Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 19 : Perhatian Kecil

Share

Bab 19 : Perhatian Kecil

Author: Kim Hwang Ra
last update publish date: 2026-03-14 12:45:12

Matahari pagi itu menembus celah jendela dengan kecerahan yang menyakitkan, seolah sengaja mengejek Alia yang baru saja tersadar kalau ia kesiangan. Di sampingnya, sisi tempat tidur Rendra sudah dingin dan rapi. Pria itu tampaknya masih setia menganggap Alia tak lebih dari sekadar pajangan di rumah mereka.

"Apa cerai memang satu-satunya jalan keluar?" gumamnya lirih pada langit-langit kamar.

Alia bergegas. Dua puluh menit lagi jam mengajarnya dimulai. Namun, langkahnya tertahan di ruang makan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 55 : Siapa Arhan?

    Mobil putih Alia membelah kemacetan sore menuju pusat kota, kawasan yang dikenal sebagai jantung hiburan bagi anak muda. Awalnya, Alia bersikeras untuk langsung pulang karena Rendra dijadwalkan kembali dari Puncak malam ini. Namun, saat ia memeriksa ponselnya (yang baru saja ia ambil dari tas), sebuah notifikasi masuk dari suaminya.“Alia, maaf. Mobil kantor yang kami pakai mengalami masalah mesin di perjalanan turun. Sepertinya kami harus menginap satu malam lagi di sini sampai perbaikan selesai. Jaga diri di rumah ya.”Alia menghela napas, ada rasa lega sekaligus getir yang beradu. Ia menoleh ke arah Arhan yang duduk di sampingnya. Arhan yang menyadari perubahan raut wajah Alia langsung menangkap peluang."Suami Kakak tidak jadi pulang?" tanya Arhan dengan nada yang berusaha terdengar prihatin meski matanya berbinar.Alia hanya mengangguk pelan. "Ya.""Kalau begitu, tidak ada alasan untuk buru-buru pulang, kan?" Arhan tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Ayo, Kak

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 54 : Saingan Lagi?

    Langkah kaki Alia terasa begitu berat saat ia menyusuri lorong kampus. Ia terlambat hampir dua puluh menit karena harus pulang terlebih dahulu untuk mandi dan mengganti pakaiannya yang kusut, serta mengambil tumpukan laporan yang tertinggal. Akibatnya, ia sempat dipanggil ke ruang Rektor—sebuah teguran yang jarang sekali ia terima selama masa mengajar. Namun, Alia hanya bisa menunduk dan berulang kali meminta maaf tanpa bisa menjelaskan alasan sebenarnya di balik keterlambatannya.Siang itu, rasa pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Perutnya terasa mual, dan ia sama sekali tidak memiliki selera makan. Arhan memang tidak datang ke kampus hari ini, mungkin masih mematuhi perintahnya untuk beristirahat di kosan, karena merasa tubuhnya tidak sanggup lagi berdiri tegak, Alia memutuskan untuk pergi ke klinik kampus dan memohon izin untuk berbaring sebentar di salah satu bilik setelah meminum obat pereda nyeri.Keheningan klinik itu hanya bertahan beberapa saat sampai suara tirai yang d

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 53 : Dua Hati

    Arhan justru mempererat pelukannya selama beberapa detik, menghirup aroma parfum yang masih tersisa di tengkuk Alia sebelum akhirnya melepaskannya dengan tawa kecil yang serak."Marah-marah mulu, pagi-pagi gini wajah Kakak cantik banget kalau lagi berantakan," goda Arhan tanpa dosa.Alia berbalik, menatap Arhan dengan tatapan tajam yang ia gunakan saat menghadapi mahasiswa nakal di kelas. "Saya sudah bilang berulang kali, Arhan. Jaga batas kamu. Saya di sini hanya karena kamu sakit dan Rio memohon pada saya. Jangan membuat saya menyesal telah tinggal di sini semalaman."Arhan mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah sembari berjalan mundur menuju meja makan kecilnya. "Oke, oke. Maaf. Aku cuma senang melihat ada kehidupan di dapur ini. Biasanya cuma ada bau debu dan mi instan."Alia tidak menyahut. Ia kembali fokus pada wajannya, mencoba menenangkan debar jantungnya yang belum juga melambat. Setelah semuanya siap, ia meletakkan dua piring nasi dengan telur dadar dan tumis bayam se

