Chapter: Bab 45 - Pergi Untuk KembaliJika ada yang bertanya kapan saatnya kamu berada di titik hidup terbaik, bisa dikatakan itulah yang aku rasakan sekarang. Bahkan saat aku mengira bahwa kemarin adalah masa terbaikku, tetapi terbantahkan saat menjalani hari ini. Apalagi yang harus kuingkari saat semua bahagia sudah aku dapat dalam genggaman. Istri yang cantik, anak yang cerdas, karir yang bagus, juga rumah tangga yang hangat yang membuatku rindu untuk selalu pulang. Duri-duri kecil pasti ada saja datang menghampiri. Namun, sekarang hanya terasa menggelitik karena aku dan Amara sudah berhasil meyintas luka tusukannya. Kecuali satu, rasa cemburuku pada lelaki yang Amara sebut sahabat. Meski sosoknya berhasil merawat Zein dengan baik pasca kecelakaan yang lalu, tetapi aku masih harus waspada akan sepak terjangnya. Aku tidak ingin lelaki itu mencari celah untuk merebut Amara. “Zein mau dibelikan rasa apa? Ayah sedang di toko es krim?” Hampir setiap hari saat pulang bekerja, kusempatkan untuk membelikan Zein makanan. A
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 44 - Ada yang CemburuBenar apa yang dikatakan orang-orang. Air mata haru tidak dapat tertahan ketka tiba di Masjidil Haram dan melihat langsung Baitullah. Air mataku bercampur senyuman saat Radit menatapku dengan binaran yang sama. Kubiarkan ia membanggakan pencapaiannya, bahwa ia telah berhasil memenuhi janjinya.“Walau tidak haus, tetap harus minum.” Radit menyodorkan botol air minum yang sudah ia isi ulang dengan air zam-zam.Aku dan Radit baru saja menyelesaikan tawaf. Radit menarikku ke pinggir agar dapat duduk sejenak untuk mengumpulkan tenaga karena setelah ini kami akan melanjutkan rukun sa’i.“Kamu berkeringat.” Radit mengusap ujung hidungku yang dihinggapi bulir-bulir peluh. “Kalau lelah istirahat dulu.”Suhu udara di masjidil haram hampir mencapai 45 derajat celcius. Meski matahari terasa seperti tepat di atas kepala, tetapi kelembaban udara terukur rendah. Normalnya, berjalan kaki mengitari ka’bah tidak akan mengeluarkan keringat. Mungkin efek obat yang kuminum untuk menghilangkan rasa meriang
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 43 - Lugas Katakan Cinta“Kamu berangkat berdua Radit saja, Nduk. Biar Ibu nunggu tahun depan. Jangan sungkan, itu rezeki kalian. Radit sudah membiayai ongkos haji Ibu. Sudah lebih dari cukup buat Ibu. Terima kasih sudah mau menerima Radit kembali, Nduk. Maafkan kesalahan-kesalahan Radit terdahulu. Maafkan Ibu juga yang kurang mampu mendidik Radit. Ibu selalu mendoakan kalian agar rukun dan makmur sampai hari tua.”Kuputar ulang rekaman suara Ibu yang dikirimkan Mbak Arum lewat pesan. Aku masih berusaha agar Ibu ikut serta dalam perjalanan umrohku beserta Radit. Namun, sesuai yang telah disampaikan Radit sebelumnya, Ibubmemang menolak.Semua sudah dipersiapkan. Zein sudah bersedia ditinggal dalam pengasuhan Alia selama aku dan Radit tidak ada. Bude Asih akan diperbantukan untuk menyediakan keperluan Zein selama menginap di rumah Papa.Meski semua persiapan sudah lengkap, ada satu hal yang sejak kemarin menghadirkan gundah di hatiku. Cincin pernikahan yang memang sengaja aku lepas setiap akan pergi mandi, mend
