LOGINSatu hal yang Farid syukuri terlahir sebagai bagian dari keluarga besar Al-Amar adalah mereka selalu memandang tinggi pendidikan meski hidup bergelimang harta. Senakal-nakalnya anak lelaki keluarga Al-Amar, tidak ada yang mengecap jenjang sekolah hanya sampai menengah atas. Sudah menjadi tradisi di lingkar keluarga itu bahwa para lelaki wajib menyelesaikan hingga minimal strata 2 sebelum memutuskan untuk menikah. Dan, jika setelah lulus belum dapat menghadirkan calon pendamping, maka pihak keluarga yang akan membantu menjodohkan.
“Jadi, mau Umi carikan, atau kamu yang cari sendiri?” Farid tertawa getir saat akhirnya pembicaraan yang tadinya santai, ternyata tetap harus menyinggung masalah jodoh. Padahal saat itu baru dua hari ia tiba kembali di Indonesia. Isi kopernya, pun belum sempat dikeluarkan semua. “Umi kira bakal dapat oleh-oleh dari Kairo,” goda Umi sembari melirik Abi. “Siapa tahu oleh-olehnya ketinggalan di Indonesia.” Abi malah menimpali dengan kocak. Keduanya saling menyahut sampai akhirnya Farid menegur dengan dehaman. “Umi saja yang carikan. Kalau cocok, Farid bersedia dijodohkan.” Sepasang mata Umi seketika tampak berseri. Perempuan paruh baya itu dengan manja merapat memeluk sebelah lengan Abi sambil tersenyum senang. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan pastinya saat seorang anak memasrahkan orang tua yang mencarikan jodoh untuknya. “Azizah itu sebaya dengan Farid, Umi maunya yang lebih muda. Kalau Karina anaknya Arshad, Umi kurang suka, terlalu ramah sama orang-orang. Kalau Izzati sebenarnya cocok, anaknya pemalu dan sopan, cuma Umi kurang sejalan dengan ibunya.” Andai Abi tidak memberi isyarat, Farid mungkin sudah tergelak melihat tingkah Umi. Sang ibu memasangkannya dengan gadis-gadis keluarga Al-Amar seolah-olah satu dari mereka sudah pasti bersedia berjodoh dengan Farid. “Kalau Nayla anaknya Soraya—“ “Nayla?” Tanpa sadar Farid menyela ucapan Umi. “Iya. Nayla yang ayahnya orang Palembang, anaknya Tante Soraya. Ibunya sering mengobrol dengan Umi setiap ketemu di arisan.” Umi menjawab dengan antusias. “Ini Umi punya fotonya.” Dada Farid berdebar kencang setiap Umi menyebut nama itu. Tak perlu foto karena Farid hafal luar kepala setiap detil indah wajah Nayla. Tiga tahun ia menahan rindu mati-matian, memantau dengan geram dari jauh setiap gadis itu memuat foto barunya berdua dengan sang pacar. Ingin rasanya detik itu juga Farid terbang ke Indonesia untuk mendatangi si pemuda agar menjauh dari Nayla. “Suami Soraya sedang dirawat di rumah sakit. Barusan Abi baca di group WA.” Abi menunjukkan ponsel pada Umi. “Katanya gangguan fungsi hati.” “Abi ada waktu hari ini? Umi juga sudah lama tidak jumpa dengan Soraya.” Ketika merasa sejenak diabaikan, Farid langsung bersemangat saat Umi menoleh padanya dan bertanya. “Farid ikut, ya.” *** Sebenarnya tidak banyak yang Farid harus selesaikan di kantor hari ini. Pertengahan bulan selalu membuat ritme pekerjaan lebih santai. Terkadang malah ia lebih senang berkantor di rumah, di pinggir kolam renang dengan celana pendek dan sandal jepit. Suara air selalu bisa membuat gerah pikirannya berubah sejuk. Hanya saja sekarang suasana di rumah jadi terasa ikut gerah sejak Nayla tinggal bersamanya. Gerah, karena perempuan itu lalu lalang di hadapan Farid tanpa bisa ia sentuh, sementara jelas-jelas ia punya hak milik atas Nayla. Sikap Nayla memang sudah jauh melunak dibanding saat awal kepindahannya di rumah Farid. Nayla sudah mulai beraktivitas layaknya di rumah sendiri. Tidak hanya berdiam di kamarnya di lantai tiga, Farid sempat mendapati Nayla asyik membaca majalah di halaman belakang di lantai