang tengah, menerpa wajah Alia yang terbangun dengan leher terasa kaku akibat semalaman tidur di sofa. Setengah jam kemudian, Alia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Saat ia melangkah ke meja makan, ia terkejut melihat Rendra sudah duduk di sana. Pria itu tampak tidak bersemangat; lingkaran hitam di bawah matanya memperjelas bahwa dia tidak tidur nyenyak semalaman. Di atas meja, Bi Inah sudah menyiapkan sarapan berupa nasi goreng, namun tak satu pun dari mereka yang menyentuh sendok.Rendra berdeham pelan, memecah keheningan yang menyiksa. Ia meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap Alia yang sibuk merapikan berkas-berkas di dalam tasnya. Pria itu tampak ragu sejenak, menghela napas panjang, lalu mencoba menurunkan sedikit egonya yang setinggi langit."Alia," panggil Rendra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar jauh lebih tenang dibanding bentakannya semalam.Alia menghentikan gerakannya sejenak, namun tidak mendongak. "Ya?"
Rendra terpaku di posisinya. Tubuhnya masih bersandar pada kepala tempat tidur, tempat di mana Alia baru saja mendorong bahunya beberapa detik lalu. Sentuhan lembut di dadanya masih terasa, dan sensasi hangat dari bibir Alia yang tiba-tiba menciumnya masih membekas dengan jelas. Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Alia setelahnya terasa seperti air es yang disiramkan langsung ke wajahnya."Aku putuskan, sepertinya aku sudah tidak menyukaimu lagi," ucap Alia santai.Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti kamar tidur mereka. Rendra menatap Alia dengan tatapan tidak percaya, rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan di tenggorokan."Alia... kamu bicara apa sih?" Suara Rendra terdengar serak, ada kombinasi rasa syok, bingung, dan amarah yang mulai merayap naik. "Kamu baru saja menciumku, dan sekarang kamu bilang kamu tidak menyukaiku lagi? Kamu sedang mempermainkanku?"Alia tidak berkedip. Wajahnya yang beberapa menit lalu memerah karena mengomel dan melempar bantal, kini berub
Alia melangkah santai menuju dapur, meninggalkan ruang tamu yang mendadak sunyi seperti kuburan. Di belakangnya, Arhan mengekor dengan langkah ringan, wajah cowok itu tampak sangat puas, seolah baru saja menonton pertunjukan panggung kelas dunia di mana Alia adalah bintang utamanya.Begitu sampai di dapur, Alia langsung mengambil posisi di dekat wastafel, berpura-pura sibuk mencuci sayuran dan membantu Bi Inah yang sedang memotong bawang. Tangannya bergerak ritmis, mencoba meredam gemuruh di dadanya setelah nekat menyindir ibu mertuanya secara terang-terangan tadi."Wah, Kak... asli, keren banget," bisik Arhan yang kini bersandar di dekat konter dapur, menatap Alia dengan binar mata penuh kekaguman. "Muka ibunya Rendra tadi langsung berubah jadi abu-abu. Aku hampir kelepasan ketawa.""Arhan, diam. Jangan berisik," tegur Alia setengah berbisik tanpa menoleh, wajahnya tetap lurus menatap daun sawi di tangannya.Bi Inah yang berada di sana hanya bisa tersenyum tertahan, pura-pura tidak m







