Se connecterOm, nikah yuk?” Hanya demi dua mangkuk bakso, Alena nekat menyatakan cinta pada seorang pria tampan yang baru ia lihat pertama kali di depan minimarket. Sayangnya, Leon Mahardika, CEO muda pewaris perusahaan besar, hanya menganggap Alena bocah ingusan yang lucu dan menggemaskan. “Om nggak mau nikah sama anak kecil. Bukannya bikin nyaman, yang ada bikin pusing.” Tidak terima diremehkan, Alena bersumpah suatu hari nanti Leon pasti akan menyesal. Dan lima tahun kemudian… mereka dipertemukan kembali. Kini Leon pernikahannya hancur dan status duda melekat padanya. Tapi tetap saja tidak mengurangi perempuan yang suka padanya. Sementara Alena telah berubah menjadi wanita cantik dengan lesung pipi manis, tubuh proporsional, dan sifat jahil yang mampu mengguncang pertahanan Leon sedikit demi sedikit. Alena masih menyukai Leon. Bedanya, kali ini ia tidak lagi mengejar terang-terangan. Ia memilih menggoda Leon perlahan… sampai pria itu mulai kehilangan kendali. Masalahnya, Leon sadar satu hal berbahaya: gadis kecil yang dulu pernah ia tertawakan kini justru menjadi satu-satunya wanita yang sulit ia lupakan. Akankah Leon jatuh ke pelukan Alena… atau justru pria dingin itu yang akhirnya kehilangan kendali dan mengejar wanita yang dulu ia anggap anak kecil?
Voir plus“Berani nggak?”
Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria tinggi keluar dari kursi belakang dengan jas abu gelap yang terlihat mahal bahkan untuk ukuran anak SMA seperti mereka. Wajahnya tampan, terlalu tampan malah, dengan kulit putih bersih, rahang tegas, dan aura dingin yang membuat orang otomatis segan. “Ya ampun, ganteng banget…” bisik Rani sambil menepuk-nepuk lengan Alena. “Itu pasti orang kaya,” sambung yang lain. Alena ikut melongok penasaran, dan matanya langsung membulat kagum. “Ih…” “Nah!” Rani langsung menyeringai jail. “Kalau kamu berani ngajak nikah om itu, kita traktir bakso!” “Bakso urat jumbo,” timpal temannya cepat. Alena langsung duduk tegak. “Dua mangkuk?” “Boleh!” “Pakai es teh?” “Iya!” Tanpa berpikir panjang lagi, Alena langsung berdiri, sementara teman-temannya mendadak panik. “Eh? Lena? Jangan serius!” Namun gadis itu sudah lebih dulu menyeberang jalan kecil di depan minimarket sambil menggenggam tali tas sekolahnya erat-erat. Jantungnya memang berdebar, tapi bayangan bakso urat jumbo jauh lebih kuat daripada rasa malu yang seharusnya ia rasakan. Sementara itu, Leon baru saja menutup pintu mobilnya ketika seseorang menarik ujung jasnya pelan. Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berseragam SMP berdiri di depannya. Rambutnya diikat buntut kuda, wajahnya bulat dengan mata besar berbinar, dan saat tersenyum gugup, lesung pipi kecil di kedua pipinya langsung terlihat manis. Leon mengernyit heran. “Ya?” Alena menelan ludah sebentar, lalu mengangkat dagunya seolah mengumpulkan keberanian terakhir. “Om… nikah yuk.” Suasana langsung sunyi. Sopir Leon yang berdiri tak jauh sampai salah menutup pintu mobil, sementara Leon sendiri hanya menatap gadis kecil di depannya tanpa berkedip selama beberapa detik. “…Apa?” Alena tetap berdiri tegak meski pipinya mulai merah. “Aku mau nikah sama om.” Dari seberang jalan, teman-temannya sudah hampir guling-guling menahan tawa. “Gila, dia beneran bilang!” “Alena nekat banget!” Leon menghela napas pelan sambil memijat pelipis. “Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?” “Enggak ada.” Alena menggeleng cepat. “Aku sendiri.” “Kamu masih sekolah?” “Iya.” “SMP?” Wajah Alena langsung cemberut hingga lesung pipinya makin terlihat. “SMA!” “Oh, beda tipis.” “Beda banyak!” Leon hampir tertawa melihat ekspresi kesalnya. Ada sesuatu dari gadis kecil ini yang terlalu polos untuk dianggap mengganggu, justru terlalu jujur untuk diabaikan