satu. Niat Farid untuk ikut duduk menemani, ia urungkan saat melihat Nayla juga sedang asyik menggunakan pelantang telinga. Farid melirik arloji di pergelangan tangan kiri. Masih cukup waktu jika ia ingin menemani Nayla makan malam seperti kemarin. Bukannya Farid tidak mau pulang lebih cepat. Hanya saja akibat yang harus ia tanggung adalah terlampau panjang malam yang harus ia lalui sampai menjelang tidur. Secara sadar mengetahui bahwa ia dan Nayla berada di lantai yang sama dan hanya terpisah dinding, sungguh menjadi siksaan yang berat untuk Farid. Setiap malam ia selalu menimbang-nimbang, apakah ia tetap berada di kamarnya, atau nekat saja menerjang pintu kamar Nayla untuk membawa perempuan itu dalam peluknya. Baru saja Farid hendak membuka sebuah email tentang penawaran kerjasama setelah membunuh ide untuk pulang cepat, sebuah tanda notifikasi berbunyi dari ponselnya. Wajah jenuh Farid berganti semringah. Tanpa menunggu, ia tutup layar laptop yang tadinya masih menyala dan membenahi beberapa benda di atas meja. [Makan malam di rumah, tidak? Kalau tidak, Bu Baidah tidak perlu menghidang] Sejak nomor ponsel Nayla menjadi salah satu penghuni di daftar kontak Farid, baru kali ini Farid mendapat sebuah pesan yang bukan merupakan sebuah balasan. Isi pesan yang masuk pun tergolong panjang dibandingkan pesan-pesan sebelumnya yang hanya memuat ‘iya’ atau ‘ok’. Farid menanggap ini sebuah pencapaian atas hubungannya dengan Nayla. Kesabarannya selama ini berbuah manis. Sambil menyungging senyum, Farid membalas pesan itu dalam langkah cepat menuju lift. [Aku sudah di jalan menuju pulang] *** Pemandangan di meja makan terlihat menyedihkan saat Farid tiba di rumah. Bukan hanya makanan yang masih rapi tidak tersentuh yang membuat hatinya miris, tetapi sosok yang tertidur di sana dengan tangan terlipat dan wajah tersembunyi membuat Farid tiba-tiba merasa sangat bersalah. Seharusnya ia tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa terjamin akan terlaksana. Padahal Farid sudah bilang tidak perlu menunggu. Sebuah kecelakaan lalu lintas di jalur tol membuat mobilnya terhambat untuk sampai di rumah tepat waktu. Farid sudah meralat pesannya pada Nayla, meminta perempuan itu makan malam lebih dulu tanpanya. Sayangnya pesannya tidak terbaca. Mungkin Nayla sudah lebih dulu tertidur sebelum sempat membuka. Antara sungkan akan mengusik juga keinginan untuk menatap sosok indah di depannya tanpa diketahui pemiliknya, membuat Farid berdiri di samping Nayla sedikit lebih lama. Jarinya akhirnya tak tahan untuk tidak menyingkap helai rambut yang menutupi wajah Nayla, dan bernafas lega setelahnya karena ternyata tidak membuat perempuan itu terbangun. Dengan hati-hati Farid menarik kursi agar tidak menimbulkan bunyi derit. Ia akan duduk di samping Nayla, membiarkan perempuan itu terlelap sedikit lebih lama agar punya cukup waktu untuk berdekatan dengannya. “Nay,” bisik Farid saat tak lagi tega melihat posisi tidur Nayla yang pasti tidak nyaman. “Aku sudah pulang.” Nayla tetap bergeming saat Farid mengusap lembut rambutnya. “Kamu sudah makan? Kita pindah ke atas, yuk.” Farid menarik tubuhnya menjauh saat mata Nayla mulai mengerjap. Perempuan itu memandang Farid lama. Tersenyum sedikit, lalu menyapa dengan suara penuh kerinduan. “Bayu?”Seminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere
Ternyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan
Perasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada
Sudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b
Bukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p
Seminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr







