Mag-log inIbu Rendra duduk bersila di sofa beludru, tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah mendingin, sementara matanya menatap tajam ke arah Desy yang duduk di hadapannya.Baru saja, sebuah informasi masuk melalui telepon dari tukang kebun di rumah Rendra—seorang pria tua yang memang sudah lama menjadi "mata-mata" Ibu Rendra dengan imbalan uang tutup mulut yang rutin. Kabar itu menyebutkan bahwa dr. Anwar, dokter spesialis kepercayaan keluarga mereka, telah datang ke rumah Rendra untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Alia dan juga Rendra."Jadi benar, Rendra membawa dr. Anwar ke rumah?" Desy bertanya dengan nada suara yang bergetar. Wajah cantiknya kini tampak tegang, tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia pamerkan. "Tante, kalau hasilnya benar-benar positif, posisi kita akan sangat sulit. Rendra pasti akan semakin lengket dengan wanita itu."Ibu Rendra meletakkan cangkirnya ke meja dengan bunyi denting yang tajam. "Jangan panik dulu, Desy. Kita tidak bisa membiarkan hasil t
Di meja makan, Rendra sengaja mengambil posisi di samping Alia, sementara Arhan, Rio, dan Bagas duduk berhadapan dengan mereka. Suasana makan malam itu jauh dari kata santai. Rendra benar-benar menjalankan perannya sebagai suami yang sangat perhatian, atau mungkin lebih tepatnya, suami yang sedang menandai wilayahnya."Alia, jangan ambil sendiri. Biar aku yang kupaskan udangnya," ujar Rendra saat tangan Alia hendak meraih piring lauk.Rendra dengan telaten mengupas kulit udang, memotong dagingnya, lalu meletakkannya di piring Alia. Tidak berhenti di situ, saat Alia hendak menyuap nasi, Rendra menahan tangan istrinya."Sini, aku suapi saja. Kamu masih lemas, kan? Jangan banyak gerak dulu," ucap Rendra dengan nada yang sangat manis namun terdengar seperti perintah bagi siapa pun yang mendengarnya.Alia merasa pipinya memanas karena malu. "Ren, malu dilihatin...""Kenapa harus malu? Mereka harus tahu kalau di rumah ini, kamu itu ratu yang harus dilayani," balas Rendra sambil menyodorkan
Sudah hampir senja, rumah terasa begitu sunyi. Rendra belum pulang dari kantor, dan Bi Inah sibuk di dapur belakang. Sesuai perintah Rendra, Alia hanya duduk bersandar di sofa ruang tengah, mencoba membaca buku namun pikirannya terus melayang pada hasil tes yang baru keluar besok lusa.Keheningan itu pecah ketika bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, Bi Inah muncul di ruang tengah dengan raut wajah bingung."Non, ada tamu di depan. Katanya mau menjenguk. Ada tiga orang, Non," lapor Bi Inah.Alia mengernyitkan dahi. "Siapa, Bi?""Den Arhan sama temennya,”Alia sempat ragu. Ia teringat peringatan Rendra untuk istirahat total, namun ia juga tidak enak jika harus mengusir mereka yang sudah jauh-jauh datang. "Ya sudah, Bi. Suruh masuk aja."Pintu depan terbuka, dan suara gaduh langkah kaki mulai terdengar. Arhan melangkah paling depan dengan penuh percaya diri, membawa dua kantong besar berisi buah-buahan impor. Di belakangnya, Rio membawa kotak martabak dan beberapa minuman, sementara Ba
Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih hangat. Alia bersandar di atas tumpukan bantal di ranjangnya, sementara Rendra sibuk mondar-mandir membawakan nampan berisi sup hangat, buah potong, dan segelas susu.Rendra duduk di tepi ranjang, tangannya tak henti-henti mengusap lembut perut Alia dengan binar mata yang penuh harap."Makan yang banyak ya, Sayang. Biar kamu dan... si kecil di dalam sana kuat," ujar Rendra dengan nada yang sangat lembut.Alia menepis tangan Rendra perlahan, "Ren, jangan berlebihan. Dokter belum memberikan hasil tes darahnya. Jangan terlalu berharap sebelum hasilnya benar-benar positif. Aku tidak mau kamu kecewa.""Aku tidak akan kecewa, Alia. Aku hanya merasa yakin saja," balas Rendra cepat, ia mencoba menyuapi Alia sesendok sup.Alia menerima suapan itu dengan terpaksa. Setelah menelannya, ia menatap suaminya lurus-lurus. Tatapan yang membuat Rendra mendadak merasa kikuk."Ren, ada yang ingin kamu sampaikan padaku tentang kejadian di Puncak, ngga?" tanya Ali
Di sebuah sudut taman yang agak tersembunyi, Arhan duduk lemas dengan punggung bersandar pada bangku kayu yang catnya sudah mulai mengelupas. Di sampingnya, Rio hanya bisa menghela napas panjang, berkali-kali melirik sahabatnya yang tampak seperti kehilangan jiwa.Kostum kelinci yang tadi menjadi kebanggaan stand kelas mereka kini teronggok mengenaskan di dekat tempat sampah besar. Telinganya patah, bulu-bulu sintetisnya kotor terkena tanah, dan bagian perutnya robek besar. Beberapa menit lalu, ketua panitia festival mendatangi Arhan dengan wajah merah padam, menuntut denda jutaan rupiah karena kerusakan properti sewaan tersebut.Arhan hanya mengeluarkan dompet, memberikan kartu kreditnya tanpa melihat wajah sang ketua panitia, dan berkata, "Ambil berapa pun yang kau butuhkan, asal jangan berisik di dekatku."Uang adalah hal terkecil bagi Arhan. Namun, kondisi Alia adalah segalanya."Arhan, minum dulu," ujar Rio sembari menyodorkan botol air mineral dingin.Arhan menerimanya dengan ge
Kelopak mata Alia terasa sangat berat saat ia perlahan membukanya. Hal pertama yang ia tangkap adalah bayangan Rendra yang duduk di kursi samping ranjang, menatapnya dengan raut wajah yang sangat cemas."Sayang? Kamu sudah bangun?" Rendra langsung berdiri, menggenggam tangan Alia dengan erat. "Apa yang sakit? Kepala? Perut? Mau minum?"Alia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan memorinya. "Rendra... Kok kamu sudah di sini? Bukannya tadi pagi kamu masih di Puncak?""Aku langsung tancap gas begitu Dika menelepon, aku takut terjadi apa-apa sama kamu," jawab Rendra, mengecup punggung tangan Alia. "Kenapa kamu bisa pingsan di kampus? Kamu tidak makan? Atau kamu terlalu banyak kerja?"Alia terdiam. Ia teringat kembali pada festival, Arhan yang memakai kostum kelinci, pelarian mereka ke taman, dan... foto itu. Foto Rendra dan Desy. Namun, sebelum Alia sempat melontarkan pertanyaan tentang foto tersebut, pintu kamar terbuka dan seorang dokter masuk bersama perawat."Ah, Ibu Alia sudah







