Short
Abandoned Billionaire Husband, Chose Bright Life

Abandoned Billionaire Husband, Chose Bright Life

作家:  Alyssa J完了
言語: English
goodnovel4goodnovel
10チャプター
928ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Plot Twists

Feel-Good Story

Bittersweet

Mistress

Bias

Unattainable Love

Countdown

Cheating

Regret

Seven years into my marriage to Sebastian, we had our first child. On Logan's first birthday party, one of the old friends Sebastian had known since prep school rattled a little velvet cup of dice in Logan's face and laughed. "Come on, Mrs. Forsythe, humor us. Let the birthday boy roll. A game. For old times' sake." Logan giggled and slapped at the cup. "If he rolls a six," the groomsman went on, grinning sideways at Sebastian, "Sebastian goes and picks Serena up from the airport tonight. Deal?" The moment I heard her name, my blood went cold. I turned to Sebastian. He'd been keeping in touch with her behind my back. All this time. He caught my eyes. He covered my shaking fingers with his and frowned slightly. "Don't be jealous over nothing. We're all friends. It's just a ride from the airport." And then, without quite meaning to, he nodded. Permission given. Logan laughed and opened his little fist. The dice clattered across the linen. A six. "That's fate!" someone whooped. "Serena's flight lands in two hours. You'll make it!" The room erupted. Glasses up. Backs slapped. Sebastian surrounded. His face softened and he turned and went for the door. Watching his back disappear through that door, I didn't do what I used to do. This seven-year bet of mine — I had lost it, completely.

もっと見る

第1話

Chapter 1

​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa orang ikut tertawa sinis, menatap rendah sosok pria dengan baju penuh peluh tersebut.

​Madun hanya bisa terdiam, meskipun hatinya terasa panas.

Untuk meredakan rasa lelah dan emosinya, ia segera menegak sisa jamu kuat oplosan dari botol plastik kecil yang dibawanya. Cairan keruh itu terasa membakar, memberikan sensasi panas yang menjalar cepat di sepanjang tenggorokannya.

​Karena kelelahan yang luar biasa, Madun akhirnya terkapar di bawah pohon beringin tua yang rimbun di pojok pasar. Tanpa ia sadari, sisa jamu yang tadi ia minum menetes perlahan ke arah celananya yang sudah lusuh. Tak lama kemudian, kesunyian siang itu pecah saat Madun terbangun sambil menjerit histeris. "Arghhh! Panas!! Aduh, semut sialan!" Ternyata, segerombolan semut rangrang merah yang ganas sedang berpesta pora, menggigit pangkal pahanya yang terbuka dan lembap karena tetesan jamu tadi. Tanpa pikir panjang Madun langsung menceburkan diri ke dalam empang.

​Dua minggu berlalu setelah kejadian aneh itu, sebuah anomali medis yang sangat tidak masuk akal terjadi pada tubuh Madun. Barangnya kini mengeras, berwarna hitam legam, dan memanjang secara drastis hingga mencapai ukuran 30 senti dengan urat-urat menonjol yang tampak sangat kuat bagaikan akar pohon jati yang sudah tua.

​"Dun! Kamu itu bawa linggis atau apa di dalam saku celana?" tegur Pak Bos saat mereka bertemu di pasar pagi itu.

​"Bukan linggis, Pak. Ini... anu," jawab Madun

​Tiba-tiba, Lastri yang merupakan janda kembang primadona pasar, berjalan lewat dengan mengenakan kebaya ketat yang menonjolkan bentuk dadanya yang montok. Langkahnya mendadak terhenti tepat di depan Madun. "Ya Tuhan, Madun! Itu benda apa yang gerak-gerak di dalam celanamu? Gede banget, Dun!" pekik Lastri dengan mata yang melotot dan penasaran ke arah selangkangan Madun yang menegang.

​Melihat situasi yang mulai gaduh, Pak Bos segera menarik Madun ke dalam gudang beras yang sepi. "Jujur sama saya, Dun. Itu barangmu ya? Kok bisa berubah jadi ukuran raksasa begitu? Kamu pakai ilmu hitam apa?"

​"Gara-gara digigit segerombolan semut rangrang dua minggu lalu, Pak Bos," aku Madun dengan jujur.

​"Waduh, itu bahaya sekali, Dun! Bisa jadi infeksi atau tumor itu! Sana cepat periksa ke Bidan Siska di klinik depan!" perintah Pak Bos dengan wajah yang terlihat cemas sekaligus takjub.

​Madun akhirnya berjalan dengan langkah mengangkang yang canggung menuju klinik. Siska adalah bidan paling cantik dan sombong di daerah itu.

"Kenapa Madun mau minta obat puyeng lagi?" tanya Siska ketus.

"Anu Bu, burung saya bengkak digigit rangrang." Jawab Madun malu-malu.

​"Masuk! Langsung buka celanamu di atas bed, saya sedang banyak urusan penting!" bentak Siska dengan nada ketus, bahkan tanpa sudi menolehkan wajahnya untuk melihat siapa pasien yang datang.

​Begitu celana Madun melorot ke lantai, suasana di dalam ruangan medis itu mendadak sunyi senyap. Siska yang tadinya sibuk merapikan alat medis langsung mematung di tempatnya berdiri. Botol alkohol yang sedang ia pegang tumpah begitu saja membasahi lantai. Matanya mendelik lebar, terpaku menatap pusaka hitam legam sepanjang 30 senti yang mencuat kaku dan perkasa di hadapannya.

​"Ini... ini beneran punya kamu sendiri, Madun?" suara Siska mendadak berubah menjadi serak dan berat. Seketika, dinding kesombongan yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja. Ia melangkah mendekat dengan perlahan, jemarinya yang gemetar mulai menyentuh permukaan batang masif yang terasa sangat panas tersebut. "Ini bukan sekadar infeksi biasa, Madun. Ini benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa."

​"Maksudnya gimana, Bu Bidan? Apa saya bakal mati?" tanya Madun polos.

​"Diam! Jangan banyak tanya!

​Siska tampaknya sudah tidak mampu lagi menahan gejolak gairah yang meledak di dalam dirinya. Ia dengan terburu-buru memelorotkan celana dalamnya sendiri, bersiap untuk segera menaiki tubuh Madun yang masih tampak bingung. Namun, tepat saat ujung senjata maut Madun hendak menusuk liangnya yang sudah basah, pintu klinik digedor dengan sangat keras dari arah luar.

​BRAKK! BRAKK!

​"Bu Bidan Siska! Anda segera dipanggil oleh Dokter Herman untuk rapat audit mendadak sekarang juga!" teriak Perawat Ratna dengan suara melengking dari balik pintu.

​"Sialan! Bilang ke Dokter Herman kalau saya sedang melakukan operasi besar yang tidak bisa ditinggalkan!" bentak Siska dengan nada penuh kekesalan yang amat sangat. Tubuhnya yang sudah mulai berkeringat dingin karena gairah terpaksa harus menjauh dari sumber kenikmatan di depan matanya.

​"Nggak bisa ditunda, Bu! Dokter bilang tunjangan jabatan Anda bakal langsung dipotong kalau tidak segera datang ke ruang rapat!"

​Siska menggeram rendah menahan amarah yang membuncah. Dengan sangat terpaksa, ia memakai kembali celana dalamnya dengan gerakan cepat. "Madun, tutup dulu barangmu pakai sarung ini! Jangan sampai ada orang lain yang melihatnya, kamu mengerti?"

​Sekitar sepuluh menit kemudian setelah urusan singkat itu selesai, Siska kembali ke ruangan dan langsung mengunci pintu rapat-rapat. Wajahnya tampak merah padam, dan napasnya masih memburu seolah habis berlari maraton. Ia duduk di kursi kerjanya sambil mengipasi leher putihnya yang mulus menggunakan tangan.

​"Gimana, Bu Bidan? Apa kondisi saya masih dianggap bahaya?" tanya Madun dengan ekspresi wajah yang sangat polos.

​"Sangat parah, Dun. Racun semut rangrang ini ternyata memiliki siklus ledakan di dalam syaraf. Barangmu bisa pecah kalau tidak segera disalurkan melalui terapi khusus yang tadi hampir saja kita lakukan," Siska mulai mengarang alasan medis yang terdengar ilmiah agar ia bisa segera mencicipi kehebatan Madun. "Tapi sekarang kondisi Puskesmas sedang terlalu ramai. Nanti malam, tepat jam delapan malam, kamu harus datang lewat pintu samping dekat pohon mangga. Langsung masuk ke ruangan pribadi saya."

​"Harus jam delapan malam ya, Bu?"

​"Iya, jangan terlambat. Siska memperhatikan gerakan bokong Madun yang keras dari belakang dengan tatapan penuh nafsu. "Gila... 30 senti murni. Bagaimana rasanya kalau benda itu masuk semua ke dalam ya?" gumamnya pelan sambil menjilat bibirnya yang mendadak kering.

​Ia mulai membayangkan malam nanti, di dalam ruangan yang sunyi dan gelap, ia akan menaklukkan sosok kuli panggul yang tadi pagi sempat ia hina di dalam hatinya. "Akan kupastikan seluruh racunmu keluar sampai tetes yang paling terakhir.

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

レビュー

Özlem Uysal
Özlem Uysal
The title of the story doesn't match the story. My heart broke for both the male and female main characters. I felt sorry for the man too, even though he didn't deserve it. It was a very heartbreaking story.
2026-04-29 18:30:52
0
0
10 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status