FAZER LOGINSelain pertandingan sepak bola, bangun pagi adalah hal yang paling ditunggu oleh seorang Bayu Anggara. Mesti tidak langsung bangun saat adzan berkumandang, tetapi Bayu tidak pernah melaksanakan salat subuh saat hari sudah terang. Terkadang ia bangun sendiri, terkadang Bunda yang harus mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sampai terdengar jawaban dari dalam. Setelah salat,Bayu pantang tidur lagi. Baginya, suasana pagi terlalu indah jika dilewati begitu saja.
Ada banyak hal yang sudah mengantre untuk dilakukan Bayu di pagi hari. Memeriksa kelayakan motor Bunda sebelum berangkat ke kantor sudah menjadi tugasnya semenjak Ayah wafat. Yang pertama ia pastikan adalah kondisi bensin motor Bunda apakah cukup untuk berkendara ke kantor, karena jarum penunjuk status bahan bakarnya sudah tidak lagi berfungsi. Jika diperkirakan kurang, maka Bayu akan pergi sebentar ke pom mini di ujung jalan untuk mengisi penuh tangkinya. Kondisi ban tak luput diperhatikan. Rem apakah bekerja dengan baik, juga lampu sen dan klakson. Pesan Ayah, seorang wanita yang ikut bekerja mencari nafkah jangan lagi direpotkan untuk mengurusi kendaraan bermotor seperti itu. Ayah bertemu Bunda saat masih duduk di tingkat awal pendidikan guru. Dalam perjalanan karir masing-masing, Bunda berhasil lulus tes menjadi abdi negara, sedangkan Ayah tetap mengajar di yayasan swasta sampai akhir hayatnya. Hubungan Ayah dan Bunda selalu baik meskipun terdapat perbedaan status pekerjaan. Keduanya adalah panutan terbaik Bayu akan sebuah pernikahan yang ia percaya akan dijalani bersama Nayla. Pagi juga akan membawanya bertemu Nayla. Bunda selalu mewanti-wanti agar Bayu tidak keluyuran dengan anak gadis orang saat matahari sudah terbenam. Bayu mematuhi itu. Ia selalu mengantar Nayla pulang paling lambat sebelum ashar. Lalu berharap malam segera pergi, agar pagi cepat menjelang. Sayang sekali, pagi yang sama itu semenjak dua bulan lalu tak lagi indah bagi Bayu Anggara. Pagi tidak akan membawanya bertemu Nayla. Kekasih hatinya itu memutuskan hubungan mereka begitu saja dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Tidak ada pertanda apa-apa. Bahkan tiga hari sebelumnya mereka masih bertemu di kampus seperti biasa. Bayu masih mengantar Nayla pulang setelahnya. Nayla masih berpegangan erat pada Bayu saat duduk di boncengan motornya. Pertanda yang Bayu duga akan datang dari Nayla, justru singgah bersama seorang lelaki yang belum pernah ia temui. Dalam kusutnya pikiran Bayu tentang Nayla, di suatu siang yang terik, lelaki itu menegurnya ramah saat bertamu di bengkel tempat Bayu biasa berkumpul. “Saya Farid Al-Amar. Boleh kita bicara sebentar?” Bayu tidak kenal siapa Farid, tapi cukup kenal nama belakang yang lelaki itu sebutkan. Cukup kenal sehingga ia paham harus terlebih dahulu membersihkan tangannya yang terkena noda oli sebelum berjabat tangan. “Apakah kita saling kenal?” Setidaknya itu yang Bayu ingat ia ucapkan saat mereka berdua sudah duduk di teras bengkel. “Saya tahu Anda dari tunangan saya.” Lelaki bernama Farid itu menjelaskan. “Saya dan Nayla akan menikah satu bulan dari sekarang.” *** Bayu sudah salat subuh satu jam lalu, tetapi ia terlalu malas untuk bangun dan beranjak dari kamarnya yang entah sejak kapan berubah nuansa menjadi muram. Lagi pula hari ini Minggu. Bunda tidak berangkat mengajar. Bayu tidak perlu repot memeriksa tangki bensin dan kondisi ban motor Bunda sebagaimana biasa. Bunyi notifikasi pesan yang berulang dan sengaja diabaikan berganti dering panggilan di ponsel Bayu. Ia meraih benda itu dengan malas,melihat nama yang berkedip di layar, lalu menggeser tombol hijau dengan terpaksa. “Cek, WA, Bay!” Sebuah suara nyaring terdengar berujar cepat. Sambungan terputus sebelum sempat dijawab. Sebuah foto terlihat kabur dalam sebuah pesan yang dikirim oleh penelepon barusan. Di bawah foto itu berderet menurun huruf P yang diketik melebihi sepuluh. Bayu menekan tombol unduh. Lalu, perlahan foto kabur itu berubah menjadi foto sepasang pengantin dengan latar belakang pelaminan yang sangat mewah. [Itu beneran Nayla?] Bayu menghela napas kasar saat membaca pesan masuk itu. Namun, belum sempat ia mematikan layar ponsel, masuk kembali pesan berikutnya. [Bay, itu beneran cewek lo, Nayla, yang jadi pengantin?] Meski tahu si pengirim pesan akan jengkel jika ia tidak membalas, tetapi Bayu sengaja memilih tidak membalas. Farid Al-Amar bilang bahwa hal seperti ini tidak pantas dibicarakan lewat telepon. Harus bertemu muka. Bayu akan menjelaskan semuanya pada Jingga saat mereka berkesempatan bertemu. Gadis pencinta alam itu sedang berkelana di sekitar Borneo. Andai dulu Bayu tahu nasibnya akan seperti ini, lebih baik ia terima tawaran Jingga untuk menemaninya mendaki di sana. “Saya hanya tidak ingin ada masalah di antara kita berdua.” Farid Al-Amar yang ketika itu lebih banyak mendominasi saat Bayu telah terlanjur roboh di awal perbincangan. “Saya tahu Anda dan Nayla punya hubungan dekat.” Bayu dan Nayla bahkan punya impian akan menikah. Lelaki ini keterlaluan jika hanya menilai hubungan Bayu dan Nayla hanya sekadar kata dekat. Bayu adalah darah untuk Nayla, dan Nayla adalah nafas untuk Bayu. Semua orang di kampus tahu itu. “Tolong jangan salahkan Nayla atas perjodohan ini. Kami berdua hanya ingin menyenangkan hati orang tua. Perjodohan seperti ini sudah sangat wajar di lingkup keluarga kami.” Ingin rasanya Bayu meremas mulut Farid Al-Amar setiap lelaki itu mengucapkan ‘kami’ sebagai kata ganti dirinya dan Nayla. Seolah-olah Nayla sudah menjadi hak milik. Berani sekali Farid menyuarakan kata hati Nayla yang Bayu yakin masih condong pada dirinya. “Saya minta Anda tidak perlu berusaha keras untuk mendekati Nayla lagi. Anda dan Nayla sudah berada di jalan yang berbeda.” Farid mengucapkan itu sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku kemejanya, menyodorkannya pada Bayu. “Jika ada yang mau disampaikan, Anda bisa menghubungi saya.” Bukan karena sopir berbadan tegap yang dengan setia berdiri bersandar di samping sedan mewah milik Farid Al-Amar, yang membuat Bayu menahan diri untuk tidak melayangkan tinju di wajah tampan lelaki itu. Kerumunan orang di bengkel itu pasti akan membelanya. Ia tidak akan kalah. Namun, Bayu cukup tahu diri bahwa andai seluruh tabungan Bunda digunakan untuk menyelamatkannya dari masalah jika terjadi insiden baku hantam, tidak akan pernah sanggup menandingi kekuatan keluarga Al-Amar. “Jangan khawatirkan Nayla. Dia akan baik-baik saja.” Farid Al-Amar menepuk pundak Bayu sebelum menghilang di balik pintu mobil yang dibukakan sang sopir. Tepukan itu pelan saja, tetapi sanggup membuat jiwa Bayu hancur remuk seketika itu juga. Bayu menatap nanar kartu nama Farid Al-Amar yang terselip di tangannya. Nasib kartu itu berubah menjadi serpihan kertas sesaat setelah pemiliknya berlalu dari hadapan Bayu Anggara.Selain pertandingan sepak bola, bangun pagi adalah hal yang paling ditunggu oleh seorang Bayu Anggara. Mesti tidak langsung bangun saat adzan berkumandang, tetapi Bayu tidak pernah melaksanakan salat subuh saat hari sudah terang. Terkadang ia bangun sendiri, terkadang Bunda yang harus mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sampai terdengar jawaban dari dalam. Setelah salat,Bayu pantang tidur lagi. Baginya, suasana pagi terlalu indah jika dilewati begitu saja.Ada banyak hal yang sudah mengantre untuk dilakukan Bayu di pagi hari. Memeriksa kelayakan motor Bunda sebelum berangkat ke kantor sudah menjadi tugasnya semenjak Ayah wafat. Yang pertama ia pastikan adalah kondisi bensin motor Bunda apakah cukup untuk berkendara ke kantor, karena jarum penunjuk status bahan bakarnya sudah tidak lagi berfungsi. Jika diperkirakan kurang, maka Bayu akan pergi sebentar ke pom mini di ujung jalan untuk mengisi penuh tangkinya. Kondisi ban tak luput diperhatikan. Rem apakah bekerja dengan baik, juga lam
