Home / Romansa / ASAL KAU BAHAGIA / Bab 5 - Baik-Baik Saja

Share

Bab 5 - Baik-Baik Saja

last update publish date: 2026-01-27 19:20:21

Selain pertandingan sepak bola, bangun pagi adalah hal yang paling ditunggu oleh seorang Bayu Anggara. Mesti tidak langsung bangun saat adzan berkumandang, tetapi Bayu tidak pernah melaksanakan salat subuh saat hari sudah terang. Terkadang ia bangun sendiri, terkadang Bunda yang harus mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sampai terdengar jawaban dari dalam. Setelah salat,Bayu pantang tidur lagi. Baginya, suasana pagi terlalu indah jika dilewati begitu saja.

Ada banyak hal yang sudah mengantre untuk dilakukan Bayu di pagi hari. Memeriksa kelayakan motor Bunda sebelum berangkat ke kantor sudah menjadi tugasnya semenjak Ayah wafat. Yang pertama ia pastikan adalah kondisi bensin motor Bunda apakah cukup untuk berkendara ke kantor, karena jarum penunjuk status bahan bakarnya sudah tidak lagi berfungsi. Jika diperkirakan kurang, maka Bayu akan pergi sebentar ke pom mini di ujung jalan untuk mengisi penuh tangkinya. Kondisi ban tak luput diperhatikan. Rem apakah bekerja dengan baik, juga lampu sen dan klakson. Pesan Ayah, seorang wanita yang ikut bekerja mencari nafkah jangan lagi direpotkan untuk mengurusi kendaraan bermotor seperti itu.

Ayah bertemu Bunda saat masih duduk di tingkat awal pendidikan guru. Dalam perjalanan karir masing-masing, Bunda berhasil lulus tes menjadi abdi negara, sedangkan Ayah tetap mengajar di yayasan swasta sampai akhir hayatnya. Hubungan Ayah dan Bunda selalu baik meskipun terdapat perbedaan status pekerjaan. Keduanya adalah panutan terbaik Bayu akan sebuah pernikahan yang ia percaya akan dijalani bersama Nayla.

Pagi juga akan membawanya bertemu Nayla. Bunda selalu mewanti-wanti agar Bayu tidak keluyuran dengan anak gadis orang saat matahari sudah terbenam. Bayu mematuhi itu. Ia selalu mengantar Nayla pulang paling lambat sebelum ashar. Lalu berharap malam segera pergi, agar pagi cepat menjelang.

Sayang sekali, pagi yang sama itu semenjak dua bulan lalu tak lagi indah bagi Bayu Anggara. Pagi tidak akan membawanya bertemu Nayla. Kekasih hatinya itu memutuskan hubungan mereka begitu saja dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Tidak ada pertanda apa-apa. Bahkan tiga hari sebelumnya mereka masih bertemu di kampus seperti biasa. Bayu masih mengantar Nayla pulang setelahnya. Nayla masih berpegangan erat pada Bayu saat duduk di boncengan motornya.

Pertanda yang Bayu duga akan datang dari Nayla, justru singgah bersama seorang lelaki yang belum pernah ia temui. Dalam kusutnya pikiran Bayu tentang Nayla, di suatu siang yang terik, lelaki itu menegurnya ramah saat bertamu di bengkel tempat Bayu biasa berkumpul.

“Saya Farid Al-Amar. Boleh kita bicara sebentar?”

Bayu tidak kenal siapa Farid, tapi cukup kenal nama belakang yang lelaki itu sebutkan. Cukup kenal sehingga ia paham harus terlebih dahulu membersihkan tangannya yang terkena noda oli sebelum berjabat tangan.

“Apakah kita saling kenal?” Setidaknya itu yang Bayu ingat ia ucapkan saat mereka berdua sudah duduk di teras bengkel.

“Saya tahu Anda dari tunangan saya.” Lelaki bernama Farid itu menjelaskan. “Saya dan Nayla akan menikah satu bulan dari sekarang.”

***

Bayu sudah salat subuh satu jam lalu, tetapi ia terlalu malas untuk bangun dan beranjak dari kamarnya yang entah sejak kapan berubah nuansa menjadi muram. Lagi pula hari ini Minggu. Bunda tidak berangkat mengajar. Bayu tidak perlu repot memeriksa tangki bensin dan kondisi ban motor Bunda sebagaimana biasa.

Bunyi notifikasi pesan yang berulang dan sengaja diabaikan berganti dering panggilan di ponsel Bayu. Ia meraih benda itu dengan malas,melihat nama yang berkedip di layar, lalu menggeser tombol hijau dengan terpaksa.

“Cek, WA, Bay!” Sebuah suara nyaring terdengar berujar cepat. Sambungan terputus sebelum sempat dijawab.

Sebuah foto terlihat kabur dalam sebuah pesan yang dikirim oleh penelepon barusan. Di bawah foto itu berderet menurun huruf P yang diketik melebihi sepuluh. Bayu menekan tombol unduh. Lalu, perlahan foto kabur itu berubah menjadi foto sepasang pengantin dengan latar belakang pelaminan yang sangat mewah.

[Itu beneran Nayla?]

Bayu menghela napas kasar saat membaca pesan masuk itu. Namun, belum sempat ia mematikan layar ponsel, masuk kembali pesan berikutnya.

