ANMELDENDi kehidupan pertamanya, hidup Lea hancur berantakan setelah sang ayah dipenjara atas tuduhan palsu membunuh ibunya hingga tewas bunuh diri. Setelah mati memprihatinkan di usia 45 tahun, ia mendadak terlempar kembali ke masa lalu saat usianya masih 20 tahun . Berbekal memori masa depan, keahlian IT, dan mental wanita matang, ia bersumpah menyelamatkan ayahnya. Lea tak sudi lagi membuang waktu mengejar Joshua, teman sekampusnya yang dulu menolaknya mentah-mentah. Namun, takdir malah membuatnya terjebak dengan Alexander—detektif senior berwibawa sekaligus ayah kandung Joshua—yang pusing menghadapi mantan pengagum anaknya ini karena mendadak bersikap dominan, cerdas menganalisis kasus, dan hobi menggodanya.
Mehr anzeigenTahun 2046
"Ayah, bangun, Yah... Jangan tinggalin aku..." raung Lea di depan jasad ayahnya yang terbujur kaku di ruang jenazah rumah sakit. Di usianya yang ke-45 tahun, Lea hanya bisa meratapi kepergian pria berusia 66 tahun itu. Pria yang memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di dalam sel—menyerah setelah 20 tahun membusuk di penjara atas tuduhan palsu membunuh istrinya sendiri. Hari pemakaman pun tiba. Lea berdiri mematung di bawah guyuran hujan gerimis. Tidak ada kerabat, tidak ada teman, tidak ada seorang pun yang sudi menginjakkan kaki di pemakaman seorang mantan narapidana. Lea berlutut di tanah yang masih basah, mengusap batu nisan ayahnya dengan gemetar. "Maafkan aku, Ayah... Aku telat. Aku nggak bisa membuktikan apa-apa sampai Ayah menyerah kayak gini... Maaf. Setelah ini, aku harus gimana?" Malamnya, Lea melangkah tanpa arah hingga terdampar di sebuah bar remang-remang di pusat kota. Gelas demi gelas alkohol tinggi ia teguk serakus-rakusnya, mencoba membunuh rasa sakit yang menggerogoti dadanya. Saat berjalan sempoyongan keluar dari bar, pandangan kaburnya tertuju pada sebuah layar papan reklame raksasa di tengah kota. Di sana, terpampang wajah seorang pria tampan berseragam rapi yang sedang tersenyum penuh kemenangan. "Ah... pria sialan itu. Hidupmu enak banget sekarang, ya?" gumam Lea dengan tawa getir. Pria di layar itu adalah Joshua. Cinta pertamanya sewaktu kuliah yang kini hidup sukses dan dielu-elukan. Pria yang dulu ia kejar setengah mati, namun tega menghancurkan sisa-sisa harga dirinya di masa lalu. Ingatan malam itu kembali berputar dikepalanya. Malam pesta kelulusan kampus, 25 tahun yang lalu. Lea, seorang mahasiswi penerima beasiswa yang lugu, memberanikan diri menyatakan cinta pada Joshua—anak dari detektif ternama kota, Alexander Pramana. “Jo, aku suka kamu sejak pertama kali kita ketemu di gerbang kampus, waktu ospek hari pertama,” ucap Lea muda kala itu, menyodorkan serangkaian bunga murah yang dibelinya dari sisa uang tabungan. “Oh, Lea. Ah, ya... boleh,” jawab Joshua santai. “Boleh? Maksudnya kita pacaran?” tanya Lea tak percaya, matanya berbinar bahagia saat Joshua menerima bunga itu. Ruangan pesta yang mewah itu seketika gemuruh oleh sorak-sorai. Namun, kebahagiaan Lea hanya bertahan kurang dari dua menit. “Tapi kita putus detik ini juga!” seru Joshua keras-keras, melemparkan bunga murah itu ke lantai. “Ngapain juga gue pacaran sama anak narapidana kayak lo, hah? Guys, kalian tahu nggak? Minggu lalu, bokapnya mahasiswi beasiswa ini ngebunuh istrinya sendiri!” Tawa mengejek dan bisik-bisik menghakimi merayapi telinga Lea. Saat itu, Lea hanya bisa berdiri membeku, tenggelam dalam rasa malu dan marah. Ayahnya bukan pembunuh, tapi malam itu Joshua membuat seluruh dunia percaya bahwa ayahnya adalah iblis. Kembali ke tahun 2046, Lea yang mabuk berat menatap layar TV raksasa itu sambil tertawa melengking bagai orang gila di pinggir jalan raya. "Dulu gue bodoh banget! Kenapa juga gue mengejar bocah tengil kayak lo?! Bangsat..." jerit Lea terbahak-bahak, menyapu air matanya kasar. Tanpa sadar, langkah kakinya yang limbung membawanya menyeberangi jalan raya saat lampu penyeberangan masih merah. Suara klakson truk kontainer meraung membelah malam. Lampu tembak yang menyilaukan menghantam matanya. BRAK! Tubuh Lea terpental. Rasa sakit luar biasa menghantam seluruh badannya, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap gulita. Kembali ke Masa Lalu (Pesta Kelulusan Kampus) "Lea! Lo dengar nggak sih? Bunga murah lo itu bikin tangan gue kotor!" Suara musik pop bertempo cepat menggema. Bau parfum menyengat dan aroma hidangan pesta memenuhi indra penciumannya. Lea membuka matanya perlahan. Pandangannya yang tadinya kabur kini berangsur jernih. Tapi... bukannya plafon rumah sakit atau kegelapan akhirat yang ia lihat, melainkan lampu chandelier mewah dan puluhan anak kuliahan yang mengerubunginya. Di depannya, berdiri seorang pria muda dengan wajah sok tampan dan senyum remeh khasnya. Joshua. Lea menatap tangannya sendiri. Kulitnya halus, tidak ada keriput atau bekas luka pekerjaan kasar. Di tangannya, ia memegang serangkaian bunga murah yang sedikit layu. Tunggu... ini kan pesta kelulusan kampus 25 tahun lalu?! batin Lea shock. Jiwa wanita matang usia 45 tahunnya mendadak sadar bahwa ia baru saja terlempar kembali ke masa kuliahnya. Joshua menyilangkan dada, bersiap mengucapkan kalimat penghinaannya yang legendaris. "Gue nggak sudi pacaran sama anak pembun—" Bukk! Belum sempat Joshua menyelesaikan kalimatnya, Lea dengan santai melempar serangkaian bunga itu tepat ke wajah Joshua. "Bacot," celetuk Lea singkat dengan suara tenang namun dingin—suara khas wanita dewasa yang sudah kenyang asam garam kehidupan. Seluruh ruangan pesta mendadak hening. Joshua terbelalak kaget, memegang hidungnya yang agak memerah. "Lo... lo berani lempar bunga ini ke gue?!" Lea tidak memedulikan Joshua. Jiwanya yang berusia 45 tahun sama sekali tak punya waktu untuk melayani drama bocah kuliahan. Otaknya langsung berputar cepat: Ayahku! Ayah baru ditangkap minggu lalu! Aku harus cari cara menyelamatkan Ayah sebelum kasusnya ditutup! Tepat saat itu, pintu utama aula pesta terbuka. Seorang pria berpostur tegap dengan setelan jas hitam elegan dan aura intimidatif melangkah masuk. Garis wajahnya tegas, tatapannya tajam memikat, dan kumis tipis yang terawat memberikan kesan maskulin yang matang. Dia adalah Alexander Pramana. Detektif senior paling disegani, sekaligus ayah dari Joshua. Alexander melangkah masuk untuk mencari anaknya. "Joshua! Kan Papa sudah bilang, jangan bikin ulah lagi malam ini. Pulang sekarang," tegurnya dengan suara bass yang berat dan berwibawa. Joshua meringis. "Papa? Ngapain Papa ke sini—" Belum selesai Joshua bicara, Lea melangkah lebar melewati Joshua begitu saja. Ia mengabaikan mantan pria idaman masa kuliahnya itu seperti tumpukan sampah, lalu berhenti tepat di hadapan Alexander. Lea menengadah, menatap pria matang di depannya dengan tatapan meneliti, percaya diri, dan sedikit nakal. Di mata jiwa 45 tahun milik Lea, Alexander versi muda ini benar-benar tipe pria dewasa yang sangat karismatik—jauh lebih menarik daripada anaknya yang tengil. Alexander mengerutkan dahi, heran melihat seorang mahasiswi menatapnya tanpa rasa takut sedikit pun."Ada apa, Nak?" Lea menyunggingkan senyum manis yang penuh daya pikat wanita dewasa, lalu memiringkan kepalanya. "Om... pacaran yuk? Mau?" Alexander: "..." (Seketika mematung, pupil matanya membesar karena terkejut). Joshua: "WHAT?! LO GILA YA, LEA?!" (Berteriak histeris di belakang mereka).Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora
"Malaikat pelindung? Aku bisa jadi malaikat maut buat kamu kalau kamu nekat seperti ini terus, paham?!" Ujar Alexander dengan suara tertahan, melangkah makin mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Lea. "Minum dulu kopinya, Om. Santai... Lagi banyak kerjaan ya, padahal baru jam segini? Semuanya udah aku kendalikan kok. Pelacakan log-nya udah aku hapus, firewall-nya udah aku tambal balik. Tenang aja..." ujar Lea menenangkan, ia mengulurkan salah satu cangkir kopi takeaway yang dibawanya tepat ke depan dada Alexander, memotong jarak intimidasi pria itu. Alexander menerima cangkir kopi itu refleks. "Tetap saja! Kalau sampai hal seperti ini tercium sama Tim Siber Pusat—" "Om, aku punya permintaan," potong Lea cepat, mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih serius. Alexander memicingkan mata, menatap Lea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik khas detektif. Ia menghela napas panjang, menebak arah pembicaraan ini. "Katakan..." Alex meletakkan kopi di ata
Empat hari berlalu bagai mimpi buruk yang berjalan terlalu cepat.Di pelataran kantor Kejaksaan Negeri, gerimis turun perlahan. Suara sirene mobil tahanan terdengar dikejuahan. Hari ini, pelimpahan berkas perkara dan tersangka—tahap P-21—resmi dilakukan. Kasus pembunuhan yang menjerat Brian Aditama dilimpahkan penuh dari kepolisian ke pihak kejaksaan untuk segera disidangkan.Lea berdiri di balik pagar besi, merapatkan jaketnya yang mulai basah kuyup. Tatapannya terkunci rapat pada sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang keluar dari mobil van tahanan dengan rompi oranye bertuliskan Tahanan Kejaksaan dan kedua tangan terikat borgol besi.Ayahnya.Brian sempat menoleh, mendapati putri tunggalnya berdiri sendirian di bawah rinai hujan. Alih-alih meringis atau menunjukkan raut putus asa, Brian justru menyunggingkan senyum paling hangat—senyum tenang yang seolah berbisik: Ayah enggak apa-apa, Princess.Aku gagal... batin Lea menjerit hampa.Di kehidupan pertamanya dulu, ia selalu meratap
Suara derap langkah kaki terburu-buru meramaikan koridor Unit Cyber Crime Kepolisian Resort Kota pagi itu."Gila! Ini beneran kebobolan?!" seru seorang perwira muda tim Cyber sambil menatap layar monitor utama yang berkedip-kedip merah.Alexander yang baru saja memasuki area kantor dengan cangkir kopi hitam di tangannya seketika menghentikan langkah. Dahinya berkerut dalam melihat kerumunan anggota kepolisian yang mengelilingi meja tim IT."Ada apa ini? Kenapa heboh sekali pagi-pagi?" suara berat Alexander menginterupsi keributan.Seorang ahli IT kepolisian menoleh dengan wajah pucat pasi. "Komandan! Server arsip digital kita dibobol tadi malam jam dua pagi! Enkripsi keamanan tingkat tinggi kita ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit!"Alexander nyaris tersedak kopi. "Dibobol? Siapa yang melakukannya? Sindikat peretas internasional?""Bukan, Ndan... anehnya pelaku sama sekali nggak merusak data atau mengambil berkas-berkas rahasia negara yang sensitif," jawab sang ahli






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.