Home / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 24: Isi hati yang mulai terbongkar.

Share

Bab 24: Isi hati yang mulai terbongkar.

Author: Putrisyamsu
last update Last Updated: 2025-10-10 23:39:01

Bab 24 : Isi hati yang mulai terbongkar.

“Kenalkan, Pak Yudi, ini suami saya, Bang Wanda,” ujar Nadya mengenalkan suaminya pada Pak Yudi.

“Bang Wanda yang membuat kusen pintu di tempat Pak Asnawi, bukan?” tanya Pak Yudi saat mereka hendak bersalaman. Mendengar ucapan Pak Yudi Wanda memandangi wajah pria di depannya.

“Beberapa bulan yang lalu saya memesan kusen dari tempat Pak Asnawi, dan yang mengantarkan ke rumah saya abang sendiri,” terang Pak Yudi ketika ia melihat Wanda mengerutkan kening.

“Yang di jalan Pelita itu, ya?. Kalau tidak salah, kemarin yang menerima kusen itu perempuan, bukan laki-laki,” ujar Wanda merasa bingung.

“Itu istri saya. Saat itu saya melihat abang dari balik jendela, saya tidak bisa keluar karena sedang mengaduk roti,” terangnya.

“Ooo…” Wanda mengangguk-angguk, saat itu pula matanya melihat dua amplop berwarna coklat diatas meja, membuat ia menjadi sangat penasaran dengan maksud kedatangan pria ini. N
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 103: Setelah mengharukan Menggemparkan

    Bab 103: Setelah mengharukan menggemparkan. Matahari pagi itu menggantung rendah, menyebarkan warna jingga keemasan yang seolah berusaha menghangatkan suasana dingin di hati Nadya. Hari ini adalah hari keberangkatan Akmal ke pondok pesantren. Di halaman rumah, Pak Hardi sudah datang dengan Alphard mewahnya. Mementara Nadya memeriksa sekali lagi tas besar milik putra semata wayangnya. Ada rasa sesak yang tertahan, namun sejak lamaran Pak Hardi tadi malam semuanya sudah berubah. Dirinya tidak lagi merasa sendiri. Ada kekuatan yang memberi ketegasan baru dalam sorot matanya.​Perjalanan menuju pesantren terasa singkat. Sesampainya disana, suasana sudah ramai. Namun, langkah Nadya terhenti saat melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya terparkir di bawah pohon rindang. Di sana berdiri Mantan suaminya dan Danur adiknya.​Akmal, yang sejak tadi tampak tegang, seketika cerah wajahnya melihat ayah dan pamannya. Meski ia sempat melirik Nadya dengan perasaan sungkan—takut ibunya terluka meli

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 102: Ancaman.

    Bab 102: Ancaman. Suasana di ruang tamu rumah Pak RT mendadak mencekam. Harum aroma kopi yang baru saja diseduh tidak mampu menutupi bau ketegangan yang menyesakkan dada. Pak RT duduk tertegun di kursi kayu jatinya, sementara istrinya, Bu RT, berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan mata yang berkilat penuh amarah.​"Masih mau mengelak lagi, Pak?" suara Bu RT meninggi, memecah kesunyian malam. "Aku ini istrimu belasan tahun! Aku tahu arti tatapan kosongmu itu. Kamu sedang memikirkan Nadya, kan? Janda baru itu!"​Pak RT berdehem, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Bu, kamu jangan sembarangan menuduh. Saya cuma sedang memikirkan masalah lingkungan..."​"Masalah lingkungan atau masalah hati yang mencari kesempatan untuk selingkuh?" potong Bu RT tajam. Ia menggebrak meja hingga cangkir kopi berguncang. "Jangan pikir aku lupa, Pak! Dulu kamu hampir saja menikah diam-diam dengan si pembantu keluarga Pak Suryo itu kalau tidak ketahuan olehku. Tabiatmu memang tidak pernah berubah!"

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 101: Rencana licikPak RT.

