로그인Pernikahan Nayla dan Farid tidak berawal dengan cinta. Nayla terpaksa memutuskan hubungan dengan kekasihnya untuk menyanggupi permintaan sang ibu menerima perjodohan dengan lelaki itu. Entahlah dengan Farid. Lelaki itu tetap memperlakukannya dengan baik seburuk apa pun sikap Nayla di sepanjang pernikahan mereka. Bukan salah Farid jika akhirnya cinta tumbuh perlahan di hati Nayla. Namun, jelas salah Farid saat cinta sudah merambati hati Nayla, lelaki itu melakukan sebuah kesalahan yang Nayla sulit untuk maafkan dan memilih untuk berpisah.
더 보기Jika ada hari yang paling ditunggu Nayla seumur hidupnya, maka itu akan jatuh pada hari ini. Wajahnya sudah terias cantik, dengan pewarna bibir, pemoles pipi, serta coretan pensil alis. Tubuhnya telah terbalut kebaya putih bertabur batu permata yang berkerlap kerlip. Kulit punggung tangannya yang terang hampir tak terlihat karena tertutupi lukisan inai hingga ke ujung jari.
Nayla mengenal cinta sejak usia belia. Umurnya belum genap dua belas tahun saat ia menyakini bahwa dirinya suatu saat akan menikah dengan tambatan hatinya. Pilihan sendiri. Meskipun sejak usia itu hingga mencapai umur dua puluh satu saat ini, entah sudah berapa laki-laki yang singgah mencuri cinta di hati Nayla. Namun, mulai setahun belakangan, perempuan itu yakin bahwa Bayu yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir. Bayu mencintainya. Tak ada sedikit pun dari sikap pemuda itu yang tidak menunjukkan gelora cinta pada Nayla. Enam puluh menit ke depan, Nayla akan resmi menjadi seorang istri. Sesuai pesan sang perias, Nayla hanya boleh duduk menunggu di kamar pengantin ini sampai terdengar ucapan ijab kabul dan seruan 'SAH' dari para saksi. Setelah itu, ia akan dituntun keluar untuk disandingkan dengan sang mempelai pria. Farid telah menunggu di sana di belakang meja akad nikah yang terhias melati. Farid. Bukan Bayu. Nayla tidak akan pernah duduk di samping lelaki yang ia tentukan sendiri. Papa tidak memberinya banyak pilihan saat memintanya berjodoh dengan Farid. Nayla tidak punya cukup ruang gerak untuk menolak. Usia Farid lima tahun lebih tua, lebih sesuai dengannya dibandingkan Bayu yang sebaya. Farid sudah menyelesaikan S2-nya di Kairo, sementara Bayu baru akan menamatkan S1 enam bulan dari sekarang. Farid telah memiliki beberapa titik usaha warisan keluarga yang telah ia kelola sendiri, sedangkan Bayu akan resmi menjadi pengangguran saat rektor memindahkan tali di topi toganya akhir tahun nanti. Tak ada satu pun hal dalam diri Farid yang bisa menjadi alasan bagi Nayla untuk menolak. Senyum semringah Papa saat Farid datang melamar, tidak akan pernah sebanding dengan senyum Bayu saat Nayla berpamitan turun dari sepeda motor pemuda itu selepas diantar ke kampus. Papa sedang digerogoti kanker hati. Nayla tidak sampai hati membuatnya kecewa. Bayu masih sangat muda. Sedikit sakit hati tidak akan membuat pemuda itu mati. Nayla yakin Bayu mampu melupakannya dengan kehadiran gadis lain. "Kak, Nay." Kemunculan Nara di pintu kamar membuat lamunan Nayla buyar. "Ayo, sudah saatnya. Semua orang sudah menunggu." Nayla bangkit dengan lesu saat Nara, sang adik, menggamit lengannya. Entah mengapa tiba-tiba saja bayangan wajah Bayu di hari terakhir mereka bertemu merasuki pikiran Nayla. Perempuan itu menolak saat Nara membujuknya keluar. "Abisin dulu air matanya, Kak." Nara menarik beberapa helai tisu dari meja rias. "Jangan nangis di depan Papa." Nara adalah satu-satunya yang paling tahu bagaimana Nayla merintis hubungannya dengan Bayu sejak sama-sama bertemu di kegiatan orientasi mahasiswa. Meskipun ternyata mereka berbeda fakultas, tetapi Bayu dengan gigih menemui Nayla hampir setiap hari sampai akhirnya Nayla menerima cinta Bayu. Kini, entah di mana dan sedang apa pemuda itu. Nomor kontaknya tidak aktif hingga sekarang. "Sudah?" tanya Nara saat Nayla membuang bekas tisu ke tempat sampah. "Kakak janji, ya, tahan air matanya." Nayla mengangguk terpaksa. Ia memejam sejenak saat Nara menyibak kain rumbai pembatas bermotif tenun yang dipasang