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 42 - Kado TerindahPerjalanan pulang kembali ke kota didominasi celoteh Zein tentang serunya bermain bersama anak-anak desa. Seminggu berada di kampung halaman Radit rupanya memberi pengalaman baru bagi Zein. Bocah kecil itu menitikkan air mata sedikit saat berpamitan dengan sang nenek. Baru setuju untuk diajak pulang setelah ayahnya menjanjikan akan ada liburan susulan ke desa setelah kenaikan kelas.Radit sudah memindahkan barang-barang pribadinya ke rumahku minggu lalu. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Radit mengalah. Kami akan menetap di rumahku sampai Zein menamatkan sekolah dasar. Pertemanan Zein di lingkungan tetangga menurutku pantas untuk dipertimbangkan. Jarak menuju sekolah Zein juga akan semakin jauh jika harus ditempuh dari rumah ayahnya. Sesuai kesepakatan bersama, rumah pribadi Radit selama lima tahun ke depan akan disewakan pada salah satu instansi yang sedang membutuhkan rumah dinas.Seminggu ini juga aku bingung memikirkan kado apa yang akan aku berikan sebagai hadiah ulang ta
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 41 - Mengulang Kenangan BerduaTempat ternyaman selain rumah Ibu, adalah berada di samping Amara di mana pun aku berada. Dulu, semasa kuliah, duduk di dekatnya saja sudah mampu menghilangkan permasalahan hidupku hari itu. Setelah menikah, mencium dan memeluknya menjadi tempat pelampiasan gundah terindah bagiku. Menyatu dengannya ibarat mendapatkan energi terbarukan yang membuatku siap untuk melakukan apa saja setelahnya.Pasti Amara menganggapku gila atas apa yang baru saja kulakukan padanya. Aku tahu ia kewalahan, tetapi aku juga yakin ia menikmatinya setara denganku. Keadaan yang terang benderang mungkin membuat gairahku lebih menyala. Aku bisa melihat indahnya Amara tanpa terhalang apa pun.“Radit, ayo bangun.” Jemari Amara kembali mengusikku. “Sudah hampir pukul setengah lima sore.”Sejak tadi sebenarnya aku tidak tidur. Aku mengatur napas setenang mungkin agar Amara mengira demikian. Jika Amara tahu bahwa aku hanya pura-pura, pasti wajah perempuan itu akan merona merah seketika. Amara menciumi wajahku, dahiku,
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 40 - Balada Burung Dalam SangkarTerhitung tiga hari berlalu sejak kami tiba di kampung halaman Radit, pagi ini Mbak Arum tetap dengan ramahnya menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Saat kuutarakan rasa sungkanku, perempuan itu tersenyum lebar sampai memunculkan lesung pipinya yang samar-samar.“Rumah ini sudah seperti rumahku. Setiap hari, dua atau tigakali aku kemari untuk nengokin Ibu,” ujarnya. “Apa yang dimasak di rumah, pasti setiap hari aku antar buat Ibu.”“Terima kasih, Mbak,” ucapku mewakili Radit.“Selama di sini kamu nggak usah repot-repot masak, nyuci baju, nyuci piring, biar aku yang kerjakan,” larangnya persis seperti kemarin saat aku kedapatan mencuci tumpukan gelas setelah tamu lebaran pulang.“Aku nggak enak ngelihat Mbak Arum capek beres-beres sendirian.”“Gantian,” ujarnya. “Nanti kalau ada rezeki, aku, Mas Cipto dan anak-anak bisa mampir ke rumah Radit, aku juga nggak mau kerjain apa-apa di sana.”“Oh, baik, Mbak,” sahutku seraya meringis kecil.“Guyon aku,” ucapnya sambil tertawa. “Maksudnya
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: Bab 35 - Berdamai Akan KenanganMalam yang sama setelah aku kembali pada Mahesa Dipta, lelaki itu tetap mengantarku pulang ke rumah Ayah. Dipta mengajakku berbicara di depan Ayah dan Bunda, meluruskan apa yang selama ini kusut di antara kami. Dipta dengan sopan menanyakan pada Ayah apakah ia boleh membawaku pulang setelahnya. Ayah mengatakan bahwa aku masih sepenuhnya tanggung jawab Dipta, karena tidak pernah sekali pun lelaki itu mengembalikanku pada Ayah.Mobil Ayah kami kembalikan sehari setelahnya. Tidak ada yang rusak, hanya bensinnya yang habis karena memang jarum petunjuk level bahan bakarnya sudah tidak berfungsi baik. Dipta sudah lama mengetahui permasalahan itu. Ia sengaja mengelabui agar bisa mengajakku mampir di rumahnya malam itu.Dipta tidak terlalu mengekangku kali ini. Hidupku terasa jauh lebih ringan. Bahkan ia tidak mempermasalahkan saat aku memanggilnya dengan sebutan lama kami. Juga tidak keberatan saat aku masih sering berdebat dengannya tentang banyak hal. Ia bilang tak mengapa selama akhir dar
Last Updated: 2025-08-22
Chapter: Bab 34 - Sepakat Kembali Bersama“Harus ado kabar baik dari kau, Lira.” Pria itu menjabat tanganku erat-erat saat ia akan masuk ke lajur check-in. “Aku idak mau dengar kagek kau balik ke Palembang.”“Terima kasih untuk semuanya, Fahmi.” Kulambaikan tangan sampai ia benar-benar menghilang di balik pintu kaca. Sejenak aku hanya berdiri terpaku di antara ramainya lalu lalang manusia di bandara. Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Menemui Dipta dan menyerahkan diri, mengaku kalah karena tidak berhasil melupakannya setelah enam bulan lamanya?Mobil Kijang milik Ayah yang kukemudikan melaju lambat seolah ikut merasakan galaunya hatiku. Entah sudah sejauh apa lamunanku, dua jam kemudian tanpa sadar aku mendapati diri telah menghentikan kendaraan itu di depan rumah Dipta. Mataku menatap penuh rindu pada garasi tempat mobil lelaki itu diparkirkan. Banyak kenangan tertinggal di garasi itu. Di dalam mobil di tempat itu pula pertama kalinya Dipta meminta kesediaanku untuk menyerahkan jiwa ragaku padanya. Di sana pula setia
Last Updated: 2025-08-18
Chapter: Bab 33 - Jarak Semakin RapuhBunyi notifikasi dari ponselku membuyarkan lamunan. Kulirik dengan malas untuk memeriksa apakah ada pesan penting yang mungkin dikirimkan Pak Kemas. Atasanku itu masih juga tidak bisa benar-benar pensiun. Hampir setiap saat Pak Kemas menanyaiku mengenai perkembangan Fahmi. Padahal menurutku Fahmi termasuk kompeten menggantikan beliau dalam urusan pekerjaan. Dan ini sudah masuk bulan keenam, aneh saja jika Pak Kemas masih meremehkan puteranya.Dadaku berdesir saat melihat tampilan pop-up pada layar ponselku. Sudah lewat enam bulan juga lelaki itu masih rutin mengirimiku. Setelah dengan sangat pengecut aku meninggalkannya tanpa penjelasan, Dipta selalu mengabariku setiap hari tentang apa yang ia lakukan di Jakarta melalui pesan singkat. Sesekali ia menanyakan kabarku, tentu saja aku tidak pernah membalas. Lalu frekuensi pesannya berkurang saat memasuki bulan kedua, dan hilang sama sekali saat memasuki bulan ketiga. Dipta pasti lelah. Aku sengaja membuatnya menyerah.Hanya satu yang tida
Last Updated: 2025-08-16
