LOGINMenjadi residen bedah di bawah pengawasan dr. Devan Alaric bukan sekadar tentang berpacu dengan maut di meja operasi, melainkan ujian mental yang menguras kewarasan. Devan adalah seorang dokter bedah yang jenius dengan paras yang mampu menghentikan detak jantung, namun memiliki hati sedingin ruang mayat dan lisan yang jauh lebih tajam daripada pisau bedah yang ia genggam. Bagi Devan, wanita hanyalah gangguan dalam hidupnya. Sejak kehilangan Rossa dalam kecelakaan tragis setahun lalu, Devan telah menyuntikkan ‘Anestesi Rindu’ ke dalam nadinya sendiri, sebuah upaya paksa untuk mematirasakan hati dari trauma dan kerinduan mendalam karena rasa bersalah atas bayang-bayang masa lalu. Namun, kehadiran Vanya merubah segalanya. Sebagai residen yang penuh tekad, Vanya tidak gentar menghadapi tembok es yang dibangun Devan. Baginya, Devan bukan sekedar mentor, melainkan pria yang harus ia "sembuhkan" dari luka lama. Tanpa disadari, upaya Vanya untuk meruntuhkan pertahanan Devan justru menyeretnya ke dalam pusaran rahasia gelap yang melibatkan dua keluarga besar, Alaric dan Harrington.
View More"Cita-citaku menjadi dokter, karena aku sangat senang melihat orang-orang bisa sehat kembali seperti sedia kala karena pertolonganku. Tapi, bertemu dengan mentor seorang dokter spesialis bedah yang sangat tampan, itu bonus."
- Vanya Naomi - *** "Gimana rasanya berada di ruang operasi dengan dr. Devan?" Tanya Vanya tak sabar saat melihat Siska keluar dari ruang operasi karena telah diberikan kesempatan pertama menjadi asisten bedah dokter tampan itu. Mereka adalah residen yang baru bergabung selama tiga bulan di Rumah Sakit Medika dan antusias saat sesi perkenalan, bisa mendapatkan mentor setampan Devan. "Gila, sih. Nggak cuma tampan, tapi cerdas dan cepat. Tangannya itu loh, bertindak tanpa ragu-ragu." Sanjung Siska sambil membuka laptopnya bersiap untuk membuat laporan hasil operasi yang diminta Devan. "Ih, gue jadi nggak sabar mau cepat-cepat besok." Ujar Vanya yang mendapat kesempatan menjadi asisten bedah bersama Devan untuk jadwal operasi besok. "Jangan sampai naksir ya," "Kenapa?" "kejauhan levelnya hahaha..." "Sialan!" Sahut Vanya ikut tertawa. Ia menopang tangannya di dagu, membayangkan berada dalam satu ruangan dengan Devan yang menjadi idola semua dokter wanita dan perawat di Rumah Sakit ini. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang saat melihat Devan yang baru saja melangkah keluar dari ruang operasi. "Ya tuhan, Sis. Ganteng banget!" bisik Vanya menatap sosok Devan yang terus berjalan lurus kearah mereka. "Sore, dok." Sapa Vanya berdiri secepat mungkin sebelum Devan berlalu. Laki-laki itu hanya menoleh sekilas dan mengangguk singkat lalu melanjutkan langkahnya. *** "Skalpel." Hanya satu kata yang meluncur dari bibir Devan, namun mampu membekukan seluruh isi ruang operasi nomor tiga. Paling tidak, itu yang Vanya rasakan. Sifat dingin dan galak Devan memang sudah terkenal seantero Rumah Sakit. Tapi justru itu yang menambah daya tarik Devan. Suara monitor vital sign terdengar menjadi satu-satunya tanda kehidupan di ruangan dingin itu. Vanya menahan napas di balik masker bedahnya. Matanya terpaku pada tangan suster bedah di seberang meja yang sedikit gemetar saat menyerahkan pisau tajam itu ke telapak tangan Devan yang terbungkus sarung tangan lateks. Devan tidak membentak, tapi aura dingin dan tatapan tajam yang dia tunjukkan terlihat menakutkan daripada amukan kepala departemen mana pun di Rumah Sakit ini. Di bawah sorot lampu operasi yang menyilaukan, pria itu bekerja dengan gerakan yang mengerikan. Cepat, bersih, dan tanpa keraguan sedikit pun. Benar apa yang diceritakan Siska. Jemari Devan menari lincah di antara jaringan dan darah, seolah-olah dia sedang memperbaiki mesin jam tangan mewah, bukan sedang menangani pendarahan arteri manusia yang sekarat. "Terjadi pendarahan cukup banyak di arteri mesenterika," suara Devan terdengar tegas tanpa menghentikan gerakan tangannya di organ tubuh pasien. "Cepat, suction lebih banyak. Aku tidak bisa melihat apa-apa di dalam sana." Perawat dengan sigap melaksanakan perintah Devan sebelum ia berkata lebih dingin dari suhu di ruangan ini. Suara mesin suction yang menyedot darah itu terdengar kencang, beradu dengan bunyi alarm monitor jantung yang mulai melengking tidak stabil. Tekanan darah pasien menurun drastis! "Vanya, pegang retractor ini," perintah Devan tanpa menoleh. "Jangan biarkan tanganku terhalang. Kalau kamu bergeser satu milimeter saja dan aku salah menjahit, pasien ini tidak akan pernah bangun lagi. Paham?" Vanya menelan ludah. Ia memegang alat penarik jaringan itu dengan kedua tangan. Otot lengannya mulai terasa kaku karena harus menahan posisi yang sama selama hampir dua puluh menit, tapi dia tidak berani mengeluh. Dia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari Devan, padahal keringat mulai menetes di pepilis pria itu. "Saturasi turun ke delapan puluh!" seru dokter anestesi dengan nada cemas. "Tenang," potong Devan tajam. Suaranya rendah, namun membuat semuanya terbungkam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara. "Vanya, tarik sedikit lagi ke samping kiri. Sekarang." Vanya bergerak mengikuti instruksi Devan. Dia melihat jemari Devan bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Menggunakan benang bedah halus, Devan mulai menambal pembuluh darah yang robek dengan gerakan yang membuat Vanya terpana. Setiap tusukan jarum ke jaringan organ manusia begitu berisiko, tapi tidak untuk Devan. Vanya sampai menahan napas, matanya tak berkedip melihat bagaimana Devan mengikat simpul hanya satu tangan dengan cepat. Vanya bergerak maju selangkah, ingin melihat lebih jelas teknik jahitan yang sedang dilakukan Devan. Itu teknik rumit yang hanya pernah dia baca di jurnal medis internasional. Namun, gerakan Devan terhenti mendadak melihat reaksi Vanya. "Residen!" Suara bariton itu memecah konsentrasi ruang operasi. Kali ini, sepasang mata tajam di balik kacamata pelindung itu melirik lurus ke arah Vanya. "Kalau kamu hanya berdiri di sana untuk mengagumi hasil kerjaku, lebih baik kamu keluar sekarang," ucap Devan, nadanya setenang air namun menyakitkan. "Pasien ini butuh dokter yang siaga, bukan penonton. Pegang yang benar Retractornya!" Darah Vanya berdesir naik ke wajah. Beberapa perawat menunduk, takut terkena imbas kemarahan Devan. Vanya mengeratkan genggamannya pada alat bedah yang tengah menahan jaringan tubuh pasien di hadapannya sesuai intruksi Devan. Ah, jadi ini rasanya berada satu ruangan dengan dokter tampan yang dingin dan galak itu? batinnya. Jantungnya berdetak, bukan karena takut, tapi mengagumi salah satu ciptaan tuhan yang sangat indah dipandang mata walau wajah sang dokter tersembunyi di balik masker dan kacamata pelindung. "Maaf, Dok," jawab Vanya, suaranya terdengar pelan di tengah keheningan. Matanya membalas tatapan Devan tanpa gentar. "Saya hanya sedang merekam teknik Dokter di otak saya, supaya tidak perlu jadi penonton lagi." Mata Devan menyipit sepersekian detik, terkejut dengan sikap Vanya