Compartilhar

04. Bukan Levelmu

Autor: Senjaaa_
last update Data de publicação: 2026-04-03 01:12:33

"Ingat, Keyla. Jangan mempermalukan saya di depan Ibu," ucap Arlan tajam.

Keyla merapikan gaun emerald green yang membalut tubuhnya. Dia tidak menoleh, justru sibuk memastikan riasannya tidak luntur di spion.

"Bapak yang minta saya jadi tameng, kan?" sahut Keyla tenang.

"Ya. Tapi tameng yang berkelas, bukan yang membawa bakwan ke ruang rapat," sindir Arlan.

Keyla hanya tersenyum tipis, lalu keluar dari mobil dengan anggun. Arlan sempat terpaku melihat perubahan drastis asistennya itu.

Mereka melangkah masuk ke restoran mewah bergaya klasik Eropa. Di meja bundar paling sudut, dua wanita sudah menunggu dengan tatapan menilai.

"Arlan, akhirnya kamu datang. Ibu pikir kamu lebih memilih asistenmu daripada undangan Ibu," ucap Nyonya Sofia dingin.

Arlan tidak segera duduk, dia justru menarik kursi untuk Keyla dengan gerakan protektif. "Maaf terlambat, Bu. Saya harus memastikan Keyla siap bertemu Ibu."

Mata Nyonya Sofia beralih ke Keyla, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Di sampingnya, Clarissa, gadis cantik dengan perhiasan mahal, mendengus pelan.

"Jadi ini wanita yang membuatmu menolak Clarissa?" tanya Nyonya Sofia tanpa basa-basi.

Keyla tidak menunggu izin untuk duduk. Dia segera menempati kursi yang ditarik Arlan.

"Selamat siang, Nyonya Sofia. Nama saya Keyla," sapa Keyla dengan suara stabil.

"Saya tidak bertanya namamu. Saya bertanya, apa pantas kamu duduk di meja ini?" potong Nyonya Sofia sinis.

Keyla meletakkan tas tangannya dengan tenang di atas meja. Dia menatap mata Nyonya Sofia tanpa rasa takut sedikit pun.

"Jika putra Anda yang meminta saya duduk di sini, artinya saya sangat pantas," balas Keyla telak.

Clarissa hampir tersedak air putihnya. "Berani sekali kamu bicara begitu di depan Nyonya Sofia!"

"Saya hanya menjawab pertanyaan, Nona Clarissa. Bukankah kejujuran itu mahal harganya?" Keyla tersenyum formal.

Suasana meja makan mendadak mencekam. Arlan diam-diam mengamati Keyla dengan rasa bangga yang tersembunyi.

Pelayan datang membawa buku menu yang seluruhnya menggunakan bahasa Prancis. Clarissa tersenyum licik, menantikan momen memalukan bagi Keyla.

"Pesanlah, Keyla. Atau kamu butuh saya untuk membacakannya?" tawar Clarissa meremehkan.

Keyla menutup buku menu itu bahkan sebelum membacanya. Dia menoleh ke pelayan dengan ekspresi sangat tenang.

"Saya ingin menu yang sama dengan Pak Arlan. Kami punya selera yang serupa dalam banyak hal," ucap Keyla singkat.

Cara Keyla menjawab membuat Clarissa kehilangan kata-kata. Keyla tidak berpura-pura tahu, tapi dia tidak memberikan celah untuk dihina.

Selama makan siang, Keyla hanya bicara saat diperlukan. Dia menunjukkan keberaniannya lewat tatapan mata yang tegas dan sikap yang tidak bisa direndahkan.

"Ibu harap kamu sadar, Arlan. Pernikahan bukan sekadar soal selera," ucap Nyonya Sofia sebelum mereka berpisah.

"Saya sangat sadar, Bu. Karena itu saya memilih orang yang paling bisa saya percaya," tegas Arlan sambil menggenggam tangan Keyla.

Keyla merasakan jantungnya berdegup saat tangan Arlan yang besar mengunci jemarinya. Dia berusaha tetap tenang di bawah tatapan tajam Nyonya Sofia.

Saat mereka beranjak menuju pintu keluar, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depan lobi. Pintu terbuka, dan sosok tinggi besar melangkah keluar dengan wajah murka.