[Bay, itu beneran cewek lo, Nayla, yang jadi pengantin?]

Meski tahu si pengirim pesan akan jengkel jika ia tidak membalas, tetapi Bayu sengaja memilih tidak membalas. Farid Al-Amar bilang bahwa hal seperti ini tidak pantas dibicarakan lewat telepon. Harus bertemu muka. Bayu akan menjelaskan semuanya pada Jingga saat mereka berkesempatan bertemu. Gadis pencinta alam itu sedang berkelana di sekitar Borneo. Andai dulu Bayu tahu nasibnya akan seperti ini, lebih baik ia terima tawaran Jingga untuk menemaninya mendaki di sana.

“Saya hanya tidak ingin ada masalah di antara kita berdua.” Farid Al-Amar yang ketika itu lebih banyak mendominasi saat Bayu telah terlanjur roboh di awal perbincangan. “Saya tahu Anda dan Nayla punya hubungan dekat.”

Bayu dan Nayla bahkan punya impian akan menikah. Lelaki ini keterlaluan jika hanya menilai hubungan Bayu dan Nayla hanya sekadar kata dekat. Bayu adalah darah untuk Nayla, dan Nayla adalah nafas untuk Bayu. Semua orang di kampus tahu itu.

“Tolong jangan salahkan Nayla atas perjodohan ini. Kami berdua hanya ingin menyenangkan hati orang tua. Perjodohan seperti ini sudah sangat wajar di lingkup keluarga kami.”

Ingin rasanya Bayu meremas mulut Farid Al-Amar setiap lelaki itu mengucapkan ‘kami’ sebagai kata ganti dirinya dan Nayla. Seolah-olah Nayla sudah menjadi hak milik. Berani sekali Farid menyuarakan kata hati Nayla yang Bayu yakin masih condong pada dirinya.

“Saya minta Anda tidak perlu berusaha keras untuk mendekati Nayla lagi. Anda dan Nayla sudah berada di jalan yang berbeda.” Farid mengucapkan itu sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku kemejanya, menyodorkannya pada Bayu. “Jika ada yang mau disampaikan, Anda bisa menghubungi saya.”

Bukan karena sopir berbadan tegap yang dengan setia berdiri bersandar di samping sedan mewah milik Farid Al-Amar, yang membuat Bayu menahan diri untuk tidak melayangkan tinju di wajah tampan lelaki itu. Kerumunan orang di bengkel itu pasti akan membelanya. Ia tidak akan kalah. Namun, Bayu cukup tahu diri bahwa andai seluruh tabungan Bunda digunakan untuk menyelamatkannya dari masalah jika terjadi insiden baku hantam, tidak akan pernah sanggup menandingi kekuatan keluarga Al-Amar.

“Jangan khawatirkan Nayla. Dia akan baik-baik saja.”

Farid Al-Amar menepuk pundak Bayu sebelum menghilang di balik pintu mobil yang dibukakan sang sopir. Tepukan itu pelan saja, tetapi sanggup membuat jiwa Bayu hancur remuk seketika itu juga.

Bayu menatap nanar kartu nama Farid Al-Amar yang terselip di tangannya. Nasib kartu itu berubah menjadi serpihan kertas sesaat setelah pemiliknya berlalu dari hadapan Bayu Anggara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 62 - Kamu Yang Kucinta

    Seminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 61 - Dua Yang Mendamba

    Ternyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 60 - Bertahan Untuk Cinta

    Perasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 59 - Bahagia Dengan Jalannya

    Sudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 58 - Benar-Benar Sendirian

    Bukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 57 - Tak Bisa Ditawar

    Seminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 45 - Sakitnya Itu di Sini

    Dalam sekejap indahnya Bali seperti kehilangan biusnya di mata Nayla. Isi percakapan Farid lewat ponselnya dengan seseorang yang lelaki itu panggil Syahnaz lebih menyita perhatiannya. Farid rela mengorbankan akhir minggunya yang sempit demi mengunjungi seorang perempuan, pastilah seseorang itu buk

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 44 - Tak Disangka Perempuan

    Satu hal yang Farid merasa masih sangat terhutang saat sedang memandangi Nayla seperti sekarang adalah ia belum sama sekali mengajak sang istri berbulan madu. Urutan perayaan pernikahan generasi Al-Amar biasanya tidak sesederhana yang Farid dan Nayla jalani. Setelah resepsi yang diadakan besar-besa

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 43 - Status Yang Samar

    Sabtu adalah hari di mana hampir seluruh mahasiswa hadir di kampus. Baik yang memang datang untuk belajar, untuk sekadar nongkrong, untuk menunggui pacar, atau pun untuk berkumpul sebelum pergi naik gunung atau piknik ke alam.Jingga termasuk bagian dari golongan itu. Meskipun mata kuliah sudah sem

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 42 - (Bukan) Istri CEO

    Sejak Nayla menjadi salah satu penghuni di rumah Farid Al-Amar, belum pernah ia bangun pagi dengan begitu bersemangat. Nayla memulai hari dengan turun ke dapur untuk ikut membantu menyiapkan sarapan, tak ketinggalan juga camilan yang akan dibawa Farid ke kantornya. Suri sampai terkikik geli melihat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status