sebagai pelengkap dekorasi pernikahan. Mata Nayla menyipit saat memasuki ruang tamu yang telah disulap menjadi pelaminan akad nikah. Lampu kilat dari beberapa kamera membuat pandangannya sedikit silau. Saat sudah berhasil menyesuaikan, yang pertama menghampiri pandangannya adalah Mama yang sedang menangis terharu, lalu Papa yang tersenyum lebar, serta beberapa sanak saudara yang sibuk memegang ponsel untuk mengabadikan dirinya. Tepat saat kedua mata Nayla beradu dengan tatapan lelaki berteluk belanga serba putih yang baru saja berikrar memperistrinya, perempuan itu ambruk tak sadarkan diri. *** Wajah Mama perlahan-lahan terlihat jelas saat kesadaran Nayla kembali. Di belakang Mama berdiri seorang laki-laki yang ikut menatapnya resah. Nayla ingin bertanya siapa dia. Namun, perlahan saat ingatannya mulai bekerja, perempuan itu memilih memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. “Nay, kamu pingsan, Sayang. Pasti karena dari pagi belum sarapan.” Mama mengusap lembut kening Nayla. “Mama ambilkan makanan, ya.” Hanya terdengar hela nafas Farid setelah bunyi pintu yang ditutup. Lelaki itu menggantikan Mama duduk di kursi di samping ranjang tempat Nayla berbaring. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Wajah Nayla masih menghadap ke arah dinding tanpa berniat menatap lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya. “Biar saya saja yang menyuapi Nayla, Ma.” Kalimat itu yang akhirnya mampu membuat Nayla memalingkan wajahnya menghadap Farid. Lewat tatapan mata, Nayla memberi isyarat agar Mama tidak meninggalkannya hanya berdua dengan lelaki itu. Namun, sepertinya Mama lebih memilih mematuhi permintaan Farid dari pada menyelamatkan puterinya sendiri dari situasi yang rumit. Pintu kamar sudah terlanjur tertutup rapat sebelum Nayla berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang terasa tercekat. “Masih pusing?” Farid bertanya sopan. Sebelah tangannya memegang piring berisi ketupat kuah sayur yang dibawakan Mama untuk Nayla. “Masih,” sahut Nayla pelan. “Kalau duduk sedikit, sanggup tidak?” Farid menggeser kursi merapat. “Akan lebih mudah aku menyuapi kalau kamu bisa duduk bersandar.” “Aku bisa sendiri.” Nayla menggapai tangan mencoba meraih piring ketupat dari pegangan Farid. “Letakkan saja di sisi ini, nanti aku habiskan pelan-pelan.” Farid meletakkan piring dari tangannya ke atas nakas. Lelaki itu bangkit dan sedikit membungkuk melewati tubuh Nayla untuk mengambil sebuah bantal yang tidak dipakai di sisi sebelah. Tidak meminta izin atau berniat memberi aba-aba, lelaki itu tanpa canggung mengangkat sedikit tengkuk Nayla agar ia bisa menyelipkan bantal tersebut di bawah kepala. “Nyaman seperti ini?” Farid mencari tahu akan posisi berbaring Nayla yang tidak sedatar sebelumnya. “Lumayan,” sahut Nayla. “Biar aku saja, aku bisa menyuap sendiri.” Nayla berusaha bangkit untuk mengambil piring yang diletakkan Farid di atas nakas, tetapi jemarinya segera ditepis halus oleh lelaki itu. Tatapan tajam Farid setelahnya membuat Nayla memilih memejam dari pada harus saling beradu pandang. “Nay, aku tahu pernikahan ini bukan impian kamu.” Suara Farid terdengar tenang. “Setidaknya berusahalah terlihat bahagia. Ada banyak orang di luar sana yang bergembira untuk kita.” Bagaimana caranya untuk bisa terlihat bahagia saat separuh hatinya sedang menangis. Farid jelas memintanya melakukan kemustahilan. Jika memang Farid sedang berpura-pura bahagia dengan pernikahan mereka, maka Nayla harus mengacungkan jempol untuk kemampuan lelaki itu bersandiwara. “Aku akan memanggil Nara untuk menemani kamu.” Farid bangkit saat akhirnya Nayla membuka mata. “Berusahalah untuk tidak membenciku, karena bagaimanapun kita akan tinggal dalam satu rumah dalam waktu dekat.” Air mata Nayla berlomba jatuh saat pintu kamar tertutup dan Farid hilang dari pandangan. Bibirnya meratap menyebut nama Bayu. Sejak mereka terpaksa berpisah, baru sekarang Nayla merasakan betapa pedih hati yang bersimbah darah.Selain pertandingan sepak bola, bangun pagi adalah hal yang paling