LOGINDevan Alaric, seorang Dokter Spesialis Bedah yang sangat tampan, merasakan dunianya telah hilang bersama kepergian sang kekasih, Rossa, yang meninggal akibat kecelakaan tepat di hari jadi mereka. Hingga kehadiran seorang residen spesialis bedah di Rumah Sakit Medika Center bernama Vanya Naomi, yang jatuh cinta pada pandangan pertama, mencoba masuk kedalam hati Devan dan berusaha mengobati rasa trauma masa lalu yang telah menjadikan Devan sosok dingin dan tidak mudah tersentuh. Perjalanan kisah Vanya mendekati Devan tidak seindah seperti pasangan biasanya, tapi masa lalu yang masih menghantui mereka membawa keduanya pada teka teki misteri kehidupan keluarga penguasa Harrington dan Alaric.
View MoreSuasana di koridor depan ruang bersalin VIP RS Medika Center siang itu benar-benar menguji ketahanan mental siapa pun yang lewat. Di dalam ruangan, singa betina yang telah lama tidur kini resmi terbangun kembali demi menyambut kelahiran anak keduanya. Sherin yang kini sudah berusia empat tahun duduk manis di kursi tunggu koridor, mengenakan gaun merah muda yang mengembang. Di sebelah kanan dan kirinya, Om Bram dan Om Nathan bertindak sebagai pengawal pribadi sekaligus sasaran empuk pertanyaan kritis sang bocah. "Om Nathan, kenapa Mommy teriak-teriak panggil Daddy di dalam? Mommy lagi berantem ya sama Daddy?" tanya Sherin polos, mendongak menatap Nathan dengan mata bulatnya yang jernih. Nathan meringis, meraba kepalanya sendiri seolah bisa merasakan trauma rambut dijambak saat Dila melahirkan anak pertama mereka. "Enggak, Sherin... Mommy lagi berjuang ngeluarin adik laki-laki buat Sherin. Nah, Daddy di dalam tugasnya jadi... sasaran Mommy." Bram yang duduk di sebelah mereka
Ruang kerja Kepala Departemen Bedah RS Medika Center yang biasanya rapi dan hanya dipenuhi dokumen medis, siang ini mendadak berubah fungsi menjadi zona bermain anak. Di atas karpet bulu tebal yang sengaja digelar di dekat meja kerja Devan, seorang balita perempuan berpipi gembul dengan kuncir dua berbentuk air mancur sedang duduk dengan tenang. Namanya Sherina Alaric, atau yang akrab dipanggil Sherin. Bocah berusia dua tahun itu kini sedang sibuk menyusun balok-balok mainan, sama sekali tidak mempedulikan dua dokter spesialis di hadapannya yang sudah tampak seperti rongsokan bernyawa. "Nath... tolonglah, Nath. Gantian," bisik Bram dengan suara serak, nyaris menyembah di depan Nathan. Jas dokter Bram sudah kusut tak berbentuk, kancing paling atasnya lepas, dan stetoskopnya kini justru terkalung pasrah di leher sebuah boneka beruang besar milik Sherin. "Nggak bisa, Bram! Perjanjiannya kan jelas. Jam satu sampai jam dua itu shift kamu yang jadi kuda-kudaan!" balas Nathan tak
"Lihat, Mas. Lucu banget, kan? Mirip banget sama kamu," bisik Vanya lembut, menatap lekat bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap dalam dekapannya.Devan tersenyum manis. Sepasang mata cokelat madunya menatap penuh haru ke arah makhluk suci itu, lalu dengan sangat hati-hati, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipi sang bayi."Iya, Sayang. Mirip sekali denganku," sahut Devan, suaranya melembut bahagia menyambut kehadiran bayi yang baru saja lahir ke dunia."Malam ini aku akan menjaganya," ucap Devan setengah berbisik, berhati-hati agar tidak membangunkan makhluk menggemaskan yang sedang terlelap itu."Aku juga mau menjaganya," protes Vanya langsung, melirik tak suka ke arah suaminya sambil mengerucutkan bibir.Devan terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas. "Kamu nanti kecapekan, Sayang.""Nggak! Aku nggak capek sama sekali. Pokoknya malam ini aku mau ikut menjaganya," keukeuh Vanya tidak mau kalah."Tapi kalau kamu kecapekan nanti bisa sakit, Sayang.""A
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian bedah dengan pakaian miliknya, Devan melangkah keluar dari area steril ruang operasi. Langkah kakinya yang panjang terdengar di sepanjang koridor lantai tiga yang sunyi. Begitu pintu geser otomatis menuju ruang tunggu terbuka, pandangan Devan langsung terkunci pada satu sosok mungil yang duduk di barisan kursi tunggu. Vanya ada di sana, sedang merapatkan kedua tangannya di depan dada, tampak menemani ketiga remaja Indonesia yang kini sudah jauh lebih tenang. Mendengar suara pintu terbuka, Vanya seketika mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Devan yang berjalan menghampiri dengan raut wajah lelah sekaligus lega karena telah berhasil menyelamatkan Dimas di meja operasi, Vanya langsung berdiri dari duduknya. Ketiga remaja itu pun ikut berdiri dengan tatapan penuh harap dan cemas. "Mas Devan..." lirih Vanya, melangkah beberapa langkah mendekati suaminya. Devan tersenyum tipis, tatapannya melembut khusus untuk istrinya sebe
Vanya berbalik dengan mata yang panas terbakar air mata. Di luar ruangan, ia melihat Evelyn berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya. "Selamat menikmati tugas administratifmu, Vanya," bisik Evelyn dengan nada puas saat Vanya melintas di dep
Vanya mempercepat langkahnya, berharap Adam tidak melihatnya berjalan menuju kafetaria. Namun, sepertinya sosok Vanya memang telah dinantikan. Dari sudut mata Adam, ia bisa melihat sosok Vanya melintas didepannya dengan tergesa. "Vanya, tunggu. Kita belum selesai bicara," panggil Adam mendekati.
Vanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu y
Pintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit. "Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews