LOGINMatahari pagi menerobos celah-celah daun karet, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja kayu teras rumah panggung. Di atas meja itu, dua buah dokumen penting dengan cap resmi negara tergeletak rapi: sebuah petikan putusan perceraian dari Pengadilan Agama dan lembar Surat Keterangan Pindah Warga Negara (SKPWNI) yang telah dilegalisasi.Alia menatap dua lembar kertas itu dengan jemarinya yang bergetar pelan. Usia putranya, Elfan, kini sudah genap satu tahun. Anak laki-laki bermata bulat itu sedang asyik merangkak di atas tikar pandan, tertawa riang mengejar bola kain merah yang dilemparkan oleh Pak Danu.Setahun telah berlalu sejak badai besar yang menghancurkan masa lalunya di kota. Setahun yang penuh dengan pergulatan batin, air mata di tengah malam, serta perjuangan memulihkan kesehatan mentalnya di pelosok desa yang tenang ini."Putusan cerainya resmi keluar Alia," suara Bibi Ratna—adik kandung dari ibu Alia—memecah keheningan teras. Beliau melangkah keluar dari dalam ru
Sementara Rendra dan Arhan sedang menyusuri lorong Rumah Sakit Medika untuk mencari rekam medis, di rumah panggung lereng bukit udara pagi terasa begitu sejuk. Matahari bersinar cerah menembus celah-celah daun karet, menyinari teras kayu tempat Bidan Marni seorang bidan desa senior yang ramah dan yang sedang menata peralatan medis sederhananya di atas meja.Alia duduk di tepi tempat tidur kamar utama, mengenakan daster hamil yang longgar. Perutnya yang makin membuncit kini terasa kencang dan bergerak-gerak pelan. Di sampingnya, Bagas berdiri dengan sigap memegang buku catatan kehamilan berwarna merah muda."Coba berbaring santai ya, Mbak Alia," ujar Bidan Marni lembut seraya mengoleskan gel dingin ke permukaan perut Alia.Bidan Marni kemudian menempelkan ujung alat fetal doppler portabel ke perut Alia. Dalam hitungan detik, suara detak jantung janin bergema memenuhi ruangan kayu yang tenang itu—cepat, ritmis, dan sangat kuat.Dug-dug-dug-dug-dug...Bagas yang berdiri di dekat kepala r
Empat bulan berlalu sejak tragedi penyisiran hutan perbatasan yang sia-sia itu. Waktu terus berjalan di kota, namun bagi Rendra dan Arhan, hidup mereka seolah telah mati dan membusuk di tempat. Di pusat kota, nama Rendra tak lagi menjadi simbol kejayaan pengusaha muda berprestasi. Pencarian skala besar yang gagal, laporan kepolisian yang menggantung, serta hilangnya sang istri secara misterius perlahan membocorkan skandal keretakan rumah tangganya ke publik. Dewan komisaris perusahaan akhirnya memutus posisinya sebagai CEO demi menyelamatkan saham perusahaan yang merosot tajam. Penthouse mewah milik Rendra kini tak ubahnya seperti makam yang megah. Tirai-tirai jendela raksasa tidak pernah lagi dibuka, membiarkan ruangan besar itu tenggelam dalam remang-remang yang suram. Rendra duduk di sudut sofa, tubuhnya jauh lebih kurus dengan janggut tipis yang tidak terurus. Matanya yang merah dan cekung menatap kosong ke arah lemari kaca, tempat foto pernikahan formalnya dengan Alia masih ber
Keesokan harinya, fajar menyingsing di atas lereng bukit dengan warna keemasan yang lembut. Kabut tipis masih membungkus pepohonan karet, membawa aroma tanah basah dan udara pegunungan yang sangat segar. Suara jangkrik malam perlahan berganti dengan cicitan burung liar dan kokok ayam jantan dari kejauhan. Di rumah panggung kayu itu, suasana begitu hangat dan tentram—sebuah kontras yang sempurna dibanding badai yang sedang mengamuk di luar sana. Alia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di teras depan yang menghadap langsung ke hamparan kebun hijau, Bagas sudah duduk santai di atas bangku kayu panjang. Mahasiswa cerdas itu mengenakan kaus polos dan celana kain sederhana, kacamata bingkai hitamnya bertengger rapi saat dia memegang secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis. Di sampingnya, Pak Danu sedang merapikan beberapa papan kayu bakar. "Pagi, Kak Alia," sapa Bagas dengan nada suara yang tenang dan renyah. Senyuman tipisnya terkembang, senyuman
Bagas menghela napas panjang. Dia menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di samping tempat tidur Alia, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang sama sekali tidak mencerminkan tindakan nekat yang baru saja dilakukannya."Aku lihat Ibu nangis tiap hari di ruang dosen," lanjut Bagas pelan, kini tatapannya melunak. "Aku tahu Pak Rendra jarang menganggap Ibu, dan aku tahu Arhan cuma bocah egois yang mengira obsesinya adalah cinta. Dan sekarangn ini mereka berdua sedang menghancurkan hidup Ibu. Jadi... kenapa Ibu ngga biarkan mereka bertengkar dan saling menyalahkan aja?"Alia menatap mahasiswa bimbingannya itu dengan napas memburu. "Tapi cara kamu ini gila, Bagas! Penculikan? Pemalsuan? Kamu bisa dipenjara!""Aku sudah memperhitungkan semuanya," balas Bagas mantap. "Aku sudah menyiapkan tempat yang bakal buat Ibu nyaman. Tidak ada seorang pun dari keluarga Pak Rendra yang tahu. Kalau Ibu menghilang secara 'misterius', mereka akan sibuk memburu bayangan dan saling menghan
"Ini... ini tulisan dia," bisik Arhan, suaranya tercekat di tenggorokan.Rendra yang sejak tadi menahan napas langsung menoleh tajam. "Siapa? Kamu tahu siapa bajingan ini?!""Bagas," jawab Arhan, matanya melotot menatap kosong. "Dia mahasiswa bimbingan Kak Alia juga, satu kelas denganku. Dia anak kesayangan jurusan. Aku sering liat tulisan tangan ini di papan tulis waktu dia presentasi tugas kelompok. Nggak salah lagi, ini tulisan Bagas!"Mendengar nama itu, Rendra tidak membuang waktu. Rendra langsung mengerahkan seluruh koneksi dan tim keamanan siber perusahaannya, sementara Arhan memberikan segala detail informasi mengenai Bagas.Bagas layaknya hantu. Semenjak tulisan yang dia kirim dibelakang polaroid, dia hilang seperti di telan bumi bahkan tempat tinggalnya kosong dan pemilik kosan bilang kalau dia sudah pindah sebulan yang lalu, dan tidak tahu kemana dia pindah setelahnya. Bagas yang hilang begitu juga Alia, tak ada yang tahu dia kemana seakan dunia dua pria itu hancur melihat