begitu saja. “Namanya siapa?” “Alena.” “Umur?” “Tujuh belas.” Leon langsung menggeleng kecil. “Masih kecil.” “Aku udah gede tahu!” bantah Alena cepat. “Aku udah haid!” Sopir Leon langsung batuk keras menahan tawa, sementara dari kejauhan teman-teman Alena menjerit malu. “ALENA! IH!” Namun Alena tetap berdiri percaya diri, seolah kalimat itu adalah bukti kedewasaan paling sah di dunia. Leon sampai harus menahan senyum karena terlalu absurd untuk dianggap serius. Lucu. Anak ini benar-benar lucu. “Jadi om mau nikah sama aku nggak?” tanya Alena lagi penuh harap. Lesung pipinya muncul lagi saat ia tersenyum manis. Leon menatap wajah polos itu beberapa saat, lalu tanpa sadar mengacak rambutnya pelan. “Enggak.” Senyum Alena langsung turun. “Kenapa?” “Karena om nggak tertarik sama anak sekolah.” “Memang kenapa kalau masih sekolah?!” “Kamu bahkan masih pakai tas gambar kelinci.” Alena refleks memeluk tasnya. “Ini lucu…” “Justru itu.” Leon tersenyum tipis. “Bukannya bikin nyaman, yang ada bikin pusing.” Alena langsung manyun panjang. “Belum tentu juga nikah sama yang dewasa bikin bahagia!” Leon mengangkat alis. “Oh ya?” “Iya!” Alena menunjuk dirinya sendiri bangga. “Kalau sama Lena kan lucu dan imut. Bisa jadi om bahagia.” Deg. Untuk sesaat Leon terdiam. Bukan karena kalimatnya masuk akal, tapi karena gadis kecil ini mengatakannya dengan keyakinan yang terlalu jujur, terlalu polos, seolah benar-benar percaya dirinya bisa membuat seseorang bahagia. Namun sedetik kemudian ia kembali tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja.” “Aku serius.” “Sayangnya om nggak serius.” “Huh! Nanti juga om nyesel!” Leon tersenyum tipis sambil melangkah melewati Alena. “Kalau nanti kamu sudah lulus dan masih selucu ini, om baru pikirkan lagi.” Mata Alena langsung berbinar lagi, lesung pipinya muncul seperti sebelumnya. “Janji?” Leon hanya melambaikan tangan tanpa menjawab. Namun sebelum masuk ke minimarket, pria itu sempat menoleh sekali lagi. Alena masih berdiri di tempatnya, tersenyum lebar dengan lesung pipi manis yang entah kenapa, untuk sesaat, terasa seperti sesuatu yang akan sulit dilupakan. Lucu. Leon menggeleng pelan lalu masuk ke dalam tanpa tahu bahwa pertemuan kecil hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pertemuan biasa. Bersambung......Beberapa saat kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Begitu Leon keluar setelah hampir satu jam berada di dalam, seseorang langsung menghampirinya.Ibunya.Mira sudah tidak sabar."Sudah selesai?""Iya, Bu.""Bagus."Leon mengangguk pelan. Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya kenapa ibunya masih ada di sana. Kalau dipikir-pikir, jawabannya pasti sama.Menemaninya.Atau lebih tepatnya...Mengawasinya.Mira langsung berjalan di samping putranya."Aku tadi jalan-jalan.""Hm.""Terus aku ke bawah.""Hm.""Terus aku ketemu Alena."Langkah Leon langsung melambat."Hah?"Mira sama sekali tidak menyadarinya."Aku sudah bilang, jangan ganggu Alena saat kerja.""Ibu tidak ganggu.""Lalu?""Justru Ibu bikin dia santai sejenak.""Hah?""Ibu ajak ngobrol-ngobrol.""Namanya perempuan pasti suka ngobrol.""Ibu...""Anaknya lucu ya."Leon mulai tidak tenang."Bu...""Polos.""Bu.""Dan imut.""Bu.""Malah Ibu sudah tidak heran."Leon menelan ludah."Tidak heran apa?""Kenapa kamu menganggap dia sepert
