Home / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 29: Kecurigaan adik Laras.

Share

Bab 29: Kecurigaan adik Laras.

Author: Putrisyamsu
last update Last Updated: 2025-10-18 18:08:38

Bab 29 : Kecurigaan adik Laras.

Mak Yeyen tidak dapat berkata apa-apa. Ia tertunduk sambil memainkan jempol kakinya yang tersembunyi di bawah meja. Dalam hati ia berharap Wanda segera pergi dari tempat itu.

“Kamu senang, ya jika rumah tanggaku berantakan!” bentak Wanda. Kali ini wajah laki-laki itu terlihat garang.

“Iya, memang itu yang diinginkan kan mamakmu,” ucap Mak Yeyen tergagap. Karena Wanda membentaknya dengan suara keras tanpa sadar Mak Yeyen mengucapkan kata-kata yang seharusnya dirahasiakan.

Mak Onah kaget, ia tidak menyangka Mak Yeyen mengatakannya pada Wanda. Hati perempuan tua itu sangat geram bercampur tegang.

“Kalau soal itu aku sudah tahu. Dari dulu msmakku memang tidak suka denga istriku. Aku juga tahu mamaku selama ini berusaha memisahkan aku dengan Nadya.” ucapan Wanda kembali membuat Mak Onak serba salah.

“Sialan Mak Yeyen. Dia malah menggagalkan usahaku. Padahal sudah susah payah aku mengambil hati Wanda.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 99: Ketakutan.

    Bab 99: Ketakutan. Sepeninggal kedua anaknya, Wanda duduk mematung di kursi teras yang kayu-kayunya mulai kusam. Tatapannya kosong, terpaku pada ujung jalan setapak di mana bayangan Akmal dan Tania perlahan lenyap ditelan tikungan. Itu adalah pertemuan singkat pertama setelah sekian lama perceraian memisahkan mereka—sebuah pertemuan yang bukannya menyembuhkan, justru meninggalkan lubang menganga di dadanya.​Suasana hatinya makin mencekam. Keheningan pagi itu terasa lebih menindas ketimbang saat Mak Omah, ibunya, menghembuskan napas terakhir tiga hari yang lalu. Kehilangan ibu adalah duka mendalam, namun melihat anak-anaknya pergi menjauh darinya dengan rasa canggung, adalah siksaan yang berbeda. Rasanya seperti mati berkali-kali dalam satu helaan napas.​Feri, saudara sulungnya, menyulut rokok dan menghembuskan asapnya ke udara yang lembab. Ia menatap Wanda dengan iba, namun nada bicaranya tetap tegas.​"Biarlah mereka hidup bahagia, Wanda. Jangan kau ganggu lagi ketenangan mereka.

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 98: Tania menjemput Akmal.

    Bab 98: Tania menjemput Akmal. Suasana kamar perawatan yang tadinya hangat dan penuh bunga-bunga asmara, mendadak berubah mencekam. Pak Hardi masih mematung dengan ponsel yang menempel di telinga. Kalimat ketus dari seberang telepon itu terus terngiang, seolah-olah sebuah garis pembatas yang tajam baru saja ditarik di antara dirinya dan masa depan yang baru saja ia impikan bersama Nadya.​"Ada apa, Pak? Siapa yang menelepon?" tanya Nadya sekali lagi. Nadya bisa merasakan ada sesuatu yang salah. Raut wajah Pak Hardi tidak bisa berbohong; ada kemarahan yang tertahan, namun ada juga keraguan yang menyelinap.​Pak Hardi menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu. "Hanya... masalah kecil di kantor, Bu Nadya. Saya harus keluar sebentar untuk menerima telepon ini dengan lebih jelas," dalihnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Nadya yang masih lemah.​Pak Hardi melangkah keluar. Begitu pintu terbuka, Bu Retno, Bu Fatma, dan Bude Ijum hampir terjungkal karen

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 97: Penelepon tak dikenal.