yang berani menjawab tegurannya. Akhirnya ia kembali memalingkan wajah ke bagian tubuh pasien. "Lepas Klem," Devan memberi instruksi setelah beberapa menit berlalu. Semua orang dalam ruangan terdiam. Ini adalah momen penentuan. Jika jahitan Devan gagal, darah akan menyembur dan semuanya berakhir. Namun, saat klem dibuka, darah mengalir dengan lancar di jalurnya. Tidak ada kebocoran. Bunyi monitor jantung yang tadinya melengking panik, perlahan kembali ke ritme yang teratur. Devan menghela napas panjang, merasa lega karena dia baru saja berhasil melewati lubang jarum. Dia melirik Vanya yang masih memegang retractor dengan kencang. "Lepaskan alatnya, Residen." Ucap Devan. "Operasi selesai. dr. Bram, lakukan penutupan." Tambahnya pada residen senior dan melepas sarung tangan lateksnya yang berlumuran darah dengan sekali sentakan, membuangnya ke tempat sampah medis tanpa ekspresi. Vanya meregangkan otot bahunya yang terasa mau copot. "Teknik yang luar biasa, Dok. Saya belum pernah melihat anastomosis secepat itu." Devan menoleh, memberikan tatapan yang masih sedingin es. "Jangan memujiku. Fokus saja pada laporan operasimu. Kalau ada satu salah ketik di laporan itu, lebih baik pindah ke bidang lain." Pintu geser terbuka, dan Devan melangkah keluar dengan angkuh, meninggalkan Vanya yang masih terpaku di samping meja operasi yang berantakan. "Gila," bisik Siska, sesama residen sekaligus sahabatnya yang baru saja selesai membereskan peralatan sisa operasi. "Lo tadi menjawab dr. Devan? Di depan seluruh tim? Van, Lo punya nyawa cadangan berapa?" Vanya tidak menjawab. Ia melepas masker bedahnya, menyingkap wajah yang kini memerah, bukan karena malu, tapi karena rasa berbeda yang ia rasakan mengingat hasil kerja Devan yang mengagumkan. "Lo benar, teknik jahitannya benar-benar mengagumkan... itu bukan sekedar ahli, tapi seni, Sis." "Seni yang bisa membunuh karier Lo kalau Lo berani macam-macam," Siska memperingatkan sambil berjalan keluar. "Jangan lupa pesan 'Pangeran Es' tadi. Satu salah ketik di laporan, dan Lo tamat." Vanya hanya tersenyum manis, semua gerakan Devan di meja operasi tadi telah melekat erat di benaknya. 'Gawat!Perasaanku sudah semakin dalam padanya,' Vanya menghela nafas panjang mencoba merutuki hatinya yang kini sudah mengunci sebuah nama : Devan. *** Lima belas menit berlalu setelah selesai membersihkan diri, Vanya tidak menuju ruang istirahat residen. Ia membawa kakinya melangkah menuju koridor lantai lima, area sunyi yang menuju kantor pribadi para dokter spesialis bedah. Vanya berhenti tepat di depan sebuah pintu berwarna gelap dengan papan nama perak bertuliskan : dr. Devan Alaric, Sp.B. Ia tidak mengetuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap bayangan cahaya dari celah bawah pintu. Devan belum pulang. Hingga ia terperanjat karena tiba-tiba, pintu itu terbuka secara mendadak. Dengan cepat gadis itu melangkah mundur. Di sana, Devan berdiri tanpa jas putihnya, hanya mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengan berkulit putih, yang tadi bekerja begitu perkasa di meja operasi. Tanpa masker dan kacamata, ketampanannya terasa jauh lebih "berbahaya". Mata Devan memicing saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. "Laporanmu sudah selesai?" "Belum memulai Dok," jawab Vanya jujur, mencoba tetap tenang di bawah tatapan penuh selidik pria itu. "Lalu kenapa kamu berdiri di depan kantorku seperti maling?" Vanya memiringkan kepalanya sedikit, memberanikan diri menatap tepat ke manik mata Devan yang berwarna coklat madu. "Sejak kedatangan saya, kita belum berkenalan lebih dekat. Saya merasa perlu mengenal lebih jauh mentor saya di Rumah Sakit ini,,," Vanya membeku menyesali kata-kata jujur yang meluncur begitu saja saat memandang wajah sempurna di depannya. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Devan melangkah maju dengan perlahan, satu langkah yang memaksa Vanya menyandar ke tembok koridor yang dingin. Pria itu menunduk, jarak mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter. Aroma tubuh Devan yang maskulin menyerbu indra penciuman Vanya. "Jadi kamu ingin mengenalku lebih dekat?" bisiknya di depan wajah Vanya yang memerah karena tidak mampu menjawab. "Dengarkan aku baik-baik, Residen," suara Devan semakin rendah. "Rumah sakit ini bukan tempat untuk berbasa basi! Selesaikan laporanmu, atau mulai besok namamu tidak akan ada di jadwal operasi mana pun." Devan menatap Vanya sejenak dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor sepi. Vanya tetap berdiri di sana, menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, Devan baru saja mengeluarkan ancaman karena merasa terganggu dengan keberadaan Vanya di depan ruang kerjanya. Vanya mengambil ponsel dari sakunya, membuka sebuah catatan baru berjudul, "Proyek Bedah Hati: Target dr. Devan Alaric". Ia mengetik satu baris kalimat di sana : Warna Favorite dr. Devan adalah Biru karena selalu memakai kemeja warna Biru, Parfum maskulinnya tercium seperti kayu cendana yang segar, selalu pulang dari Rumah Sakit setiap pukul 17.00 sore kalau tidak ada operasi lanjutan atau tidak ada panggilan mendesak. Senyum Vanya melebar, menatap beberapa catatan kecil tentang Devan yang sudah ia kumpulkan untuk bisa mencari celah mendekati pria itu. "Lihat saja, dok. Aku pasti bisa membuatmu lupa pada masa lalumu...!""Kalian lihat berita kemarin?" tanya salah satu perawat dengan nada berbisik namun antusias. "Istri Henry Harrington terbukti menukar anak kandungnya dengan anak kandung Tuan Henry sendiri," sahut seorang residen sambil menatap layar ponselnya. "Maksudnya... Evelyn bukan anak kandung Henry Harrington?" "Ternyata putri kandungnya itu Vanya—" "Gila! Benar-benar seperti cerita dalam sinetron, putri yang ditukar." Seorang perawat lain menimpali, "Dan ini terjadi pada teman kita sendiri. Pantas saja dr. Devan meninggalkan Evelyn. Ternyata dia lebih memilih anak kandung Harrington yang sebenarnya." "Iya, kalian benar. Itulah alasannya Mas Devan meninggalkan aku." Suara angkuh dan sinis itu mendadak terdengar dari balik punggung para residen dan perawat yang tengah asyik bergosip. Seketika, suasana IGD yang bising menjadi hening setelah kedatangan Evelyn. "Evelyn!" seru mereka hampir bersamaan. Wajah mereka pucat pasi mendapati Evelyn sudah berdiri di sana dengan tatapan tajam
Ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi oleh ketegangan. Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredakan hawa panas yang terpancar dari barisan kursi pengunjung. Di sisi kanan, Henry Harrington duduk dengan punggung tegak, namun guratan di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kehancuran hatinya. Di sampingnya, Frans datang menemani Henry mengikuti persidangan Shinta dengan rahang mengeras. Di kursi pesakitan, Shinta Harrington duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada lagi keanggunan nyonya besar yang biasanya ia pamerkan. Dengan memakai kemeja putih dan rok hitam, kondisinya terlihat sungguh memprihatinkan. Di sayap kiri bangku pengunjung, terlihat Dr. Gunawan, adik kandung Shinta datang bersama beberapa anggota keluarga untuk memberi dukungan agar kakaknya tidak merasa sendirian. Apalagi, sejak Devan berhasil membongkar rahasia dua puluh enam tahun silam, Evelyn tidak mau lagi menemui mamanya di penjara. "Terdakwa Shinta Harrington," suara berat Hakim Ketua mem
Langkah kaki Devan yang panjang dan tergesa membuat Vanya hampir kehilangan keseimbangan saat mereka memasuki area nurse station IGD yang mulai sepi. Tanpa mempedulikan tatapan bertanya-tanya dari Siska yang masih berjaga, Devan menarik Vanya menuju ruangan residen. Vanya membuka pintu ruang residen dengan keras. Beberapa residen yang sedang beristirahat di dalam terkejut dan memandang kearah pintu. "Malam, dr. Devan," sapa beberapa residen yang melihat Devan berdiri di belakang Vanya. "Malam," sahutnya datar melanjutkan langkahnya mengikuti Vanya ke meja kerjanya yang ada di sudut ruangan. Bisikan-bisikan para residen yang melihat kebersamaan mereka terdengar mengiringi langkah Devan saat masuk kedalam. "Sttt, bukannya dr. Devan itu tunangan Evelyn ya?" "Kamu belum tahu? dr. Devan sudah mengakhiri hubungan mereka." "Yang benar?" "Ah masa? padahal sebentar lagi kabarnya mereka akan menikah." "Terus sekarang malah pacaran dengan Vanya? Apa hubungan mereka berakhir karena Vanya
"Jangan bercanda Deline. Ini masalah serius. Lagipula, aku penasaran, ada hubungan apa antara Kenan dengan kalian sampai dia mencelakai Rossa." Desis Devan dengan rahang mengeras. Deline semakin terisak seiring dengan suara detak jantung di layar monitor yang terdengar berirama cepat. Menyadarkan Devan untuk kembali pada situasi Deline saat ini. "Deline, sudah cukup. Jangan pikirkan apa-apa dulu. Jangan pikirkan hal-hal yang berat." Ucap Devan menurunkan nada suaranya. "Tapi aku takut, Mas." Lirihnya berbisik. "Jangan takut. Aku akan menjagamu di luar pintu ICU malam ini. Besok, kamu akan bergabung di kamar perawatan Tifani dan Jesi." Devan terus mencoba menenangkan Deline agar jantungnya kembali stabil. Ia terpaksa memberikan obat penenang ringan melalui aliran infus Deline. Cairan bening itu mengalir perlahan, masuk ke dalam pembuluh darah untuk meredam kepanikan yang nyaris membuat ritme jantung gadis itu kacau. "Tidur, Del. Aku di sini," bisik Devan sambil mengatur k
Dengan cepat Frans melangkah mendekati putranya yang diam mematung di depan pintu ruang operasi satu. PLAK! Tanpa basa basi, sebuah tamparan keras di pipi Devan membuat semua perawat yang berada di nurse station ruang operasi menutup mulut mereka, terkejut melihat amarah seorang Frans Alaric.
"Apa! Devan tidak datang ke butik?" Wajah murka Frans Alaric memenuhi ruang kerjanya saat asistennya memberi kabar, kalau Devan pergi dari rumah sakit dengan terburu-buru. "Hubungi anak itu! Sekarang!" Sang Asisten segera melaksanakan perintahnya dengan meraih ponsel dan menekan nomor Devan. "
Vanya menyentuh bibirnya tak percaya. "Kami berciuman?dokter Devan membalas ciumanku?" Gumamnya sambil terus berjalan meninggalkan ruang kerja Devan. Bibirnya membentuk senyum manis membayangkan kejadian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Vanya terus berjalan dengan pikiran yan
"Dua hari lagi kita akan bertunangan," ujar Evelyn pagi ini dengan nada penuh penekanan saat mereka baru saja tiba di area parkir rumah sakit. Keduanya turun dari sedan hitam milik Devan. Pagi tadi, Frans dan Vida Alaric memberikan perintah yang tidak bisa dibantah. Devan wajib menjemput Evelyn s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews