Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 127. Malam 1

Share

127. Malam 1

last update publish date: 2026-10-19 15:03:12

AKAN KUTUNGGU

- 48 Malam

Deluxe room itu menjadi satu-satunya kamar yang bisa dipesan dadakan sore tadi oleh Khaisar. Sebuah jendela kaca berukuran besar membentang langsung menghadap ke arah pantai. Di dalam ruangan, hembusan pendingin udara bekerja maksimal membalut kehangatan pasangan yang baru saja mengikat janji suci.

Usai merampungkan salat Isya berdua, Nindiya melangkah mendekati jendela kaca. Di bawah sana, pendar lampu-lampu taman dan dermaga kelap-kelip begitu indah menembus pekatnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (23)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Yeayy congrats mantan perjaka ya Khai akhirnya Goal jebol gawang jg gpp klo cebong sukses bs jd pengobat hati Nindiya yg 2x khlgn calon buah hati... smg tokcer yaa NinKhai biar mak Lampir kicep & sadar cinta kalian kuat
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
malam pertama pakai pengaman ya ga meninggalkan kesan dong apalagi Nindya kan bukan maaaf gadis lagi .jadi yah gpp deh.jalani aja dengan natural
goodnovel comment avatar
Nurmila Karyadi
wah ada hasil nih ...... kasiiiaan dh Indraaaa nyesel kaaannn
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKAN KUTUNGGU   129. Malam 3

    Itu adalah penyesalan terdalam dalam hidup Indra. Dulu ia terlalu buta oleh ego dan godaan luar hingga mengabaikan kerapuhan istrinya. "Andai saja anak itu hadir dan selamat, pasti hubungan kami masih bisa diselamatkan. Nindiya pasti bersedia memaafkanku demi anak kami," batinnya meraung hampa.Namun benaknya mendadak menangkap satu hal yang mengusik. Nindiya pasti sudah sadar kalau dirinya sedang hamil saat proses perceraian mereka bergulir di Pengadilan Agama. Namun wanita itu memilih bungkam, tidak memberitahunya, dan sama sekali tak berniat mencabut gugatan. Nindiya justru membiarkan persidangan yang melelahkan itu berlanjut hingga tujuh kali sidang sampai ketukan palu hakim resmi memutus hubungan pernikahan mereka.Indra menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Sebuah ironi yang menyiksa. Kenapa rasa cintanya pada Nindiya justru kian menggila dan membakar jiwanya saat wanita itu benar-benar telah pergi."Lalu bagaimana sekarang dengan Cinda?" tanya Hari memecah keheningan

  • AKAN KUTUNGGU   128. Malam 2

    Padahal sejak awal mereka telah sepakat untuk menunda momongan selama satu tahun ke depan. Hal itu demi memulihkan kondisi fisik Nindiya pasca keguguran, memberi ruang baginya untuk kembali merintis karier, serta menjaga kerahasiaan pernikahan mereka untuk sementara.Begitu keheningan kembali menyergap ruangan, Nindiya yang baru tersadar langsung berbisik parau. "Mas, aku ke kamar mandi sebentar, ya."Padahal Khaisar masih ingin merengkuh dan mendekap tubuh istrinya. Namun Nindiya dengan tergesa meraih pakaian di lantai, mengenakannya seadanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.Beberapa menit berlalu, Nindiya belum juga keluar. Khaisar mulai merasa khawatir. Dengan cemas, ia turun dari pembaringan tanpa mengenakan atasan dan mengetuk pintu itu. "Honey, kamu tidak apa-apa?" teriak Khaisar dari luar."Aku tidak apa-apa, Mas! Ini aku mau keluar," sahut Nindiya dari dalam.Pintu terkuak pelan. Dua pasang mata itu saling bertumpu tepat di ambang pintu. Nindiya sempat terpana menden

  • AKAN KUTUNGGU   127. Malam 1

    AKAN KUTUNGGU- 48 Malam Deluxe room itu menjadi satu-satunya kamar yang bisa dipesan dadakan sore tadi oleh Khaisar. Sebuah jendela kaca berukuran besar membentang langsung menghadap ke arah pantai. Di dalam ruangan, hembusan pendingin udara bekerja maksimal membalut kehangatan pasangan yang baru saja mengikat janji suci.Usai merampungkan salat Isya berdua, Nindiya melangkah mendekati jendela kaca. Di bawah sana, pendar lampu-lampu taman dan dermaga kelap-kelip begitu indah menembus pekatnya malam.Khaisar baru saja hendak melangkah mendekatinya ketika dering ponsel di atas meja menghentikan. Nama mamanya tertera di layar. Sebelum menggeser tombol hijau, Khaisar sempat bertukar pandang dengan Nindiya sejenak."Halo, Ma," sapa Khaisar tenang."Where are you, Khai? Di telepon dari tadi malam tidak diangkat. Pagi tadi malah mematikan ponsel. Mama khawatir," cecar Bu Juliana dari seberang sana dengan nada gusar campur cemas."Aku baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir," balas Khaisar

  • AKAN KUTUNGGU   126. Ikatan 3

    "Pasti, Pak. Saya janji akan menjaga Nin dengan seluruh hidup saya," jawab Khaisar mantap, menyalami dan mencium tangan bapak mertuanya penuh hormat. Setelah prosesi akad usai dan para undangan dipersilakan menikmati hidangan sederhana yang disajikan, keluarga inti Nindiya bersama keluarga Rio berkumpul di depan pelaminan kecil untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui kamera pribadi. Senyum bahagia akhirnya terbit sempurna di wajah Khaisar dan Nindiya. Dua hati yang kini telah resmi menyatu dalam ikatan suci. 🖤LS🖤 Setelah setengah hari dihabiskan bersama keluarga, menjelang sorenya Khaisar dan Nindiya bersiap untuk keluar. Mereka akan ke pantai Matras. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari rumah Nila. "Kalian mau menginap di sana malam ini?" tanya Nila lirih pada adiknya. "Mas Khai nggak bilang ngajak nginap, Mbak." "Oke, bawa ini. Hadiah dari Mbak." Nindiya memegang pemberian kakaknya yang masih terbungkus rapi di dalam goodie bag lalu membawanya ke kamar.

  • AKAN KUTUNGGU   125. Ikatan 2

    MUA langganan Nila juga telah datang sejak habis subuh. Sepasang busana pengantin adat Jawa berwarna putih bersih yang dipesan Nila ternyata sangat pas di tubuh kedua calon mempelai. Hanya saja, kebaya yang dikenakan Nindiya terasa sedikit longgar di bagian pinggang."Kamu agak kurusan ya, Nin?" tanya Nila seraya merapikan lipatan kain kebaya di punggung adiknya.Nindiya menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. "Iya, Mbak. Bobotku turun dua kilo belakangan ini.""Nanti setelah nikah harus digemukkan lagi sedikit. Biar kelihatan lebih segar dan berisi," saran Nila.Bu Mira yang menghampiri ikut menimpali sambil mengelus bahu putrinya. "Adikmu ini memang sering sekali begadang kalau malam, La. Lagi ngebut menyelesaikan desain-desain bajunya sampai lupa waktu.""Mbak tahu kamu sedang memulai semuanya, Nin. Tapi tetap tahu waktu. Semoga kamu sukses dengan apa yang telah kamu rencanakan.""Aamiin. Makasih, Mbak." Nindiya membalas tatapan kakaknya dengan lembut.Sementara itu di kamar

  • AKAN KUTUNGGU   124. Ikatan 1

    AKAN KUTUNGGU- 47 Ikatan Pesawat terbang dari Bandara Juanda tepat pukul 18.00 WIB. Dari dalam kabin pesawat, Nindiya memandangi pendar lampu Kota Surabaya yang perlahan mengecil di balik jendela."Kita mungkin baru sampai di sana tengah malam, Mas. Belum tahu berapa lama kita transit di Jakarta nanti. Waktu Ibu terbang kemarin, sampai di Bandara Depati Amir sudah jam satu siang karena lamanya transit," kata Nindiya memandang pria di sampingnya.Khaisar tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nin. Ini akan menjadi perjalanan panjang kita."Dada Nindiya berdebar. Memikirkan betapa ajaibnya takdir membawanya kembali pada Khaisar. Pria yang harus ia lupakan semenjak ia memutuskannya. Mengingat begitu banyak yang mereka lalui, membuat sekujur tubuh Nindiya terasa panas dingin oleh debar membuncah. Demi bisa bersama, mereka harus menikah di tempat yang jauh dari Surabaya. Melakukan perjalanan panjang.Dari Surabaya memang tidak ada jalur penerbangan langsung menuju Pulau Bangka. Mereka harus tr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status