Mag-log in"Berani sekali kamu bicara seperti itu di depan saya?" geram Baskara Adiguna.
Suasana lobi restoran yang mewah itu mendadak sunyi senyap. Semua orang menahan napas melihat singa tua Adiguna Group sedang murka. Tangan Baskara yang terangkat di udara bergetar karena emosi yang meluap. Dia menatap Keyla seolah gadis itu adalah hama yang harus segera dimusnahkan. "Saya hanya membela hak saya untuk tidak direndahkan, Pak Baskara," sahut Keyla tenang. Keyla tidak mundur selangkah pun meski aura intimidasi Baskara begitu menyesakkan. Dia justru mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Arlan. Arlan segera bergeser, memposisikan tubuhnya sebagai tameng di depan Keyla. "Cukup, Yah. Jangan mempermalukan diri sendiri di tempat umum." "Kamu yang mempermalukan Ayah, Arlan! Membawa wanita sampah ini ke hadapan Ibu dan Clarissa!" bentak Baskara lagi. Baskara menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri di belakang. "Bawa wanita ini pergi. Pastikan dia tidak pernah menginjakkan kaki di gedung kantor lagi." Dua pria berbadan tegap segera maju mendekati Keyla. Mereka bergerak cepat, hendak menyeret Keyla menjauh dari Arlan. Namun, sebelum tangan mereka menyentuh Keyla, gadis itu sudah lebih dulu bergerak. Dia mengangkat tas tangannya yang mungil dan menggunakannya untuk menangkis tangan salah satu penjaga. "Jangan sentuh saya kalau tidak mau saya teriak pelecehan di depan wartawan!" ancam Keyla dengan suara lantang. Para penjaga itu tersentak dan ragu-ragu untuk melanjutkan tindakan mereka. Keyla memanfaatkan momen itu untuk kembali menatap Baskara dengan berani. "Pak Baskara, saya mungkin asisten biasa. Tapi saya bukan wanita yang bisa Bapak beli atau Bapak buang sesuka hati," tegas Keyla. Arlan menatap Keyla dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan. Keberanian gadis ini benar-benar di luar logikanya sebagai seorang CEO. "Arlan, seret dia keluar atau Ayah akan mencabut semua fasilitasmu detik ini juga!" ancam Baskara dengan napas memburu. "Silakan cabut semuanya, Yah. Saya tidak butuh fasilitas yang mengharuskan saya menjadi pengecut," jawab Arlan tanpa ragu. Arlan langsung menarik tangan Keyla, menuntunnya keluar dari restoran tanpa menoleh lagi pada ayahnya yang sedang berteriak marah. Mereka masuk ke dalam mobil dengan napas yang masih tersengal-sengal. Arlan segera mengunci pintu dan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Keheningan menyelimuti kabin mobil mewah itu selama beberapa menit. Keyla menyandarkan punggungnya, baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya gemetar hebat. "Tadi itu... gila banget," gumam Keyla pelan sambil menatap tangannya yang masih bergetar. Arlan melirik sekilas, lalu melambatkan laju mobilnya di tepi jalan yang agak sepi. Dia menepikan mobilnya dan mematikan mesin. "Kenapa kamu tidak melepaskan tangan saya tadi?" tanya Arlan sambil menatap lurus ke depan. "Kalau saya lepas, artinya Bapak kalah. Dan saya benci melihat orang baik kalah dari orang sombong," jawab Keyla jujur. Arlan menoleh, menatap Keyla dengan pandangan yang sangat dalam dan sulit diartikan. Dia mendekatkan tubuhnya, membuat Keyla reflek menahan napas. "Terima kasih, Keyla. Tapi kamu tahu konsekuensinya, kan? Ayah saya tidak akan tinggal diam," bisik Arlan. "Saya tahu. Tapi tenang saja, saya sudah biasa hidup susah. Bapak yang harusnya khawatir," canda Keyla berusaha mencairkan suasana. Arlan tersenyum tipis—kali ini senyum yang benar-benar tulus hingga ke matanya. Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. "Pakai ini," ucap Arlan sambil menyodorkan sebuah kartu akses berwarna emas murni. Keyla mengerutkan dahi. "Ini apa, Pak? Kartu sakti?" "Itu akses ke apartemen pribadi saya yang tidak diketahui oleh keluarga saya. Mulai malam ini, kamu tidak bisa pulang ke rumah kosmu," tegas Arlan. Keyla membelalakkan matanya. "Maksud Bapak, kita tinggal bareng? Wah, nggak boleh gitu Pak, kita belum muhrim!" "Jangan berpikiran mesum. Apartemen itu punya dua lantai dan pengamanan tingkat tinggi. Ayah saya sudah mengirim orang ke kosmu sekarang," potong Arlan cepat. Keyla terdiam, rasa takut mulai merayap di hatinya. Ternyata ancaman Baskara bukan sekadar gertakan sambal. "Tapi... ibu saya gimana, Pak? Kalau mereka tahu alamat rumah ibu saya?" tanya Keyla panik. Arlan menyalakan kembali mesin mobilnya dengan wajah yang kembali kaku. "Hendra sudah dalam perjalanan untuk menjemput ibu kamu dan memindahkannya ke tempat aman." Keyla merasa sedikit lega, namun sekaligus merasa hidupnya kini benar-benar terjebak dalam pusaran masalah Arlan. Dia tidak lagi hanya seorang asisten, tapi sudah masuk ke dalam zona perang keluarga konglomerat. Mereka sampai di sebuah gedung apartemen mewah yang sangat tertutup. Arlan menuntun Keyla masuk lewat lift khusus yang langsung menuju unit paling atas. Di dalam apartemen, semuanya terlihat sangat canggih dan sangat... dingin. Keyla merasa seperti masuk ke dalam sebuah kotak kaca yang indah namun sepi. "Istirahatlah di kamar lantai atas. Semua keperluanmu sudah disiapkan di sana," ucap Arlan sambil berjalan menuju ruang kerjanya. Keyla melangkah menaiki tangga dengan perasaan campur aduk. Dia membuka pintu kamar yang ditunjuk dan terpaku melihat pemandangan kota Jakarta dari jendela besar. Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu utama apartemen. Keyla tersentak dan berlari kembali ke bawah. Dia melihat Arlan sedang berdiri di depan monitor CCTV dengan wajah pucat pasi. Di layar itu, terlihat Clarissa sedang berdiri bersama beberapa pria berseragam polisi. "Arlan! Buka pintunya! Saya tahu kamu menyembunyikan wanita itu di dalam!""Arlan! Kamu kenapa melotot begitu sambil pegang ponsel? Apa ada hantu kirim pesan singkat atau kamu baru saja lihat harga saham jatuh drastis sampai wajahmu kaku begitu?!" seru Keyla yang tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur, mengucek matanya yang masih setengah terpejam.Keyla menatap Arlan dengan tatapan menyelidik, merasa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu di balik cahaya redup lampu tidur. Rasa kantuknya seketika hilang saat melihat ketegangan di rahang Arlan, membuat imajinasi liar Keyla kembali bekerja memikirkan hal-hal aneh yang mungkin terjadi di tengah malam.Arlan segera mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke dalam laci dengan gerakan yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menarik Keyla kembali ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya yang hangat untuk meredam kecurigaan asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Sayang. Tidak ada hantu, hanya laporan rutin dari tim keamanan yang sedikit terlambat masuk karena kendal
"Arlan! Itu di kantor ada paket berdetak kok kamu malah tenang-tenang saja sambil rapihin kerah baju?! Apa kamu pikir itu jam weker raksasa yang mau kasih kejutan ulang tahun buat saya?!" seru Keyla dengan suara melengking saat helikopter mereka baru saja mendarat di atap gedung kantor pusat.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah pintu lift yang menuju lobi utama tempat paket misterius itu berada. Keyla merasa lututnya lemas, membayangkan sebuah benda berbahaya meledak dan menghancurkan dokumen-dokumen penting yang baru saja mereka amankan.Arlan tidak membiarkan Keyla jatuh dalam kepanikan, dia segera menangkap pinggang istrinya dan menariknya ke dalam dekapan yang sangat protektif dan hangat. Dengan tatapan mata yang sangat tenang dan berwibawa, dia mengusap pipi Keyla untuk memberikan ketenangan instan."Tenanglah, Sayang. Itu bukan bom sungguhan, melainkan hanya jam pasir kuno dengan mekanisme pegas yang sengaja dibuat berisik untuk menakut-nakuti kita," jawa
