FAZER LOGINMeski terik matahari luar biasa membakar kota di luar sana, pendingin ruangan di kamar itu menciptakan kesejukan yang sempurna bagi mereka untuk menuntaskan kerinduan yang terpendam.Begitu Khaisar memulai, akal sehatnya seolah terbang melayang. Dunia seakan berhenti berputar. Yang tersisa di dalam ruangan itu hanya alunan napas yang menderu, gesekan kulit yang hangat, serta penyatuan dua jiwa yang saling merindukan. Kemesraan itu mengalir tanpa batas. Khaisar dan Nindiya benar-benar menyempurnakan hari bahagia mereka.🖤LS🖤"Mbak, jam berapa Mas Khai pulang ke rumah tadi malam?" tanya Bu Juliana saat melangkah masuk ke area dapur, menatap ke arah para asisten rumah tangga yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.Dua orang pelayan muda yang berdiri di dekat meja mendadak salah tingkah, saling berpandangan dengan cemas. Sementara Mbok Jum, kepala ART yang sudah lama bekerja di keluarga itu, tetap tenang membalik potongan ayam di atas wajan penggorengan.Akhirnya salah seorang pelay
Nindiya begitu lega setelah Khaisar kembali bersama putra kembar mereka. Saat sang suami pergi tadi, hati Nindiya tidak tenang. Apa yang terjadi setelah Khaisar pulang ke rumah membawa anak-anaknya. Terbayang bagaimana wajah Bu Juliana kaget lalu murka.Wanita itu menciumi si kembar bergantian. Matanya berkaca-kaca. Bu Mira mengambil Abe dari gendongan baby sitter. Sedangkan Nindiya mengambil Ale."Bagaimana, Mas?" tanya Nindiya setelah mereka duduk di sofa. "Tenang saja, tidak seperti yang kita khawatirkan. Papa dan Mama memang kaget, Nin. Tapi mereka tersentuh juga dengan melihat cucunya," jawab Khaisar dengan tenang, agar istri dan mertuanya tidak khawatir. Dalam perjalanan tadi Khaisar sudah mewanti-wanti pada dua baby sitter-nya, supaya tidak menceritakan ketegangan yang terjadi. Nanti pelan-pelan, Khaisar sendiri yang akan bicara dengan sang istri."Syukurlah, Nak Khai," jawab Bu Mira lega. Pak Tirto yang duduk di sana pun juga merasa tenang. Semuanya memang tidak mudah, tapi
AKAN KUTUNGGU- 65 Lupakan Dia Indra merasakan dadanya kian sesak, menghimpit napasnya hingga terasa begitu menyiksa. Rasa perih yang teramat sangat menusuk ulu hatinya bertubi-tubi, menghadirkan kesadaran yang terlambat dan terasa begitu telak. Semuanya sudah berakhir. Nindiya kini telah sepenuhnya menjadi milik orang lain. Bahkan mungkin sekarang ini, wanita itu sudah melahirkan buah hatinya bersama pria lain.Untuk waktu yang cukup lama, Indra hanya bisa terduduk lemas di balik kemudi. Pertahanan jiwanya runtuh seketika. Air mata penyesalan mengalir deras. Ia merutuki kebodohannya di masa lalu. Sejak awal jalannya memang sudah salah. Niat busuknya dulu hanyalah ingin merebut Nindiya semata-mata demi menghancurkan Khaisar. Namun bayangan malam pertama mereka kembali berkelebat di kepalanya. Malam di mana ia mendapati Nindiya masih seorang perawan. Kenyataan itu membuktikan bahwa hubungan Khaisar dan Nindiya di masa lalu adalah hubungan yang bersih dan tulus, sementara dirinyalah y
"Apa maumu?" teriak Indra menggelegar.Tubuh Cinda gemetar hebat melihat kilas amarah di mata mantan kekasihnya itu. "Mas, kamu kenapa kasar begini?" cicit Cinda ketakutan.Indra mendekat, mencengkeram tepi meja dengan napas memburu. "Jangan coba-coba main-main denganku lagi, Cinda. Sekarang setelah aku kehilangan Nindiya, aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Sekali pun aku harus masuk penjara karena menghabisimu sekarang, aku tidak peduli!"Cinda semakin menciut dan gemetar hebat. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi. Ketakutannya kian menjadi-jadi jika ingat akhir-akhir ini ia sering membaca berita tentang orang-orang nekat yang menghabisi orang lain akibat gelap mata dan khilaf."Jawab aku!" bentak Indra tanpa ampun, menunjuk tepat ke wajah wanita itu. "Apa benar aku meniduri kamu malam itu? Hanya kamu yang tahu kejadian sebenarnya. Jangan pernah berani membohongiku."Cinda kaku, napasnya memburu ketakutan. Ia terdiam bisu, mencerna ancaman maut dari pria di ha
Pak Hangga yang duduk di samping istrinya langsung terdiam seribu bahasa. Raut wajah pria paruh baya itu berubah tegang, mencerna kemungkinan besar yang dilontarkan putrinya.Ketiga orang itu terhenyak dalam keheningan, mencoba menyusun serpihan teka-teki yang selama ini berserakan. Raya menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya. "Nindiya dan kedua orang tuanya kan sudah meninggalkan rumahnya sejak setahun yang lalu. Dan, Mama pasti masih ingat beberapa bulan yang lalu saat kita nonton fashion gala. Di mana perancang busana jenama Vaelthera yang viral itu naik ke atas panggung runway dalam kondisi hamil besar. Dan dia adalah Nindiya."Mendengar kalimat itu, jantung Bu Juliana berdetak kencang. Darahnya berdesir hebat. Seluruh kepingan puzzle yang tadinya berserakan kini menyatu dengan sempurna di kepala Bu Juliana. "Apa dia itu Nindiya? Apa adikmu diam-diam kembali pada perempuan itu, Ya?" Bu Juliana gusar."Ini hanya sekedar dugaanku, Ma. Sebab kalau Khai kenal orang baru, pa
AKAN KUTUNGGU- 64 Pengakuan"Pa, Khai pasti belum jauh. Telepon, Pa. Biar dia balik lagi ke rumah. Biar nanti dia dan anak-anaknya bisa bertemu dengan Raya," seru Bu Juliana dengan nada bicara yang begitu antusias, matanya berbinar penuh harap di tengah sisa-sisa air mata kemarahannya."Pasti sudah jauh dia, Ma.""Coba, Pa, hubungi saja!" desak Bu Juliana tak sabar. Karena suaminya enggan bergerak, wanita itu langsung meraih ponsel dari atas meja dan menghubungi nomor Khaisar. Namun beberapa detik berlalu, panggilan itu hanya berdering panjang tanpa jawaban. "Tidak diangkat.""Pasti Khaisar lagi fokus nyetir, Ma," ucap Pak Hangga menenangkan.Belum sempat Bu Juliana menanggapi, Raya muncul dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam."Langkah wanita muda itu terhenti saat matanya menangkap suasana tegang di antara papa dan mamanya. Apalagi Bu Juliana terlihat habis menangis. "Loh, ada apa ini? Kok Papa sama Mama tegang begitu?" tanya Raya heran sambi