    Bab 97: Penelepon tak dikenal. ​ wajah Nadya terasa panas seperti tersulut api. Di layar ponsel Bu Retno, ia melihat dirinya sendiri yang terkulai lemas, sementara Pak Hardi, sosok yang selama ini dikenal sebagai pria berwibawa dan sedikit cuek tampak begitu panik. Dalam video amatir yang diambil Bu Pipit itu, Pak Hardi dengan tangkas mengangkatnya dengan gerakan bridal style yang sangat protektif, lalu setengah berlari menuju mobil. ​“Aduh, Bu Retno... hapus saja videonya. Malu dilihat orang,” bisik Nadya dengan suara parau, berusaha menutupi wajahnya dengan bantal. ​“Hapus? Wah, tidak bisa, Bu! Ini adalah dokumen sejarah! Lihat wajah Pak Hardi, dia seperti mau kehilangan separuh jiwanya. Jarang-jarang kita lihat orang seperti Pak Hardi yang biasanya sok cuek jadi sekacau itu,” goda Bu Retno sambil tertawa kecil.​ Tania yang ikut mengintip layar ponsel hanya tersenyum simpul. “Mama cantik kok di situ, seperti putri tidur yang diselamatkan pangeran.” Tania

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 96: Mengapa Nadya jadi malu?

    Bab 96. Mengapa Nadya jadi malu? Nadya sudah berada di sebuah kamar yang nyaman. Hingga tidak terasa jika tempatnya berada saat itu adalah sebuah kamar perawatan di rumah sakit. Tepatnya seperti kamar hotel yang nyaman. Membuat Bu Retno tak henti-henti mengagumi. “Gila Pak Hardi. Pengorbanannya untuk wanita pujaannya lumayan juga. Beruntung sekali Bu Nadya. Semoga mereka secepatnya menikah. Tapi dasar Pak Hardi tidak peka dengan perempuan. Dia yang lama nembak Bu Nadya aku yang gregetan.”Bu Retno duduk di sebuah sofa yang disediakan rumah sakit untuk keluarga pasien sambil mengamati kamar rumah sakit yang sangat nyaman. Bu Retno tak henti menggerutu mengingat tingkah temannya. “Bude, apa Pak Hardi yang membawa saya ke rumah sakit?” tanya Nadya pada Bude Ijum yang duduk di samping tempat tidurnya. “Iya, Tadi dia yang membawa kamu ke sini. Dia begitu cemas begitu tahu kamu pingsan. Hingga tidak peduli dengan pekerjaanya. Nadya terdiam. Ada ra

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 95: Praktek jadi suami siaga.

    Bab 95: Praktek jadi suami siaga Pak Hardi masuk kedalam ruangan UGD yang hanya diberi pembatas kain gorden berwarna cream yang tingginya tiga setengah meter. Di sana di sebuah tempat tidur besi sempit Nadya terbaring lemah dengan sebuah tali infus yang menyalurkan obat yang tergantung di pada besi ketanganya. Dengan perasaan berdebar lelaki itu menatap Nadya yang terlihat pucat. Yang dirasakannya kini bukan hanya perasaan cinta. Tapi juga rasa iba dan kasihan yang menyentuh hati. Perasaan tidak rela melihat wanita yang dicintainya memendam sendiri tekanan batin yang sangat kuat menghimpit jiwanya hingga berpengaruh pada raganya. Hingga timbul di hatinya rasa ingin melindungi. Menjadikan dirinya sebagai sandaran untuk tempat melebur duka lara. “Istri bapak baru saja siuman,”ucap wanita yang memakai jas putih yang telah memeriksa keadaan Nadya. Mendengar perkataan dari bibir dokter wanita itu Pak Hardi jadi serba salah, apalagi dokter itu mengucapkannya langs

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 94: Di rumah sakit.

    Bab 94: Dirumah sakit. Dirumah sakit, Nadya masih tidak sadarkan diri. Tubuhnya terbaring lemah diatas ranjang sempit rumah sakit menanti berbagai tindakan yang akan dilakukan dokter dan time perawatnya untuk menanganinya. “Sejak dari jam berapa istri bapak pingsan?” tanya dokter wanita pada Pak Hardi. Pak Hardi terkesiap. Ia merasa canggung ditanya seperti itu. Bagaimana dokter tidak bertanya seperti itu padanya? Hanya Pak Hardi satu-satunya lelaki yang ada saat mengantar Nadya. Dari wajahnya, dokter dan perawat melihat wajah Pak Hardi begitu cemas. Tentunya mereka berpikir jika Pak Hardi adalah suami Nadya. “Tadi saat ibu ini pingsan. Bapaknya belum pulang dok. Yang ada hanya anaknya.” Untungnya Bu Retno yang paham dengan situasi segera memberi penjelasan yang masuk akal pada team medis. Dengan keadaan yang sudah sedikit tenang Nadya menceritakan semuanya pada dokter. “Bapak sedang ada masalah dengan istri bapak, ya? Sebaiknya diseles

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status