"Arlan Adiguna! Berhenti di sana!" teriak pria itu.

Arlan mendadak kaku. Pegangannya di tangan Keyla mengerat. "Ayah?"

Baskara Adiguna melangkah mendekat, mengabaikan tatapan orang sekitar. Matanya tertuju pada tangan Arlan yang masih menggenggam tangan Keyla.

"Lepaskan tangan wanita murahan itu sekarang juga sebelum Ayah menghancurkan karirmu!" bentak Baskara tepat di depan wajah putranya.

Keyla tertegun, namun dia tidak melepaskan tangannya. Dia justru berdiri lebih tegak, menatap pria yang paling ditakuti di Adiguna Group itu tanpa berkedip.

"Maaf, Pak Baskara. Tapi tangan saya bukan untuk dilepaskan hanya karena sebuah gertakan," ucap Keyla dengan suara yang sangat tenang.

Baskara menoleh perlahan ke arah Keyla, matanya berkilat penuh amarah. Dia mengangkat tangannya, bersiap melakukan sesuatu yang tidak terduga.

"Berani sekali kamu bicara seperti itu di depan saya?" geram Baskara Adiguna.

Suasana lobi restoran yang mewah itu mendadak sunyi senyap. Semua orang menahan napas melihat singa tua Adiguna Group sedang murka.

Tangan Baskara yang terangkat di udara bergetar karena emosi yang meluap. Dia menatap Keyla seolah gadis itu adalah hama yang harus segera dimusnahkan.

"Saya hanya membela hak saya untuk tidak direndahkan, Pak Baskara."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   64. Menu Sarapan Misterius

    "Arlan! Kamu kenapa melotot begitu sambil pegang ponsel? Apa ada hantu kirim pesan singkat atau kamu baru saja lihat harga saham jatuh drastis sampai wajahmu kaku begitu?!" seru Keyla yang tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur, mengucek matanya yang masih setengah terpejam.Keyla menatap Arlan dengan tatapan menyelidik, merasa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu di balik cahaya redup lampu tidur. Rasa kantuknya seketika hilang saat melihat ketegangan di rahang Arlan, membuat imajinasi liar Keyla kembali bekerja memikirkan hal-hal aneh yang mungkin terjadi di tengah malam.Arlan segera mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke dalam laci dengan gerakan yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menarik Keyla kembali ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya yang hangat untuk meredam kecurigaan asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Sayang. Tidak ada hantu, hanya laporan rutin dari tim keamanan yang sedikit terlambat masuk karena kendal

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   63. Detak Jantung yang Salah Alamat

    "Arlan! Itu di kantor ada paket berdetak kok kamu malah tenang-tenang saja sambil rapihin kerah baju?! Apa kamu pikir itu jam weker raksasa yang mau kasih kejutan ulang tahun buat saya?!" seru Keyla dengan suara melengking saat helikopter mereka baru saja mendarat di atap gedung kantor pusat.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah pintu lift yang menuju lobi utama tempat paket misterius itu berada. Keyla merasa lututnya lemas, membayangkan sebuah benda berbahaya meledak dan menghancurkan dokumen-dokumen penting yang baru saja mereka amankan.Arlan tidak membiarkan Keyla jatuh dalam kepanikan, dia segera menangkap pinggang istrinya dan menariknya ke dalam dekapan yang sangat protektif dan hangat. Dengan tatapan mata yang sangat tenang dan berwibawa, dia mengusap pipi Keyla untuk memberikan ketenangan instan."Tenanglah, Sayang. Itu bukan bom sungguhan, melainkan hanya jam pasir kuno dengan mekanisme pegas yang sengaja dibuat berisik untuk menakut-nakuti kita," jawa

