ASAL KAU BAHAGIA

ASAL KAU BAHAGIA

last updateLast Updated : 2026-02-14
By:  Rima HutabaratCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
5 ratings. 5 reviews
62Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pernikahan Nayla dan Farid tidak berawal dengan cinta. Nayla terpaksa memutuskan hubungan dengan kekasihnya untuk menyanggupi permintaan sang ibu menerima perjodohan dengan lelaki itu. Entahlah dengan Farid. Lelaki itu tetap memperlakukannya dengan baik seburuk apa pun sikap Nayla di sepanjang pernikahan mereka. Bukan salah Farid jika akhirnya cinta tumbuh perlahan di hati Nayla. Namun, jelas salah Farid saat cinta sudah merambati hati Nayla, lelaki itu melakukan sebuah kesalahan yang Nayla sulit untuk maafkan dan memilih untuk berpisah.

View More

Chapter 1

Bab 1 - Bukan Pernikahan Impian

Jika ada hari yang paling ditunggu Nayla seumur hidupnya, maka itu akan jatuh pada hari ini. Wajahnya sudah terias cantik, dengan pewarna bibir, pemoles pipi, serta coretan pensil alis. Tubuhnya telah terbalut kebaya putih bertabur batu permata yang berkerlap kerlip. Kulit punggung tangannya yang terang hampir tak terlihat karena tertutupi lukisan inai hingga ke ujung jari.

Nayla mengenal cinta sejak usia belia. Umurnya belum genap dua belas tahun saat ia menyakini bahwa dirinya suatu saat akan menikah dengan tambatan hatinya. Pilihan sendiri. Meskipun sejak usia itu hingga mencapai umur dua puluh satu saat ini, entah sudah berapa laki-laki yang singgah mencuri cinta di hati Nayla. Namun, mulai setahun belakangan, perempuan itu yakin bahwa Bayu yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir. Bayu mencintainya. Tak ada sedikit pun dari sikap pemuda itu yang tidak menunjukkan gelora cinta pada Nayla.

Enam puluh menit ke depan, Nayla akan resmi menjadi seorang istri. Sesuai pesan sang perias, Nayla hanya boleh duduk menunggu di kamar pengantin ini sampai terdengar ucapan ijab kabul dan seruan 'SAH' dari para saksi. Setelah itu, ia akan dituntun keluar untuk disandingkan dengan sang mempelai pria. Farid telah menunggu di sana di belakang meja akad nikah yang terhias melati.

Farid. Bukan Bayu. 

Nayla tidak akan pernah duduk di samping lelaki yang ia tentukan sendiri. Papa tidak memberinya banyak pilihan saat memintanya berjodoh dengan Farid. Nayla tidak punya cukup ruang gerak untuk menolak.

Usia Farid lima tahun lebih tua, lebih sesuai dengannya dibandingkan Bayu yang sebaya. Farid sudah menyelesaikan S2-nya di Kairo, sementara Bayu baru akan menamatkan S1 enam bulan dari sekarang. Farid telah memiliki beberapa titik usaha warisan keluarga yang telah ia kelola sendiri, sedangkan Bayu akan resmi menjadi pengangguran saat rektor memindahkan tali di topi toganya akhir tahun nanti.

Tak ada satu pun hal dalam diri Farid yang bisa menjadi alasan bagi Nayla untuk menolak. Senyum semringah Papa saat Farid datang melamar, tidak akan pernah sebanding dengan senyum Bayu saat Nayla berpamitan turun dari sepeda motor pemuda itu selepas diantar ke kampus. Papa sedang digerogoti kanker hati. Nayla tidak sampai hati membuatnya kecewa. Bayu masih sangat muda. Sedikit sakit hati tidak akan membuat pemuda itu mati. Nayla yakin Bayu mampu melupakannya dengan kehadiran gadis lain.

"Kak, Nay." Kemunculan Nara di pintu kamar membuat lamunan Nayla buyar. "Ayo, sudah saatnya. Semua orang sudah menunggu."

Nayla bangkit dengan lesu saat Nara, sang adik, menggamit lengannya. Entah mengapa tiba-tiba saja bayangan wajah Bayu di hari terakhir mereka bertemu merasuki pikiran Nayla. Perempuan itu menolak saat Nara membujuknya keluar.

"Abisin dulu air matanya, Kak." Nara menarik beberapa helai tisu dari meja rias. "Jangan nangis di depan Papa."

Nara adalah satu-satunya yang paling tahu bagaimana Nayla merintis hubungannya dengan Bayu sejak sama-sama bertemu di kegiatan orientasi mahasiswa. Meskipun ternyata mereka berbeda fakultas, tetapi Bayu dengan gigih menemui Nayla hampir setiap hari sampai akhirnya Nayla menerima cinta Bayu. Kini, entah di mana dan sedang apa pemuda itu. Nomor kontaknya tidak aktif hingga sekarang.

"Sudah?" tanya Nara saat Nayla membuang bekas tisu ke tempat sampah. "Kakak janji, ya, tahan air matanya."

Nayla mengangguk terpaksa. Ia memejam sejenak saat Nara menyibak kain rumbai pembatas bermotif tenun yang dipasang sebagai pelengkap dekorasi pernikahan. Mata Nayla menyipit saat memasuki ruang tamu yang telah disulap menjadi pelaminan akad nikah. Lampu kilat dari beberapa kamera membuat pandangannya sedikit silau.

Saat sudah berhasil menyesuaikan, yang pertama menghampiri pandangannya adalah Mama yang sedang menangis terharu, lalu Papa yang tersenyum lebar, serta beberapa sanak saudara yang sibuk memegang ponsel untuk mengabadikan dirinya. Tepat saat kedua mata Nayla beradu dengan tatapan lelaki berteluk belanga serba putih yang baru saja berikrar memperistrinya, perempuan itu ambruk tak sadarkan diri.

***

Wajah Mama perlahan-lahan terlihat jelas saat kesadaran Nayla kembali. Di belakang Mama berdiri seorang laki-laki yang ikut menatapnya resah. Nayla ingin bertanya siapa dia. Namun, perlahan saat ingatannya mulai bekerja, perempuan itu memilih memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.

“Nay, kamu pingsan, Sayang. Pasti karena dari pagi belum sarapan.” Mama mengusap lembut kening Nayla. “Mama ambilkan makanan, ya.”

Hanya terdengar hela nafas Farid setelah bunyi pintu yang ditutup. Lelaki itu menggantikan Mama duduk di kursi di samping ranjang tempat Nayla berbaring. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Wajah Nayla masih menghadap ke arah dinding tanpa berniat menatap lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya.

“Biar saya saja yang menyuapi Nayla, Ma.” Kalimat itu yang akhirnya mampu membuat Nayla memalingkan wajahnya menghadap Farid.

Lewat tatapan mata, Nayla memberi isyarat agar Mama tidak meninggalkannya hanya berdua dengan lelaki itu. Namun, sepertinya Mama lebih memilih mematuhi permintaan Farid dari pada menyelamatkan puterinya sendiri dari situasi yang rumit. Pintu kamar sudah terlanjur tertutup rapat sebelum Nayla berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang terasa tercekat.

“Masih pusing?” Farid bertanya sopan. Sebelah tangannya memegang piring berisi ketupat kuah sayur yang dibawakan Mama untuk Nayla.

“Masih,” sahut Nayla pelan.

“Kalau duduk sedikit, sanggup tidak?” Farid menggeser kursi merapat. “Akan lebih mudah aku menyuapi kalau kamu bisa duduk bersandar.”

“Aku bisa sendiri.” Nayla menggapai tangan mencoba meraih piring ketupat dari pegangan Farid. “Letakkan saja di sisi ini, nanti aku habiskan pelan-pelan.”

Farid meletakkan piring dari tangannya ke atas nakas. Lelaki itu bangkit dan sedikit membungkuk melewati tubuh Nayla untuk mengambil sebuah bantal yang tidak dipakai di sisi sebelah. Tidak meminta izin atau berniat memberi aba-aba, lelaki itu tanpa canggung mengangkat sedikit tengkuk Nayla agar ia bisa menyelipkan bantal tersebut di bawah kepala.

“Nyaman seperti ini?” Farid mencari tahu akan posisi berbaring Nayla yang tidak sedatar sebelumnya.

“Lumayan,” sahut Nayla. “Biar aku saja, aku bisa menyuap sendiri.”

Nayla berusaha bangkit untuk mengambil piring yang diletakkan Farid di atas nakas, tetapi jemarinya segera ditepis halus oleh lelaki itu. Tatapan tajam Farid setelahnya membuat Nayla memilih memejam dari pada harus saling beradu pandang.

“Nay, aku tahu pernikahan ini bukan impian kamu.” Suara Farid terdengar tenang. “Setidaknya berusahalah terlihat bahagia. Ada banyak orang di luar sana yang bergembira untuk kita.”

Bagaimana caranya untuk bisa terlihat bahagia saat separuh hatinya sedang menangis. Farid jelas memintanya melakukan kemustahilan. Jika memang Farid sedang berpura-pura bahagia dengan pernikahan mereka, maka Nayla harus mengacungkan jempol untuk kemampuan lelaki itu bersandiwara.

“Aku akan memanggil Nara untuk menemani kamu.” Farid bangkit saat akhirnya Nayla membuka mata. “Berusahalah untuk tidak membenciku, karena bagaimanapun kita akan tinggal dalam satu rumah dalam waktu dekat.”

Air mata Nayla berlomba jatuh saat pintu kamar tertutup dan Farid hilang dari pandangan. Bibirnya meratap menyebut nama Bayu. Sejak mereka terpaksa berpisah, baru sekarang Nayla merasakan betapa pedih hati yang bersimbah darah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Nopphy_lolipop
Nopphy_lolipop
semoga nanti ada novel lagi, yang on going kak. selalu kangen dengan gaya penulisan yang ringan pembawaannya ......
2026-03-25 01:24:02
0
0
Aurora Aurora
Aurora Aurora
tetep benci sama Farid ga jujur sama Nayla, bantu temen sekedarnya aja,, ga sampai di prioritaskan
2026-03-24 05:21:54
0
0
erna maulia
erna maulia
sudah tamat baca 3judulnya kak Rima d good novel. ditunggu cerita selanjutnya kak......
2026-03-01 19:55:44
1
0
Nopphy_lolipop
Nopphy_lolipop
akhirnya yang ini rilis juga. terimakasih mbak. sukses terus......
2026-02-17 00:35:59
1
0
Moelyanach
Moelyanach
aku suka, tp gak tau pengen SM sapa, Bayu gak salah,Nayla terpaksa,Farid msh proses
2026-02-14 15:09:47
1
0
62 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status