Keesokan paginya, Alena berangkat kerja dengan wajah lesu. Bahkan sejak turun dari kendaraan sampai masuk ke ruang marketing, senyum yang biasanya selalu menghiasi wajahnya sama sekali tidak terlihat.Tentu saja perubahan itu langsung ditangkap oleh seseorang.Sisca.Wanita itu langsung menggeser kursinya mendekat."Lena.""Hm?""Ayo senyum.""Hmm.""Aku kangen lesung pipimu."Alena tetap diam."Jangan pelit-pelit.""Hmm."Sisca mulai gelisah. Biasanya Alena memang gampang tersipu, gampang malu, tetapi selalu ceria dan tidak pernah semurung ini. Akhirnya Alena mengangkat sudut bibirnya sedikit.Namun... senyum itu begitu kaku.Sisca langsung memegang dada."Jangan begitu dong."Alena mengernyit."Kenapa?""Lebih baik kamu marah.""Hah?""Senyum kayak gitu bikin aku takut."Alena langsung menghela napas. Daripada berdebat dengan Sisca, lebih baik diam.Namun ternyata... diam juga tidak membuat sahabatnya berhenti bicara."Lena.""Hm?""Di dunia ini cowok banyak."Alena meliriknya."Buk
Keesokan paginya...Leon benar-benar mulai merasakan hidupnya berubah. Kalau biasanya ia bebas pergi ke mana pun, sekarang berbeda.Ke mana pun ia pergi, selalu ada satu orang yang mengikutinya.Ibunya.Pagi itu Leon baru saja mengambil kunci mobil."Sudah mau berangkat?""Iya.""Ibu ikut."Leon hanya bisa mengangguk pasrah.Begitu tiba di perusahaan...Mira langsung ikut turun dari mobil, menyapa para karyawan dengan ramah, bahkan sesekali berhenti mengobrol dengan mereka.Melihat tingkah ibunya, Leon sampai merasa wanita itu sudah naik jabatan menjadi sekretaris pribadi keduanya.Leon mulai punya firasat buruk."Bu.""Hm?""Ibu mau ke mana?""Ikut kamu."Leon menghela napas."Tapi Ibu tidak ada urusan di kantor.""Siapa bilang?""Lalu urusannya apa?""Menemani anak."Leon benar-benar kehabisan kata-kata.Sepanjang hari...Leon bahkan tidak pernah benar-benar sendirian. Saat menuju ruang rapat... Mira ikut sampai depan pintu."Mau meeting, Bu.""Iya.""Ibu tunggu."Saat Leon keluar
Sore itu...Jam kerja akhirnya usai. Sebagian besar karyawan mulai berkemas untuk pulang. Namun tidak dengan Leon. Pria itu justru menghela napas panjang begitu keluar dari ruangannya.Seharian ini... ia sama sekali tidak memiliki kesempatan mendekati Alena. Padahal sejak pagi sudah ada rencana di kepalanya.Sepulang kerja... ia ingin mengajak Alena makan malam. Bukan untuk berkencan. Setidaknya menurut pengakuannya sendiri.Ia hanya ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terus menumpuk.Tentang Cynthia.Tentang ibunya.Dan tentang boneka singa yang ternyata malah membuat keadaan semakin rumit.Namun semua rencana itu langsung buyar. Karena begitu keluar dari lift... seseorang sudah berdiri sambil tersenyum manis.Ibunya."Sudah selesai?"Leon langsung memejamkan mata."Sudah, Bu.""Bagus."Mira langsung merangkul lengan putranya."Yuk pulang."Leon hanya bisa mengangguk pasrah. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Mira terus mengobrol.Mulai dari menu makan malam.Sampai membah
Sore itu...Di rumah keluarga Mahardika. Cynthia baru saja selesai menceritakan pertemuannya dengan Leon. Ruang keluarga mendadak sunyi. Mira yang sejak tadi mendengarkan perlahan meletakkan cangkir tehnya."Aku sudah mencoba, Bu.""Mencoba apa?""Menemui Leon.""Lalu?"Cynthia tersenyum pahit."D
Setelah makan siang selesai, mereka bertiga kembali ke kantor. Namun suasana hati Alena tidak banyak berubah. Pesan dari Leon memang sempat membuatnya sedikit lebih tenang, setidaknya pria itu masih ingat untuk memberi kabar.Tetapi di saat yang sama, pesan itu juga meninggalkan rasa kosong yang su
Tepat saat suasana ruang marketing kembali tenang, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Awalnya tidak ada yang terlalu memperhatikan. Sampai Sisca yang duduk paling dekat dengan lorong tiba-tiba menegakkan badan. "Eh?" Alena refleks mengangkat kepala. "Apa lagi?" Namun kali ini Sisca tid
Sisca kembali ke ruang marketing sambil membawa segelas air hangat. Begitu melihat Alena yang masih duduk diam di depan komputernya, langkahnya melambat.Ekspresinya berubah. Tidak lagi seperti detektif yang baru menemukan petunjuk penting. Justru seperti seseorang yang baru mendengar kabar buruk.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus