Se connecterMemanfaatkan suasana ruang kelas yang mendadak sepi setelah kepergian Semesta, Embun bergerak cepat. Ia menyambar buku diary-nya yang sempat terlepas dari tangan Mita. Dengan gerakan tergesa-gesa, Embun berlutut di lantai semen dan mengumpulkan kembali semua barang-barangnya. Satu per satu buku literatur, tempat pensil, dan ponselnya ia masukkan ke dalam tas ransel.
Setelah semuanya rapi, Embun berjalan menuju bangkunya di barisan tengah. Ia duduk pelan, lalu mencoba menata buku-buku perkuliahan di atas meja. Embun menunduk, sebisa mungkin mengabaikan tatapan sinis dan bisik-bisik dari teman-teman satu angkatannya yang masih memperhatikannya. Tak lama kemudian, Kesya berjalan menghampiri meja Embun. Mahasiswi populer di kampus itu berdiri tepat di depan bangku Embun dengan pandangan menyipit penuh kecurigaan. Duakkkk! Kesya menendang keras salah satu kaki meja Embun hingga bergetar. Embun terkejut dan refleks membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot, lalu pelan-pelan menengadah menatap Kesya. "Berani banget ya lo naksir sama Semesta!" gertak Kesya sambil melipat kedua tangannya di dada. "Lo nggak ngaca apa di rumah? Lo itu cupu, jelek, nggak selevel buat suka sama cowok kayak Semesta!" Kata-kata tajam itu membuat Embun kembali menundukkan kepala. Embun sadar betul siapa dirinya. Ia hanyalah mahasiswi biasa yang tidak menarik. Rambut ikalnya yang panjang hanya dibiarkan terurai tanpa gaya. Saat mahasiswi lain sibuk bersolek dengan make-up kekinian, Embun hanya memakai pelembab sederhana. Ditambah kacamata tebal yang terus bertengger di wajahnya, penampilan Embun memang jauh dari kata populer di kalangan anak kuliahan. Namun dalam hati kecilnya, Embun bertanya-tanya, apakah salah jika seseorang seperti dirinya sekadar mengagumi? Ia tidak pernah berharap untuk memiliki Semesta, ia hanya mengaguminya dari jauh. "Maaf," ucapan pendek itu keluar dari mulut Embun dengan lirih. Ia tidak punya keberanian untuk melawan atau membalas ejekan tersebut. "Mulai sekarang, hilangin tuh perasaan lo ke Semesta! Nggak banget tahu nggak? Bikin dia jijik aja," kata Kesya menekan. Setelah melampiaskan kekesalannya, Kesya berbalik menuju tempat duduknya karena dosen matakuliah akhirnya memasuki ruangan. Embun melanjutkan kegiatannya merapikan peralatan kuliah. Di balik kacamata tebalnya, ia berjuang keras menahan air mata agar tidak menetes di depan orang-orang. *** Saat jeda pergantian jam kuliah tiba, Embun memilih pergi ke tempat langganannya untuk bersembunyi. Sebuah bilik toilet di ujung koridor gedung fakultas. Tempat itu memang sedikit lembab, tetapi jauh lebih aman dibanding kantin atau selasar kampus. Di sini, ia tidak perlu takut disuruh-suruh atau dijadikan bahan keisengan anak-anak lain. Sambil duduk di atas penutup kloset, Embun merogoh ponsel di sakunya. Sebuah pesan masuk dari Ibunya, Alya. [Embun, kalau jam kuliahmu sudah selesai, langsung pulang ya! Jangan mampir ke mana-mana. Hari ini kita mulai pindah ke rumah Ayah. Ayah sudah menunggu.] [Baik, Bu,] balas Embun singkat. Baru saja Embun hendak mengunci layar ponselnya, sebuah suara terdengar samar dari luar bilik toilet. "Ahhhhh ...." Embun menegang dan menajamkan pendengarannya. Suara desahan itu terdengar lagi, kali ini jauh lebih jelas. Embun beranjak dari tempat duduknya. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, lalu melangkah pelan menuju pintu. Rasa penasaran membuatnya memberanikan diri membuka pintu sedikit saja untuk mengintip lewat celah sempit. Di dekat area wastafel toilet, berdiri dua orang mahasiswa yang sedang melakukan perbuatan tidak senonoh. Mereka saling berciuman tanpa memedulikan tempat yang merupakan fasilitas umum kampus. Mahasiswi itu adalah Jesica, anak tingkat akhir yang dikenal sebagai putri dari donatur terbesar di kampus ini. Sedangkan mahasiswa di depannya adalah Semesta. Rumor tentang Semesta yang sering bergonta-ganti pasangan memang sudah sering terdengar di kalangan mahasiswa. Namun, baru kali ini Embun melihatnya secara langsung dengan matanya sendiri. Jesica duduk di atas tepi wastafel porselen, sementara Semesta berdiri di depannya. Ciuman mereka berlangsung makin panas. Tangan Semesta bekerja membuka kancing pakaian Jesica satu per satu, hingga pakaian bagian atas gadis itu terbuka dan memperlihatkan bra berwarna merah muda. Semesta memindahkan ciumannya ke bagian leher hingga ke area dada Jesica, meninggalkan bekas merah di kulit gadis itu. Jesica mendesah pelan sambil memegang kepala Semesta, menahannya di sana. Semesta terus melanjutkan aksinya, menyingkap bra yang menghalangi tangannya untuk menyentuh dan meremas area sensitif tersebut. Embun yang menyaksikan pemandangan itu merasa campur aduk. Awalnya ia merasa jijik dengan perbuatan mereka. Namun, lama-kelamaan ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya. Sebuah bayangan melintas di pikirannya: bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Jesica? Bagaimana rasanya mendapat sentuhan seperti itu dari Semesta? Tanpa sadar, tangan Embun sendiri menyentuh dadanya dari luar kain bajunya, meremasnya pelan mengikuti bayangan yang ada di kepalanya. Namun, menyadari apa yang baru saja ia lakukan, Embun dengan cepat menarik tangannya kembali. 'Ya Tuhan, kenapa pikiranku jadi seperti ini!' batin Embun merutuki dirinya sendiri. Ia sadar perbuatannya salah. Meski Semesta adalah cowok yang ia kagumi, hal seperti ini tidak seharusnya dibayangkan. Embun berniat menyudahi aksinya dan menutup kembali pintu bilik. Namun naas, saat ia melangkah mundur, kakinya tergelincir di atas lantai toilet yang licin. Sret! Secara refleks, Embun memegang pinggiran pintu dengan kuat untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Dorongan kuat itu membuat pintu bilik terbuka lebar secara mendadak. Suara pintu yang terbuka keras langsung menarik perhatian Semesta dan Jesica. Keduanya menghentikan kegiatan mereka dan seketika menoleh ke arah Embun. Jesica dengan panik buru-buru turun dari wastafel dan merapikan pakaiannya. Semesta juga dengan cepat merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Matanya menatap tajam ke arah Embun yang berdiri mematung di dalam bilik. "Maaf ...," bisik Embun gemetar, tak tahu harus berbuat apa lagi di hadapan mereka berdua.Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan
"Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan
Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,
"Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest
Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam
Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed