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   62. Warisan Rahasia

    "Arlan! Itu di layar kenapa ada nama Arlo di atas brankas mini itu?! Apa jangan-jangan Ibu saya dulu sebenarnya adalah agen rahasia yang lagi ngasuh sepupu kamu yang menyebalkan itu?!" seru Keyla sambil menunjuk layar proyektor dengan ekspresi antara bingung dan tidak terima.Suasana ruangan rahasia yang tadinya sunyi mendadak penuh dengan suara melengking Keyla yang menggema di antara rak buku tua. Keyla merasa otaknya mulai memproses skenario gila, mulai dari bayi tertukar hingga teori konspirasi keluarga yang membuatnya pening tujuh keliling.Arlan tidak membiarkan istrinya jatuh dalam lubang spekulasi yang aneh-aneh, dia segera menarik Keyla ke dalam pelukan hangatnya. Dengan satu tangan, dia mengusap lembut punggung Keyla, memberikan ketenangan instan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Arlan Adiguna."Tenanglah, Keyla. Arlo bukan anak hilang atau saudara rahasia, dia hanya anak yang dititipkan oleh paman saya kepada Ibu kamu untuk dibantu biaya pendidikannya karena dulu kelua

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   61. Sandaran CEO

    "Arlan! Itu si Arlo KW super kenapa dadah-dadah dari kapal pesiar kayak mau ikut lomba melambai sedunia?! Terus ini kenapa helikopternya miring-miring begini, apa pilotnya lagi belajar goyang di udara?!" seru Keyla sambil mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat hingga buku jarinya memutih.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah laut lepas yang terlihat gelap dan bergulung di bawah sana. Keyla merasa perutnya dikocok habis-habisan, rasa takut akan ketinggian berbaur dengan rasa kesal melihat Arlo yang tampak sangat santai di atas kapal mewah itu.Arlan segera menarik tubuh Keyla ke dalam dekapannya, membiarkan kepala asisten kesayangannya itu bersandar di dada bidangnya yang kokoh. Dengan tangan yang sangat tenang, dia mengusap bahu Keyla, berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan yang selalu ia miliki."Tenanglah, Keyla. Helikopter ini sangat stabil, pilot saya hanya sedang menyesuaikan dengan arus angin laut agar perjalanan kita lebih mulus," jawab Arlan deng

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   60. Duel Tampan

    "Arlan! Itu tadi siapa yang nelepon kok suaranya mirip kamu tapi versi lebih menyebalkan?! Terus kenapa dia panggil kamu Kakak? Kamu beneran punya kembaran yang tertinggal di masa lalu?!" seru Keyla sambil memegang erat pegangan pintu mobil yang mulai melaju kencang meninggalkan villa.Napasnya memburu, bayangan wajah bermasker di layar ponsel tadi benar-benar menghantuinya. Keyla merasa kepalanya mau pecah membayangkan ada dua pria setampan Arlan di dunia ini, tapi yang satu sepertinya ingin mencuri hidup suaminya.Arlan tidak membiarkan Keyla tenggelam dalam ketakutan, dia segera memindahkan tangannya dari kemudi hanya untuk menggenggam jemari Keyla yang dingin. Dia memberikan tatapan mata yang sangat tajam namun penuh keteduhan, berusaha meredam badai di hati asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Keyla. Dia bukan kembaran biologis saya, melainkan sepupu jauh bernama Arlo yang sejak kecil memang dididik untuk menjadi bayangan saya dalam urusan bisnis keluarga," jawab Arlan dengan s

  • ASISTEN KESAYANGAN TUAN ARLAN   59. Rahasia Kembaran

    "Arlan! Itu kakek kamu kok hidup lagi? Terus kenapa dia pegang foto bayi kembar begitu? Kamu jangan bilang kalau sebenarnya saya ini punya kembaran yang tertukar di puskesmas?!" seru Keyla dengan suara melengking sambil menunjuk-nunjuk layar monitor di balik pintu villa.Napasnya memburu, matanya membelalak melihat pria tua di depan pintu yang sangat mirip dengan mendiang Kakek Adiguna. Keyla merasa dunianya kembali jungkir balik, membayangkan jika selama ini ada orang lain yang memiliki wajah persis sepertinya dan mungkin sedang merencanakan sesuatu yang aneh.Arlan tidak membiarkan Keyla terus berimajinasi liar sampai menembus batas logika. Dia segera menarik Keyla ke belakang punggungnya, lalu dengan tenang membuka pintu villa setelah memastikan tidak ada ancaman senjata di tangan pria tua tersebut."Tenanglah, Keyla. Beliau bukan hantu kakek saya, melainkan adik kembar Kakek yang selama ini menetap di luar negeri untuk mengelola yayasan panti asuhan rahasia itu," jawab Arlan denga

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status