Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 32. Kaget 4

Share

32. Kaget 4

last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-14 13:42:09

Dan kesempatan itu dimanfaatkan Indra untuk memperbaiki hubungan dengan Nindiya. Meski pulang sering telat karena pekerjaan menumpuk di kantor.

"Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Indra malam itu saat mereka ada di kamar. Dan malam itu Nindiya tidak menemani ibunya berjaga di rumah sakit.

"Belum ada perubahan," jawab Nindiya dengan raut wajah sedih.

"Besok sebelum ke kantor, aku akan mampir ke rumah sakit," kata Indra sambil mendekat pada istrinya. Beberapa hari ditinggal tiap malam, Indra tak sa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (67)
goodnovel comment avatar
Adfazha
itu Firasat hati istri tersakiti mba lis .. insting istri tak prnh salah
goodnovel comment avatar
Magda
mantap ini yg ditunggu nindy memergoki indra n cinda...semoga nindy denger pembicraan mereka
goodnovel comment avatar
Wida Herawati
ga kebayang itu hancurnya perasaan nindiya kaya apa
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • AKAN KUTUNGGU   64. Setelah Putus 4

    Wanita itu mengembalikan cincin pernikahannya pada Indra. Ia mendoakan agar Indra bisa bersama dengan wanita yang sudah menunggunya."Hanya kamu yang kutunggu untuk kembali, Nin," suara Indra parau.Nindiya tersenyum getir lalu melangkah pergi bersama Billy.🖤LS🖤Tiga hari setelah putusan pengadilan mengetuk palu perceraian mereka, Indra memacu mobilnya membelah kelam malam kota Surabaya. Dadanya bergemuruh hebat, cengkeramannya pada kemudi begitu erat."Nindiya!" teriaknya histeris di dalam mobilnya. Tak sanggup menampung gelombang penyesalan yang membakar jiwanya.Pria itu baru saja dikabari oleh orang kepercayaannya bahwa kemarin pagi taksi yang ditumpangi Nindiya mengalami kecelakaan hebat. Indra sempat mengamuk karena baru diberi tahu hari ini, meski anak buahnya berdalih informasi tersebut baru saja mereka dapatkan.Mobil berhenti asal di area parkir. Indra melompat keluar dan berlari kencang menuju ruang ICU. Namun petugas mengarahkan bahwa Nindiya telah dipindahkan ke ruang

  • AKAN KUTUNGGU   63. Setelah Putus 3

    "Indra, jujur sama Mama. Apa ini kelakuan Nindiya? Apa dia yang sengaja membocorkan semua ini ke media supaya kamu makin terlihat buruk?"Indra menghela napas berat. Pria itu menggeleng. "Tidak mungkin, Ma. Karena ayahnya Nindiya sedang sakit keras di rumah. Nindiya mati-matian menyembunyikan masalah ini dari beliau. Kalau Nindiya sengaja mengundang wartawan, berita ini bakal sampai ke telinga ayahnya dan bikin kondisinya makin drop. Nindiya tidak akan pernah mempertaruhkan nyawa ayahnya hanya demi membalas dendam padaku.""Lalu kalau bukan Nindiya, siapa lagi? Wartawan itu nggak mungkin tiba-tiba tahu jadwal sidangmu kalau nggak ada yang ngasih tahu." Pak Ikram yang menyangkal."Mungkin memang kebetulan saja ada wartawan di Pengadilan Agama hari ini, Pa," Indra berasumsi. "Tujuan mereka ke sana mungkin untuk meliput kasus lain. Tapi pas di koridor, mereka kebetulan melihatku dan Pak Dendi. Lalu mereka mengorek informasi dan menjadikannya berita."Penjelasan Indra diterima dengan hela

  • AKAN KUTUNGGU   62. Setelah Putus 2

    "Ya." Edi menggeser layar ponsel. Lantas menyodorkan gawai itu ke hadapan Khaisar, menampilkan portal berita online lokal radar Surabaya."Hari ini bahkan sudah memasuki sidang kedua," tambah Edi.Khaisar menghela napas panjang usai membaca deretan kalimat di layar. Kini terjawab sudah teka-teki bagaimana rumah tangga Nindiya dan Indra. Rupanya bangkai yang disembunyikan Indra akhirnya tercium juga. Hanya dua tahun hubungan itu bertahan. Kini pernikahan yang dulu digelar dengan megah berada di ambang kehancuran."Sepertinya mereka cerai karena Indra selingkuh sama wanita yang pernah kita pergoki di kafe malam itu," celetuk Edi menyampaikan analisanya. "Sama sepupunya sendiri."Khaisar tetap diam."Kamu ingin tahu nggak siapa pengacaranya Nindiya?" tanya Edi lagi."Siapa?" tanya Khaisar singkat."Billy. Pria yang hari itu berhasil memenangkan kasus besar soal penyelundupan narkoba. Dia membela orang yang betul-betul difitnah sampai akhirnya bebas murni dari ancaman penjara."Mendengar

