MasukSeven years into my marriage to Sebastian, we had our first child. On Logan's first birthday party, one of the old friends Sebastian had known since prep school rattled a little velvet cup of dice in Logan's face and laughed. "Come on, Mrs. Forsythe, humor us. Let the birthday boy roll. A game. For old times' sake." Logan giggled and slapped at the cup. "If he rolls a six," the groomsman went on, grinning sideways at Sebastian, "Sebastian goes and picks Serena up from the airport tonight. Deal?" The moment I heard her name, my blood went cold. I turned to Sebastian. He'd been keeping in touch with her behind my back. All this time. He caught my eyes. He covered my shaking fingers with his and frowned slightly. "Don't be jealous over nothing. We're all friends. It's just a ride from the airport." And then, without quite meaning to, he nodded. Permission given. Logan laughed and opened his little fist. The dice clattered across the linen. A six. "That's fate!" someone whooped. "Serena's flight lands in two hours. You'll make it!" The room erupted. Glasses up. Backs slapped. Sebastian surrounded. His face softened and he turned and went for the door. Watching his back disappear through that door, I didn't do what I used to do. This seven-year bet of mine — I had lost it, completely.
Lihat lebih banyakSuara pekikan kecil terdengar diikuti oleh suara dentingan piring yang jatuh, membuat suasana pesta menjadi hening.
Ryan Pendragon menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar 10 tahun, berdiri kaku dengan wajah pucat.
Di depannya, seorang pria tinggi besar dengan mata tajam berdiri menjulang, jasnya yang mahal kini bernoda makanan yang tumpah.
"Ma-maafkan saya, Tuan," gadis kecil itu terbata-bata, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Pria itu menatap gadis kecil tersebut dengan tatapan dingin yang menusuk. Tangannya terkepal erat, dan Ryan bisa melihat urat-urat di lehernya menegang karena menahan amarah.
Melihat situasi yang semakin tegang, Ayah Ryan–William Pendragon bergegas menghampiri mereka. Ia berlutut di samping gadis kecil itu, mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Itu hanya kecelakaan," ujar William lembut sambil mencoba membersihkan noda di sepatu gadis itu. Kemudian ia berdiri dan menghadap pria yang terlihat marah itu. "Master Lucas, saya William Pendragon. Mohon maaf atas insiden ini. Biarkan saya membantu membersihkan jas Anda."
Namun, kebaikan William rupanya tidak diapresiasi. Master Lucas menatap William dengan pandangan merendahkan.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya pada William. "Kau pikir sapu tanganmu yang murahan itu bisa membersihkan jas mahalku?!"
William tersentak, "Maaf, saya hanya bermaksud membantu. Mungkin kita bisa—"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. William terhuyung, pipinya memerah akibat pukulan pria itu.
Ryan membeku. Matanya melebar menyaksikan adegan di depannya. Ia ingin berlari, ingin menyelamatkan ayahnya, tapi kakinya seolah terpaku di lantai.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak pria itu lagi. "Berani-beraninya kau menyentuhku dengan sapu tangan kotormu!"
William mencoba menjelaskan, "Tuan, saya hanya bermaksud membantu. Ini hanya kecelakaan kecil dan—"
"DIAM!" Pria itu semakin murka. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram kerah William. "Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu dalam sekejap!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara, apalagi bergerak untuk membantu William.
Ryan akhirnya berhasil menggerakkan kakinya. Ia berlari mendekati kerumunan, berusaha menembus para tamu yang menonton kejadian itu dengan wajah pucat.
"Ayah!" teriaknya.
Namun sebelum Ryan bisa mencapai ayahnya, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Master Lucas, dengan gerakan yang sangat cepat, menebas leher William Pendragon dengan tangan kosongnya. Seketika itu, kepala William menggelinding, diikuti robohnya tubuh William ke lantai.
"TIDAK!" Ryan berteriak histeris. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia melihat ayahnya roboh ke lantai, darah mengalir deras dari lehernya.
Orang-orang mulai berteriak panik. Beberapa wanita pingsan menyaksikan kejadian berdarah itu.
Namun tak seorang pun berani mendekati William yang telah tewas, ataupun menghentikan pria yang baru saja membunuhnya.
Ryan berlutut di samping tubuh ayahnya, tangannya gemetar memeluk potongan kepala William. "Ayah ... Ayah!"
Ryan meraung, matanya liar mencari-cari bantuan. Ia melihat wajah-wajah familiar di antara kerumunan.
Orang-orang yang dulu selalu memuji keluarga Pendragon, teman-teman lama ayahnya, bahkan pamannya sendiri.
Tapi tak seorang pun bergerak. Mereka hanya berdiri diam, wajah mereka campuran antara ketakutan dan ... penghinaan? Seakan akhir seperti ini sudah sepantasnya diterima oleh keluarga Ryan!
