LOGINSementara itu di tempat lain, seorang pemilik pabrik tekstil yang terletak di perbatasan antara Desa Loban dan Desa Wlahar, sedang memarahi salah satu bawahannya dengan suara tinggi.
Pemilik pabrik itu bernama Haryo Wibowo, seorang pengusaha berpengalaman di industri tekstil yang kini berusia 51 tahun.Haryo terlihat panik dan kesal setelah menerima laporan dari staf operasionalnya bahwa pemasok utama Getah Perca di pabriknya, tiba-tiba menghentikan kerja sama secara sepihak"Aku pulang dulu, ya?!" ucap ceria seorang siswi sembari bergegas keluar dari gerbang sekolah."Iya, hati-hati! Besok jangan lupa janjinya!" sahut temannya sambil melambaikan tangan kanannya."Iya, dadah ...." balas siswi itu, sebelum akhirnya berjalan menjauh dan menghilang di keramaian.Suasana saat jam pulang sekolah memang selalu ramai dengan suara-suara siswa yang saling berpamitan, tidak terkecuali Havi, yang kini berjalan pulang ke rumahnya. Sebenarnya, hari ini Yono sempat berencana untuk mampir ke rumah Havi, tetapi entah kenapa di tengah jalan dia berubah pikiran, seperti mengingat akan ada janji lain yang harus segera dikerjakan. Havi pun tidak mempermasalahkan itu, dan pada akhirnya pulang ke rumah seorang diri.Sesampainya di rumah, seperti biasanya, rumah selalu dalam keadaan sunyi. Tidak ada satu orang pun di dalamnya, karena semua sibuk bekerja.Ridho kemungkinan masih berada di pasar, sedang sibuk menj
Beberapa jam kemudian, guru selesai mengajar, bel istirahat berbunyi, dan semua siswa bergegas keluar kelas. Havi pun ikut keluar, dia ingin menghindar dari perhatian teman-teman sekelasnya yang masih saja membicarakan tentang perubahannya. Dia berencana hendak menemui sahabat terbaiknya, yaitu Yono. Nama lengkap Yono adalah Sayono. Di kehidupan sebelumnya, Yono mengetahui bahwa hidup Havi sangat miris, dari siswa yang berprestasi dan penuh harapan, berubah drastis menjadi seorang residivis. Yono juga tahu penyebab utama Havi memutuskan untuk hidup dalam pelukan kejahatan, yaitu kematian tragis kedua orang tua Havi akibat kasus tabrak lari, yang saat itu masih belum diketahui siapa pelakunya. Yono, di kehidupan sebelumnya selalu menolong Havi. Dia acap kali pasang badan untuk melindungi Havi dari setiap masalah, bahkan, sampai mengorbankan rumah tangganya sendiri. Istri Yono saat itu tidak bisa menerima kedekatan suaminya dengan Havi. Dia khawatir Yono suatu hari ikut terjerum
Tak lama setelah itu, Havi sampai di sekolahnya. Di depan gerbang sekolah tertulis nama SMA Negeri 1 Loban dengan cat yang masih terlihat baru. Sekolah ini sudah berdiri selama tiga tahun sejak didirikan oleh pemerintah desa. SMA Negeri 1 Loban, seperti yang diketahui, merupakan satu-satunya sekolah menengah atas yang ada di Desa Loban. Untuk jenjang SD dan SMP, sekolah terdekat dari Desa Loban berada di daerah Kota Telaga, sehingga anak-anak dari desa Loban harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk bersekolah di tingkat itu. Saat mendekati gerbang sekolah, Havi merasa terharu karena bisa kembali menjalani kehidupan barunya. Ketika Havi memasuki gerbang sekolah, sekelompok siswa laki-laki dan perempuan menyapanya dengan ramah. Para guru yang berada di halaman sekolah juga menyambutnya dengan senyuman. SMA Negeri 1 Loban menjadi dikenal banyak orang berkat prestasi Havi. Pada awal berdirinya, banyak orang meragukan sekolah ini karena jumlah guru masih sedikit dan fasilita
Setelah selesai menikmati kebersamaan keluarga, malam pun semakin larut. Havi, Ridho, dan Saras memutuskan untuk masuk ke dalam rumah setelah selesai makan buah-buahan segar dari Hutan Wanarengga. "Ayah, Ibu, ayo kita masuk! Sudah larut!" kata Havi. Ridho dan Saras mengangguk. Mereka bertiga merapikan tempat duduk, mengumpulkan sisa kulit buah, dan membersihkan batu berbentuk pipih yang digunakan untuk menaruh buah. Havi memadamkan api unggun dengan menaburkan tanah hingga dia yakin sudah tidak ada bara api yang tersisa. Setelah semua selesai dibereskan, mereka masuk ke dalam rumah satu per satu.Saras berkata kepada Havi, "Havi, ayo tidur! Besok kamu sekolah, kan?!" ucapnya.Havi mengangguk dan menjawab, "Iya, Bu! Kalau begitu, aku tidur dulu!" katanya.Ridho menambahkan, "Jangan lupa buku-buku pelajarannya disiapkan!" katanya, mengingatkan."Iya, Ayah!" jawab Havi sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya. Havi membuka pintu kamar, lalu menyalakan penerangan yang berbahan bakar
Selesai sudah Havi membuat tungku baru, meski lelah, tetapi setidaknya dia merasa puas.Havi mendekat ke arah sebuah batu besar di halaman belakang rumahnya, kemudian langsung duduk di atasnya.Tubuhnya yang lelah, bajunya yang basah oleh keringat, dan tangannya yang masih kotor karena tanah liat dan abu, tidak berarti apa-apa untuknya dibandingkan dengan anugerah dari Tuhan yang membuatnya bisa menjalani lagi kehidupannya yang kedua.Tidak lama kemudian, kedua orang tuanya, Ridho dan Saras, pulang ke rumah, dan sangat kebetulan juga pulangnya bersama-sama.Ridho datang dari arah Hutan Wanarengga sembari memanggul sebuah karung berisi hasil-hasil hutan, seperti rotan, buah-buahan liar, dan beberapa ranting kayu yang akan dijual ke pasar keesokan harinya.Sementara Saras, dia berjalan dari arah jalan setapak desa sembari membawa wadah gorengan yang kosong, karena semua dagangannya sudah habis terjual hari ini.Begitu sampai di rumah, keduanya berhenti sejenak. Mereka melihat Havi yang
Sementara itu, Havi yang sedang berada di rumah sendirian, merasa jenuh karena kedua orang tuanya belum juga pulang dari bekerja.Dia merebahkan diri di atas kursi kayu panjang yang ada di teras rumahnya sambil bergumam, "Aku benar-benar bosan!" ucapnya sembari menarik nafas panjang.Havi melanjutkan, "Mungkin, aku harus mulai melakukan sesuatu, meskipun hanya hal-hal kecil!" ujarnya.Havi segera berdiri dari duduknya, lalu berjalan perlahan mengelilingi halaman rumahnya yang kecil dan sederhana.Rumahnya memang terletak di bagian pinggiran desa dan berbatasan langsung dengan area hutan di belakangnya.Tanah di sekitar rumah Havi cukup padat dan berwarna kemerahan dengan permukaan yang tidak rata. Di sekeliling rumah itu, tumbuh pohon jati, randu, dan mahoni. Hawa udaranya tetap sejuk meskipun matahari sudah mulai meninggi. Itu disebabkan karena sinar matahari terhalang oleh pepohonan yang tinggi dan lebat. Beberapa ekor ayam peliharaan terlihat berkeliaran di halaman rumah, sesekal







