ホーム / Romansa / ASAL KAU BAHAGIA / Bab 7 - Andai Bisa Diulang

共有

Bab 7 - Andai Bisa Diulang

last update 最終更新日: 2026-02-14 06:50:46

Nayla belum pernah mendaki gunung seumur hidupnya. Tidak ada yang pernah mengajak. Pun tidak ada satu teman atau kerabat yang mempunyai kesukaan menaklukkan alam. Maka, Nayla selalu merengek agar Bayu mengizinkannya ikut serta setiap pemuda itu berangkat mendaki. Bayu kerap menolak sambil tersenyum arif. Juga selalu mengulang jawaban yang sama setiap kali Nayla bertanya alasannya.

“Sabar, nanti ada saatnya.”

Mungkin karena sudah bosan mendengar rengekan Nayla, hari ini Bayu mengajaknya ikut mendaki. Hanya bukit kecil saja menurut Bayu. Sayangnya kabut terlampau tebal saat mereka tiba di puncak. Tidak terlihat apa-apa. Hanya gumpalan awan yang seperti gula kapas.

Bayu menyuruh Nayla duduk di bawah sebuah pohon sementara ia mendirikan tenda.

“Di situ saja, jangan kemana-mana,” ujar Bayu sebelum hilang ditelan kabut.

Meski takut, Nayla menunggu dengan sabar. Hanya saja Bayu terlampau lama. Dalam pekatnya kabut, Nayla merasa kantuk mulai menyerang. Ia tertidur pulas sampai tersadar ada tangan yang berulang kali mengusap lembut rambutnya.

“Bayu?” Mata Nayla menangkap sosok yang tampak samar-samar di hadapannya. “Kenapa lama sekali?”

Nayla mengerjap kembali saat sosok di depannya menarik tubuh sedikit menjauh. Ketika kesadaran penuh menghampirinya dan sosok di depannya semakin jelas terlihat, Nayla sadar bahwa ia tidak sedang berada di puncak bukit bersama Bayu. Ia sedang tertidur di meja makan mewah di rumah milik Farid Al-Amar.

“Maaf.” Hanya itu yang Nayla bisa ucapkan untuk memperbaiki suasana setelah terlanjur menyebut nama Bayu. “Kamu baru pulang?”

“Kamu sudah makan, Nay?” Farid balik bertanya. Lelaki itu sepertinya tidak ingin memperpanjang kesalahpahaman barusan.

Nayla menggeleng lesu. Selera makannya sirna setelah baru saja dihantui mimpi tentang Bayu. Hatinya terasa hampa kala harus kembali menghadapi kenyataan bahwa dirinya bukan lagi kekasih Bayu Anggara, tetapi sudah menjadi seorang istri bagi Farid Al-Amar.

“Aku sudah tidak lapar,” gumam Nayla.

“Tak apa. Cukup temani aku makan kalau begitu.” Farid membujuk.

Lelaki itu kemudian membalik piring di depannya, juga piring di depan Nayla. Menyendok satu centong nasi ke piringnya sendiri, dan separuh ke piring Nayla. Begitu seterusnya untuk sayur dan lauk dengan perbandingan yang sama.

“Aku tidak ikut makan,” protes Nayla saat Farid menaruh tiga keping kerupuk ke piringnya.

“Nay, aku minta kamu menemaniku makan, bukan menontonku makan.” Farid menyuap dengan lahap ke mulutnya. “Makanlah sedikit, supaya kamu tidak sakit.”

Masih dengan tatapan kosong, Nayla memandangi piring berisi makanan di depannya. Padahal sebelum Farid pulang tadi, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan belajar untuk mengubah sikap agar lebih lunak terhadap Farid. Namun, mimpi barusan membuat suasana hati Nayla memburuk dan semakin sulit melupakan Bayu. Tak bisa dipungkiri, sekuat apa pun Nayla menepis, Bayu masih bersemayam di dasar hatinya yang terdalam.

“Tadi ada kecelakaan truk di jalur tol. Itu yang membuatku terlambat sampai.” Farid bercerita sambil terus mengunyah. “Aku sudah kirim pesan, tapi tidak terbaca.”

Ban motorku pecah, Nay. Aku sudah kirim pesan tapi kamu nggak baca.

“Ponselku sedang diisi daya.” Nayla menjawab sekadarnya.

“Besok aku usahakan pulang lebih cepat. Aku mau ajak kamu jalan.”

Besok sehabis kuliah kita jalan, ya, Nay. Jangan ngambek, dong.

“Kita mau ke mana?” tanya Nayla singkat.

“Kamu maunya kemana?” Farid menanyakan pendapat Nayla.

Kamu maunya kemana? Makan es krim, gimana?

Kenangan percakapannya dengan Bayu terus menerus memenuhi isi kepala Nayla. Bulir-bulir air mata sudah mengantre jatuh sehingga ia terpaksa menengah. Nayla merasa dadanya sesak dengan rasa sedih yang menggumpal.

“Kamu maunya kemana, Nay?” Farid mengulang tanya saat Nayla tak terdengar menjawab.

“Makan es krim.”

Getar suara Nayla sudah pasti bercampur bibit tangisan. Saat tak lagi dapat membendung, Nayla meletakkan begitu saja sendok dan garpunya di atas piring sehingga menimbulkan bunyi denting.

“Aku tahu tempat makan es krim yang enak. Besok kita—“ Farid tidak meneruskan kalimatnya karena Nayla sudah berdiri untuk beranjak.

“Maaf, kepalaku tiba-tiba pusing. Kamu makan sendiri saja, ya.”

Separuh berlari Nayla menapak anak tangga dengan air mata yang sudah tumpah. Bunyi kursi yang bergeser dan suara langkah lelaki itu menandakan Farid ikut berdiri dan berniat mengejar. Namun, Nayla memilih mengabaikan. Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan meredam suara tangisnya di balik bantal.

***

“Bayu Anggara, anak Teknik Mesin.”

Tiga tahun lalu Nayla menunjukkan foto seorang pemuda pada Nara saat sang adik bertandang ke kamarnya. Pemuda itu tampak gagah dengan sepeda motor dan ransel di bahunya. Rambutnya yang mulai panjang tergerai seperti tertiup angin. Tampan sesuai selera gadis-gadisj muda.

“Dia nembak gue kemarin.” Nayla tersenyum malu-malu. “Cute, nggak?”

“Cute juga buat apa? Mau dijadiin pacar?” Nara memutar bola mata.

“Emangnya nggak boleh?” Nayla menyangkal.

“Itu namanya jagain jodoh orang, Kak.” Nara tertawa mengejek. “Ujung-ujungnya entar kita kawinnya juga bakal dijodohin sama laki-laki keluarga Al-Amar.”

“Sok tahu!” sungut Nayla. “Udah beda zamanlah!”

“Lihat aja, coba. Kak Jihan nikahnya sama Kak Gibran. Kak Alya sama Kak Mirza. Nggak pernah jauh-jauh jodohnya.” Nara berargumen.

“Gue, sih, ogah,” cibir Nayla kala itu.

“Kenapa enggak? Hidup kita sudah pasti terjamin kalo nikah sama mereka. Nggak perlu ikut banting tulang. Tinggal jadi istri yang baik, urus anak, ikut arisan.” Nara tergelak. “Betapa nikmatnya hidup.”

Nayla melempar bantal di sampingnya ke arah Nara yang sedang asyik berkhayal. “Dasar matre!”

“Bukan matre, tapi realistis, Kak Nay.” Tawa Nara berderai. “Cinta bisa nyusul belakangan.”

“Malesin banget prinsip hidup lo, Ra,” ujar Nayla. “Baru tujuhbelas udah mikir kawin.”

“Betewe, yang namanya Farid-Farid itu dulu sering banget ngeliatin lo setiap jumpa di acara.” Nara mengalihkan tema obrolan. “Lo nggak pernah ngerasa apa, Kak?”

“Farid yang mana?” Nayla mencoba mengingat satu per satu wajah lelaki yang pernah ia jumpai di pertemuan keluarga Al-Amar.

“Yang S2 di Kairo.” Nara memperjelas.

“Ah, bukan tipe gue kali, Ra. Mendingan Bayu kemana-mana.” Nayla mengibaskan jemarinya di udara tanda tidak tertarik pada sosok yang diceritakan Nara.

“Mendingan Faridlah. Duitnya banyak!”

Bantal kedua yang dilempar Nayla hanya sampai menghantam pintu karena Nara sudah terlanjur menghindar dengan lidar menjulur.

Andai saat itu Nayla menuruti kata-kata sang adik untuk tidak menjalin hubungan dengan Bayu, tidak akan ada hati yang tercabik-cabik, tidak akan ada cinta yang terluka parah. Ia cukup menolak Bayu saat pemuda itu menyatakan, seperti pada yang lain yang tak sengaja terjerat indah paras Nayla. Kini, ia berhutang berjuta permintaan maaf pada Bayu. Sayangnya, pemuda itu tak lagi dapat ditemui setelah pertengkaran mereka yang terakhir.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 62 - Kamu Yang Kucinta

    Seminggu setelah Nayla melahirkan sepasang bayi kembar, baru hari itu Farid kembali berangkat ke kantor. Lelaki itu bekerja dari rumah seolah tak ingin meninggalkan sedetik pun Nayla dan dua buah hati mereka yang menggemaskan. Farid menelepon hampir setiap dua jam untuk memastikan Nayla dalam keadaan baik.Nayla menolak saat Farid menawarkan memakai satu lagi pengasuh bayi untuk meringankan bebannya. Padahal Bu Baidah dan Suri sudah lebih dari cukup untuk diperbantukan menurut Nayla. Namun, Farid tetap memaksa. Lelaki itu tidak ingin Nayla terlampau letih dan malah tidak merasa bahagia. Farid ingin produksi ASI Nayla melimpah untuk mencukupi kebutuhan dua bayi sekaligus.Sore itu saat Farid kembali dari bekerja, Nayla sedang duduk beristirahat di sofa. Sepasang lengannya Farid lingkarkan memeluk Nayla dari arah belakang sambil memandangi bergantian dua bayi mereka yang tidur pulas di pangkuan Nayla setelah kenyang menyusu."Aku tidak sabar menunggu Fathan besar untuk mengajarinya bere

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 61 - Dua Yang Mendamba

    Ternyata membuat seseorang jatuh cinta jauh lebih mudah dari pada memperjuangkan cinta itu kembali setelah hilang rasa percaya. Seperti itulah yang Farid rasakan saat ia harus bersabar menghadapi Nayla. Farid paham apa yang sang istri rasakan. Rela patah hati, lalu belajar mencintai, setelah berhasil malah merasa dikhianati, pastinya akan membuat trauma yang mendalam.Farid bersyukur saat membawa sang istri kembali ke rumahnya, Nayla tetap bersedia berada di kamar yang sama dengannya. Namun, Farid tetap menjaga sikap. Ia memberi ruang pada Nayla seperti permintaan perempuan itu saat mereka memutuskan berdamai. Nayla masih mengizinkan Farid untuk memeluknya, juga menciumnya menjelang tidur.Pernah, Farid mencoba peruntungannya setelah satu minggu mereka kembali bersama dengan pelan-pelan mencumbu Nayla. Hanya saja Nayla menolak secara halus saat Farid hendak bertindak lebih jauh. Sampai di tahap itu, Farid sadar perih hati Nayla belum benar-benar sembuh.Kerja sampai larut di ruang kan

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 60 - Bertahan Untuk Cinta

    Perasaan Farid campur aduk saat setelah selesai rapat ia melesat menuju rumah Nayla. Rasa marah mengapa Nayla dibiarkan sendiri saja di rumah tanpa pengawasan, berbaur dengan rasa bingung harus ke mana ia mencari sang istri. Ponsel Nayla tidak dapat dihubungi sama sekali. GPS Tracker yang Farid gunakan hanya dapat membaca posisi terakhir saat Nayla masih berada di rumah sesaat ia mungkin akan berangkat sebelum perempuan itu mematikan ponsel.“Kak, bagaimana kalau Nara minta bantuan Kak Bayu.” Sang adik ipar mengusulkan dengan sedikit sungkan. “Mungkin Kak Bayu tahu ke tempat mana saja Kak Nayla kira-kira pergi.”Saran yang masuk akal. Jika Nayla menolak untuk dihubungi oleh semua orang di rumah ini, kemungkinan besar ada satu orang yang ia pilih untuk berkomunikasi. Bisa jadi pilihan itu jatuh pada Bayu. Pemuda itu juga mengenal Nayla jauh lebih lama dibandingkan dirinya. Lebih hafal kebiasaan Nayla, lebih paham cara menangani perempuan itu.Meski rasa cemburu langsung menghantam dada

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 59 - Bahagia Dengan Jalannya

    Sudah menjelang sore ketika Bayu berdiri di depan indekos Jingga dan gadis itu membukakan pintu untuknya. Sejak Bayu mengantar Jingga pulang setelah diajak bertandang ke rumah Bunda, hubungan mereka tak lagi seperti dulu. Ada yang terasa janggal. Namun, Bayu tetap berusaha membuat Jingga merasa nyaman atas peralihan status hubungan mereka yang sampai saat itu belum juga terkonfirmasi secara resmi dari pihak tertuju.Beberapa kali Bayu berusaha mengajak Jingga pergi berkencan tipis-tipis. Gadis itu tidak menolak. Bahkan untuk duduk di boncengan motor Bayu, Jingga tak lagi sungkan untuk memegang jaketnya dari belakang, pernah juga memeluknya sedikit saat hujan deras sepulang dari kampus. Tak dipungkiri kehadiran Jingga mengalihkannya dari keterpurukan setelah ditinggal menikah oleh Nayla.Lama Bayu tak mendengar kabar sang mantan kekasih setelah terakhir kali berjumpa saat dirinya dalam keadaan kacau balau. Yang Bayu tahu, Nayla kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tak ada hak b

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 58 - Benar-Benar Sendirian

    Bukan Mama yang Nayla sadari berada di sisinya saat ia siuman. Aroma parfum mawar yang menguar sedikit Nayla hafal. Lalu, samar-samar sebuah senyuman menyambangi pelupuk mata Nayla saat kesadarannya terkumpul penuh."Tante Yunda?" Nayla menebak.Melihat sang pemilik senyum mengangguk, Nayla berusaha bangkit dari berbaring agar leluasa berbicara. Namun, perempuan yang hampir sebaya Mama itu segera mencegah."Baring saja, Nay." Tante Yunda menunjukkan selang infus yang masih terpasang. "Kamu dehidrasi ringan.""Mama yang panggil Tante Yunda ke sini?" Nayla menuruti perintah dan kembali berbaring. "Nayla nggak apa-apa, kok, Tante.""Tekanan darah kamu rendah. Tante sudah resepkan beberapa vitamin," ujar dokter perempuan itu. "Oh, ya, Nay. Kapan haid terakhir kamu?"Nayla tahu betul sudah hampir dua puluh hari ia terlambat datang bulan. Hanya saja ditanya sedemikian rupa saat suasana hatinya tidak baik-baik saja, Nayla terlampau malas untuk menjawab."Nay lupa, Tante." Nayla mengalihkan p

  • ASAL KAU BAHAGIA    Bab 57 - Tak Bisa Ditawar

    Seminggu penuh yang amat sangat menguras tenaga dan pikiran telah berhasil Farid lalui sendirian. Meski dulu sebenarnya Farid terbiasa, tetapi beberapa bulan terakhir selalu ada Nayla tempatnya bermanja saat pulang. Nayla telah menjadi rumah untuknya.Beban paling besar yang Farid patut syukuri telah terangkat dari pundaknya adalah saat Syahnaz berpamitan untuk kembali menetap di Bali setelah sang sahabat menyerah berjuang di Jakarta. Farid hanya bisa tertawa miris saat melepas Syahnaz saat terakhir mereka makan siang bersama untuk sekadar momen perpisahan dan permohonan maaf dari sang sahabat. Syahnaz mungkin sengaja dikirim Tuhan untuk menguji rumah tangganya dengan Nayla. Perkawinan adalah ibadah seumur hidup, Farid tidak akan melupakan nasihat yang dikumandangkan di saat akad nikahnya dulu. Ibadah terpanjang sudah pasti akan banyak ujiannya.Sepulang dari Singapura menemani Abi, Farid memutuskan bermalam di rumah masa kecilnya. Semalaman ia berbincang dengan Umi, menceritakan kisr

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status