  • AKAN KUTUNGGU   61. Setelah Putus 1

    AKAN KUTUNGGU- 26 Setelah Putus"Kalau berita itu tersebar, Ayahmu bakalan tahu, Nin." Erni memperhatikan sahabatnya. Dia ikutan cemas. Takut terjadi apa-apa pada Pak Tirto. Sosok yang sangat baik padanya. Ia sudah seperti ayah bagi Erni yang memang sudah ditinggal ayahnya semenjak kelas satu SMP."Ayahku nggak pernah pegang ponsel lagi semenjak kesehatannya semakin drop.""Bagaimana kalau nonton televisi. Kabar ini pasti akan muncul di berita.""Ayah nonton acara komedi saja kalau nyalain TV, Er. Beliau nggak mau mikir berat dengan melihat berita atau film. Apalagi sinetron, pasti di skip.""Oh, syukurlah!" Erni bernapas lega."Kalau Mbak Nindiya merasa terganggu atau khawatir ayah Mbak tahu, saya bisa usahakan untuk meng-takedown semua berita itu." Billy yang sejak tadi diam saja, akhirnya ikut bicara. Pria itu tanpa menoleh dan tetap fokus mengemudi."Nggak perlu, Pak Billy. Biar saja. Kalau pun nggak muncul di berita sekarang, nanti di kemudian hari bakal muncul juga. Mereka kelu

  • AKAN KUTUNGGU   60. Ingin Bertahan 3

    Khaisar menghela nafas panjang. Ia berdiri sambil mondar-mandir di kamarnya. "Aku dan Amara sepakat hanya berteman, Ma.""Mau sampai kapan?" Tatapan Bu Juliana berubah tajam. "Jangan kau katakan kamu masih memikirkan perempuan yang sudah mengkhianatimu.""Aku sudah melupakannya," jawab Khaisar datar sambil memandang keluar dari pintu kaca balkon yang masih terbuka. Bu Juliana menghela napas panjang, menyabarkan hatinya. "Pertimbangan lagi. Amara gadis yang baik. Walaupun kamu menunggu Nindiya, dia nggak akan kembali padamu. Dia sudah menikah. Apakah kamu akan menunggu bekasnya orang? Kamu sangat berharga, Khai." Selesai bicara, Bu Juliana meninggalkan kamar putranya.Dan Khaisar kembali ke balkon untuk meneruskan merokok.🖤LS🖤Akhirnya Nindiya mendapatkan kosan atas bantuan pengacaranya. Khusus kosan putri yang tidak boleh sembarang orang masuk tanpa izin. Hari itu ia bertemu dengan sang kakak di rumah orang tuanya. Nindiya duduk berdua di kamar bersama Nila."Kapan sidang keduamu

  • AKAN KUTUNGGU   59. Ingin Bertahan 2

    Baru saja masuk kamar hotel dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang, ponsel Nindiya bergetar panjang. Ibunya menelepon. Nindiya menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau."Halo, Assalamu'alaikum, Bu." sapa Nindiya, berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tegar."Wa'alaikumsalam, Nin. Kamu sudah pulang ke apartemen?""Ya, Bu. Baru masuk kamar.""Bagaimana sidang pertamamu hari ini?" tanya Bu Mira di seberang sana, suaranya dipenuhi nada cemas seorang ibu.Nindiya menghembuskan napas pelan lalu menceritakan semuanya. Tentang proses mediasi yang berakhir gagal karena ia keukeuh pada keputusannya, hingga jalannya persidangan yang akan berlanjut ke tahap berikutnya.Bu Mira menghela napas panjang, mengerti betul beban sang putri. "Ibu paham, Nin. Kalau memang ini jalan terbaik, Ibu cuma bisa berdoa supaya kamu diberi kekuatan. Tetap kuat ya, Nak. Oh iya, kapan kamu mau pulang ke rumah?"Nindiya mengusap sudut matanya yang terasa hangat. "Nanti aku cari waktu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status