    Bab 101: Rencana licik Pak RTKegelisahan itu seperti kabut tebal yang enggan beranjak dari hati Nadya. Sejak Pak Hardi mengungkapkan niatnya secara terbuka beberapa hari lalu, ketenangan Nadya menguap. Pagi itu, ia duduk di tera. Sebuah ruang tamu terbuka yang dirancang khusus oleh Pak Hardi agar Nadya, sebagai seorang janda, bisa menerima klien dengan leluasa tanpa memicu fitnah tetangga.​Di depannya, laptop menyala menampilkan timeline video iklan pesanan klien. Namun, fokus Nadya tercerai-berai. Matanya justru terpaku pada pagar kokoh yang baru saja diselesaikan oleh Pak Hardi dan timnya. Pagar itu bukan sekadar pembatas fisik, tapi bukti perhatian pria itu yang begitu detail.​Kini, setelah proyek pagar selesai, rumah itu terasa senyap secara mendadak. Tak ada lagi suara palu yang beradu atau deru mesin potong besi. Tak ada lagi sosok tegap Pak Hardi yang mondar-mandir dengan peluh di dahi. Ditambah lagi, besok Akmal, putra bungsunya, akan berangkat ke pondok pesantren. Kesepian

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 100: Pak RT tidak tahu malu

    Bab 100: Pak RT tidak tahu malu. Hati Wanda seketika menciut saat melihat sosok Pak Hardi berdiri tegak di dalam kamar rawat itu. Wibawa pria itu seolah membungkam keberanian Wanda yang sedari tadi ia kumpulkan.​"Aku... aku ingin menjenguk Nadya," ucap Wanda terbata, suaranya hampir menyerupai bisikan.​"Papa..." Akmal bergumam. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera menghampiri dan mencium tangan ayahnya. Namun, melihat tubuh ibunya yang masih lemah di atas ranjang, Akmal mengurungkan niat. Ia memilih tetap berada di sisi Nadya, menjaga benteng pertahanan terakhir ibunya.​Wanda tak berani melangkah lebih dalam. Ia terpaku di ambang pintu, merasa seperti orang asing yang tak diinginkan. Hanya Feri dan Rina yang melangkah maju mendekati ranjang.​"Bagaimana keadaanmu, Nadya?" tanya Rina lembut, matanya menyiratkan simpati yang mendalam.​Keheningan itu pecah saat petugas keamanan masuk dan meminta sebagian pembesuk untuk keluar demi ketenangan pasien. Di dalam ruangan, kini ha

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 99: Ketakutan.

    Bab 99: Ketakutan. Sepeninggal kedua anaknya, Wanda duduk mematung di kursi teras yang kayu-kayunya mulai kusam. Tatapannya kosong, terpaku pada ujung jalan setapak di mana bayangan Akmal dan Tania perlahan lenyap ditelan tikungan. Itu adalah pertemuan singkat pertama setelah sekian lama perceraian memisahkan mereka—sebuah pertemuan yang bukannya menyembuhkan, justru meninggalkan lubang menganga di dadanya.​Suasana hatinya makin mencekam. Keheningan pagi itu terasa lebih menindas ketimbang saat Mak Omah, ibunya, menghembuskan napas terakhir tiga hari yang lalu. Kehilangan ibu adalah duka mendalam, namun melihat anak-anaknya pergi menjauh darinya dengan rasa canggung, adalah siksaan yang berbeda. Rasanya seperti mati berkali-kali dalam satu helaan napas.​Feri, saudara sulungnya, menyulut rokok dan menghembuskan asapnya ke udara yang lembab. Ia menatap Wanda dengan iba, namun nada bicaranya tetap tegas.​"Biarlah mereka hidup bahagia, Wanda. Jangan kau ganggu lagi ketenangan mereka.

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 98: Tania menjemput Akmal.

    Bab 98: Tania menjemput Akmal. Suasana kamar perawatan yang tadinya hangat dan penuh bunga-bunga asmara, mendadak berubah mencekam. Pak Hardi masih mematung dengan ponsel yang menempel di telinga. Kalimat ketus dari seberang telepon itu terus terngiang, seolah-olah sebuah garis pembatas yang tajam baru saja ditarik di antara dirinya dan masa depan yang baru saja ia impikan bersama Nadya.​"Ada apa, Pak? Siapa yang menelepon?" tanya Nadya sekali lagi. Nadya bisa merasakan ada sesuatu yang salah. Raut wajah Pak Hardi tidak bisa berbohong; ada kemarahan yang tertahan, namun ada juga keraguan yang menyelinap.​Pak Hardi menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu. "Hanya... masalah kecil di kantor, Bu Nadya. Saya harus keluar sebentar untuk menerima telepon ini dengan lebih jelas," dalihnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Nadya yang masih lemah.​Pak Hardi melangkah keluar. Begitu pintu terbuka, Bu Retno, Bu Fatma, dan Bude Ijum hampir terjungkal karen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status