Amarah membakar dada Ryan. Dengan gerakan cepat, ia meraih pisau makan dari meja terdekat dan menyerbu ke arah pembunuh ayahnya.
"KUBUNUH KAU!" teriaknya, mengayunkan pisau itu sekuat tenaga.
Namun pria itu terlalu kuat. Dengan satu tangan, ia menangkap pergelangan tangan Ryan, menghentikan serangannya dengan mudah.
Ryan menatap mata pria itu. Dingin, tanpa emosi. Seolah membunuh seseorang di depan umum adalah hal biasa baginya.
"Keluarga Pendragon dari Golden River, ya?" Pria itu berkata, suaranya sedingin es. "Kau pikir kau siapa? Bahkan jika kau adalah keluarga yang berada di posisi paling atas, aku tetap bisa membunuhmu dengan menjentikkan jariku!"
Ia melempar Ryan ke lantai dengan kasar. "Dan kau, dasar sampah tak berarti, kudengar kau terkenal di daerah ini karena tidak berguna. Haha, dan kau ingin membunuhku? Bahkan jika aku memberimu seratus tahun, kau tetap tidak berguna!"
Ryan tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar karena shock dan amarah. Ia ingin bangkit, ingin membalas, tapi tubuhnya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya dengan kuat. Ryan menoleh, melihat ibunya, Eleanor, dengan wajah pucat dan berlinang air mata.
"Ibu?" bisiknya bingung.
Tanpa berkata apa-apa, Eleanor mendorong Ryan sekuat tenaga ke arah jendela besar yang mengarah ke Sungai Emas di belakang Paviliun Riverside.
PRANG!
Kaca jendela itu pecah, dan Ryan merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya tercebur ke dalam air sungai yang dingin.
Sebelum kesadarannya menghilang, Ryan melihat ibunya berlari ke arah pria pembunuh itu, wajahnya penuh tekad ... dan keputusasaan.
Air sungai yang deras menarik tubuh Ryan, menghanyutkannya entah kemana. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa tidak ada yang membantu? Mengapa ibunya mendorongnya?
Dan yang paling penting ... apa yang akan terjadi padanya sekarang?
Entah sudah berapa lama Ryan hanyut, ia tidak dapat menghitungnya. Ketika kesadarannya mulai berangsur menghilang, Ryan merasakan sebuah tangan kuat menariknya ke permukaan. Samar-samar, ia melihat wajah seorang pria tua sebelum semuanya menjadi gelap.
*Lima tahun kemudian*
Angin dingin berhembus kencang di puncak Gunung Langit Biru. Di sebuah gua yang tersembunyi, seorang pemuda berdiri tegak, matanya terpejam dengan konsentrasi mendalam.
"Fokus, Ryan!" Suara serak seorang pria tua terdengar. "Rasakan aliran energi di sekitarmu. Biarkan Teknik Matahari Surgawi mengalir dalam meridianmu!"
Ryan Pendragon membuka matanya. Cahaya keemasan berpendar dari tubuhnya, menerangi seluruh gua.
Dengan satu gerakan tangan, batu-batu besar di sekitarnya terangkat ke udara, melayang seolah tak memiliki bobot.
Pria tua itu tersenyum puas. "Bagus. Kau sudah siap."
Ryan menurunkan batu-batu itu kembali ke tempatnya. Ia berbalik, menatap pria yang telah menjadi gurunya selama lima tahun terakhir.
"Guru," katanya dengan suara dalam. "Apakah ini saatnya?"
Sang guru mengangguk pelan. "Ya, muridku. Kau telah menguasai Teknik Matahari Surgawi dan rahasia alkimia tingkat tinggi. Kini saatnya kau kembali dan menghadapi takdirmu."
Ryan mengepalkan tangannya. Bayangan masa lalu berkelebat di benaknya. Ayahnya yang terbunuh, ibunya yang mengorbankan diri, dan pria itu ... pria yang telah menghancurkan segalanya.
"Akhirnya," ucap Ryan, matanya berkilat penuh tekad, "dendam ini bisa kubalaskan."
Sang guru meletakkan tangannya di bahu Ryan. "Ingat apa yang telah kuajarkan padamu, Ryan. Kekuatan sejati bukan hanya tentang membalas dendam. Tapi tentang keadilan dan melindungi yang lemah."
Ryan mengangguk. Ia telah berubah. Bukan lagi pemuda lemah yang hanya bisa menangis saat melihat ayahnya dibunuh. Kini ia adalah seorang kultivator, sekaligus alkemis yang kuat, menguasai teknik yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Saat fajar menyingsing, Ryan Pendragon melangkah keluar dari gua, meninggalkan kehidupannya selama lima tahun terakhir. Matanya menatap jauh ke cakrawala, ke arah kota Golden River yang tersembunyi di balik awan.
"Golden River," bisiknya. "Aku sudah kembali."
Three days after he died, his lawyer found me.The lawyer brought a thick folder, and a little boy.Logan."Ms. Pemberton. This is Mr. Forsythe's final will."He slid the folder across the table toward me."Everything left in his personal trust — everything that wasn't liquidated — goes to his son, Logan Forsythe.""And he named you as Logan's sole legal guardian."I looked at the tight, uneven signature at the bottom of the will.I could picture how badly his hand had been shaking when he signed it."Did he leave a message?"I asked.The lawyer shook his head."Only one thing. 'Once the boy is with her, I can rest.'"I looked down at the boy pressed against my coat.He didn't fully understand what death meant yet.He was clutching the hem of my coat, eyes wide with unfamiliar-place fear."Mommy."He said it small.I sighed. I crouched down and pulled him into my arms."It's okay, Logan. Mommy's here."I signed the stack of legal paperwork.I took custody of Logan, and of the trust tha
I exposed the long, vicious scar that ran almost all the way across my throat.Then I pushed both sleeves up and laid my arms flat on the table.Pale skin. A grid of old wounds — some deep, some shallow, none of them forgotten.His pupils blew wide.He stared at them. His breath started coming fast and shallow."Nora—"He reached toward me, shaking, and stopped himself halfway."Two suicide attempts.""Once with pills. Once with a blade.""Three full years of severe postpartum depression. Every single day, I was trying to figure out how to die."I watched his face come apart and kept going."I was on high doses of psychiatric medication for years. My body never recovered."I looked him dead in the eye and dropped the last one."The doctors told me I'll never be able to have another child. Ever."He slumped back in his chair like his strings had been cut."No — how — "He covered his face with his hands. A small, strangled sound came out of him."What kind of pardon is big enough to cov
After that, he stopped camping outside my building.But he kept engineering chances to put me in the same room with Logan.The next time I saw Logan was six months later, on a weekend.He'd been flying a kite on the main lawn. The string had snapped and the kite had lodged in a tree.Logan could say "Mommy" clearly now.He ran over on short legs and looked up at me."Mommy, the kite flew away."I crouched down and touched his hair.Sebastian came up from a little further off with a bottle of water in his hand.He looked at me, and in his eyes was a suffocating amount of hope."Nora."His voice was scratchy."In another two years, Logan starts preschool."He crouched to match me. Tried to catch my eyes."If you never turn up to a single parent-child event—"He paused on purpose, and his voice took on a faintly moralizing edge."Are you really going to call yourself a mother?"I looked at him. I didn't answer for a while.The wind moved a few dry leaves around."I know I'm not a good mot
I stopped. I turned around.Sebastian was standing in the shadow of a gold-leafed ginkgo, a few yards off.He'd lost weight. His eyes were sunken, stubble shadowing his jaw.He looked like someone who'd been sleeping on park benches.And by his knee — a small boy in overalls."Mommy."The little one said it, uncertain.Something in my chest clenched hard.It was Logan.I started forward, smiling before I could stop myself, reaching for him.And then my eyes skipped up to the man standing behind him.The smile died. My face went cold.I stopped a step short. I didn't reach out."What are you doing here?"There was no warmth left in my voice.Sebastian's eyes went red instantly."Nora. I finally found you."He stepped forward with his hand out, trying to take mine.I pulled back like he was something diseased."Don't touch me. It makes me sick."His hand hung in the air. The look on his face was like it was actively breaking apart."Nora. I'm sorry. I know I was wrong."His voice had cra
I was in the departure lounge when my phone started vibrating.Sebastian's name lit up on the screen.I stared at it until it went to voicemail.Then he called again. And again.I sighed and picked up."Where are you?"His voice had a thin edge of agitation to it."At home," I lied."I'm worried abo
"You—" His face closed over. My tone had thrown him."Think whatever you want."He dragged a hand through his hair, frustrated, and turned to leave.He'd just made it to the doorway when Serena, in my silk robe, drifted into the hall."Sebastian. We're going to be late."She hooked a hand through hi
"Ms. Holloway. You win."I was staring out at the dark. My voice came out flat."He never gave me his heart.""A bet's a bet. I'm leaving for graduate school overseas.""Go, then. Who's stopping you? Sebastian can't wait to see the back of you."Serena laughed into the receiver and cut the line.I s
"Figures — nobody's kid. Can't even hold on to a husband."Sebastian had barely stepped out of the ballroom before the voices started up behind me.One of his friends lifted a glass and looked me up and down."Seven years clinging to him like a barnacle. You didn't deserve the seat. Of course you lo


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan