FAZER LOGINDengan mahar fantastis, Alfa sukses meminang Luna. Sebuah rumah, satu mobil. Seperangkat perhiasan, logam mulia juga sejumlah uang tunai.Tamu undangan yang tak seberapa heran mengetahui mahar Alfa untuk Luna. Bahkan Luna sendiri tidak percaya. Namun Bima dan Rio tidak terkejut. Sebagai orang yang pernah dekat dengan Alfa. Mereka tahu benar kalau hanya casing Alfa yang biasa. Namun aslinya sulit dicerna dengan nalar."Dia merampok Kakek ya?" Bisik Luna yang sudah separuh jalan menuju pelaminan."Kamu akan lihat. ATM berjalanmu ini mungkin saja kalah dengan suamimu. Cie, suami tu."Goda Rio coba mengusir kesedihan yang terlihat jelas di wajah Luna. Seberapa pintar sang MUA merias. Jika hati sang pengantin tidak tenang. Aura yang keluar juga tidak secetar biasa.Namun Luna, tetap cantik mempesona."Kalau begitu aku bisa shopping supaya bisa terus tertawa. Habiskan duitnya," usul Luna."Gas poll," kompor Rio.Di dekat gerbang masuk pelaminan. Ada Citra yang menyambut sang putri. Berdua
Luna buru-buru mengusap air mata yang menitik di pipi. Di depannya sebuah cermin besar menangkap wajah sendunya.Di sekitarnya sejumlah MUA sibuk mempersiapkan Luna. Gadis itu akhirnya menyerah. Hampir tengah malam dia mendatangi kamar ayah dan ibunya. Bersimpuh seraya menyuarakan keputusannya. Dia akan menikah dengan Alfa. Bima sempat menolak, pun dengan Citra.Keduanya tentu tak akan membiarkan putri satu-satunya mereka, berakhir dalam nestapa pernikahan tanpa cinta. Namun Luna dengan tegas menekankan, dia akan mencari kebahagiaannya sendiri melalui cara lain. Pernikahan hanyalah wadah. Dia masih bisa bergerak bebas di dalamnya.Bima dan Citra saling pandang. Walau tidak rela, tidak ikhlas tapi mereka menghormati keputusan Luna. Mereka nilai Luna sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depannya.Sang papa hanya mengingatkan, "Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Ia adalah janji suci di hadapan sang pencipta. Papa hanya perantara restu dariNya. Selebihnya kalian yang m
"Kenapa bisa begini sih Ma?" Luna langsung memeluk sang mama yang masih terlihat pucat."Gak tahu, Na. Kata mereka tekanan darah mama tinggi. Padahal mama gak suka masakan asin.""Darah tinggi bukan cuma karena asin. Mama mikirin apa?"Citra tersenyum, dia usap rambut sang putri penuh kasih. Jujur dia sangat merindukan Luna. Putri semata wayang yang pilih melarikan diri ke kota lain karena patah hati. "Siapa lagi yang mama pikirin. Ya kalian bertiga.""Luna baik-baik saja, Ma. Lihat, Luna sehat, tidak kurang suatu apa."Citra mengulas senyum. "Iya, putri Mama tidak apa-apa. Dia pandai menjaga diri."Luna segera memeluk Citra. Sang mama lekas mendekap balik tubuh Luna. Bersamaan dengan itu Rio muncul di pintu."Kalian gak saling hajar kan?" Cerocos Citra pada Rio."Dia gak berhak melawan. Aku yang sepatutnya memberinya pelajaran. Dia gak ngapa-ngapain kamu kan?"Rio beralih pada Luna setelah menjawab pertanyaan Citra. Gelengan kepala Luna jadi balasan."Ma, aku kangen Mama," rengek Lu
"Tidur aja dulu. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai."Luna menggeleng. Hatinya panik ketika Rio mengatakan jika sang mama masuk rumah sakit. Setelah terpeleset di kamar mandi.Katanya tidak parah, tapi Luna tetap saja cemas tak terkira. Saat ini mereka sedang berada di salah satu gerbong kereta api. Mode transportasi paling cepat yang bisa Alfa dapatkan untuk membawa mereka ke Jakarta."Kalau Mama kenapa-kenapa gimana?" Luna nyaris menangis ketika bertanya."Kan Rio bilang cuma luka lecet. Gak sampai dijahit juga. Sama tangannya keseleo.""Cuma," protes Luna tidak terima."Ya kan gak sampai diopname, masuk ICU. Harusnya kamu bersyukur.""Dasar gak punya hati!"Luna memalingkan wajah. Dia pilih melihat keluar jendela kereta. Di mana semua benda berkelebat cepat saat kereta mulai berjalan.Keduanya hanya membawa diri. Kata Alfa, semua orang akan diurus oleh orangnya. Lagi pula mereka pulang ke rumah bukan ke tempat lain."Aku memang gak hati, gak punya perasaan. Maka beri aku kesem
"Pak dekan ke mana? Seminggu lebih absen."Pertanyaan Siska mengudara begitu saja. Ketika kelas Alfa lagi-lagi digantikan oleh asdos-nya. Sebagian merespon dengan berbagai opini. Yang lain justru mencibir maksud pertanyaan Siska."Lu nyariin dia. Karena materinya atau karena tujuan lain?" Satu dari mereka berani menyerang Siska. "Dua-duanya. Setuju dong kalau dia seperti narkoba. Bikin candu, ketagihan. Lagi dan lagi."Balas Siska tanpa ragu. Gesture tubuhnya menunjukkan kalau ada makna lain di balik ucapannya."Lu sudah bobok bareng berapa kali sama dia?"Yang ini malah lebih to the poin."Issh, mau tahu aja urusan orang."Jawaban Siska tak pelak membuat rekan lain menganggap kalau tudingan itu benar. Siska tak menampik atau membenarkan. Satu aksi yang justru membuat orang jadi ambigu.Pikiran liar mereka sendiri yang pada akhirnya menjawab pertanyaan itu. Bukan Siska.Mendengar pernyataan Siska, sejumlah teman sekelas lekas berbisik sendiri. Wanita itu tersenyum sambil mengangkat
"Jadi dia naksir temannya sendiri?""Masih belum jelas juga.""Tapi maksud wall paper itu apa."Alex menggeram ketika dia tanpa sengaja mendengar rekan lain sesama mahasiswa bergosip tentangnya. Dia tentu tidak menyangka video yang menampilkan dirinya sedang "me time" di kosan tersebar. Bukan masalah tubuh atletisnya yang terekspose. Namun ada hal lain yang turut ditangkap mata jeli netizen. Mereka melihat wall paper di ponselnya. "Tapi wajar aja sih. Masih mending dia suka perempuan. Membayangkan tubuh wanita untuk membantu melampiaskan hasrat. Normal kan.""Normal sih, cuma bagaimana kalau Luna tahu, Alex menyukainya. Lalu diam-diam menjadikannya bahan fantasi."Tangan Alex terkepal. Dia sama sekali tidak menjadikan Luna fantasi liarnya. Dia hanya ... menyukai Luna. Alex tertunduk, tapi dia hanya berani menyimpan perasaannya dalam hati.Tidak berani mengungkapkannya pada Luna. Takut gadis itu akan menjauhinya. Alex takut perasaannya akan berimbas pada pertemanan mereka.Pria itu
Luna setengah melamun saat menunggu Rina. Mereka akan pergi ke pesta sang ratu kampus, Vania. Ingatannya meluncur ke momen di mana Alfa nyaris menciumnya lagi waktu di mobil."Dia benar-benar mesum. Main cium saja. Dia pikir apa aku sama seperti cewek-cewek itu," gerutunya sambil menyentuh bibir."
"Bukan saya pelakunya, Pak. Saya hanya menunjukkan, seperti apa seharusnya kampus bertindak terhadap kelakuan tidak bermoral mahasiswanya."Ahmad R mengemukakan pembelaannya. Dia membantah telah memprovokasi sesama rekan mahasiswa untuk melakukan tindakan anarkis pada Luna dan Alex.Pemuda itu berd
"Ishh, jangan kuat-kuat. Sakit, Na."Yang diajak bicara nyengir. "Sesama Na dilarang bertengkar."Alex menengahi sambil menyentuh perutnya yang nyeri. Entah siapa pelakunya, Alex sempat kena pukul di bagian perut. Sedang di depannya. Wajah cantik Luna jadi korban. Gadis itu mengalami memar kebiru
Kehebohan langsung mengudara ketika pintu dibuka. Luna dan Alex mundur guna mendapati mereka telah dikepung oleh rekan sesama mahasiswa.Semua pandangan tertuju pada dua orang yang sesaat hanya saling pandang. Keduanya mengangkat bahu seolah tidak terkejut dengan situasi yang berlaku di hadapan mer