ditunggu oleh seorang Bayu Anggara. Mesti tidak langsung bangun saat adzan berkumandang, tetapi Bayu tidak pernah melaksanakan salat subuh saat hari sudah terang. Terkadang ia bangun sendiri, terkadang Bunda yang harus mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sampai terdengar jawaban dari dalam. Setelah salat,Bayu pantang tidur lagi. Baginya, suasana pagi terlalu indah jika dilewati begitu saja.Ada banyak hal yang sudah mengantre untuk dilakukan Bayu di pagi hari. Memeriksa kelayakan motor Bunda sebelum berangkat ke kantor sudah menjadi tugasnya semenjak Ayah wafat. Yang pertama ia pastikan adalah kondisi bensin motor Bunda apakah cukup untuk berkendara ke kantor, karena jarum penunjuk status bahan bakarnya sudah tidak lagi berfungsi. Jika diperkirakan kurang, maka Bayu akan pergi sebentar ke pom mini di ujung jalan untuk mengisi penuh tangkinya. Kondisi ban tak luput diperhatikan. Rem apakah bekerja dengan baik, juga lam
Satu minggu pertama yang Nayla lalui di rumah Farid tak ia pungkiri terasa sangat menyenangkan. Sarapan selalu tersedia setiap pagi dengan menu yang berganti-ganti. Bahkan, dua hari terakhir, Bu Baidah salah satu asisten rumah tangga yang paling tua, sengaja bertanya apa yang Nayla ingin makan agar dapat beliau jadikan alternatif hidangan. Tidak perlu mencuci piring, menyapu rumah, mencuci dan menjemur pakaian karena ada Suri yang setiap hari mengerjakan.Farid telah mengisi ruangan kosong di lantai tiga itu sesuai permintaan Nayla. Hanya saja Farid cuma membelikan sebuah lemari kecil untuknya, dengan alasan untuk menghindarkan kecurigaan penghuni rumah yang lain jika tak sengaja memergoki mereka berpisah kamar. Barang-barang Nayla tetap ditempatkan di kamar Farid. Hanya beberapa yang ia pindahkan seperlunya saat akan tidur malam hari.Atas kesepakatan bersama, Nayla setuju untuk sesekali istirahat siang di kamar Farid. Lelaki itu berargumen agar pernikahan mereka tampak normal di mat
Nayla bukan sosok baru untuk Farid. Mereka sudah mengenal sejak kecil, meskipun tidak secara resmi. Farid kerap bertemu Nayla dalam acara-acara keluarga yang dihadiri kedua belah pihak. Hanya sebatas saling tahu wajah, tanpa benar-benar dikenalkan oleh orang tua masing-masing.Abi Farid dan mama Nayla keduanya terpaut pada garis keturunan yang sama, pada Kakek Buyut Al-Amar. Bedanya orang tua Farid memilih saling dijodohkan dengan calon dari lingkar keluarga mereka, sementara mama Nayla memutuskan untuk menikahi kekasih hati yang beliau temukan sendiri. Seorang laki-laki bersuku Palembang yang bukan dari keluarga pebisnis seperti hampir semua garis keturunan Al-Amar. Atas alasan itu juga mengapa kehidupan Nayla tidak semewah saudara-saudara sepupunya yang lain. Bahkan bisa dikatakan hanya sampai taraf berkecukupan.Mungkin campuran darah Palembang itu yang membuat Farid mudah mengenali Nayla. Ia tak pernah kesulitan menemukan sosok Nayla kecil meski gadis itu sedang berkerumun di anta
Hari ini tepat dua puluh hari Nayla resmi menjadi istri Farid Atqan Al Amar. Dua puluh hari yang melelahkan. Setelah acara akad nikah sederhana di rumah Papa yang dilanjutkan dengan syukuran dan acara adat, dua minggu kemudian Nayla harus kembali duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan yang diadakan keluarga Farid di sebuah hotel milik keluarga.Seumur-umur, Nayla malah belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Ia hanya sering menatap hotel tersebut dari atas boncengan motor Bayu saat berhenti di lampu merah ke arah kampus. Ia bahkan sempat mereka-reka berapa banyak gaji yang harus ia sisihkan agar setara dengan harga kamar paling mahal di hotel itu. Tentunya setelah ia dan Bayu lulus, mendapat pekerjaan, menikah, dan jika beruntung bisa menghabiskan satu hari bulan madu mereka di sana.Impian itu akhirnya terwujud. Nayla bisa menempati kamar paling mahal dengan kasur paling empuk tersebut di malam seusai resepsi. Ranjangnya yang bahkan terlalu luas hanya ia tempati sendiri, k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.