Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 136 PENANGKAPAN

Share

BAB 136 PENANGKAPAN

Author: Yoongina
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-30 15:50:41

"Kapan kita bisa menikah, Mas?" lirih Evelyn, menatap sendu wajah Farel yang tengah berbaring santai di sampingnya.

​Farel terdiam sejenak. Jemarinya bergerak perlahan, merapikan beberapa helai rambut di kening Evelyn dengan gerakan selembut mungkin. "Aku tidak bisa menceraikan Aurel begitu saja sekarang, Sayang. Dia juga sedang hamil."

​"Aku tidak masalah kalau kalian belum bisa bercerai saat ini," potong Evelyn cepat, menatap Farel dengan sorot mata menuntut. "Yang penting, segera nikahi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • ANESTESI RINDU   BAB 136 PENANGKAPAN

    "Kapan kita bisa menikah, Mas?" lirih Evelyn, menatap sendu wajah Farel yang tengah berbaring santai di sampingnya. ​Farel terdiam sejenak. Jemarinya bergerak perlahan, merapikan beberapa helai rambut di kening Evelyn dengan gerakan selembut mungkin. "Aku tidak bisa menceraikan Aurel begitu saja sekarang, Sayang. Dia juga sedang hamil." ​"Aku tidak masalah kalau kalian belum bisa bercerai saat ini," potong Evelyn cepat, menatap Farel dengan sorot mata menuntut. "Yang penting, segera nikahi aku secara sah sebelum perutku membesar!" ​Farel menghela napas berat, tampak frustrasi. "Tapi Aurel tidak akan pernah mengizinkanku untuk menikah lagi. Dia baru akan mengijinkan perkawinan kita kalau aku sudah resmi menceraikannya." ​Evelyn mendengus kesal. Merasa tidak puas dengan jawaban klasik itu, ia langsung memutar tubuhnya membelakangi Farel, menyembunyikan raut kesal di wajahnya. ​"Jangan marah lagi, Sayang. Kondisimu masih lemas dan demam. Lagipula, aku kan ada di sini untuk mene

  • ANESTESI RINDU   BAB 135 KEADILAN

    Kenan dengan santai namun tetap waspada, turun dari mobilnya saat berhenti tepat di halaman rumah Hani. Pagi ini, dia sudah menyusun rencana untuk menemui ibu dan adik tirinya itu. Bukti kejahatan yang sudah ia serahkan pada pihak berwajib hanya tinggal menunggu waktu untuk menangkap mereka detik ini juga. Kenan merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah dengan tegap membelah halaman rumah mewah yang berdiri di atas penderitaan papa dan adiknya. Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai teras seolah menghitung mundur sisa kebebasan dua wanita di dalam sana. Tanpa mengetuk pintu, Kenan mendorong pintu utama yang kebetulan tidak terkunci. Di ruang tengah, tampak Hani dan Deline sedang duduk tegang di depan meja kopi. Wajah mereka yang semula dipenuhi kecemasan langsung berubah mengeras begitu melihat sosok Kenan melangkah masuk dengan santai. ​"Kenan!" Deline langsung berdiri dari sofa, matanya melebar dengan napas memburu. "Berani sekali kamu menampakkan diri di sini!" H

  • ANESTESI RINDU   BAB 134 KEHANGATAN DI KAMAR VVIP (+18)

    Malam ini, Vanya baru saja menyelesaikan tugasnya yang melelahkan di IGD. Tapi, ia tidak langsung pulang, langkah kakinya menuntunnya masuk ke dalam kamar perawatan Devan untuk menemaninya. Saat tiba di depan kamar perawatan Devan, ​Vanya mendorong daun pintu kamar VVIP itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Di dalam kamar, lampu utama telah dipadamkan, membuat seluruh ruangan diselimuti kegelapan. Hanya ada sedikit cahaya dari sinar bulan yang masuk lewat celah gorden kaca jendela kamar. Namun dalam kegelapan, sayup-sayup Vanya bisa melihat tubuh Devan yang bergerak gelisah di atas ranjang dalam tidurnya. ​Khawatir terjadi sesuatu, Vanya melangkah mendekat lalu menyalakan lampu tidur bercahaya temaram di samping ranjang Devan. Begitu semburat cahaya redup itu menyala, Devan seketika tersentak bangun. Napasnya memburu terengah-engah, dengan dada yang naik-turun tak beraturan. ​"Mas, ini aku, Vanya," bisik Vanya lembut. ​Dengan sigap, Vanya meraih segelas a

  • ANESTESI RINDU   BAB 133 KUMPULAN BUKTI

    Kenan meletakkan liontin itu di atas telapak tangan dengan hati-hati. Menggunakan ujung pinset kecil yang ia ambil dari saku kemejanya, Kenan menekan bagian sela engsel liontin yang tersembunyi dengan penuh kehati-hatian.​Klik.​Liontin itu terbuka. Disisi sebelah kanan berisi foto dua orang anak kecil yang sedang duduk di atas ayunan kayu. Anak kecil itu adalah Kenan dan Rossa saat ia masih berusia lima tahun. Kenan terpaku sejenak, menatap wajah ceria Rossa kecil yang membuat mata tajamnya berkaca-kaca.Ia memejamkan mata sejenak, mengusap titik air di sudut matanya. Lalu, ia kembali menekan pinset pada sisi sebelah kiri yang luput dari pantauan Devan dan Vanya ketika pertama kali membuka liontin itu. Keberadaan foto masa kecil Rossa dan Kenan, telah mengalihkan perhatian mereka saat itu.Tanpa diduga, sisi kiri liontin itu kembali terbuka dengan bunyi 'Klik' pelan. Di dalam rongga kecil berbentuk lingkaran itu terselip sebuah kartu MicroSD yang dibalut pelindung plastik tipis agar

  • ANESTESI RINDU   BAB 132 KEBENARAN YANG TERKUNCI

    ​"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenan sambil melangkah mendekat ke ranjang Devan. ​"Sudah lebih baik." ​Kenan menarik kursi di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap Devan dengan wajah tenang. "Ternyata kamu sudah benar-benar bisa melupakan perasaanmu pada adikku." ​Devan menghirup udara perlahan untuk meredakan rasa nyeri pada lukanya. "Hidup harus tetap berjalan, bukan?" jawabnya ringan sambil merapikan bantal, mencari posisi bersandar yang nyaman. ​Kenan tertawa kecil. "Pengorbanan ini sungguh luar biasa. Gadis itu dicintai dengan sepenuh hati, bahkan nyawa pun rela kau berikan." ​Devan terdiam. Bayangan kejadian di gudang tua itu kembali mengusik alam sadarnya. Bagaimana Adam melucuti pakaian yang melekat pada tubuh Vanya dan hampir merenggut kesuciannya, juga rasa panas dari dua peluru yang bersarang di punggungnya. Baginya, hukuman seumur hidup di penjara saja rasanya belum cukup untuk menebus dosa pria itu. ​"Dari mana kau tahu aku terluka kare

  • ANESTESI RINDU   BAB 131 BERDAMAI

    "Yang ini bagus kan?" Vanya menyodorkan majalah pernikahan dari vendor yang ditunjuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Gambar baju pengantin yang Vanya inginkan terpampang jelas di hadapan Devan. Laki-laki itu melirik sambil menikmati buah potong di tangannya. "Bagus, sayang. Tapi yang benar aja, masa aku pakai baju warna ungu terang gitu." Gerutu Devan karena setelah gambar kesepuluh, Vanya masih saja meminta agar baju resepsi mereka harus berwarna Ungu atau Pink. "Warna gold sudah banyak yang pakai, sayang. Aku maunya kita beda." Protes gadis itu sambil membalik majalah di tangannya. Devan menghela nafas panjang sambil bersandar santai di atas tumpukan bantal. Di hari kesepuluh ia di rawat, luka pada punggungnya sudah sedikit membaik. ​"Beda sih beda, tapi kalau aku pakai hot pink, yang ada para perawat dan residen bukannya hormat malah menertawakanku di koridor rumah sakit, Vanya," sahut Devan pasrah, meletakkan tusuk buahnya ke piring kecil. ​Vanya mengerucutkan bib

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menata

  • ANESTESI RINDU   BAB 38 DINDING INGATAN

    Suara decit ban mobil yang beradu tajam dengan aspal parkiran rumah sakit memecah keheningan parkir rumah sakit siang itu. Devan keluar dari mobilnya bahkan sebelum mesin benar-benar mati sempurna. Ia mengabaikan setelan jas mahalnya yang kini tampak berantakan, satu-satunya fokus di kepalanya hanya

  • ANESTESI RINDU   BAB 37 HILANG INGATAN

    Suasana di dalam ruang ICU bangsal nomor dua, Vanya masih belum sadarkan diri. Bram dengan setia mematuhi perintah Devan untuk terus memantau kondisi gadis itu. Ia melangkah pelan mendekati ranjang Vanya, suara langkahnya menggema di atas lantai ICU rumah sakit yang dingin. Di ruangan itu, hanya te

  • ANESTESI RINDU   BAB 36 KETULUSAN YANG TIDAK BISA DIBELI

    "Maaf, kamu siapa, Nak?" suara lemah namun ramah itu keluar dari mulut Kemuning saat ia membuka pintu jati di depan rumahnya yang asri. ​"Saya Aurelia, Bu. Temannya Vanya," jawab Aurel dengan nada yang dijaga setenang mungkin. ​Kemuning sedikit terperanjat, matanya yang mulai sayu tampak berbinar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status