Home / Romansa / ASI Untuk Putra Sang CEO / Ingin Melihat Arga

Share

Ingin Melihat Arga

Author: Zinnia Azalea
last update Last Updated: 2024-11-22 14:36:52

Elzaino menanda tangani berkas kerja sama antara perusahaan miliknya dan perusahaan besar yang ada di Dubai. Seharusnya pria bertubuh tinggi dan atletis itu gembira dan merayakan keberhasilan ini. Teringat ketika ia menceritakan harapannya bekerja sama dengan perusahaan raksasa asal Dubai ini pada sang istri. Walaupun waktu itu respon Amanda mengecewakan, tapi wanita itu berharap Elzaino memenangkan kerja sama yang berharga milyaran itu. Hati El kini terasa hampa dan sepi.

"Seharusnya kita merayakannya bersama-sama dengan Arga," lirih El. Matanya menatap jauh ke depan. Menatap pemandangan dari bangunan kantornya yang mencakar langit.

Tangannya mengepa saat mengingat Amanda mencampakan dirinya. Saat itu ketika dirinya pulang dari kantor, Elzaino tak menemukan Amanda di rumah. Petugas keamanan yang berjaga berkata jika Amanda pergi dengan alasan bertemu dokter untuk mengecek luka pasca persalinan. Elzaino kemudian menemukan sepucuk surat jika sang wanitanya sudah tak ingin berada di sampingnya. Dalam surat itu Amanda menjelaskan jika tugasnya sudah selesai memberikan Elzaino keturunan. Amanda tidak akan mengambil Arga dari sisi El, asal Elzaino membiarkan Amanda pergi mengejar cinta sejatinya. Hati Elzaino remuk redam, harga dirinya seolah tercabik dengan pengkhianatan dari Amanda. Tak ia sangka jika sang istri masih menaruh asa pada mantan kekasihnya.

"Kau menganggap Darren adalah cinta sejatimu, lalu bagaimana dengan Arga? Di tubuhnya mengalir darahmu. Tak pentingkah Arga di matamu?" Lirih El. Matanya berkaca-kaca.

Elzaino mengerjapkan matanya. Ia tak ingin lemah dalam situasi sulit seperti ini. Masih ada Arga, ibu dan adiknya yang harus ia lindungi dan harus ia nafkahi. Kini harta yang paling berharga bagi El adalah kehadiran Arga.

Elzaino mengusap wajahnya. Lantas ia membereskan kontrak kerja yang masih ada di atas meja. Ia bergegas untuk pulang, tak ingin menikmati kesindiriannya di lantai 60 itu. Dirinya harus memastikan jika Arga di rumah baik-baik saja dan ditangani oleh Alana dengan benar.

****

Sementara itu Meri memperhatikan Alana yang baru saja memandikan Arga. Arga memang harus di mandikan dua kali dalam sehari. Alana terlihat telaten dalam membersihkan tubuh mungil putra Elzaino itu.

"Awas saja kalau cucuku kenapa-kenapa!!" Meri memberikan ultimatum seraya berdiri di belakang Alana yang tengah memandikan Arga.

"I-iya, Nyonya," Alana segera mengeringkan tubuh Arga dengan handuk dan membawanya keluar dari kamar mandi, tentunya Meri masih mengekor di belakangnya.

Alana segera memakaikan piyama di tubuh kecil Arga. Wanita itu terlihat riang dan menikmati pekerjaan barunya ini. Menjadi ibu susu Arga seolah sedikit menghapus duka dan lara hatinya yang ditinggalkan oleh sang anak. Arga sendiri hanya menggeliat pelan dengan gerakan lembut yang Alana buat. Kolik yang diderita bayi itu pun seakan langsung sembuh karena ASI yang Alana berikan.

"Anak kecil udah ganteng dan harum!!" Alana berkata riang. Meri hanya memutar bola matanya.

Tak lama kemudian bayi mungil itu menangis. Alana paham jika Arga menginginkan susu. Segera Alana menggendong Arga dan menyusuinya. Arga langsung menghisap ASI yang diberikan Alana dengan cepat, seolah sedari tadi kehausan.

"Dari tadi engga kamu kasih ASI, hah?" Meri membentak.

"Kasih kok, Nyonya. Den Arga memang seperti ini menyusunya. Mungkin karena Den Arga laki-laki, jadi menyusunya kuat," Alana menjawab dengan takut.

"Mana ada seperti itu? Itu buktinya cucu saya kaya kelaparan gitu!!" Meri masih tak terima.

"Saya tidak bohong, Nyonya. Sebelum dimandikan, Den Arga sudah saya susui terlebih dahulu," Alana menjawab lagi.

"Halah, palingan ASInya seret. Babu kaya kamu pasti kurang nutrisi, jadi ASInya seret," ucap Meri lagi dengan pedas.

"Sudah saya pumping, Nyonya. Hasilnya ASI saya cukup banyak," Alana menyergah.

"Lagian ngapain si El nyusuin bayinya ke babu! Ada ada aja!!" Gerutu Meri, lalu meninggalkan kamar Arga dengan wajah senewen.

"Astagfirullah!!" Alana beristigfar, menenangkan dirinya.

Walau dirinya dulu memang seorang asisten rumah tangga, tapi apakah layak dipanggil dengan sebutan "Babu"? Bukankah jika tidak ada asisten rumah tangga sepertinya mereka akan kerepotan? Alana menghela nafasnya. Ia tidak boleh terbawa suasana. Hatinya harus selalu ceria agar ASInya selalu melimpah. Alana mengalihkan perhatiannya pada Arga yang sedang menyusu padanya. Perasaan sedih yang tadi ia rasakan kini terbang entah ke mana. Alana tersenyum memperhatikan wajah Arga yang lucu.

"Ganteng banget kamu, Nak! Masya Allah!" Puji Alana seraya memperhatikan bulu mata Arga yang lentik.

"Kamu mirip Papamu ya, Nak?" Alana berujar kembali disertai dengan senyuman hangat. Sesekali tangannya mengusap rambut Arga dengan sayang.

untuk mengusir sepi, Alana kemudian melantunkan shalawat yang biasa ia baca. Elzaino yang sudah sampai ke rumah pun segera berjalan ke kamar putranya. Ketika ia akan membuka pintu, hatinya tertegun mendengar shalawatan merdu dari Alana. Ia membuka pintu sedikit dan melihat Alana sedang memunggunginya. Elzaino tahu jika wanita itu kini sedang menyusui putranya.

"Minum yang banyak ya, Nak! Tumbuhlah dengan sehat dan kuat," Alana berucap setelah ia melantunkan shalawat. Ia elus kembali kepala Arga dengan penuh kasih.

Hati Elzaino menghangat. Ternyata memilih Alana sebagai ibu susu Arga adalah keputusan yang tepat. Beberapa menit kemudian Arga sudah tertidur di pangkuan Alana. Wanita itu segera menutup kancing kemejanya. Elzaino yang memperhatikan pun memutuskan untuk masuk.

"Ehem," Elzaino berdehem.

Alana terlonjak kaget. Ia langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang.

"Tu-tuan!" Alana terbata.

"Saya hanya ingin melihat keadaan Arga," Elzaino melangkahkan kakinya masuk.

"Den Arga sudah tidur, Tuan," Alana pun berdiri seraya memangku Elzaino di pangkuannya.

"Saya ingin menimangnya," timpal Elzaino seraya memperhatikan wajah Arga yang tengah terlelap dengan damai.

"Boleh, Tuan," Alana mendekatkan tubuhnya, hendak memberikan Arga pada ayahnya.

Mata mereka kemudian bertatapan ketika Elzaino menerima bayi mungil itu dari tangan Alana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Pertengkaran

    Sudah seminggu ini Heri terbaring sakit. Mantan suami dari Alana itu kini tinggal sebatang kara. Heri memicingkan mata, kepalanya terasa berat, wajahnya pun terlihat pias.. "Haus sekali," lirihnya dengan suara lemah. Pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu memaksakan diri untuk bangun demi membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering. Heri berjalan dengan tergopoh ke arah galon yang berada di sudut ruangan. Tubuhnya terasa remuk redam. Bekerja sebagai kuli bangunan memang pengalaman hidup yang amat berat bagi Heri yang terbiasa bekerja dengan santai. Tangan Heri menuangkan air ke dalam gelas dengan pelan. Pria itu meneguk habis air dalam gelas sampai tak tersisa. Untung saja temannya berbaik hati tidak membawa galon dan gelas gelas di kontrakan karena iba akan nasib Heri. Heri sudah sebulan bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya amat dibenci oleh rekan rekannya karena perseteruannya dengan salah satu pekerja. "Ibu, Bapak, Annida," Heri merebahkan dirinya kemb

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Perayaan Tahun Baru

    Alana memetik pucuk teh dengan riang. Ia kemudian memperlihatkannya pada Arga yang sedang ia gendong. "Lihat nih, Sayang!" Ujar Alana riang. Matanya beralih pada hamparan kebun teh yang begitu luas. Hijau, sejuk, damai dan begitu memanjakan mata. Alana begitu riang ketika ia diajak untuk merayakan tahun baru di villa milik tuannya, Elzaino. Alana amat bersyukur bisa bekerja pada Elzaino. Alana mengalihkan pandangannya pada Arga yang sedang ia gendong dengan gendongan depan. Bayi berusia 8 bulan itu menatapnya dengan mata yang jernih. Kehampaan dan kesedihan Alana memang sangat terobati dengan kehadiran bayi gembul itu. "Arga dingin, Nak?" Alana menyentuh pipi Arga yang memerah. Bayi itu kemudian tersenyum menatap Alana. "Emm, hangat," Alana berbicara sendiri. Yakin jika tuan mudanya itu tidak kedinginan karena Alana juga sudah memakaikan pakaian yang hangat untuk Arga. "Ayo kita ke sebelah sana ya, kita lihat kabut dan embun!" Alana melangkah lebih jauh. Sementara itu Elzaino,