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 52 : Menginap di Kosan

    Alia tidak menyadari kapan matanya mulai memberat. Kelelahan emosional setelah menghadapi Rendra semalam, ditambah dengan energinya yang terkuras untuk merawat Arhan, membuatnya terlelap dalam posisi yang tidak nyaman. Ia tertidur sembari duduk di tepi ranjang, dengan kepala bersandar pada tumpukan bantal di kepala tempat tidur. Di sampingnya, Arhan tampak tidur dengan pulas, napasnya mulai teratur, dan tangannya masih melingkar posesif di pinggang Alia, seolah takut wanita itu akan menghilang begitu ia memejamkan mata.Sekitar pukul sebelas malam, Alia tersentak bangun. Kamar itu kini hampir gelap total, hanya menyisakan sedikit cahaya dari lampu jalan yang menembus celah gorden. Ia meringis pelan merasakan lehernya yang kaku. Diliriknya Arhan; suhu tubuh pemuda itu sudah tidak seganas tadi, meski masih terasa hangat.Dengan sangat hati-hati, Alia memindahkan tangan Arhan dari pinggangnya. Ia menahan napas saat Arhan melenguh pelan, namun untungnya pemuda itu tidak terbangun. Setelah

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 51 : Aku Mencintaimu, Alia!

    Suasana di dalam kamar kos itu terasa begitu menyesak. Alia masih berdiri di samping tempat tidur, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Rio masuk dengan napas terengah-engah, menjinjing kantong plastik berisi bubur ayam dan beberapa botol air mineral."Ini, Bu! Buburnya masih panas. Tadi antreannya panjang banget," ujar Rio sembari meletakkan makanan itu di atas meja kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan botol parfum yang berantakan.Alia mengalihkan pandangannya dari Arhan, mencoba menenangkan debar jantungnya yang sempat tidak karuan. Ia melihat sekeliling kamar yang tampak tidak terurus. Debu tipis menempel di beberapa sudut, dan ada bau pengap yang menandakan ruangan ini jarang mendapat sirkulasi udara."Arhan, kenapa kosanmu berantakan banget? Kamu ngga pernah bersihin, ya?" tanya Alia sembari memunguti beberapa helai pakaian yang tergeletak di lantai.Rio melirik Arhan sekilas. Arhan sebenarnya sudah hampir seminggu ini meninggalkan kosan dan kembali ke rumah ayahnya. Namun, ia se

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 50 : Arhan Sakit

    Fajar baru saja menyingsing, Alia sudah sibuk menata kotak-kotak makanan. Meski tubuhnya terasa berat karena kelelahan emosional semalam, rutinitas sebagai istri tetap ia jalankan dengan presisi yang kaku.Rendra turun dengan kemeja yang sudah rapi, namun dasinya masih tersampir longgar. Ia menghampiri Alia yang sedang menuangkan kopi."Pagi," sapa Rendra, suaranya parau khas orang baru bangun tidur.Alia menoleh sekilas, memberikan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Pagi. Semua barang sudah masuk ke mobil. Barang Ibu dan Desy juga sudah diurus Bi Inah."Rendra mendekat, mencoba meraih pinggang Alia, namun wanita itu bergeser sedikit untuk mengambil roti panggang. Rendra menghela napas, menyadari dinding es itu belum sepenuhnya mencair."Alia, kamu yakin ngga mau ikut? Udara Puncak mungkin bagus untukmu," ujar Rendra mencoba mencairkan suasana."Jadwalku penuh hari ini, Ren. Banyak mahasiswa yang harus bimbingan karena minggu depan sudah masuk tenggat laporan," jawab Alia tenang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status