LOGIN"Apa maumu?" teriak Indra menggelegar.Tubuh Cinda gemetar hebat melihat kilas amarah di mata mantan kekasihnya itu. "Mas, kamu kenapa kasar begini?" cicit Cinda ketakutan.Indra mendekat, mencengkeram tepi meja dengan napas memburu. "Jangan coba-coba main-main denganku lagi, Cinda. Sekarang setelah aku kehilangan Nindiya, aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Sekali pun aku harus masuk penjara karena menghabisimu sekarang, aku tidak peduli!"Cinda semakin menciut dan gemetar hebat. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi. Ketakutannya kian menjadi-jadi jika ingat akhir-akhir ini ia sering membaca berita tentang orang-orang nekat yang menghabisi orang lain akibat gelap mata dan khilaf."Jawab aku!" bentak Indra tanpa ampun, menunjuk tepat ke wajah wanita itu. "Apa benar aku meniduri kamu malam itu? Hanya kamu yang tahu kejadian sebenarnya. Jangan pernah berani membohongiku."Cinda kaku, napasnya memburu ketakutan. Ia terdiam bisu, mencerna ancaman maut dari pria di ha
Pak Hangga yang duduk di samping istrinya langsung terdiam seribu bahasa. Raut wajah pria paruh baya itu berubah tegang, mencerna kemungkinan besar yang dilontarkan putrinya.Ketiga orang itu terhenyak dalam keheningan, mencoba menyusun serpihan teka-teki yang selama ini berserakan. Raya menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya. "Nindiya dan kedua orang tuanya kan sudah meninggalkan rumahnya sejak setahun yang lalu. Dan, Mama pasti masih ingat beberapa bulan yang lalu saat kita nonton fashion gala. Di mana perancang busana jenama Vaelthera yang viral itu naik ke atas panggung runway dalam kondisi hamil besar. Dan dia adalah Nindiya."Mendengar kalimat itu, jantung Bu Juliana berdetak kencang. Darahnya berdesir hebat. Seluruh kepingan puzzle yang tadinya berserakan kini menyatu dengan sempurna di kepala Bu Juliana. "Apa dia itu Nindiya? Apa adikmu diam-diam kembali pada perempuan itu, Ya?" Bu Juliana gusar."Ini hanya sekedar dugaanku, Ma. Sebab kalau Khai kenal orang baru, pa
AKAN KUTUNGGU- 64 Pengakuan"Pa, Khai pasti belum jauh. Telepon, Pa. Biar dia balik lagi ke rumah. Biar nanti dia dan anak-anaknya bisa bertemu dengan Raya," seru Bu Juliana dengan nada bicara yang begitu antusias, matanya berbinar penuh harap di tengah sisa-sisa air mata kemarahannya."Pasti sudah jauh dia, Ma.""Coba, Pa, hubungi saja!" desak Bu Juliana tak sabar. Karena suaminya enggan bergerak, wanita itu langsung meraih ponsel dari atas meja dan menghubungi nomor Khaisar. Namun beberapa detik berlalu, panggilan itu hanya berdering panjang tanpa jawaban. "Tidak diangkat.""Pasti Khaisar lagi fokus nyetir, Ma," ucap Pak Hangga menenangkan.Belum sempat Bu Juliana menanggapi, Raya muncul dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam."Langkah wanita muda itu terhenti saat matanya menangkap suasana tegang di antara papa dan mamanya. Apalagi Bu Juliana terlihat habis menangis. "Loh, ada apa ini? Kok Papa sama Mama tegang begitu?" tanya Raya heran sambi
Dahi Bu Juliana mengernyit tajam. Tidak bisa menerima? Apa maksud Khaisar? Kenapa putranya bilang ia tak bisa menerima? Padahal belum juga mengenalkan siapa perempuan itu."Khai, are you trying to drive your mother crazy?""No, Ma.""So what's with all this?""Ma, maafkan aku. Kalau aku memilih jalan begini."Bu Juliana mengomel panjang lebar. Membuat dua baby sitter ikut keder juga. Namun mereka sudah diwanti-wanti kalau cukup diam saja dan jaga baik-baik dua bayi itu.Namun pada akhirnya mereka juga kena imbas saat Bu Juliana memandang serius dan bertanya. "Mbak, siapa nama ibu dari anak kembar ini?""Jangan tanya mereka, Ma. Mama, tidak akan mendapatkan jawabannya," potong Khaisar cepat.Bu Juliana terlihat semakin murka, tapi kali ini ditahannya. Percuma melawan anaknya yang super keras kepala itu. Yang ada perdebatan akan semakin panjang dan ia yakin keputusan Khaisar tetap sama. Diam sampai ia sendiri memutuskan mengajak istrinya datang ke rumah untuk menemui mereka.Sedangkan P
Pak Hangga yang berdiri kaku di sisi istrinya mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Pria paruh baya itu menatap lurus ke arah putranya dan melontarkan pertanyaan. "Lalu di mana istrimu, Khai? Kenapa dia tidak kamu bawa sekalian bertemu kami?""Tidak untuk sekarang, Pa. Nanti pada waktunya, aku pasti akan mempertemukannya dengan keluarga."Pasangan suami istri itu terdiam cukup lama. Suasana di dalam rumah megah itu mendadak terasa begitu hening.Sementara itu di area dapur, para ART yang mendengar sebagian besar percakapan tadi tampak berdiri mematung, saling berpandangan. Mereka benar-benar dibuat tercengang luar biasa dengan kelakuan bos mudanya."Ya ampun, Mas Khai," bisik Mbok Jum, kepala ART di rumah itu sambil geleng-geleng kepala. "Kebanyakan anak yang bikin shock orang tuanya itu karena anak perempuannya tiba-tiba pulang dalam keadaan hamil di luar nikah ya, Mbok. Lah ini anak lelakinya yang pulang-pulang membawa dua bayi sekaligus," lanjut ART yang masih agak mu
AKAN KUTUNGGU - 63 ShockJantung Bu Juliana dan Pak Hangga berdentum hebat. Dengan ritme yang begitu kacau. Sekujur tubuh pasangan suami istri itu membeku, seakan saraf-saraf motorik mereka lumpuh seketika untuk digerakkan selama beberapa menit yang terasa sangat panjang.Bu Juliana memandangi dua bayi tampan yang digendong oleh baby sitter itu secara bergantian. Pikirannya berpacu keras. Apa arti semua ini? Tiba-tiba putranya pulang bukan membawa seorang gadis menantu idaman, melainkan dua orang bayi mungil yang tak berdosa."Apa ini, Khai?" tanya Bu Juliana dengan suaranya bergetar hebat."My sons, Ma," jawab Khaisar dengan nada tenang dan berusaha menguasai diri. Jujur saja kali ini hendak setenang apapun, Khaisar tetap gundah. Tentu saja karena kejutan yang ia berikan sungguh di luar nalar. Biasanya anak lelaki datang bersama perempuan pilihannya untuk dikenalkan pada orang tua. Lah ini datang langsung membawa bayi kembar yang diakui sebagai anaknya."WHAT?" teriak Bu Juliana. Ka