Satu minggu pertama yang Nayla lalui di rumah Farid tak ia pungkiri terasa sangat menyenangkan. Sarapan selalu tersedia setiap pagi dengan menu yang berganti-ganti. Bahkan, dua hari terakhir, Bu Baidah salah satu asisten rumah tangga yang paling tua, sengaja bertanya apa yang Nayla ingin makan agar dapat beliau jadikan alternatif hidangan. Tidak perlu mencuci piring, menyapu rumah, mencuci dan menjemur pakaian karena ada Suri yang setiap hari mengerjakan.Farid telah mengisi ruangan kosong di lantai tiga itu sesuai permintaan Nayla. Hanya saja Farid cuma membelikan sebuah lemari kecil untuknya, dengan alasan untuk menghindarkan kecurigaan penghuni rumah yang lain jika tak sengaja memergoki mereka berpisah kamar. Barang-barang Nayla tetap ditempatkan di kamar Farid. Hanya beberapa yang ia pindahkan seperlunya saat akan tidur malam hari.Atas kesepakatan bersama, Nayla setuju untuk sesekali istirahat siang di kamar Farid. Lelaki itu berargumen agar pernikahan mereka tampak normal di mat
Nayla bukan sosok baru untuk Farid. Mereka sudah mengenal sejak kecil, meskipun tidak secara resmi. Farid kerap bertemu Nayla dalam acara-acara keluarga yang dihadiri kedua belah pihak. Hanya sebatas saling tahu wajah, tanpa benar-benar dikenalkan oleh orang tua masing-masing.Abi Farid dan mama Nayla keduanya terpaut pada garis keturunan yang sama, pada Kakek Buyut Al-Amar. Bedanya orang tua Farid memilih saling dijodohkan dengan calon dari lingkar keluarga mereka, sementara mama Nayla memutuskan untuk menikahi kekasih hati yang beliau temukan sendiri. Seorang laki-laki bersuku Palembang yang bukan dari keluarga pebisnis seperti hampir semua garis keturunan Al-Amar. Atas alasan itu juga mengapa kehidupan Nayla tidak semewah saudara-saudara sepupunya yang lain. Bahkan bisa dikatakan hanya sampai taraf berkecukupan.Mungkin campuran darah Palembang itu yang membuat Farid mudah mengenali Nayla. Ia tak pernah kesulitan menemukan sosok Nayla kecil meski gadis itu sedang berkerumun di anta
Hari ini tepat dua puluh hari Nayla resmi menjadi istri Farid Atqan Al Amar. Dua puluh hari yang melelahkan. Setelah acara akad nikah sederhana di rumah Papa yang dilanjutkan dengan syukuran dan acara adat, dua minggu kemudian Nayla harus kembali duduk di pelaminan dalam resepsi pernikahan yang diadakan keluarga Farid di sebuah hotel milik keluarga.Seumur-umur, Nayla malah belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Ia hanya sering menatap hotel tersebut dari atas boncengan motor Bayu saat berhenti di lampu merah ke arah kampus. Ia bahkan sempat mereka-reka berapa banyak gaji yang harus ia sisihkan agar setara dengan harga kamar paling mahal di hotel itu. Tentunya setelah ia dan Bayu lulus, mendapat pekerjaan, menikah, dan jika beruntung bisa menghabiskan satu hari bulan madu mereka di sana.Impian itu akhirnya terwujud. Nayla bisa menempati kamar paling mahal dengan kasur paling empuk tersebut di malam seusai resepsi. Ranjangnya yang bahkan terlalu luas hanya ia tempati sendiri, k
Jika ada hari yang paling ditunggu Nayla seumur hidupnya, maka itu akan jatuh pada hari ini. Wajahnya sudah terias cantik, dengan pewarna bibir, pemoles pipi, serta coretan pensil alis. Tubuhnya telah terbalut kebaya putih bertabur batu permata yang berkerlap kerlip. Kulit punggung tangannya yang terang hampir tak terlihat karena tertutupi lukisan inai hingga ke ujung jari.Nayla mengenal cinta sejak usia belia. Umurnya belum genap dua belas tahun saat ia menyakini bahwa dirinya suatu saat akan menikah dengan tambatan hatinya. Pilihan sendiri. Meskipun sejak usia itu hingga mencapai umur dua puluh satu saat ini, entah sudah berapa laki-laki yang singgah mencuri cinta di hati Nayla. Namun, mulai setahun belakangan, perempuan itu yakin bahwa Bayu yang akan menjadi persinggahannya yang terakhir. Bayu mencintainya. Tak ada sedikit pun dari sikap pemuda itu yang tidak menunjukkan gelora cinta pada Nayla.Enam puluh menit ke depan, Nayla akan resmi menjadi seorang istri. Sesuai pesan sang p







