LOGINLamaran Alena hanya dianggap lelucon oleh Leon karena ia menganggap gadis itu hanyalah anak kecil yang belum mengerti cinta. Lima tahun kemudian, mereka kembali bertemu di perusahaan milik Leon. Alena yang kini tumbuh menjadi wanita cantik memilih tidak mengungkapkan bahwa dialah gadis yang pernah melamarnya, tetapi sikapnya yang sering salah tingkah justru mulai menarik perhatian Leon.
View More“Berani nggak?”
Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria tinggi keluar dari kursi belakang dengan jas abu gelap yang terlihat mahal bahkan untuk ukuran anak SMA seperti mereka. Wajahnya tampan, terlalu tampan malah, dengan kulit putih bersih, rahang tegas, dan aura dingin yang membuat orang otomatis segan. “Ya ampun, ganteng banget…” bisik Rani sambil menepuk-nepuk lengan Alena. “Itu pasti orang kaya,” sambung yang lain. Alena ikut melongok penasaran, dan matanya langsung membulat kagum. “Ih…” “Nah!” Rani langsung menyeringai jail. “Kalau kamu berani ngajak nikah om itu, kita traktir bakso!” “Bakso urat jumbo,” timpal temannya cepat. Alena langsung duduk tegak. “Dua mangkuk?” “Boleh!” “Pakai es teh?” “Iya!” Tanpa berpikir panjang lagi, Alena langsung berdiri, sementara teman-temannya mendadak panik. “Eh? Lena? Jangan serius!” Namun gadis itu sudah lebih dulu menyeberang jalan kecil di depan minimarket sambil menggenggam tali tas sekolahnya erat-erat. Jantungnya memang berdebar, tapi bayangan bakso urat jumbo jauh lebih kuat daripada rasa malu yang seharusnya ia rasakan. Sementara itu, Leon baru saja menutup pintu mobilnya ketika seseorang menarik ujung jasnya pelan. Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berseragam SMP berdiri di depannya. Rambutnya diikat buntut kuda, wajahnya bulat dengan mata besar berbinar, dan saat tersenyum gugup, lesung pipi kecil di kedua pipinya langsung terlihat manis. Leon mengernyit heran. “Ya?” Alena menelan ludah sebentar, lalu mengangkat dagunya seolah mengumpulkan keberanian terakhir. “Om… nikah yuk.” Suasana langsung sunyi. Sopir Leon yang berdiri tak jauh sampai salah menutup pintu mobil, sementara Leon sendiri hanya menatap gadis kecil di depannya tanpa berkedip selama beberapa detik. “…Apa?” Alena tetap berdiri tegak meski pipinya mulai merah. “Aku mau nikah sama om.” Dari seberang jalan, teman-temannya sudah hampir guling-guling menahan tawa. “Gila, dia beneran bilang!” “Alena nekat banget!” Leon menghela napas pelan sambil memijat pelipis. “Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?” “Enggak ada.” Alena menggeleng cepat. “Aku sendiri.” “Kamu masih sekolah?” “Iya.” “SMP?” Wajah Alena langsung cemberut hingga lesung pipinya makin terlihat. “SMA!” “Oh, beda tipis.” “Beda banyak!” Leon hampir tertawa melihat ekspresi kesalnya. Ada sesuatu dari gadis kecil ini yang terlalu polos untuk dianggap mengganggu, justru terlalu jujur untuk diabaikan begitu saja. “Namanya siapa?” “Alena.” “Umur?” “Tujuh belas.” Leon langsung menggeleng kecil. “Masih kecil.” “Aku udah gede tahu!” bantah Alena cepat. “Aku udah haid!” Sopir Leon langsung batuk keras menahan tawa, sementara dari kejauhan teman-teman Alena menjerit malu. “ALENA! IH!” Namun Alena tetap berdiri percaya diri, seolah kalimat itu adalah bukti kedewasaan paling sah di dunia. Leon sampai harus menahan senyum karena terlalu absurd untuk dianggap serius. Lucu. Anak ini benar-benar lucu. “Jadi om mau nikah sama aku nggak?” tanya Alena lagi penuh harap. Lesung pipinya muncul lagi saat ia tersenyum manis. Leon menatap wajah polos itu beberapa saat, lalu tanpa sadar mengacak rambutnya pelan. “Enggak.” Senyum Alena langsung turun. “Kenapa?” “Karena om nggak tertarik sama anak sekolah.” “Memang kenapa kalau masih sekolah?!” “Kamu bahkan masih pakai tas gambar kelinci.” Alena refleks memeluk tasnya. “Ini lucu…” “Justru itu.” Leon tersenyum tipis. “Bukannya bikin nyaman, yang ada bikin pusing.” Alena langsung manyun panjang. “Belum tentu juga nikah sama yang dewasa bikin bahagia!” Leon mengangkat alis. “Oh ya?” “Iya!” Alena menunjuk dirinya sendiri bangga. “Kalau sama Lena kan lucu dan imut. Bisa jadi om bahagia.” Deg. Untuk sesaat Leon terdiam. Bukan karena kalimatnya masuk akal, tapi karena gadis kecil ini mengatakannya dengan keyakinan yang terlalu jujur, terlalu polos, seolah benar-benar percaya dirinya bisa membuat seseorang bahagia. Namun sedetik kemudian ia kembali tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja.” “Aku serius.” “Sayangnya om nggak serius.” “Huh! Nanti juga om nyesel!” Leon tersenyum tipis sambil melangkah melewati Alena. “Kalau nanti kamu sudah lulus dan masih selucu ini, om baru pikirkan lagi.” Mata Alena langsung berbinar lagi, lesung pipinya muncul seperti sebelumnya. “Janji?” Leon hanya melambaikan tangan tanpa menjawab. Namun sebelum masuk ke minimarket, pria itu sempat menoleh sekali lagi. Alena masih berdiri di tempatnya, tersenyum lebar dengan lesung pipi manis yang entah kenapa, untuk sesaat, terasa seperti sesuatu yang akan sulit dilupakan. Lucu. Leon menggeleng pelan lalu masuk ke dalam tanpa tahu bahwa pertemuan kecil hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pertemuan biasa. Bersambung......Sejak pemeriksaan terakhir, ada satu perubahan kecil dalam diri Leon. Ia menjadi jauh lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.Pagi itu, Alena baru saja selesai sarapan ketika melihat Leon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Alena mendekat."Sayang, kamu sedang apa?"Leon langsung mematikan layar."Enggak ada."Alena menyipitkan mata."Kenapa disembunyikan?"Leon tersenyum."Bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.""Memangnya apa?""Rahasia."Alena semakin penasaran. Ia duduk di samping Leon lalu mencoba mengambil ponselnya. Leon mengangkat tangan."Jangan.""Kenapa?""Aku sedang belajar.""Belajar apa?"Leon akhirnya menyerah. Ia menunjukkan layar ponselnya. Alena membaca judul yang tertera. Panduan Menjadi Ayah untuk Pertama Kalinya. Alena langsung tertawa."Serius?"Leon mengangguk."Serius.""Kamu baca beginian?""Iya."Alena mengambil ponselnya dan membaca beberapa bagian. Kemudian ia tertawa lagi."Ini ada bagian cara mengganti
Beberapa minggu telah berlalu sejak kecelakaan Leon. Luka kecil di dahinya sudah hampir tidak terlihat. Memarnya juga sudah menghilang. Namun sejak kejadian itu, Leon benar-benar berusaha menepati janjinya kepada Alena.Ia mengurangi pekerjaan yang tidak perlu. Jika bisa dikerjakan dari rumah, ia memilih bekerja dari rumah. Jika ada rapat yang bisa diwakilkan, ia menyerahkannya kepada orang kepercayaannya. Dan yang paling penting, ia tidak lagi membiarkan Alena merasa sendirian.Pagi itu, Leon bahkan sudah menunggu di ruang makan ketika Alena turun dari kamar."Sudah siap?"Alena mengerutkan kening."Siap apa?"Leon menunjuk tas kecil di atas meja."Hari ini kontrol."Alena baru teringat."Oh iya."Leon tersenyum."Lupa?""Sedikit.""Untung suamimu tidak."Alena tertawa kecil."Memang kamu ingat semua?""Jadwal kontrol istri harus lebih penting daripada jadwal rapat."Alena tersenyum.Ia duduk di kursi."Kalau semua suami seperti kamu, mungkin dokter kandungan penuh."Leon tertawa."M
Dua hari setelah kecelakaan itu, kondisi Leon sudah jauh lebih baik. Luka kecil di dahinya masih tertutup perban, begitu juga memar di lengannya. Namun secara keseluruhan ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.Tentu saja, Alena tetap mengawasinya. Terlalu mengawasi, bahkan."Jangan angkat itu."Leon yang baru saja hendak mengambil tas kerjanya langsung berhenti."Ini ringan.""Katanya dokter harus istirahat.""Aku cuma mau membawanya.""Enggak boleh."Leon menatap istrinya beberapa detik."Sayang.""Apa?""Aku CEO, bukan pasien rumah sakit lagi."Alena melipat tangan di dada."Justru karena kamu CEO, kamu harusnya bisa mengikuti aturan."Leon tertawa kecil."Baiklah."Ia meletakkan kembali tas itu. Ibu Alena yang melihat dari ruang makan langsung tertawa."Sudah, Leon. Jangan melawan. Kalau Alena sudah begitu, Ibu juga enggak berani."Leon menoleh."Ibu malah membiarkan saya dikerjai.""Siapa suruh bikin anak Ibu menangis?"Leon langsung diam. Alena menatap ibunya."Bu..."Ibu Alen
Leon masih berada di ruang observasi ketika Alena duduk di samping tempat tidurnya. Sejak tadi tangannya tidak pernah lepas dari tangan suaminya. Sesekali Alena melirik perban kecil di dahi Leon. Semakin dilihat, semakin hatinya terasa sakit."Jangan dilihat terus."Suara Leon membuat Alena menoleh."Aku cuma...""Takut?"Alena mengangguk."Iya."Leon tersenyum tipis."Aku tidak apa-apa.""Tapi kamu kecelakaan.""Namanya juga kecelakaan."Alena menunduk."Karena aku."Leon langsung menggeleng."Jangan menyalahkan dirimu.""Tapi kamu terburu-buru pulang.""Aku memang ingin cepat pulang.""Kenapa?"Leon menatapnya."Karena aku ingin bicara denganmu."Alena terdiam."Aku tidak mau kamu terus merasa sendirian."Air mata Alena kembali menggenang."Maaf."Leon mengusap punggung tangannya."Sudah.""Aku sungguh-sungguh menyesal.""Aku tahu.""Aku tidak benar-benar ingin cerai."Leon tersenyum kecil."Aku juga tahu."Alena mengangkat wajah."Bagaimana kamu tahu?""Karena kalau benar-benar ing
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore