Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 121. Flight 2

Share

121. Flight 2

last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-17 13:27:32

"Mbak Nindiya, saya tunggu di luar, ya. Nanti setelah selesai saya yang akan mengantarkan pulang," ucap Manto dengan sopan sesaat sebelum mereka melangkah masuk.

"Iya, Mas. Makasih banyak, ya."

Manto mengangguk, lalu beranjak pergi.

Usai mengantar mereka duduk di kursi berbusa empuk, staf restoran memohon izin pamit dan menutup pintu rapat-rapat, berjaga tepat di luar ruangan.

Bu Mira mengedarkan pandangan. Ruang yang elegan. "Khaisar membawa kita ke tempat yang istimewa begini, Nin."

Nindiya m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (8)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Demi keamanan & kenyamanan Nindi serta ortunya Khai bnr2 jadiin Edi tamengnya dr amukan Mak Lampir Panjul wkwkkk bnr CaMan sejati ya Khai paket komplit pokoke PooL Abis
goodnovel comment avatar
Movica Kapoor
luar biasa sekali perjuangamu Mas Khai untuk hubungan kalian
goodnovel comment avatar
Adya Maharga
semoga di lancarkan apa yang sdh di rencanakan dgn baik, gak ada aral melintang. pokoknya klo sama Khai tu beresss semua, pak, Bu. jd gak usah khawatir
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • AKAN KUTUNGGU   126. Ikatan 3

    "Pasti, Pak. Saya janji akan menjaga Nin dengan seluruh hidup saya," jawab Khaisar mantap, menyalami dan mencium tangan bapak mertuanya penuh hormat.Setelah prosesi akad usai dan para undangan dipersilakan menikmati hidangan sederhana yang disajikan, keluarga inti Nindiya bersama keluarga Rio berkumpul di depan pelaminan kecil untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui kamera pribadi. Senyum bahagia akhirnya terbit sempurna di wajah Khaisar dan Nindiya. Dua hati yang kini telah resmi menyatu dalam ikatan suci.🖤LS🖤Setelah setengah hari dihabiskan bersama keluarga, menjelang sorenya Khaisar dan Nindiya bersiap untuk keluar. Mereka akan ke pantai Matras. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari rumah Nila. "Kalian mau menginap di sana malam ini?" tanya Nila lirih pada adiknya."Mas Khai nggak bilang ngajak nginap, Mbak.""Oke, bawa ini. Hadiah dari Mbak."Nindiya memegang pemberian kakaknya yang masih terbungkus rapi di dalam goodie bag lalu membawanya ke kamar."Kita bawa ba

  • AKAN KUTUNGGU   125. Ikatan 2

    MUA langganan Nila juga telah datang sejak habis subuh. Sepasang busana pengantin adat Jawa berwarna putih bersih yang dipesan Nila ternyata sangat pas di tubuh kedua calon mempelai. Hanya saja, kebaya yang dikenakan Nindiya terasa sedikit longgar di bagian pinggang."Kamu agak kurusan ya, Nin?" tanya Nila seraya merapikan lipatan kain kebaya di punggung adiknya.Nindiya menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. "Iya, Mbak. Bobotku turun dua kilo belakangan ini.""Nanti setelah nikah harus digemukkan lagi sedikit. Biar kelihatan lebih segar dan berisi," saran Nila.Bu Mira yang menghampiri ikut menimpali sambil mengelus bahu putrinya. "Adikmu ini memang sering sekali begadang kalau malam, La. Lagi ngebut menyelesaikan desain-desain bajunya sampai lupa waktu.""Mbak tahu kamu sedang memulai semuanya, Nin. Tapi tetap tahu waktu. Semoga kamu sukses dengan apa yang telah kamu rencanakan.""Aamiin. Makasih, Mbak." Nindiya membalas tatapan kakaknya dengan lembut.Sementara itu di kamar

