Partager

Abang Tiriku Yang Nakal
Abang Tiriku Yang Nakal
Auteur: Hiro Sayank

Bab 1

Auteur: Hiro Sayank
last update Date de publication: 2026-10-12 19:35:56

​Suara benturan terdengar cukup keras di depan pintu ruang kuliah gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Embun tersungkur seketika ke lantai semen koridor. Kaki Bayu sengaja terulur menjegal langkah Embun saat gadis itu baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu kelas. Embun yang mengenakan kacamata berbingkai tebal itu tidak sempat bersiap, hingga tubuhnya jatuh berdebam begitu saja.

​Gelak tawa langsung meledak dari seisi ruangan kuliah. Bagi para mahasiswa di kelas ini, kejadian seperti ini sudah menjadi pemandangan biasa. Embun adalah sasaran empuk untuk dijadikan sebagai bahan tertawaan. Bagi mereka, mahasiswi itu tidak ubahnya seorang lelucon berjalan yang hadir hanya untuk menghibur.

​Tas ransel kain milik Embun terlempar cukup jauh. Resletingnya yang longgar membuat seluruh isinya berhamburan di lantai. Buku-buku literatur tebal, tempat pensil, ponsel berlayar retak, hingga barang-barang kecil lainnya berserakan tanpa arah.

​Mita, salah seorang mahasiswi yang berdiri tak jauh dari pintu, membungkuk. Ia memungut sebuah buku catatan kecil berukuran tebal dengan sampul berwarna merah muda yang mendarat tepat di dekat kakinya.

​"Hei, lihat ini! Gue nemu sesuatu!" seru Mita dengan suara nyaring sambil mengangkat tinggi-tinggi buku tersebut ke udara.

​Perhatian seisi kelas langsung tertuju pada Mita.

​"Buku apaan tuh, Mit?" tanya Jonatan penasaran dari meja barisan depan.

​"Buku diary, dong! Hari gini anak kuliahan kayak si cupu Embun masih simpan buku diary?" jawab Mita sambil tertawa mengejek.

​Beberapa mahasiswa lain ikut bersorak gembira. "Buka dong, Mit! Baca isinya! Penasaran nih rahasia si cewek aneh!" seru yang lain dari barisan belakang.

​Mita tanpa ragu mulai membuka halaman pertama buku itu.

​Melihat hal tersebut, kepanikan luar biasa langsung melanda Embun. Rasa sakit di lututnya akibat terjatuh seolah hilang berganti rasa takut yang membakar dada. Buku itu adalah barang paling berharga baginya, satu-satunya tempat ia menuliskan perasaan yang tak pernah berani ia ucapkan secara langsung.

​Embun buru-buru bangkit berdiri dari lantai. Dengan langkah gemetar, ia berlari menghampiri Mita. Tangannya terulur ke depan.

​"Kembalikan buku diary-ku! Tolong, Mita, kembalikan!" pinta Embun dengan suara menahan tangis.

​Namun Mita dengan cepat menepis tangan Embun. Mita melangkah mundur menjauh, sengaja menjaga jarak agar Embun tidak bisa meraihnya. Ia kembali fokus melihat lembaran kertas bergaris di dalam buku itu. Matanya melebar penuh rasa puas.

​"Wah, kalian pasti kaget banget kalau dengar isinya!" seru Mita semakin memanasi suasana kelas.

​"Isinya apa sih? Cepat baca keras-keras, jangan bikin penasaran!" sahut Sisil dari sudut lain.

​Mita berdehem, lalu mulai membaca tulisan tangan di lembar tersebut dengan nada yang sengaja dibuat-buat.

​"Teruntuk Semesta ...!"

​Begitu nama itu terucap, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak hening seketika.

​Nama itu memiliki pengaruh besar di kampus ini. Bahkan Semesta, sosok yang dimaksud, yang awalnya sedang duduk santai di barisan pojok belakang, ikut menghentikan kegiatannya bermain ponsel. Cowok itu mengangkat wajah dan menatap tajam ke arah Mita.

​Mita melanjutkan bacaannya dengan suara mantap, "Senyummu indah bak senja yang cantik. Memenuhi rongga kehidupan siapa pun yang menatapmu. Aku ikut terpukau, ikut larut dalam pesonamu yang begitu mematikan. Namun, aku sadar hanya segelintir debu yang tak ada arti. Bahkan bayangku pun, tak akan pernah kau hiraukan ...."

​Setelah kalimat terakhir selesai dibaca, ruang kelas kembali meledak dalam tawa yang lebih riuh. Puisi tulus yang ditulis Embun di kamarnya kini menjadi bahan ejekan bersama. Semuanya tertawa terbahak-bahak, sementara Embun berdiri mematung di tengah ruangan. Wajahnya memerah karena rasa malu yang amat sangat.

​Brakkkk!

​Suara dorongan kursi yang kasar terdengar dari belakang. Semesta berdiri dari tempat duduknya dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Seketika itu juga, tawa para mahasiswa mereda. Tidak ada yang berani memancing emosi Semesta. Ia adalah ketua pimpinan organisasi pemuda kampus yang paling ditakuti, sekaligus menjadi sosok ideal yang dipuja banyak mahasiswi karena paras dan karismanya.

​Semesta berjalan meninggalkan meja kuliahnya. Ia melangkah lurus menuju pintu keluar ruangan. Langkah kakinya membawa dirinya melintasi Embun yang masih berdiri terpaku di tengah jalan.

​Saat posisi mereka sejajar, Semesta menghentikan langkahnya sebentar. Tanpa menoleh penuh, ia berbisik dengan nada yang sangat dingin dan menancap tajam.

​"Benar-benar menjijikkan."

​Kata-kata kasar itu diucapkan khusus untuk Embun. Setelah menyampaikannya, Semesta kembali berjalan melenggang keluar dari kelas, meninggalkan suasana ruangan yang hening dan menegang.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 8

    Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 7

    "Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 6

    Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 5

    "Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 4

    Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 3

    Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status