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Siasat Amanda

    Amanda masih berusaha memasuki kediaman orang tuanya meski petugas keamanan terus saja berbicara sinis padanya. Wanita yang sudah berada di depan gerbang rumah ayahnya itu pun keluar dari mobil. Ia berteriak bak orang kesetanan karena tak kunjung mendapat izin untuk masuk ke dalam kediaman orang tuanya. "Buka gerbangnya, Babu!!!" Hardiknya dengan penuh amarah kepada petugas keamanan yang bernama Jono. Jono keukeuh tak ingin membuka gerbang. "Tidak bisa," tolak Jono sekali lagi, wajahnya cukup santai. "Kurang ajar!! Aaaa!!" Amanda berteriak seraya mencari batu untuk ia lempar kepada petugas keamanan yang sudah mengabdi di sana selama puluhan tahun itu. Handoko dan Resti yang sedang berada di pendopo merasa terganggu dengan suara bising yang terdengar dari pos keamanan. "Seperti suara Amanda, Pa!" Resti berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah saat mendengar suara sang putri. Sementara Handoko hanya diam. Ia memang sudah mengira sang putri akan datang ke kediamannya. "Bi

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Tak Ingin Alana Sakit

    Sejak kedatangan Amanda, Meri begitu mencemaskan keadaan sang cucu. Meri takut, Amanda akan berbuat nekat untuk mengambil Arga dari sisi keluarganya. Meri berjalan ke arah kamar Arga dan Alana. Wanita modis itu membuka pintu kamar Arga sedikit, ia tersenyum saat melihat Arga sedang berceloteh dan bercanda dengan Alana. Lagi-lagi hatinya menghangat karena Alana. "Alana," Panggil Meri lembut "Iya, Nyonya?" Alana menatap Meri yang sedang berjalan ke arahnya. "Terima kasih, Alana. Karena kamu telah menyayangi cucu saya sepenuh hati kamu," ucap Meri yang membuat Alana seakan tak percaya, karena Meri tak pernah mengatakan terima kasih kepada pekerjanya. "Sama-sama, Nyonya. Sudah kewajiban saya harus menjaga dan menyayangi Den Arga dengan sepenuh hati," Alana tersenyum yang membuat Meri semakin menyukai wanita cantik itu. "Saya akan membawa Arga ke taman, hanya di taman rumah ini. Saya ingin menghabiskan waktu dengan cucu saya," Meri berujar yang mirip sekali dengan meminta izin kepada

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Rencana Pergantian Tahun

    Elzaino berencana untuk merayakan pergantian tahun di villa pribadi miliknya yang ada di kota kembang. Villa itu terletak di kawasan asri dan dikelilingi kebun teh yang luas. Elzaino memang sengaja membelinya agar ia bisa membawa keluarganya menjauh sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Elzaino ingin menenangkan pikirannya dari segala masalah yang akhir-akhir ini menderanya."Seriusan Kak kita mau ke villa?" Tanya Mireya dengan mata yang berbinar.Kakak beradik itu kini berada dalam ruangan pribadi milik Elzaino. Mireya sendiri diminta datang ke ruangan pribadi kakaknya untuk menyampaikan hasil rapat tadi siang dengan perusahaan dari Amerika."Seriusan. Tapi semua kerjaan kantor udah beres kan?" Elzaino memastikan. Ia tak ingin pergi berlibur sementara pekerjaan di kantor belum rampung."Kakak ini tidak tahu apa kinerjaku seperti apa?" Mireya mengerucutkan bibirnya.Memang Elzaino begitu mengenali sifat pekerja keras adiknya. Bukan karena Mireya adalah adiknya lantas El menunjuk wanita

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Hari Pertama MPASI

    Pagi-pagi sekali Alana sudah berjibaku dengan apron warna putihnya. Hari ini, adalah hari pertama Arga MPASI. Wanita itu sangat fokus sekali dengan masakannya, hingga tak menyadari kedatangan Meri dan Mireya yang menghampiri dirinya. "Sedang apa, Sus? Serius sekali!" Mireya yang sedang libur itu bertanya kepada Alana seraya berdiri di samping Alana. Elzaino sudah dua hari ke luar kota, ia pun tak tahu Arga akan mulai MPASI hari ini. "Saya sedang memasak untuk Den Arga. Hari ini hari pertama MPASInya," jawab Alana dengan ceria. Mireya dan Meri merasa terkejut mendengar Arga yang sudah mulai fase MPASI. Mereka sangat sibuk sampai tidak sadar jika Arga sudah genap berusia enam bulan. "Kamu masak apa saja untuk Arga, Alana?" Meri memperhatikan makanan yang ada di dalam panci anti lengket itu. Meri sebenarnya merasa tak yakin dengan Alana, apakah wanita itu tahu gizi yang dibutuhkan oleh seorang bayi? Meri menatap isi panci itu, isinya adalah nasi, daging sapi, brokoli, dan tahu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status