  • AKAN KUTUNGGU   124. Ikatan 1

    AKAN KUTUNGGU- 47 Ikatan Pesawat terbang dari Bandara Juanda tepat pukul 18.00 WIB. Dari dalam kabin pesawat, Nindiya memandangi pendar lampu Kota Surabaya yang perlahan mengecil di balik jendela."Kita mungkin baru sampai di sana tengah malam, Mas. Belum tahu berapa lama kita transit di Jakarta nanti. Waktu Ibu terbang kemarin, sampai di Bandara Depati Amir sudah jam satu siang karena lamanya transit," kata Nindiya memandang pria di sampingnya.Khaisar tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nin. Ini akan menjadi perjalanan panjang kita."Dada Nindiya berdebar. Memikirkan betapa ajaibnya takdir membawanya kembali pada Khaisar. Pria yang harus ia lupakan semenjak ia memutuskannya. Mengingat begitu banyak yang mereka lalui, membuat sekujur tubuh Nindiya terasa panas dingin oleh debar membuncah. Demi bisa bersama, mereka harus menikah di tempat yang jauh dari Surabaya. Melakukan perjalanan panjang.Dari Surabaya memang tidak ada jalur penerbangan langsung menuju Pulau Bangka. Mereka harus tr

  • AKAN KUTUNGGU   123. Flight 4

    Usai merampungkan proses administrasi penerbangan, Nindiya dan Khaisar mengantar orang tuanya hingga ke batas area boarding. Nindiya melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca saat ayah dan ibunya berputar melangkah masuk melewati pintu pemeriksaan.Begitu bayangan orang tuanya hilang di balik kerumunan, Khaisar menatap Nindiya lekat-lekat. "Hari Jumat sore nanti kita ketemu di sini. Kita terbang habis Maghrib," kata Khaisar.Nindiya mengangguk pelan, dadanya bergemuruh hebat. Tidak menyangka semuanya berjalan secepat ini.Demi menghindari mata-mata atau sorot kecurigaan orang di sekitar bandara yang mengenal orang tuanya, mereka sepakat keluar secara terpisah. Khaisar melangkah santai dengan jarak beberapa meter di belakang Nindiya, memastikan wanita pujaannya itu berjalan aman hingga masuk ke dalam mobil yang disetir oleh Manto di area drop-off.Setelah Nindiya menutup pintu mobil dan kendaraannya melaju meninggalkan lobi, barulah Khaisar berbalik arah dengan langkah cepat menuju m

  • AKAN KUTUNGGU   122. Flight 3

    "Ya." Pak Tirto menjawab lirih sambil mengangguk. Ia berusaha tetap tegar dan sehat. Meski terkadang tubuhnya masih lemas. Namun ia berusaha terlihat kuat. Ia ingin menyaksikan Nindiya bangkit dan menemukan kebahagiaannya.Malam itu juga melalui video call, mereka berbincang dengan Nila dan suaminya. Mematangkan rencana mereka untuk acara pernikahan nanti. Dada Nindiya berdebar kencang. Secepat ini ternyata? Ia serasa masih tak percaya. Cincin itu sudah menjadi simbol kalau ia sudah berada dalam ikatan pertunangan dengan mantan kekasihnya. Sesekali ia membalas tatapan Khaisar yang begitu dalam terhadapnya. Namun melihat Khaisar tak membahas tentang buket bunga, Nindiya yakin kalau buket itu bukan darinya. Entah dari siapa?"Sudah malam, Nak Khai. Sebaiknya kita pulang sekarang." Bu Mira mengingatkan sambil memandang jam dinding di ruangan."Ya, Bu." Dan Khaisar segera menghubungi Manto. Langsung dijawab oleh laki-laki itu, kalau dirinya sudah siap menunggu di parkiran. Pak Tirto, B

  • AKAN KUTUNGGU   121. Flight 2

    "Mbak Nindiya, saya tunggu di luar, ya. Nanti setelah selesai saya yang akan mengantarkan pulang," ucap Manto dengan sopan sesaat sebelum mereka melangkah masuk."Iya, Mas. Makasih banyak, ya."Manto mengangguk, lalu beranjak pergi.Usai mengantar mereka duduk di kursi berbusa empuk, staf restoran memohon izin pamit dan menutup pintu rapat-rapat, berjaga tepat di luar ruangan.Bu Mira mengedarkan pandangan. Ruang yang elegan. "Khaisar membawa kita ke tempat yang istimewa begini, Nin."Nindiya mengangguk lembut. "Iya, Bu. Mas Khai sepertinya sengaja memilih tempat paling aman supaya kita bisa leluasa bicara. Biasanya tempat seperti ini di booking oleh para pengusaha atau bisnisman untuk membahas urusan pekerjaan.""Ya." Bu Mira mengangguk. Dia juga paham karena memang berpendidikan tinggi. Hanya saja setelah menikah, ia tak melanjutkan karirnya. Malah lebih mengelola toko baju.Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka pelan. Sosok Khaisar melangkah masuk. Pria itu tampil begitu gagah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status