Chapter: Bab 32 - Saat Memilih PergiTerhitung tiga hari sejak rahimku dilakukan kuretase, hari ini dokter kandungan memberiku izin untuk pulang. Dipta tidak datang menjemput karena aku yang memintanya untuk itu. Setelah pertengkaran kami yang terakhir, aku sudah mengatakan pada Dipta agar diberikan kesempatan untuk menetap di rumah Ayah sementara waktu. Aku butuh ruang untuk sebentar menjauh dari Dipta, juga dari rencana-rencana hidupnya.Aku sudah membuat janji dengan Dokter Pratiwi -spesialis anak yang menangani Muffin- sebelum pulang hari ini. Setelah kejadian itu, aku semakin tidak bisa menjauhkan diriku dari rasa bersalah. Aku jelas bertanggung jawab atas Muffin. Aku ibunya, seharusnya bisa menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku.“Sebagai tenaga medis yang selalu berurusan dengan nyawa orang lain, saya juga manusia yang percaya pada takdir Tuhan.” Dokter Pratiwi memulai kalimat itu untuk menjawab pertanyaanku. “Apa yang kita upayakan maksimal, jika memang sudah sampai pada janjinya, semua tetap akan pulang."“Bu
Last Updated: 2025-08-12
Chapter: Bab 31 - Ujian Hati BertubiKehamilanku sudah mulai memasuki minggu ke dua belas saat suatu hari Muffin demam. Dipta patuh saat kuminta untuk membawa Muffin agar diperiksa oleh Dokter Pratiwi. Tidak ada masalah serius, hanya demam biasa menurut sang dokter. Obat yang diberikan pun juga sama dengan stok obat penurun panas yang kusimpan di lemari obat. Kondisi rahimku tidak terlalu sehat sehingga Dipta memutuskan untuk memakai bantuan asisten rumah tangga selama aku tidak bisa beraktivitas normal. Dipta mengurusiku dengan sangat baik, bahkan terlalu protektif sehingga aku merasa kurang nyaman. Ia melarangku mengerjakan apa pun, bahkan ia marah jika aku kedapatan sedang menggendong Muffin. Muffin tidak pernah terlalu rewel jika sakit. Ia akan tenang jika dipeluk. Kudekap Muffin erat-erat saat Dipta ingin mengambilnya kembali untuk diserahkan pada asisten rumah tangga kami pagi ini. Perempuan paruh baya itu berdiri di samping Dipta dengan serba salah. Mungkin ia segan harus melihat kami berdebat seperti itu. “Bi
Last Updated: 2025-08-10
Chapter: Bab 30 - Kala Ikatan MerenggangBab 30 - Kala Ikatan MerenggangSudah lewat tiga minggu sejak pertengkaranku dengan Dipta yang dipicu karena kedatangan Reno. Aku sungguh tidak bisa menebak bagaimana jalan pikiran Dipta. Harusnya aku diam-diam merekam isi percakapanku dengan Reno agar Dipta percaya. Sekarang aku tidak punya bukti yang kuat untuk mempertahankan argumenku agar tes DNA Muffin tidak perlu dilakukan.Hubunganku dengan Dipta menjadi dingin. Lelaki itu hanya menegurku seperlunya saat sedang berada di rumah, persis seperti dulu di saat awal pernikahan kami. Tidak ada lagi ucapan sayang, pelukan mesra, apalagi sentuhan-sentuhan yang intim layaknya dua insan yang sedang kasmaran. Aku masih tidak mengerti apa salahku. Tepatnya tidak bisa menerima jika Dipta menuduh aku akan tertarik pada Reno seperti layaknya Livia. Pendapat itu terlalu kekanakan. Mustahil rasanya terbit dari kepala seorang Mahesa Dipta yang biasanya bisa berpikir realistis. Aku tidak ingat kapan terakhir kali makan dengan benar. Seminggu ini
Last Updated: 2025-08-01
Chapter: Bab 62 - Kamu Yang KucintaSeminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Bab 61 - Dua Yang MendambaTernyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Bab 60 - Bertahan Untuk CintaPerasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Bab 59 - Bahagia Dengan JalannyaSudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Bab 58 - Benar-Benar SendirianBukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Bab 57 - Tak Bisa DitawarSeminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr
Last Updated: 2026-02-14