"Arlan! Itu di layar kenapa ada nama Arlo di atas brankas mini itu?! Apa jangan-jangan Ibu saya dulu sebenarnya adalah agen rahasia yang lagi ngasuh sepupu kamu yang menyebalkan itu?!" seru Keyla sambil menunjuk layar proyektor dengan ekspresi antara bingung dan tidak terima.Suasana ruangan rahasia yang tadinya sunyi mendadak penuh dengan suara melengking Keyla yang menggema di antara rak buku tua. Keyla merasa otaknya mulai memproses skenario gila, mulai dari bayi tertukar hingga teori konspirasi keluarga yang membuatnya pening tujuh keliling.Arlan tidak membiarkan istrinya jatuh dalam lubang spekulasi yang aneh-aneh, dia segera menarik Keyla ke dalam pelukan hangatnya. Dengan satu tangan, dia mengusap lembut punggung Keyla, memberikan ketenangan instan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Arlan Adiguna."Tenanglah, Keyla. Arlo bukan anak hilang atau saudara rahasia, dia hanya anak yang dititipkan oleh paman saya kepada Ibu kamu untuk dibantu biaya pendidikannya karena dulu kelua
"Arlan! Itu si Arlo KW super kenapa dadah-dadah dari kapal pesiar kayak mau ikut lomba melambai sedunia?! Terus ini kenapa helikopternya miring-miring begini, apa pilotnya lagi belajar goyang di udara?!" seru Keyla sambil mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat hingga buku jarinya memutih.Wajah Keyla sudah pucat pasi, matanya melirik ngeri ke arah laut lepas yang terlihat gelap dan bergulung di bawah sana. Keyla merasa perutnya dikocok habis-habisan, rasa takut akan ketinggian berbaur dengan rasa kesal melihat Arlo yang tampak sangat santai di atas kapal mewah itu.Arlan segera menarik tubuh Keyla ke dalam dekapannya, membiarkan kepala asisten kesayangannya itu bersandar di dada bidangnya yang kokoh. Dengan tangan yang sangat tenang, dia mengusap bahu Keyla, berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan yang selalu ia miliki."Tenanglah, Keyla. Helikopter ini sangat stabil, pilot saya hanya sedang menyesuaikan dengan arus angin laut agar perjalanan kita lebih mulus," jawab Arlan deng
"Arlan! Itu tadi siapa yang nelepon kok suaranya mirip kamu tapi versi lebih menyebalkan?! Terus kenapa dia panggil kamu Kakak? Kamu beneran punya kembaran yang tertinggal di masa lalu?!" seru Keyla sambil memegang erat pegangan pintu mobil yang mulai melaju kencang meninggalkan villa.Napasnya memburu, bayangan wajah bermasker di layar ponsel tadi benar-benar menghantuinya. Keyla merasa kepalanya mau pecah membayangkan ada dua pria setampan Arlan di dunia ini, tapi yang satu sepertinya ingin mencuri hidup suaminya.Arlan tidak membiarkan Keyla tenggelam dalam ketakutan, dia segera memindahkan tangannya dari kemudi hanya untuk menggenggam jemari Keyla yang dingin. Dia memberikan tatapan mata yang sangat tajam namun penuh keteduhan, berusaha meredam badai di hati asisten kesayangannya itu."Tenanglah, Keyla. Dia bukan kembaran biologis saya, melainkan sepupu jauh bernama Arlo yang sejak kecil memang dididik untuk menjadi bayangan saya dalam urusan bisnis keluarga," jawab Arlan dengan s
"Arlan! Itu kakek kamu kok hidup lagi? Terus kenapa dia pegang foto bayi kembar begitu? Kamu jangan bilang kalau sebenarnya saya ini punya kembaran yang tertukar di puskesmas?!" seru Keyla dengan suara melengking sambil menunjuk-nunjuk layar monitor di balik pintu villa.Napasnya memburu, matanya membelalak melihat pria tua di depan pintu yang sangat mirip dengan mendiang Kakek Adiguna. Keyla merasa dunianya kembali jungkir balik, membayangkan jika selama ini ada orang lain yang memiliki wajah persis sepertinya dan mungkin sedang merencanakan sesuatu yang aneh.Arlan tidak membiarkan Keyla terus berimajinasi liar sampai menembus batas logika. Dia segera menarik Keyla ke belakang punggungnya, lalu dengan tenang membuka pintu villa setelah memastikan tidak ada ancaman senjata di tangan pria tua tersebut."Tenanglah, Keyla. Beliau bukan hantu kakek saya, melainkan adik kembar Kakek yang selama ini menetap di luar negeri untuk mengelola yayasan panti asuhan rahasia itu," jawab Arlan denga







