ログインSetelah duduk di mobil, Indra masih diam. Dia ingin sekali Nindiya hamil anaknya. Namun saat harapan itu terkabul, yang terjadi sangat menyakitkan. Kali ini ia merasakan sakitnya kehilangan janin yang gugur itu. Sudah dua bulan usianya. Sama seperti kehamilan Nindiya yang pertama.Indra menekan kedua matanya yang memanas. Tubuhnya terguncang karena tangis. "Kenapa kamu tidak mau memberitahuku kalau kamu hamil, Nin," sesal pria itu.🖤LS🖤"Beneran bukan kalian yang ngejar Nindiya dan membuatnya kecelakaan!" bentak Indra dengan suara kasar menembus speaker ponselnya."Sumpah, Pak. Bukan kami pelakunya," jawab anak buahnya di seberang sana dengan nada panik. "Kami bahkan kaget waktu mendapatkan kabar itu tadi malam."Indra langsung mematikan sambungan telepon, lalu melempar gawainya ke atas meja kerja hingga menimbulkan bunyi benturan. Pria itu sungguh frustrasi. Pikirannya luar biasa kalut. Sejak semalam melangkah keluar dari rumah sakit, ia tidak bisa tidur.Bayangan Nindiya yang mena
AKAN KUTUNGGU- 27 Kehilangan KeduaHati Indra terasa remuk, hancur lebur tak berbentuk. Rasa terpukul yang menghantamnya berlipat ganda. Nindiya bukan hanya tidak mengingat sosoknya sama sekali, tetapi wanita itu juga baru saja mengalami keguguran. Untuk kedua kalinya, mereka kehilangan calon buah hati."Kenapa Nindiya tidak pernah memberitahunya kalau sedang hamil?" jerit Indra dalam hati. Tidak mungkin Nindiya tidak menyadarinya selama proses persidangan perceraian mereka berjalan. Betapa rapinya wanita itu menyembunyikan kenyataan pahit ini sendirian. Indra duduk tersungkur di kursi koridor, menunduk dalam-dalam. Semua orang di depan ruang IGD membisu, tenggelam dalam nestapa masing-masing. Bu Mira duduk bersandar dengan tatapan kosong yang menyayat hati. Badai menghantam keluarganya tanpa ampun. Suaminya sedang terbaring sakit, dan kini Nindiya mengalami musibah.Dengan tubuh gemetar, Indra bergeser mendekat ke arah ibu mertuanya. Ia berlutut di lantai, menatap wajah wanita yang
Wanita itu mengembalikan cincin pernikahannya pada Indra. Ia mendoakan agar Indra bisa bersama dengan wanita yang sudah menunggunya."Hanya kamu yang kutunggu untuk kembali, Nin," suara Indra parau.Nindiya tersenyum getir lalu melangkah pergi bersama Billy.🖤LS🖤Tiga hari setelah putusan pengadilan mengetuk palu perceraian mereka, Indra memacu mobilnya membelah kelam malam kota Surabaya. Dadanya bergemuruh hebat, cengkeramannya pada kemudi begitu erat."Nindiya!" teriaknya histeris di dalam mobilnya. Tak sanggup menampung gelombang penyesalan yang membakar jiwanya.Pria itu baru saja dikabari oleh orang kepercayaannya bahwa kemarin pagi taksi yang ditumpangi Nindiya mengalami kecelakaan hebat. Indra sempat mengamuk karena baru diberi tahu hari ini, meski anak buahnya berdalih informasi tersebut baru saja mereka dapatkan.Mobil berhenti asal di area parkir. Indra melompat keluar dan berlari kencang menuju ruang ICU. Namun petugas mengarahkan bahwa Nindiya telah dipindahkan ke ruang
"Indra, jujur sama Mama. Apa ini kelakuan Nindiya? Apa dia yang sengaja membocorkan semua ini ke media supaya kamu makin terlihat buruk?"Indra menghela napas berat. Pria itu menggeleng. "Tidak mungkin, Ma. Karena ayahnya Nindiya sedang sakit keras di rumah. Nindiya mati-matian menyembunyikan masalah ini dari beliau. Kalau Nindiya sengaja mengundang wartawan, berita ini bakal sampai ke telinga ayahnya dan bikin kondisinya makin drop. Nindiya tidak akan pernah mempertaruhkan nyawa ayahnya hanya demi membalas dendam padaku.""Lalu kalau bukan Nindiya, siapa lagi? Wartawan itu nggak mungkin tiba-tiba tahu jadwal sidangmu kalau nggak ada yang ngasih tahu." Pak Ikram yang menyangkal."Mungkin memang kebetulan saja ada wartawan di Pengadilan Agama hari ini, Pa," Indra berasumsi. "Tujuan mereka ke sana mungkin untuk meliput kasus lain. Tapi pas di koridor, mereka kebetulan melihatku dan Pak Dendi. Lalu mereka mengorek informasi dan menjadikannya berita."Penjelasan Indra diterima dengan hela
"Ya." Edi menggeser layar ponsel. Lantas menyodorkan gawai itu ke hadapan Khaisar, menampilkan portal berita online lokal radar Surabaya."Hari ini bahkan sudah memasuki sidang kedua," tambah Edi.Khaisar menghela napas panjang usai membaca deretan kalimat di layar. Kini terjawab sudah teka-teki bagaimana rumah tangga Nindiya dan Indra. Rupanya bangkai yang disembunyikan Indra akhirnya tercium juga. Hanya dua tahun hubungan itu bertahan. Kini pernikahan yang dulu digelar dengan megah berada di ambang kehancuran."Sepertinya mereka cerai karena Indra selingkuh sama wanita yang pernah kita pergoki di kafe malam itu," celetuk Edi menyampaikan analisanya. "Sama sepupunya sendiri."Khaisar tetap diam."Kamu ingin tahu nggak siapa pengacaranya Nindiya?" tanya Edi lagi."Siapa?" tanya Khaisar singkat."Billy. Pria yang hari itu berhasil memenangkan kasus besar soal penyelundupan narkoba. Dia membela orang yang betul-betul difitnah sampai akhirnya bebas murni dari ancaman penjara."Mendengar
AKAN KUTUNGGU- 26 Setelah Putus"Kalau berita itu tersebar, Ayahmu bakalan tahu, Nin." Erni memperhatikan sahabatnya. Dia ikutan cemas. Takut terjadi apa-apa pada Pak Tirto. Sosok yang sangat baik padanya. Ia sudah seperti ayah bagi Erni yang memang sudah ditinggal ayahnya semenjak kelas satu SMP."Ayahku nggak pernah pegang ponsel lagi semenjak kesehatannya semakin drop.""Bagaimana kalau nonton televisi. Kabar ini pasti akan muncul di berita.""Ayah nonton acara komedi saja kalau nyalain TV, Er. Beliau nggak mau mikir berat dengan melihat berita atau film. Apalagi sinetron, pasti di skip.""Oh, syukurlah!" Erni bernapas lega."Kalau Mbak Nindiya merasa terganggu atau khawatir ayah Mbak tahu, saya bisa usahakan untuk meng-takedown semua berita itu." Billy yang sejak tadi diam saja, akhirnya ikut bicara. Pria itu tanpa menoleh dan tetap fokus mengemudi."Nggak perlu, Pak Billy. Biar saja. Kalau pun nggak muncul di berita sekarang, nanti di kemudian hari bakal muncul juga. Mereka kelu







