ANESTESI RINDU

ANESTESI RINDU

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-09
โดย:  Yoonginaอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
6บท
15views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Menjadi residen bedah bukan hanya soal berpacu dengan maut di meja operasi, tapi juga ujian mental menghadapi dr. Devan. Dia jenius, spesialis bedah paling disegani, dan memiliki wajah yang bisa menghentikan detak jantung. Sayangnya, hatinya sedingin ruang mayat dan mulutnya setajam pisau bedah. ​Bagi Devan, wanita hanyalah pengganggu. Namun, bagi Vanya, sikap dingin itu justru sebuah tantangan. ​Di antara jadwal jaga malam yang gila dan tekanan di ruang operasi, sebuah misi rahasia dimulai. Bukan sekedar mendapatkan persetujuan medisnya, tapi juga meruntuhkan tembok es yang membalut hatinya. Apakah sang residen nekat ini akan berhasil melakukan "bedah hati" pada sang dokter spesialis yang tak tersentuh, atau justru Devan yang akan terjebak dalam perasaannya sendiri, disaat juga harus menghadapi perjodohan dengan wanita pilihan orang tua?

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

BAB 1 PROYEK BEDAH HATI

​"Skalpel."

​Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Devan, namun mampu membekukan seluruh isi ruang operasi nomor tiga. Suara monitor vital sign menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan yang suhunya disetel sangat rendah itu.

​Vanya menahan napas di balik masker bedahnya. Matanya terpaku pada tangan suster bedah di seberang meja yang sedikit gemetar saat menyerahkan pisau tajam itu ke telapak tangan Devan yang terbungkus sarung tangan lateks.

​Devan memang tidak membentak, tapi aura dingin dan tatapan tajam yang dia tunjukkan justru jauh lebih menakutkan daripada amukan kepala departemen mana pun di Rumah Sakit ini.

Di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan, pria itu bekerja dengan gerakan yang mengerikan. Cepat, bersih, dan tanpa keraguan sedikit pun. Jemarinya menari lincah di antara jaringan dan darah, seolah-olah dia sedang memperbaiki mesin jam tangan mewah, bukan sedang menangani pendarahan arteri manusia yang sekarat.

"Terjadi pendarahan cukup banyak di arteri mesenterika," suara Devan terdengar seperti vonis mati jika bukan dia yang memegang kendali. "Cepat, suction lebih banyak. Aku tidak bisa melihat apa-apa di dalam sana."

​Suara mesin suction yang menyedot darah itu terdengar kencang, beradu dengan bunyi alarm monitor jantung yang mulai melengking tidak stabil. Tekanan darah pasien menurun drastis.

​"Vanya, pegang retractor ini," perintah Devan tanpa menoleh. "Jangan biarkan tanganku terhalang. Kalau kamu bergeser satu milimeter saja dan aku salah menjahit, pasien ini tidak akan pernah bangun lagi. Paham?"

​Vanya menelan ludah. Ia memegang alat penarik jaringan itu dengan kedua tangan. Otot lengannya mulai terasa kaku karena harus menahan posisi yang sama selama hampir dua puluh menit, tapi dia tidak berani mengeluh. Dia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari Devan, padahal keringat mulai menetes di pepilis pria itu.

​"Saturasi turun ke delapan puluh!" seru dokter anestesi dengan nada cemas.

​"Tenang," potong Devan tajam. Suaranya rendah, namun membuat semuanya terbungkam.

"Vanya, tarik sedikit lagi ke samping kiri. Sekarang."

​Vanya bergerak mengikuti instruksi Devan. Dia melihat jemari Devan bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Menggunakan benang bedah halus, Devan mulai menambal pembuluh darah yang robek dengan gerakan yang membuat Vanya terpana.

​Setiap tusukan jarum ke jaringan organ manusia begitu berisiko. Vanya menahan napas, matanya tak berkedip melihat bagaimana Devan mengikat simpul hanya satu tangan dengan cepat.

​Vanya bergerak maju selangkah, ingin melihat lebih jelas teknik jahitan yang sedang dilakukan Devan. Itu teknik rumit yang hanya pernah dia baca di jurnal medis internasional. Namun, gerakan Devan terhenti mendadak melihat reaksi Vanya.

​"Residen!"

​Suara bariton itu memecah konsentrasi ruang operasi. Kali ini, sepasang mata tajam di balik kacamata pelindung itu melirik lurus ke arah Vanya. Tatapan itu dingin, tajam, dan menusuk bola mata Vanya.

​"Kalau kamu hanya berdiri di sana untuk mengagumi hasil kerjaku, lebih baik kamu keluar sekarang," ucap Devan, nadanya setenang air namun menyakitkan. "Pasien ini butuh dokter yang siaga, bukan penonton. Pegang yang benar Retractornya!"

​Darah Vanya berdesir naik ke wajah. Beberapa perawat menunduk, takut terkena imbas kemarahan Devan. Vanya mengeratkan genggamannya pada alat bedah yang tengah menahan jaringan tubuh pasien di hadapannya sesuai intruksi Devan.

Ah, jadi ini rasanya berada satu ruangan dengan dokter tampan yang dingin dan galak itu? batinnya. Jantungnya berdetak, bukan karena takut, tapi mengagumi salah satu ciptaan tuhan yang sangat indah dipandang mata walau wajah sang dokter tersembunyi di balik masker dan kacamata pelindung.

​"Maaf, Dok," jawab Vanya, suaranya terdengar pelan di tengah keheningan. Matanya membalas tatapan Devan tanpa gentar. "Saya hanya sedang memastikan saya merekam teknik Dokter di otak saya, supaya saya tidak perlu jadi penonton lagi."

​Mata Devan menyipit sepersekian detik, terkejut dengan sikap Vanya yang berani menjawab tegurannya. Akhirnya ia kembali memalingkan wajah ke bagian tubuh pasien.

​"Lepas Klem," Devan memberi instruksi setelah beberapa menit berlalu.

​Semua orang dalam ruangan terdiam. Ini adalah momen penentuan. Jika jahitan Devan gagal, darah akan menyembur dan semuanya berakhir. Namun, saat klem dibuka, darah mengalir dengan lancar di jalurnya. Tidak ada kebocoran.

​Bunyi monitor jantung yang tadinya melengking panik, perlahan kembali ke ritme yang teratur.

​Devan menghela napas panjang, merasa lega karena dia baru saja berhasil melewati lubang jarum. Dia melirik Vanya yang masih memegang retractor dengan buku jari yang memutih dibalik sarung tangan lateks, karena terlalu kencang memegang alat. "Lepaskan alatnya, Residen." Ucap Devan.

"Operasi selesai. dr. Bram, lakukan penutupan." Tambahnya pada residen senior dan melepas sarung tangan lateksnya yang berlumuran darah dengan sekali sentakan, membuangnya ke tempat sampah medis tanpa ekspresi.

​Vanya meregangkan otot bahunya yang terasa mau copot. "Teknik yang luar biasa, Dok. Saya belum pernah melihat anastomosis secepat itu."

​Devan berhenti di depan pintu otomatis ruang operasi. Dia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang masih sedingin es. "Jangan memujiku. Fokus saja pada laporan operasimu. Kalau ada satu salah ketik di laporan itu, lebih baik pindah ke bidang lain."

​Pintu geser terbuka, dan Devan melangkah keluar dengan angkuh, meninggalkan Vanya yang masih terpaku di samping meja operasi yang berantakan.

Vanya masih bisa mencium aroma sisa antiseptik dan hawa dingin yang ditinggalkan Devan, bahkan setelah pintu otomatis itu tertutup rapat. Ia menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya kembali terisi oksigen setelah nyaris mati lemas menahan napas selama operasi tadi.

​"Gila," bisik Siska, sesama residen sekaligus sahabatnya yang baru saja selesai membereskan peralatan sisa operasi. "Lo tadi menjawab dr. Devan? Di depan seluruh tim? Van, Lo punya nyawa cadangan berapa?"

​Vanya tidak langsung menjawab. Ia melepas masker bedahnya, menyingkap wajah yang kini memerah, bukan karena malu, tapi karena rasa berbeda yang ia rasakan mengingat hasil kerja Devan yang mengagumkan. "Dia memang kaku , tapi teknik jahitannya... itu seni, Sis."

​"Seni yang bisa membunuh karier Lo kalau Lo berani macam-macam," Siska memperingatkan sambil berjalan keluar. "Jangan lupa pesan 'Pangeran Es' tadi. Satu salah ketik di laporan, dan Lo tamat."

Vanya hanya tersenyum tipis.

Lima belas menit berlalu setelah selesai membersihkan diri, Vanya tidak menuju ruang istirahat residen. Ia membawa kakinya melangkah menuju koridor lantai lima, area sunyi yang menuju kantor pribadi para spesialis bedah.

​Lampu koridor mulai meredup, menandakan pergantian shift malam yang sepi. Vanya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu ek berwarna gelap dengan papan nama perak bertuliskan : dr. Devan Alaric, Sp.B.

​Ia tidak mengetuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap bayangan cahaya dari celah bawah pintu. Devan belum pulang.

​Tiba-tiba, pintu itu terbuka secara mendadak.

​Vanya tersentak, dengan cepat melangkah mundur. Di sana, Devan berdiri tanpa jas putihnya, hanya mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengan berkulit putih, yang tadi bekerja begitu perkasa di meja operasi. Tanpa masker dan kacamata, ketampanannya terasa jauh lebih "berbahaya".

​Mata Devan memicing saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. "Laporanmu sudah selesai?"

​"Belum memulai Dok,," jawab Vanya jujur, mencoba tetap tenang di bawah tatapan tajam pria itu.

​"Lalu kenapa kamu berdiri di depan kantorku seperti maling?"

​Vanya memiringkan kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap tepat ke manik mata Devan yang berwarna coklat madu. "Saya hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi dan,,," Vanya terdiam sesaat memandang wajah sempurna di depannya.

",,,Sejak kedatangan saya di Rumah Sakit ini, kita belum berkenalan lebih dekat. Saya merasa perlu mengenal lebih jauh mentor saya di Rumah Sakit ini." Ujar Vanya, terdengar jelas ia mengarang sebuah alasan bodoh.

​Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Devan melangkah maju, satu langkah yang memaksa Vanya menyandar ke tembok koridor yang dingin. Pria itu menunduk, jarak mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter. Aroma kopi pahit dan sabun maskulin yang tajam menyerbu indra penciuman Vanya.

​"Dengarkan aku baik-baik, Residen," suara Devan kini lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menggetarkan tulang. "Rumah sakit ini bukan tempat untuk berbasa basi!Selesaikan laporanmu, atau besok pagi namamu tidak akan ada di jadwal operasi mana pun."

​Devan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor sepi.

​Vanya tetap berdiri di sana, menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, Devan baru saja mengeluarkan ancaman karena merasa terganggu dengan keberadaan Vanya di depan ruang kerjanya. Namun, aura dingin itu justru membuatnya merasakan jatuh cinta lagi setelah gagal menjalin hubungan dengan mantan kekasih di masa lalu.

​Vanya mengambil ponsel dari sakunya, membuka sebuah catatan baru berjudul, "Proyek Bedah Hati: Target dr. Devan Alaric".

​Ia mengetik satu baris di sana, "dr. Devan benci jika ada yang mencoba mengenalnya lebih dekat. Sangat dingin dan galak."

​Senyum Vanya melebar. Tujuannya untuk bisa meruntuhkan gunung es yang baru saja menghilang dibalik koridor, akan dimulai.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
6
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status